NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 20.

BRAK!

Suara gebrakan Liora membuat seluruh ruang rapat langsung sunyi. Beberapa direksi bahkan refleks berdiri setengah dari kursinya. Tak sedikit yang menelan ludah karena mengira wanita itu akan membuat keributan.

Liora menyapu seluruh ruangan dengan tatapan datar.

"Ada apa, Nyonya?"

Liora mengangkat sebuah map tipis dari atas meja, ia memperlihatkan bagian bawah map yang basah oleh sisa kopi. "Map ini, siapa yang meletakkan minuman tepat di atas dokumen rapat?"

Beberapa orang langsung saling pandang.

"Kalau ini dokumen biasa, saya tidak peduli. Tapi ini laporan perusahaan bernilai ratusan miliar.“ Nada suara perempuan itu tetap tenang. "Kalau disiplin sekecil ini saja tidak ada, saya jadi penasaran... bagaimana kalian mengelola divisi masing-masing."

Tak ada yang berani menjawab, lalu seseorang buru-buru berdiri. "Maaf, Bu. Itu milik saya."

"Kalau begitu lain kali lebih hati-hati." Liora meletakkan kembali map itu. "Duduk."

Direktur tersebut langsung duduk dengan wajah pucat.

Keivan melirik Liora sekilas, ibu tirinya itu bahkan belum resmi ikut mengelola perusahaan, tetapi auranya sudah membuat para direktur tidak berani membantah. Tuan Besar yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis. Liora bukan hanya berani, wanita itu tahu kapan harus bersikap lembut dan kapan harus menunjukkan wibawa.

"Kalau begitu... rapat tahunan Salendra Group resmi dimulai."

Semua orang kembali duduk, sekretaris perusahaan segera menyalakan layar presentasi. Laporan demi laporan mulai dipaparkan, Divisi konstruksi, Energi, Teknologi dan juga Kesehatan. Seluruh direktur bergantian menjelaskan pencapaian perusahaan selama setahun terakhir.

Di tengah suasana rapat yang begitu formal, Dewangga justru sibuk memainkan telinga boneka anjing kecil di tangannya. Sesekali ia menggoyang-goyangkannya, lalu menoleh ke arah Liora dengan wajah memelas.

"Liora... aku lapar."

Liora tersenyum tipis. Ia mengusap pelan rambut Dewangga, lalu berkata dengan suara lembut. "Sabar sebentar, ya. Begitu rapat selesai, aku langsung ajak kamu makan. Tadi kamu sudah janji sama aku mau jadi anak baik, kan? Anak baik itu harus bisa menunggu."

Dewangga mengerucutkan bibirnya beberapa waktu, seolah sedang menimbang apakah ia sanggup menahan lapar lebih lama. Tak lama kemudian, ia mengangguk pelan.

"Oke, Dewangga jadi anak baik."

"Good Boy." Liora mengacak pelan rambut suaminya.

Mendapat pujian itu, wajah Dewangga langsung kembali cerah. Ia memeluk boneka kecilnya, lalu duduk tenang tanpa mengeluh lagi.

Dan pemandangan itu membuat beberapa direktur saling melirik. Sebagian dari mereka merasa lega, karena ternyata Dewangga memang sudah tidak seperti dulu. Ancaman terbesar mereka sudah hilang. Di sudut meja, pria berkacamata yang sejak tadi berkeringat dingin mulai merasa napasnya jauh lebih ringan. Ternyata kekhawatirannya berlebihan, Dewangga benar-benar tidak lagi mengingat apa pun.

Namun... di balik senyum polosnya, Dewangga diam-diam memperhatikan setiap ekspresi di ruangan itu terutama pria berkacamata tersebut. Sudut bibirnya nyaris terangkat, ia mengenal pria itu terlalu baik. Hanya saja, saat ini belum saatnya membongkar kejahatan orang itu.

Presentasi terus berjalan hingga memasuki laporan keuangan, Direktur Keuangan berdiri sambil membuka berkas.

"Tahun ini laba bersih perusahaan meningkat dua belas persen...."

Baru beberapa kalimat diucapkan...

"Lho."

Suara polos Dewangga tiba-tiba terdengar, semua orang yang hadir di seluruh ruangan sontak menoleh ke arahnya.

"Itu itu! Angkanya salah." Dewangga menunjuk layar presentasi dengan wajah polosnya.

