Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Kamu Sebenarnya?
Andin terbangun dengan napas ngos-ngosan. Tubuh hingga wajahnya basah oleh keringat, padahal ruangan itu menggunakan pendingin ruangan.
Dengan bingung, gadis itu menoleh ke segala arah, mencoba memastikan tempatnya saat ini.
Ruangan ini, luas. Bahkan sangat luas. Dindingnya berwarna krim yang dipadukan abu-abu tua monoton. Furnitur seperti kursi, meja hingga kasur yang ia tempati semuanya berwarna abu-abu tua yang senada. Jendela ruangannya yang terbuat dari kaca, tertutup rapat. Menyisakan cahaya matahari lembut, yang masuk melalui celah gorden yang dibiarkan terbuka.
Ruangan ini, terlalu dingin dan sepi. Andin akan percaya saja, jika seseorang mengatakan bahwa pemiliknya bukan manusia.
10 menit dalam keheningan ruangan, Andin melihat sebuah teko air serta gelas, diatas meja tepat disamping kasur yang ditempatinya.
Tidak tahan dengan tenggorokannya yang haus, Andin mengulurkan tangannya meraih segelas air. Dalam hati, gadis itu berharap air itu tidak mengandung racun.
Akhirnya dalam sekali tegukan, segelas penuh air langsung ia habiskan.
Saat hendak mengembalikan gelas ke meja, tiba-tiba….
“Anda sudah bangun, Nyonya.” Seorang wanita muda berpakaian khas pelayan, menginterupsi.
Suara pelayan yang tiba-tiba itu membuat Andin terkejut, dan…
BRAK
Gelas itu jatuh mengenaskan ke lantai yang dingin, pecahannya berhamburan.
Mendengar keributan itu, telinga Bayu yang sensitif segera membawanya ke kamar tempat istrinya berada.
Tergesa-gesa, Bayu menggunakan kekuatan werewolf-nya untuk segera tiba di kamar.
Pelayan tadi yang melihat kedatangan Alpha-nya, langsung menyingkir.
“Andin, k-kamu—” Suara Bayu terhenti di udara, kakinya baru dua langkah menapaki kamarnya, ketika bau harum misterius yang entah dari mana datangnya langsung mengganggu fokusnya.
Bau ini sangat harum, hingga rasanya jantungnya yang tenang berubah menjadi detakan kalang kabut. Jack di dalam sana sudah melolong heboh.
“Ini bau mate kita, Bayu. Ini jelas aroma tubuhnya.”
Kata-kata Jack langsung mengguncang kesadarannya bak air bah. Mereka jelas masih mengingat saat menguburkan Annisa dengan tangannya sendiri.
“Mas, Bayu. Mas…” Andin memanggil dari atas tempat tidur.
Bayu masih terpaku di tempatnya, diam bahkan tidak bergerak seincipun. Otak cerdasnya mendasak buntu. Ia sama sekali tidak paham apa maksud kejadian ini.
“Mas…” sekali lagi Andin memanggil.
Bayu bersumpah atas nama Moon Goddess yang agung, suara Andin saat memanggil namanya sekarang, seperti mantra yang tidak bisa ditolak olehnya.
Tanpa sadar, kaki yang tadinya terpaku di lantai mulai bergerak perlahan, mendekati sang istri pelan.
“Bayu, gadis ini— dia benar-benar mate kita. Aku yakin 1000 persen.” Jack menjelaskan dari kedalaman kepalanya, saat Bayu melangkah pelan menuju Andin.
“Mate kita sudah mati, Jack.” Bayu menyahuti kata-kata Jack.
“Tidak, Bayu. Andin adalah mate kita yang sebenarnya.” Jack berbicara lagi.
“Diam, Jack!” Bayu bersuara rendah, sarat akan kemarahan, kala kakinya tinggal selangkah dari Andin.
“Mas, k-kita ada dimana? Kenapa aku bisa tidur di sini, mas??” Andin bertanya pada sang suami. Wajah bingungnya sangat kentara.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Bayu di samping Andin masih diam. Ekspresinya tidak bisa dibaca sama sekali. Matanya hanya fokus menatap satu arah. Andin.
“Andin…..” Suara pertama Bayu keluar, nadanya dingin.
“I-iya, mas.” Andin dapat merasakan tekanan dari suara Bayu, menjadi takut tanpa sebab apapun.
“Siapa kamu sebenarnya??”
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/