Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-detik Menegangkan
Benturan keras itu terdengar mengerikan di tengah deru hujan. Tubuh kecil Naira dihantam brutal oleh bemper depan mobil hingga terpental beberapa meter ke udara, sebelum akhirnya jatuh terhempas di atas aspal yang dingin dan keras.
Mobil misterius itu sempat mengerem mendadak hingga bannya berdecit nyaring, namun sedetik kemudian, sang pengemudi justru menginjak gas sedalam-dalamnya, melesat pergi meninggalkan korbannya begitu saja. Sebuah aksi tabrak lari.
Naira terkapar tak berdaya di pinggir jalan yang basah. Darah segar mulai mengalir deras dari pelipis dan sela-sela rambutnya, perlahan tersapu dan larut bersama air hujan yang mengalir di aspal. Kesadarannya perlahan-lahan terkikis, menggelap, dan menyusut. Namun, bahkan di ambang kegelapan total itu, jemari tangan Naira yang gemetar masih mencengkeram erat, enggan melepaskan kain jaket hitam milik Rama.
Beberapa meter dari tempat kejadian, sebuah payung hitam besar tampak bergoyang dihantam angin kencang. Di bawahnya, Rama berjalan dengan langkah konstan. Dia baru saja menyelesaikan urusannya di ruko dan berniat jalan kaki pulang karena motornya mogok dan masuk bengkel setelah dari rumah Naira. Wajahnya tetap datar seperti biasa, namun dadanya entah kenapa terasa sangat sesak seolah sedang dicekik.
Langkah kaki Rama mendadak terhenti saat matanya yang tajam menangkap sesosok tubuh yang tergeletak mengenaskan di dekat tiang lampu jalan yang remang-remang.
Awalnya Rama mengira itu hanya korban kecelakaan biasa. Namun, begitu pendar lampu jalan menyinari siluet tubuh tersebut, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Rama seakan tersedot habis.
Jaket hitam besar itu.
Jaket miliknya yang beberapa jam lalu dia paksakan untuk dipakai gadis itu.
"Naira...?"
Suara bariton yang biasanya terdengar lempeng dan tenang itu kini pecah, digantikan oleh getaran ketakutan yang luar biasa besar. Payung di tangan kanan Rama terlepas begitu saja, terbang terbawa angin badai.
Rama langsung berlari kencang, lalu menjatuhkan lututnya dengan keras di atas aspal yang basah. Dengan tangan yang bergetar hebat, dia mengangkat kepala gadis itu ke pangkuannya. Begitu telapak tangan Rama menyentuh cairan kental hangat yang mengalir dari kepala Naira, pertahanan es di dalam dirinya runtuh total.
"Ra! Bangun, Ra! Kamu ngapain di sini, hah?!" teriak Rama histeris, suaranya bersahut-sahutan dengan suara petir yang menggelegar. "Naira! Buka matamu, jangan bercanda!!!"
Namun, Naira tetap bergeming. Kelopak matanya tertutup rapat, wajahnya pucat pasi seputih kapas, dan detak jantungnya terasa semakin melemah di bawah dekapannya.
Rama mengetatkan rahangnya hingga berbunyi, matanya memerah penuh amarah dan keputusasaan. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung menggendong tubuh Naira yang bersimbah darah secara bridal style, lalu berlari sekuat tenaga membelah badai menuju rumah sakit terdekat. Dia tidak peduli lagi pada air hujan yang menusuk kulitnya, dia hanya peduli pada satu hal. gadis di pelukannya ini tidak boleh mati.
Pintu kaca UGD rumah sakit didorong paksa. Rama masuk dengan napas memburu, baju kaus hitamnya basah kuyup dan ternoda darah segar. Di lengannya, tubuh Naira yang sudah pucat pasi terkulai lemas.
"Dokter! Suster! Tolong dia!" teriak Rama. Suaranya yang biasa lempeng kini terdengar serak dan panik luar biasa.
Para perawat langsung berlari membawa brankar. Rama membaringkan Naira dengan sangat hati-hati. Begitu brankar didorong masuk ke ruang penanganan, Rama dipaksa menunggu di luar. Dia berdiri mematung di koridor yang dingin, menatap telapak tangan yang penuh noda darah Naira. Tubuhnya bergetar hebat.
Rama segera meminta petugas untuk menelpon orang tua Naira, yang diketahui dari data kepolisian, Rama meminta tolong agar pelaku tabrak lari segera ditemukan.
Tidak sampai tiga puluh menit, suara langkah kaki yang terburu-buru menggema di koridor. Tuan Surya Danendra datang bersama istrinya dengan wajah panik. Begitu melihat Rama berdiri di depan pintu UGD dengan baju berlumuran darah, amarah Surya langsung menyala. Dia melangkah lebar dan mencengkeram kerah baju Rama dengan kasar.
