Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyamanan yang Ganjil, Senyum yang Kosong, dan Detak yang Keliru
Pertemuan di hari Selasa sore itu mengambil tempat di sebuah restoran semi-outdoor yang sangat asri di sudut kota Kirana.
Udara kota tetangga yang sedikit lebih sejuk dibanding Sukaasih bertiup lembut, menggoyahkan dedaunan hijau yang menggantung di langit-langit kayu restoran. Di atas meja marmer bundar, dua cangkir kopi pesanan mereka sudah mulai mendingin, digantikan oleh lembaran kertas cetak biru desain interior Kopi Karsa cabang Kirana.
"Bagian bar kopi sengaja saya buat sedikit lebih luas, Ghea," ucap Rendra lembut, jarinya menunjuk ke arah gambar tata letak mesin di atas kertas. "Supaya nanti kalau kamu sedang menyeduh kopi dengan metode manual brew, para tamu hotel bisa duduk melingkar dan berinteraksi langsung dengan kamu. Saya tahu, pesona terbaik dari kopi kamu adalah cara kamu menjelaskannya kepada pelanggan."
Ghea menatap draf desain tersebut, lalu mendongak menatap Rendra yang sedang tersenyum hangat ke arahnya. Pria itu tampak sangat tampan sore ini dengan kemeja kasual berwarna abu-abu terang yang disetrika sangat rapi.
"Kak Rendra... ini bener-bener luar biasa detail," puji Ghea tulus, sepasang mata bulatnya berbinar kagum. "Saya bahkan tidak terpikir kalau sirkulasi udara di area bar harus diatur sedetail ini agar aroma kopinya tidak mengganggu tamu yang sedang sarapan di restoran utama."
Rendra terkekeh pelan, tawa beratnya terdengar sangat menenangkan di telinga. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap Ghea lekat-lekat dengan binar teduh yang sangat bersahabat.
"Itu tugas saya sebagai mitra bisnis kamu, Ghea. Tugas kamu adalah tetap menjadi barista genius yang membuat semua orang jatuh cinta pada kopi buatanmu," sahut Rendra dengan nada bicara yang sangat tulus, tanpa ada kesan menggoda yang murahan.
Ghea refleks tersenyum manis mendengar pujian itu. Rendra adalah pria yang sangat sempurna. Dia selalu tahu kapan harus bersikap profesional, kapan harus memberikan perhatian kecil yang manis, dan bagaimana cara memperlakukan Ghea seolah-olah gadis itu adalah barang berharga yang harus dijaga dengan sangat hati-hati. Bersama Rendra, Ghea tidak perlu bersikap judes atau memasang duri pelindung untuk menjaga harga dirinya. Semuanya terasa begitu mudah, mengalir, dan sangat nyaman.
Namun, tepat saat senyuman manis itu mengembang di bibirnya, dada Ghea mendadak terasa sedikit sesak.
Sebuah denyut asing yang sangat mengganggu mendadak mencubit hatinya. Senyum yang baru saja ia tunjukkan kepada Rendra tiba-tiba terasa... kosong. Seolah-olah senyuman itu hanya meluncur di permukaan bibirnya tanpa pernah benar-benar menyentuh dasar hatinya.
Ghea menundukkan kepalanya sedikit, berpura-pura merapikan letak kertas desain untuk menyembunyikan perubahan ekspresi wajahnya yang mendadak berubah kaku.
Kenapa rasanya ada yang ganjil ya? batin Ghea bingung, meremas jemarinya sendiri di bawah meja restoran yang dingin.
Rendra adalah air hangat yang sangat menenangkan. Tapi mengapa, di tengah ketenangan yang begitu sempurna ini, pikiran Ghea justru sering kali melayang secara liar menuju kepulan asap knalpot pikap hitam yang berisik? Mengapa dia justru merindukan aroma oli mesin yang bercampur detergen murah, dan suara serak menyebalkan yang selalu memanggilnya "manja" dengan nada lempeng yang minta ditabok?
"Ghea? Kamu baik-baik saja?" tanya Rendra cemas, kepekaannya langsung menangkap perubahan aura Ghea yang mendadak terdiam. "Wajahmu agak pucat. Apa kopinya kurang cocok di lidahmu?"
Ghea tersentak, lalu buru-buru mendongak dan memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat tidak natural di telinganya sendiri. "Ah, enggak kok, Kak! Saya gak apa-apa. Cuma... mendadak teringat ada stok susu organik di kedai yang harus saya cek sore ini."
