"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Aliansi dalam Kegelapan
BAB 7: ALIANSI DALAM KEGELAPAN
Dada Aruna naik-turun dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena harapan yang mendadak muncul di tengah keputusasaan. Kata-kata dari balik dinding itu—Jangan ditandatangani... kalau kau tanda tangan, kau mati—terus bergema di kepalanya seperti mantra pelindung.
"Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" Aruna berbisik sedekat mungkin ke lubang kecil di dinding itu, sambil sesekali melirik ke arah kamera pengawas di sudut langit-langit, berharap gerakannya tidak terlihat mencurigakan.
"Namaku Maya," suara serak itu kembali terdengar, pelan namun penuh penekanan. "Dulu aku adalah orang kepercayaan Bimo sebelum dia membangun kerajaan bisnisnya. Aku tahu bagaimana dia memalsukan aset, bagaimana dia menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya... dan bagaimana dia mengurungku di sini selama tujuh tahun dengan identitas palsu."
Tujuh tahun. Aruna merinding. Dia baru mengenal Bimo enam tahun yang lalu. Artinya, saat dia sedang jatuh cinta pada pria itu, Bimo sudah menyembunyikan mayat hidup di dalam klinik ini.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Aruna.
"Karena aku melihat diriku sendiri padamu. Dan karena aku punya sesuatu yang tidak dia ketahui," Maya terbatuk kecil. "Di bawah ranjangmu, di dekat kaki kiri... ada baut yang sudah longgar. Aku butuh berbulan-bulan untuk melonggarkannya sebelum mereka memindahkan aku ke sel sebelah. Jika kau bisa melepasnya, kau bisa menggunakan besi itu untuk membuka borgolmu."
Aruna tidak membuang waktu. Dengan tenaga yang tersisa, ia menggeser tubuhnya ke ujung ranjang. Meskipun kepalanya masih berat karena efek obat *benzodiazepine*, kemarahan memberinya kekuatan tambahan. Jarinya meraba-raba besi ranjang yang dingin dan berdebu. Benar saja, ada sebuah baut yang menonjol.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gemerincing, Aruna mulai memutar baut itu. Kulit jarinya terkelupas, perih, namun dia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada Kenzo. Dia tidak bisa membayangkan anaknya tumbuh besar di bawah asuhan pria sosiopat seperti Bimo dan wanita manipulatif seperti Siska.
"Bimo akan kembali satu jam lagi untuk mengambil surat itu," bisik Maya lagi. "Kau harus cepat. Jika petugas masuk untuk memberimu makan, berakting lah seolah kau masih teler. Jangan biarkan mereka melihat matamu."
Tepat saat itu, terdengar langkah kaki di koridor. Aruna segera menarik tangannya kembali ke atas ranjang dan memejamkan mata. Pintu besi terbuka dengan bunyi klik yang tajam.
Seorang perawat masuk membawa nampan berisi makanan hambar dan dua butir pil berwarna biru. Aruna membiarkan mulutnya sedikit terbuka, napasnya dibuat berat dan tidak beraturan. Perawat itu mendengus kasar, meletakkan nampan di meja kecil, lalu menyentuh dahi Aruna dengan kasar.
"Masih belum sadar sepenuhnya. Dosisnya memang kuat," gumam perawat itu sebelum keluar dan kembali mengunci pintu.
Begitu suara langkah kaki menghilang, Aruna kembali beraksi. Dengan satu sentakan kuat yang ditahan, baut itu akhirnya lepas. Dia kini memegang sebatang besi kecil yang tajam. Dengan ingatan masa kecilnya saat sering membantu ayahnya di bengkel, Aruna mencoba mengulik lubang kunci borgol di pergelangan tangan kanannya.
Klik.
Borgol itu terbuka. Aruna hampir saja berteriak kegirangan. Dia segera membebaskan tangan kirinya. Namun, dia tahu dia tidak bisa keluar begitu saja lewat pintu depan.
"Maya, aku sudah bebas. Apa rencana selanjutnya?" bisik Aruna.
"Buka ventilasi di atas kamar mandimu. Itu terhubung ke ruang utilitas. Tapi ingat, Aruna... di sana ada bukti yang kau butuhkan. Bimo menyimpan 'arsip kegagalannya' di ruang brankas kepala klinik. Jika kau bisa mengambil ponsel atau dokumen di sana, kau punya kartu as untuk menghancurkannya secara hukum."
Aruna berdiri, meskipun kakinya masih terasa seperti jeli. Dia menatap surat penyerahan hak asuh anak di atas ranjang. Dengan senyum dingin, dia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di sana. Bukan tanda tangan, melainkan sebuah pesan singkat:
"PERANG BARU SAJA DIMULAI, BIMO."
Aruna memanjat wastafel menuju ventilasi, matanya berkilat penuh dendam. Malam ini, dia bukan lagi ibu yang lemah. Dia adalah singa betina yang akan mengambil kembali anaknya, apa pun taruhannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung...
Bab 8: Pencurian Data Berdarah.