"Kamu! Anak ruko sialan!" bentak Surya, matanya memerah. "Kamu apakan putri saya, hah?! Kemarin kamu berani merobek cek saya, dan sekarang kamu berani bawa Naira sampai kayak gini?! Kamu mau balas dendam sama saya?!"
Rama tidak membalas cengkeraman itu. Dia hanya menatap Surya dengan tatapan sedingin es. "Jaga mulut Anda, Pak Surya. Anak Anda celaka karena mencoba lari dari rumah mewah Anda yang beracun."
Sebelum Surya sempat melayangkan pukulan, pintu UGD mendadak terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah tegang.
"Siapa di sini orang tua dari pasien Naira Danendra?" tanya dokter cepat.
"Saya! Saya ayahnya!" Surya langsung melepaskan kerah baju Rama dan maju.
"Pasien mengalami benturan keras di kepala dan kehilangan banyak darah akibat tabrak lari. Kita harus melakukan transfusi darah darurat malam ini juga, atau nyawanya tidak tertolong," ujar dokter dengan nada mendesak. "Masalahnya, stok darah golongan O negative golongan darah yang sangat langka sedang kosong di bank darah kami. Apakah ada dari orang tua yang memiliki golongan darah yang sama?"
Istri Surya langsung menggeleng panik, "Golongan darah saya B, Dok!"
"Saya... saya AB," ucap Surya, mulai berkeringat dingin.
Dokter itu langsung mengernyitkan dahi, menatap berkas medis di tangannya lalu memandang Surya dengan tatapan bingung. "Maaf, Pak. Secara teori medis dan hukum genetika, orang tua dengan golongan darah B dan AB tidak akan pernah bisa melahirkan anak dengan golongan darah. Pasien Naira... tidak bisa menerima darah dari Anda berdua."
DEG.
Bagai dihantam godam, Surya melangkah mundur. Wajahnya seketika pias. "M-maksud Dokter apa? Naira anak saya! Jangan bercanda!"
Di tengah kepanikan dan kebingungan Surya yang dunianya mulai retak, Rama melangkah maju tanpa ekspresi. Dia menggulung lengan kaus hitamnya yang basah dan menatap dokter.
"Dok, tolong periksa darah saya. Siapa tahu cocok buat Naira," ucap Rama tegas.
Surya yang sedang kalut langsung menoleh, menatap Rama dengan pandangan menghina dan penuh amarah. "Tidak perlu! Anak saya tidak perlu darah kotor dari anak ruko seperti kamu!" bentak Surya keras, menolak mentah-mentah.
Dokter itu langsung memotong dengan nada tinggi dan tegas, "Pak! Nyawa anak Bapak harus segera diselamatkan! Kita tidak punya waktu untuk berdebat!" Dokter kemudian menoleh ke arah Rama, "Kamu, ikut saya ke laboratorium sekarang untuk tes sampel darah cepat!"
Rama langsung berjalan mengikuti dokter masuk ke dalam, meninggalkan Surya yang berdiri mematung di koridor rumah sakit dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Lima belas menit berlalu seperti neraka bagi Surya. Saat dokter kembali keluar dari ruang laboratorium membawa selembar kertas hasil lab, wajah dokter itu justru tampak makin berkerut penuh kebingungan yang mendalam.
"Bagaimana, Dok? Darah bocah ruko itu cocok kan buat anak saya?" tanya Surya mendesak, egoisnya masih tersisa meski tubuhnya sudah gemetaran.
Dokter itu menggelengkan kepala perlahan. "Ternyata, golongan darah anak muda tadi juga tidak cocok dengan pasien Naira."
Surya mengembuskan napas lega yang sinis.
"Sudah saya duga, darah dia tidak gun—"
"Tapi ada hal lain yang sangat mengejutkan, Pak Surya," potong dokter, matanya menatap tajam ke arah Surya dan kertas hasil lab bergantian. "Saat kami memeriksa sampel darah anak muda bernama Rama itu... strukturnya menunjukkan kelainan khusus genetik Seseorang hanya bisa memiliki kelainan langka ini jika diturunkan dari orang tua kandungnya."
Dokter itu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Hasil tes kecocokan silang menunjukkan bahwa darah Rama... malah cocok dan identik secara genetik dengan darah Anda, Pak Surya. Secara medis, anak muda berkaus hitam yang Anda sebut anak ruko tadi... memiliki kecocokan DNA 99,9% sebagai anak kandung Anda yang sebenarnya."
BOOM!!!
Dunia Surya Danendra runtuh seada-adanya malam itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak, dan lututnya seketika lemas hingga dia nyaris tersungkur di lantai rumah sakit.