Rendra mengangguk maklum, meskipun matanya yang cerdas menyiratkan bahwa dia tahu ada hal lain yang sedang mengganggu pikiran gadis di hadapannya ini. Rendra memilih untuk tidak mendesak.
"Kalau begitu, mari kita selesaikan diskusi ini. Setelah ini, saya antar kamu kembali ke Sukaasih ya?" tawar Rendra manis.
"Baik, Kak. Terima kasih banyak ya," jawab Ghea pelan.
Pukul lima sore, sedan mewah hitam metalik milik Rendra perlahan memasuki halaman ruko Sukaasih yang mulai teduh disiram cahaya senja keemasan.
Mobil itu berhenti dengan sangat mulus tepat di depan teras kedai Kopi Karsa. Rendra turun terlebih dahulu, berjalan memutari kap mobil dengan langkah tegap, lalu membukakan pintu mobil untuk Ghea dengan gerakan yang sangat sopan.
"Terima kasih untuk hari ini ya, Ghea. Pertemuan yang sangat menyenangkan," ucap Rendra, berdiri di samping pintu mobil yang terbuka sambil tersenyum hangat.
"Saya yang harusnya berterima kasih, Kak Rendra. Sudah repot-repot mengantar saya pulang lagi," balas Ghea sopan setelah turun dari mobil.
Tepat saat itu, suara deru mesin pikap hitam yang sangat kasar terdengar memasuki halaman ruko sebelah. Pikap hitam Arka-Logistics parkir melintang di depan garasinya. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Arkan yang turun dengan kaus hitam pudar dan celana jins belelnya. Bahunya tampak sedikit layu karena kelelahan, namun matanya yang tajam langsung terkunci lurus ke arah sedan mewah Rendra.
Hana, yang rupanya sejak tadi sedang menunggu di teras kantor logistik sambil membawa beberapa berkas laporan, langsung berdiri menyambut kedatangan Arkan dengan senyuman lembutnya yang khas.
"Mas Arkan baru kembali? Ini laporan jalur pengiriman utara yang sempat kita diskusikan kemarin sudah saya rapikan," sapa Hana manis, suaranya yang merdu terdengar sangat jelas di tengah sunyinya sore Sukaasih.
Arkan mengalihkan pandangannya dari Ghea dan Rendra dengan sangat terpaksa, lalu mengangguk kaku ke arah Hana. "Ah... iya, Mbak Hana. Terima kasih banyak ya."
Meskipun Arkan sedang berbicara dengan Hana, sudut matanya tidak lepas dari sosok Ghea yang sedang berdiri berdampingan dengan Rendra di seberang pagar ruko yang rendah.
Ghea, yang menyadari tatapan tajam Arkan dari kejauhan, mendadak merasakan dadanya kembali bergemuruh hebat oleh rasa sesak yang luar biasa asing. Rasa panas yang membakar tenggorokannya kembali muncul melihat betapa manisnya Hana menyambut kedatangan Arkan sore itu.
Demi menutupi rasa sesak dan tidak nyaman yang terus menggerogoti hatinya, Ghea secara refleks memutar tubuhnya menghadap Rendra, lalu memamerkan senyuman paling lebar dan paling manis yang bisa dia buat, sebuah senyuman palsu yang sengaja dia tunjukkan agar Arkan melihatnya.
"Kak Rendra... hati-hati di jalan ya. Jangan lupa hubungi saya kalau draf desainnya sudah direvisi," kata Ghea dengan nada suara yang sengaja dia manjakan sedikit, terdengar sangat akrab.
Rendra sempat tertegun sesaat menerima senyuman yang begitu manis dari Ghea, sebelum akhirnya tersenyum sangat lebar dan mengusap puncak kepala Ghea dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Pasti, Ghea. Istirahat yang cukup ya sore ini. Sampai ketemu akhir pekan nanti," ucap Rendra lembut.
Di seberang pagar, tangan Arkan yang sedang memegang map kertas dari Hana tanpa sadar meremas kertas tersebut hingga kusut tak berbentuk di bagian ujungnya. Rahangnya mengeras kencang, dan matanya berkilat marah melihat bagaimana tangan halus Rendra menyentuh rambut Ghea dengan begitu leluasanya. Ada gemuruh cemburu yang luar biasa hebat yang membakar dadanya hingga membuat napasnya terasa sangat memburu kasar.
