NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sang pengrajin legendaris

Kegelapan malam akhirnya tiba, menelan seluruh sisa warna jingga di langit sekitar wilayah Thorton. Suasana malam ini diselimuti kabut tipis yang diselingi hawa dingin. Di sudut perkampungan yang sunyi itu, satu-satunya bangunan yang masih memancarkan cahaya obor redup adalah sebuah kedai tua dengan papan nama yang sudah tidak dapat lagi dibaca.

​Suara engsel pintu kayu berderit nyaring saat Zen mendorongnya pelan. Aroma kayu lapuk bercampur dengan pekatnya asap tembakau langsung menyengat indra penciuman mereka.

​Di dalam sana, kedai itu tampak suram. Hanya ada beberapa meja kayu berkaki timpang yang tersebar di sudut-sudut ruangan. Di balik meja kasir yang berdebu, seorang wanita tua bertubuh kurus dengan celemek dekil terlihat sedang mengelap gelas kayu menggunakan kain kusam. Gerakan tangan wanita tua itu terhenti begitu melihat dua orang menggunakan jubah pengelana kusam sedang berdiri di ambang pintu.

​"Permisi..." sapa Amanda dengan sopan. ​Gadis pirang itu melangkah terlebih dahulu, mendekati meja kasir milik sang pemilik kedai, sementara Zen berjalan mengekorinya dari belakang.

Wanita tua itu mengerjapkan mata beberapa kali, memberikan tatapan tak percaya. Ia lantas meletakkan gelas kayu yang sedang dibersihkannya.

​"Ya ampun... sudah lama sekali tempat ini tidak kedatangan tamu," lirihnya. Suaranya terdengar serak dan lelah. Kedua kaki ringkihnya maju satu langkah di balik meja untuk mengikis jarak dengan Zen dan Amanda. Sang pemilik kedai mengukir senyum ramah yang hangat. "Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?"

​"Kami membutuhkan air minum," ujar Zen. Pria itu meletakkan dua wadah air kosong di atas permukaan meja kasir. "Dan beri kami makanan apa saja yang bisa bertahan untuk perjalanan beberapa hari."

​Wanita tua itu mengangguk tanpa melepaskan senyum ramahnya. "Tentu. Duduklah terlebih dahulu, aku akan mengambilnya." ​Ia meraih kedua wadah tersebut, lalu melangkah menuju deretan gentong yang tergeletak di atas lantai tidak jauh di belakang tempatnya berdiri.

​"Aku juga mencari kain, atau pakaian apa saja yang bisa kugunakan, Nyonya."

​Suara Amanda mendadak menghentikan langkah pemilik kedai yang baru saja hendak berjongkok. Wanita tua itu mengurungkan niatnya, lalu membalikkan tubuh perlahan.

​"Pakaian?" ulangnya dengan sepasang alis yang bertaut heran.

​Kepala Amanda langsung mengangguk pelan. Ia sedikit membuka bagian depan jubahnya, memperlihatkan bagian dada dan perutnya yang tidak terbungkus apa pun di balik kain kusam tersebut.

Kedua mata pemilik kedai itu langsung melebar saat melihat goresan-goresan kecil yang menghiasi kulit bagian samping perut Amanda.

​"Ya ampun... apa yang terjadi pada pakaianmu? Apa kau baru saja terjatuh di atas rumput berduri?"

Amanda terkekeh pelan.

"Tidak apa-apa. Hari ini hanya berjalan sedikit lebih buruk dari yang kuharapkan."

Wanita tua itu terdiam sesaat. Pandangannya kembali menyapu goresan-goresan kecil di kulit Amanda dengan raut prihatin sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Ia meletakkan kedua wadah air di atas meja, lalu membungkuk ke bawah meja kasir untuk mencari sesuatu.

​"Tempat ini memang bukan toko jahit, tapi aku punya beberapa pakaian lama milik mendiang anak perempuanku. Ukurannya mungkin sedikit longgar untukmu, tapi setidaknya bisa menahan dingin udara malam."

​Seulas senyum haru perlahan terukir di bibir Amanda. Wajahnya yang semula tanpa ekspresi kini tampak jauh lebih cerah. "Terima kasih banyak, Nyonya. Itu sudah lebih dari cukup," ujarnya dengan sangat tulus.

​Wanita tua itu kembali tegak. Di tangannya kini sudah terdapat satu kemeja tebal dan sepotong kain pelapis bertali. Meskipun warnanya sudah agak memudar, pakaian tersebut tampak sangat bersih tanpa noda sedikit pun.

