Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN MALAM YANG MENEGANGKAN
Intensitas permainan dua sisi Kirana mencapai puncaknya ketika Aris mengundang Bimo untuk makan malam bersama di penthouse mereka di suatu Sabtu malam. Alasan Aris sangat sederhana: ia ingin merayakan keberhasilan pencairan dana 20 miliar dari Aegis Capital yang menurutnya adalah murni karena jasa Bimo, sekaligus ingin mempererat hubungan antara istri dan sahabat terbaiknya.
"Kita harus merayakannya di rumah, Kirana. Bimo sudah bekerja terlalu keras untuk kita. Buatkan masakan terbaikmu," ujar Aris di telepon siang harinya.
Pukul tujuh malam, ruang makan penthouse yang mewah itu telah disulap Kirana menjadi sebuah panggung sandiwara psikologis yang sangat menegangkan. Musik klasik bervolume rendah mengalun dari pengeras suara nirkabel, dan lilin-lilin aromaterapi menyala di tengah meja, memantulkan kilau di atas peralatan makan perak.
Kirana berdiri di dapur bersih, mengenakan celemek sutra di atas gaun malam berwarna biru safir yang anggun. Ketika bel pintu berbunyi, Aris dengan ceria membukakan pintu dan menepuk pundak Bimo yang masuk dengan setelan kemeja kasual formal.
"Bim! Masuk, masuk! Pria paling berjasa bulan ini!" seru Aris dengan tawa membahana, merangkul pundak sahabatnya itu tanpa ada sedikit pun rasa curiga. Pria itu benar-benar tidak tahu bahwa pria yang ia rangkul adalah pria yang beberapa hari lalu mencium istrinya di atas ranjang apartemen studio Pakubuwono.
Bimo memaksakan sebuah senyuman, matanya langsung mencari sosok Kirana yang berjalan keluar dari dapur sambil membawa semangkuk besar sup iga sapi. "Halo, Aris. Terima kasih undangannya. Halo, Kirana."
"Halo, Bimo. Silakan duduk. Aku memasak makanan kesukaanmu... maksudku, makanan kesukaan kalian berdua," ucap Kirana, dengan sangat cerdik meralat kalimatnya di detik terakhir untuk memancing adrenalin di dada Bimo.
Mereka bertiga duduk mengitari meja makan oval. Aris berada di ujung meja, sementara Kirana dan Bimo duduk berhadapan. Di bawah meja, jarak di antara lutut Kirana dan Bimo hanya terpisah beberapa sentimeter.
"Bim, aku harus mengakui, jaringan investormu di Singapura benar-benar gila," Aris memulai pembicaraan sambil menuangkan red wine ke dalam gelas Bimo. "Aegis Capital itu... mereka tidak banyak bertanya. Begitu dokumen ditandatangani, dana langsung masuk ke rekening penampungan proyek Uluwatu dalam waktu 48 jam. Sarah bahkan terkejut. Dia bilang pengacara konsorsiumnya sampai harus memeriksa ulang legalitasnya karena prosesnya terlalu cepat."
Bimo menyesap wine-nya dengan tenang, matanya menatap Aris lurus. "Dunia hukum korporasi modern bergerak secepat itu, Ris. Siapa yang lambat, dia akan kehilangan momentum. Aku hanya memastikan kamu tidak kehilangan momentum emasmu di Bali."
"Benar! Dan yang paling membuatku tenang adalah fakta bahwa sahamku digadaikan kepada pihak asing yang tidak memiliki kepentingan operasional di Indonesia. Jadi posisiku sebagai CEO di sini tetap aman mutlak," Aris terkekeh, memotong daging iganya dengan penuh kepuasan. Ia menoleh ke arah Kirana. "Sayang, kamu harus tahu, Bimo ini adalah aset terbaik yang dimiliki keluarga kita. Tanpa dia, mungkin kita tidak akan bisa mempertahankan gaya hidup mewah ini."
Kirana meletakkan garpunya perlahan, menatap Aris dengan senyuman yang sangat manis namun menyimpan racun yang pekat. "Tentu saja, Aris. Aku sangat tahu seberapa berharganya Bimo bagi... kita. Bimo adalah orang yang selalu ada saat aku membutuhkan bantuan, bahkan saat kamu sedang tidak ada di rumah."
Aris tertawa, menganggap kalimat Kirana sebagai pujian standar seorang istri kepada sahabat suaminya. "Haha, benar! Aku ingat waktu kuliah dulu, Bimo ini selalu menjaga barang-barangku kalau aku sedang pergi. Rupanya kebiasaan itu tidak berubah sampai sekarang, ya Bim?"
Mendengar kalimat itu, Bimo hampir saja tersedak kegelapan emosinya sendiri. Ia menunduk, mencengkeram pisau makannya dengan kuat. Di bawah meja, Kirana melakukan gerakan yang sangat berani. Ia menjulurkan kaki telanjangnya yang mengenakan high heels terbuka, lalu dengan sengaja menyentuhkan ujung kakinya ke tulang kering Bimo, mengusapnya perlahan di balik celana kain pria itu.
Sentuhan yang tiba-tiba itu membuat tubuh Bimo menegang seketika. Ia mendongak, menatap Kirana dengan mata yang melebar penuh keterkejutan sekaligus gairah yang tertahan. Sementara itu, Kirana tetap melanjutkan makannya dengan wajah yang sangat polos, seolah-olah kakinya tidak sedang melakukan sebuah pelanggaran batas yang sangat erotis tepat di depan mata suaminya.
"Ada apa, Bim? Wajahmu mendadak pucat? Supnya terlalu pedas?" tanya Aris jeli, melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya.
"Ah... tidak, Ris. Hanya... aku baru ingat ada satu klausul pelaporan pajak yang harus kuselesaikan besok pagi. Agak pusing memikirkannya," Bimo berbohong, mencoba menstabilkan napasnya yang mendadak memburu akibat provokasi dari Kirana.
"Jangan terlalu stres, Bim! Malam ini kita bersenang-senang!" Aris mengangkat gelas wine-nya. "Mari kita bersulang untuk kesuksesan PT Utama Karya Propertindo, dan untuk masa depan kita yang cerah!"
Kirana dan Bimo mengangkat gelas mereka masing-masing. Di atas meja, tiga gelas kaca berdenting bersamaan menciptakan bunyi ting yang nyaring di dalam keheningan ruang makan. Di bawah meja, kaki Kirana masih menempel erat di kaki Bimo, menciptakan sebuah ikatan rahasia yang mengunci takdir mereka bertiga dalam satu jaring dosa yang sama.