Hana yang berdiri di samping Arkan menghela napas hangat yang sangat sunyi. Dia menatap jemari Arkan yang gemetar menahan amarah, lalu melirik ke arah kedai sebelah di mana Rendra baru saja masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan halaman ruko.
Hana tahu, sekuat apa pun ia mencoba memberikan kelembutan untuk menghangatkan hati kaku milik Arkan, posisi di sebelah cowok itu tetaplah sebuah ruang kosong yang kuncinya hanya dipegang oleh gadis judes yang kini sedang berdiri diam menatap kepergian sedan hitam tersebut.
Setelah sedan Rendra menghilang di balik tikungan jalan raya, Ghea menghela napas panjang yang luar biasa berat. Senyuman lebar yang tadi menghiasi wajah cantiknya mendadak runtuh seketika, digantikan oleh ekspresi wajah yang teramat layu dan lelah.
Dia berbalik untuk masuk ke dalam kedainya, namun langkah kakinya terhenti saat melihat Arkan berjalan mendekati pagar pembatas kayu yang rendah.
Arkan berdiri di sana dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajah tampannya terpasang lempeng tanpa ekspresi, namun matanya menatap Ghea dengan pandangan yang teramat dingin dan menusuk.
"Heh, manja," panggil Arkan dengan suara seraknya yang khas, terdengar lebih dingin dari biasanya. "Gaya lo makin hari makin elite aja ya. Pulang pergi dijemput pakai mobil mewah, dapet usapan mesra di kepala lagi. Kayaknya sebentar lagi kedai kopi lo ini bakal berubah nama jadi kedai kopi pangeran Kirana lo itu ya?"
Ghea langsung membalikkan tubuhnya, memasang wajah judes andalannya sekuat tenaga untuk menutupi rasa sesak dan getaran di dadanya yang masih belum stabil.
"Bukan urusan lo ya, tiang listrik sombong!" ketus Ghea galak, meremas tas tangannya erat-erat. "Kak Rendra itu profesional dan sangat menghargai kerja keras gue! Gak kayak lo yang kerjaannya cuma bisa nyinyir dan ngehina usaha orang lain!"
Arkan mendengus sinis, menyembunyikan rasa perih yang teramat sangat menyiksa di dalam dadanya. "Profesional lo bilang? Profesional mana ada yang kerjaannya ngelus-ngelus kepala mitra bisnisnya di teras ruko umum kayak tadi? Murahan banget cara lo nyari muka di depan investor lo itu."
Kata "murahan" yang meluncur lempeng dari mulut Arkan seketika menghantam dada Ghea dengan sangat telak.
Mata bulat Ghea seketika berkaca-kaca menahan air mata yang hampir saja lolos karena rasa sakit yang teramat sangat mendengar hinaan itu dari mulut cowok yang semalam rela begadang menyetir truk boks demi menyelamatkan sampel kopinya. Ghea meremas dadanya yang terasa sangat sesak hingga sulit untuk bernapas.
"Mulut lo... bener-bener gak pernah sekolah ya, Arkan!" bisik Ghea dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis, melotot tajam ke arah mata hitam Arkan. "Terserah lo mau ngomong apa! Yang jelas Kak Rendra jauh lebih baik, lembut, dan tahu cara memperlakukan gue dengan benar dibanding lo yang kaku kayak batu candi!"
Ghea langsung berbalik dengan terburu-buru, melangkah lebar masuk ke dalam kedai kopinya dan menutup pintu kaca luar dengan sangat keras hingga bel gemerincing di atasnya berbunyi nyaring membelah sunyinya sore Sukaasih.
Arkan mematung di tempatnya berdiri, menatap pintu kaca yang tertutup rapat itu dengan tangan yang mengepal sangat kuat di dalam saku celananya hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat.
Di bawah hangatnya langit senja Sukaasih yang perlahan mulai menggelap ditiup angin malam, ego mereka tetap berdiri kokoh sebagai tembok pemisah yang teramat dingin di permukaan. Namun di balik kegelapan malam yang perlahan mulai turun, mereka berdua harus kembali tersesat di dalam kebingungan perasaan mereka sendiri, merasakan detak jantung yang terasa keliru dan ganjil setiap kali mencoba berpaling ke arah kenyamanan yang ditawarkan oleh orang lain.