​"Ambillah ini," ucap wanita itu sembari mengangsurkan pakaian tersebut ke depan Amanda. "Kau bisa menggantinya di ruangan kecil di belakang kedai ini. Pakaian ini cukup tebal, kurasa bisa melindungi tubuhmu dari angin malam.

​"Terima kasih... aku sangat menghargainya," balas Amanda pelan. Ia menerima pakaian itu, meraba untuk merasakan tekstur kainnya yang kasar dan tebal.

Kepala wanita pirang itu menoleh ke arah Zen. Pria itu masih berdiri tegak, menatap lurus ke arah jendela kedai yang buram dengan sebelah tangan yang bertumpu di gagang pedangnya. Ksatria itu selalu bersikap waspada seperti biasanya. Amanda tidak heran, karena teman masa kecilnya tersebut memang selalu bersikap seperti itu.

Ketika Zen mengalihkan pandangannya, sepasang mata mereka langsung bertemu. Sorot mata biru ksatria itu sempat melirik sekilas ke arah kemeja tebal yang kini berada di pelukan Amanda.

"Gantilah pakaianmu. Aku akan menunggu di sini."

Amanda mengangguk pelan. Kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan kecil yang tadi ditunjukkan oleh wanita pemilik kedai.

Setelah Amanda menghilang di balik pintu ruangan tersebut, Zen segera merogoh Belati Voltherium dari balik jubahnya.

TUK...

Bilah logam gelap itu diletakkan di atas meja. Di bawah temaram cahaya obor kedai, urat kayu hitam rawa pada gagangnya tampak kontras dengan kilau kelam baja langka tersebut.

​"Nyonya, kau mengenali benda ini?"

Gerakan wanita tua yang baru saja berbalik menuju gentong air itu mendadak terhenti saat mendengar suara Zen. Ia menoleh perlahan, lalu seketika terpaku begitu matanya menangkap siluet ukiran rumit pada bilah belati yang kini tergeletak di atas meja kasir.

"I-Ini..." Wanita itu mencondongkan tubuh dengan raut wajah yang dipenuhi rasa tidak percaya. Sepasang matanya bergerak cepat menyusuri ukiran pada bilah belati tersebut. "Dari mana kau mendapatkannya?"

"Aku mendapatkannya dari tempat asalku," jawab Zen singkat. "Kau tahu siapa pembuatnya?"

Wanita itu mengangguk pelan, lalu kembali menatap Zen.

"Di seluruh wilayah Thorton, bahkan mungkin di seluruh benua Ergarth, hanya ada satu orang yang mampu mengukir besi Voltherium dengan teknik secantik ini."

Ia meraih belati itu, kemudian sedikit mengangkatnya.

"Dia adalah pengrajin legendaris milik istana," lanjut wanita itu pelan. Nada suaranya kini berubah lebih serius. "Tapi jika kau berniat menemuinya, lupakan saja jika tidak punya hubungan dengan para petinggi kerajaan. Orang biasa sepertimu tidak akan bisa mendekatinya dengan mudah."

Jemarinya mengusap pelan permukaan bilah hitam belati tersebut dengan sangat hati-hati.

"Pembuat senjata ini adalah sosok yang memiliki hubungan sangat dalam dengan pihak istana. Karena itu, keberadaannya dijaga ketat siang dan malam oleh para prajurit terbaik Thorton." Wanita itu mengangkat pandangannya perlahan ke arah Zen. "Bagi pengelana sepertimu, bertemu dengannya mungkin nyaris mustahil."

Zen mempersempit tatapannya. Telapak tangan kirinya bergerak meremas gagang pedang di balik jubah. Kenyataan bahwa pembuat senjata itu dijaga ketat oleh pihak istana Thorton membuat pikirannya bertanya-tanya. Bagaimana bisa belati itu berada di tangan seorang anak yatim piatu dari Panti Asuhan Esmeralda? Kedua alisnya perlahan saling bertaut erat. Potongan misteri ini terasa jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

​"Siapa nama pengrajin itu?" tanya Zen akhirnya.

​Sang pemilik kedai itu meletakkan kembali belati Voltherium Steel. "Namanya sangat dirahasiakan dari dunia luar, tapi orang-orang yang tinggal di sekitar wilayah Thorton mengenalnya dengan nama..."

Wanita itu menggantung kalimatnya sejenak, lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat ke arah Zen.

"Eledrin Mitrovic."

...********************************************...

Amanda merebahkan tubuhnya di atas batu berukuran cukup besar yang terletak di pinggir sungai di ujung desa, membiarkan punggungnya bersentuhan dengan permukaan batu yang dingin demi menghapus rasa pegal yang mendera. Kedua matanya terpejam lelah, sementara satu lengannya menutupi dahi.