Direktur Keuangan tersenyum canggung. "Tidak salah, Tuan."

"Tapi salah." Dewangga memiringkan kepala.

"Papa." Keivan segera menepuk pelan lengan ayahnya. "Biarkan mereka presentasi dulu."

"Oke." Dewangga langsung diam.

Beberapa direktur tersenyum tipis, ada yang bahkan nyaris tertawa. Bagi mereka, mana mungkin pria dengan kemampuan berpikir seperti anak kecil memahami laporan keuangan.

Liora melirik Dewangga sekilas, dia sempat merasa aneh. Entah kenapa, nada suara Dewangga saat mengatakan "angkanya salah" terdengar begitu meyakinkan. Tidak seperti seseorang yang sedang asal bicara. Namun pikiran itu segera ia buang, mungkin hanya perasaannya saja.

Presentasi kembali berlanjut.

Beberapa menit kemudian...

Direktur Keuangan melangkah ke depan dan mulai menampilkan grafik pertumbuhan investasi di layar besar. "Seluruh data yang kami sajikan hari ini... telah melalui proses audit internal maupun eksternal. Kami pastikan seluruhnya akurat."

Belum sempat pria itu melanjutkan penjelasannya, sebuah tangan kembali terangkat.

"Lho..."

Semua kepala serempak menoleh ke arah Dewangga.

Direktur Keuangan tersenyum kaku. "Ada yang ingin Tuan Dewangga sampaikan, lagi?"

Dewangga menatap layar beberapa detik, lalu menunjuk grafik yang terpampang di sana. "Grafiknya bohong!"

Ruangan seketika senyap.

Beberapa saat kemudian, terdengar cekikikan kecil dari salah satu sudut ruangan. Tak lama, beberapa orang lain ikut menahan tawa. Mereka mengira Dewangga hanya asal bicara seperti biasanya.

Dewangga yang mendengar tawa itu perlahan menoleh ke arah mereka, ekspresi cerianya menghilang. Ia menundukkan kepala pelan, lalu menarik pelan ujung lengan baju Liora.

"Liora... mereka ketawa. Berarti Dewangga salah, ya?"

Nada suaranya begitu pelan hingga membuat Liora menoleh. Wajah pria itu tampak murung seperti anak kecil yang baru saja diejek teman-temannya.

Liora langsung mengusap pelan rambut Dewangga. "Nggak kok."

"Bener?"

"Iya."

"Terus kenapa mereka ketawa?"

Liora menoleh ke arah beberapa orang yang masih berusaha menahan senyum, lalu kembali menatap Dewangga. "Karena mereka kurang sopan. Orang lain sedang bicara, malah ditertawakan. Jadi, itu bukan salahmu."

Dewangga berkedip beberapa kali, mencerna ucapan itu. "Liora nggak bohong?"

"Nggak."

Perlahan wajah Dewangga kembali cerah. "Oh... berarti Dewangga nggak salah."

"Iya."

Pria itu langsung mengangguk puas, lalu kembali menatap layar presentasi dengan wajah serius, seolah benar-benar sedang menunggu kesempatan berikutnya untuk berbicara.

Sementara itu, Keivan diam-diam menatap layar presentasi. Lalu... matanya menyipit tajam. Di grafik itu ada sesuatu yang janggal, ia pun membuka cepat salinan laporan di tabletnya. Dan semakin diperiksa, semakin terasa aneh. Angka persentasenya memang benar, tetapi grafik yang ditampilkan tidak sesuai dengan data asli.

Keivan perlahan mengangkat wajah kecilnya, tatapannya langsung bertemu dengan mata ayahnya. Hanya sepersekian detik, namun itu sudah cukup. Dewangga masih memasang wajah polos, tetapi sorot matanya berkata lain. Pria itu seakan-akan mengatakan lewat tatapan matanya...

'Aku tidak salah.'

Jantung Keivan berdetak lebih cepat. Bahkan tanpa melihat dokumen asli, ayahnya sudah menyadari adanya manipulasi kecil pada laporan presentasi.

Dan orang-orang di ruangan ini, masih mengira Dewangga hanyalah pria yang tidak mengerti apa-apa. Sementara itu, di ujung meja, pria berkacamata perlahan mengusap keringat di pelipisnya. Dia belum menyadari, bahwa sepasang mata yang selama ini dianggap kosong dan lugu... justru sedang mengawasinya.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!