"Kau tidak lelah terus waspada seperti itu?" tanya Amanda sembari melirik Zen menggunakan sudut matanya.

Pria itu sedang duduk bersandar di bagian bawah batu tempat Amanda berbaring, memandangi aliran sungai yang mengalir tenang di hadapannya. Satu lututnya terangkat menopang lengan, sedangkan tangan satunya memutar ranting kecil di sela jemarinya tanpa sadar. Tatapan mata birunya lurus mengawasi area hutan di seberang sungai, tajam dan tenang seperti biasanya.

​Zen tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pandangannya sekilas ke arah Amanda yang rebah di atas batu. ​"Aku bisa istirahat nanti."

​"Jawabanmu membosankan."

​"Dan kau terlalu santai."

Amanda mendengus kecil. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Zen, lalu menjulurkan sebelah tangan ke bawah. Ujung jemarinya bermain pelan di sela rambut hitam pria itu, mengusapnya sesekali dengan gerakan iseng yang malas. Tanpa sadar, sudut bibir Amanda terangkat tipis. Anehnya, di tengah perjalanan yang dipenuhi darah dan bahaya seperti ini, keberadaan Zen yang selalu berjaga di dekatnya justru membuat alam liar yang asing terasa sedikit lebih aman.

Zen membiarkan jemari Amanda bermain di antara helai rambut hitamnya tanpa berniat menjauh. Namun, matanya tidak pernah lepas dari kegelapan hutan di seberang sungai. Tatapan birunya tetap tajam dan penuh kewaspadaan. Perlahan, kedua alisnya saling bertaut saat ingatannya kembali pada percakapan di kedai.

"Di kedai tadi, wanita tua itu mengenali pembuat belati Voltherium ini," ujar Zen datar. Ranting kecil di jemarinya patah menjadi dua, lalu ia lemparkan ke aliran sungai yang deras.

Gerakan tangan Amanda di rambut Zen langsung terhenti. Ekspresi santainya perlahan memudar. "Benarkah?" gumamnya terkejut. "Apa katanya? Dan kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"

"Di seluruh Ergarth, hanya ada satu orang yang mampu menempa Voltherium Steel dengan ukiran seperti ini." Zen mengangkat pandangannya ke arah Amanda. "Namanya Eledrin Mitrovic. Pengrajin legendaris milik istana Thorton."

"Pengrajin istana?" tanya Amanda bingung.

"Bukan hanya itu." Rahang Zen mengeras samar. "Eledrin adalah aset yang sangat dilindungi di kerajaan ini. Tempat tinggalnya dijaga ketat siang dan malam oleh puluhan prajurit terbaik Thorton. Wanita tua itu bilang, mustahil bagi pengelana biasa seperti kita bisa mendekatinya."

Amanda terdiam. Mendengar fakta barusan membuat senyum miring terlukis dari kedua sudut bibirnya saat sebuah kemungkinan mulai terbentuk di kepalanya. Ia memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang sebelum kembali membuka tatapannya ke arah aliran sungai.

​"Kalau penjagaannya memang seketat itu..." ujarnya. "Lalu bagaimana belati itu bisa sampai ke tangan anak panti asuhan?" ​Jemarinya perlahan mengepal di atas permukaan batu. "Senjata seperti ini bukan sesuatu yang bisa dibeli oleh sembarang orang. Jika akses menuju Eledrin serumit itu, berarti orang yang memesan belati tersebut pasti memiliki pengaruh yang luar biasa besar."

​Amanda menoleh perlahan ke arah Zen.

​"Dan kalau Putri Cassia yang menjadi target pembunuhan itu..." bisiknya rendah, membiarkan kalimatnya menggantung sejenak di udara malam yang dingin. "Maka orang yang mengincarnya kemungkinan besar bukan orang luar. Melainkan... Seseorang dari Castlewood sendiri."

​Zen terdiam sejenak, mencerna analisis Amanda yang berujung pada kesimpulan pahit yang sama dengan pemikirannya. Mata birunya berkilat dingin di balik kegelapan malam.

​"Siapa pun pengkhianat itu, kita akan tetap menemui orang yang membuat senjatanya." Ia berdiri perlahan, membetulkan letak jubahnya yang tertiup angin. "Entah lewat pintu depan sebagai tamu, atau menyelinap sebagai penjahat. Apa pun yang harus kita lakukan, Eledrin Mitrovic tetap harus kita temui."

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!