Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Dokter Hewan
Aroma amonia tajam dan jerami basah yang membusuk adalah hal pertama yang menusuk kesadarannya.
Saskia tersedak. Bukan karena aroma itu, tapi karena paru-parunya serasa lupa cara bekerja. Dadanya sesak. Matanya belum terbuka, tapi kelopaknya terasa digerogoti pasir.
Detik berikutnya, suara lalat berdengung tepat di atas telinga. Puluhan, mungkin ratusan, berputar-putar mengerubuti sesuatu yang basah di dekat kepalanya.
Ini bukan laboratorium.
Ingatan terakhirnya masih tercetak jelas di pelupuk mata. Lampu neon laboratorium yang berkedip pelan. Tangan kanannya yang menggenggam pipet mikro, tangan kiri menahan kepala yang berdenyut hebat.
Layar monitor menyala dengan data wabah septicaemia epizootica yang belum selesai ia analisa. Sudah tujuh puluh dua jam. Kopi saset keempat tergeletak kosong di dekat keyboard.
Jantungnya berdebar tidak beraturan waktu itu. Nyeri tajam menjalar ke lengan kiri. Saskia Mahendra, 32 tahun, peneliti veteriner, jatuh tersungkur di antara tumpukan jurnal internasional tanpa sempat menekan tombol panggilan darurat.
Sekarang, ia disini.
Mata Saskia terbuka paksa. Cahaya matahari siang menusuk dari sela-sela genting tanah liat yang sudah retak. Bayangan siluet sapi yang kurus dan kotor bergerak lesu di sudut kandang.
Tangannya... ini bukan tangannya.
Jemari yang ia angkat di depan wajah adalah jemari gadis remaja, kurus dengan kuku-kuku pendek yang kotor oleh lumpur hitam. Kulitnya pucat keabu-abuan, bukan coklat eksotis seperti kulitnya dulu. Lengan ini terlalu ringkih, pembuluh darah kebiruan tembus jelas di bawah permukaan kulit yang hampir transparan.
Kepalanya berdenyut hebat.
Bukan hanya denyut akibat kelelahan. Ada sesuatu yang asing bergerak di dalam tengkoraknya. Memori. Fragmen-fragmen gambar yang bukan miliknya, tapi memaksa tertanam di jaringan otak.
Nama gadis ini juga Saskia. Saskia Utami. Dua puluh tahun. Anak tunggal pasangan petani yang meninggal dua tahun lalu dalam kecelakaan truk pengangkut tebu. Meninggalkan rumah reyot ini, dua ekor sapi limosin yang sudah tua, sawah garapan seperempat hektar, dan utang pakan ternak ke Koperasi Tani Makmur sebesar lima puluh juta rupiah.
Bunganya sudah menggulung menjadi tujuh puluh delapan juta.
Saskia memejamkan mata, berusaha memilah mana memorinya sendiri dan mana milik gadis malang ini. Kepala bagian belakang terasa ditusuk-tusuk. Ia mengerang pelan.
Sapi limosin betina di sudut kandang melenguh pendek. Suara rendah yang lebih terdengar seperti keluhan.
"Aku tahu, Lang," bisik Saskia pada sapi itu, tidak tahu kenapa ia memanggilnya Lang. "Aku juga pusing."
Sapi itu, dalam ingatan Saskia Utami, adalah Limosin betina berumur sembilan tahun. Tulang panggulnya menonjol tajam di bawah kulit. Matanya sayu, bulu di sekitar hidungnya kering dan pecah-pecah. Malnutrisi, dehidrasi, kemungkinan infestasi parasit internal yang sudah kronis.
Tanpa berpikir, naluri klinisnya mengambil alih.
Saskia memaksakan tubuh ringkihnya untuk bangkit. Kepala langsung terasa ringan, pandangan berkunang-kunang selama lima detik penuh. Anemia kronis, diagnosanya. Kadar hemoglobin mungkin di bawah delapan. Badan ini setiap hari berjuang melawan gravitasi, dan gravitasi hampir selalu menang.
Ia merangkak mendekati sapi itu. Telapak tangannya menekan tanah becek bercampur kotoran sapi yang sudah mengering. Jijik adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli saat ini.
"Tenang, Lang. Sini lihat matamu."
Jemarinya yang gemetar memeriksa konjungtiva mata sapi itu. Pucat. Sangat pucat. Hampir putih. Sesuai dugaannya, infestasi cacing berat. Cacing hati mungkin, atau haemonchus.
Tiba-tiba satu fragmen memori lagi menghantam.
Bibi Laras, kakak almarhum ibunya, berdiri di depan pintu kandang ini dua minggu lalu. Tangannya bertolak pinggang, wajahnya masam seperti biasanya.
"Hasil panen sawahmu kuambil dulu untuk bayar sekolah anakku. Hutang budi ibumu dulu masih banyak padaku, Saskia."
Gadis Saskia Utami dalam memori ini hanya bisa menunduk. Tidak bisa membantah. Tidak punya kekuatan.
Paman Harto, suami Bibi Laras, juga datang seminggu kemudian. Membawa dua karung dedak dari gudang Saskia tanpa izin.
"Ini untuk biaya perawatan motorku. Kau kan masih punya simpanan beras, kan?"
Saskia Mahendra, yang sekarang terjebak dalam tubuh ini, mengepalkan tangannya. Kukunya yang pendek dan kotor menancap di telapak tangan. Bukan karena emosi, tapi karena ia harus merasakan sakit agar sadar bahwa semua ini nyata.
Ia pernah menangani sapi pejantan benggala yang mengamuk sendirian. Ia pernah memimpin riset wabah antraks di daerah konflik. Tapi menghadapi kerabat toksik seperti ini? Di kehidupan sebelumnya, Saskia Mahendra adalah yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa. Mungkin itu berkah yang tidak ia sadari.
Perutnya melilit tiba-tiba. Rasa perih yang tajam menjalar dari ulu hati ke seluruh rongga perut. Saskia meringkuk di atas jerami basah, tangannya menekan lambung. Asam lambung naik ke kerongkongan, pahit, membakar.
Belum makan sejak kemarin pagi.
Memori gadis ini menunjukkan ia hanya makan nasi sisa kemarin yang sudah berair, dicampur sedikit garam, dimakan dingin-dingin sambil berdiri di dapur.
Air matanya menetes tiba-tiba. Bukan karena ia ingin menangis. Badan ini terlalu lemah untuk menahan respon fisiologis terhadap stres. Tubuh ini terlalu lelah untuk bahkan sekadar menahan tangis.
"Bodoh," gerutu Saskia pada dirinya sendiri. "Kau dokter hewan. Kau bisa keluar dari ini."
Tapi dokter hewan tidak menyelesaikan masalah utang koperasi. Dokter hewan juga tidak menyelesaikan masalah kerabat pencuri.
Kecuali... air itu.
Ada satu memori aneh yang muncul dari dasar kesadaran Saskia Utami. Memori yang terasa berbeda dari yang lain. Lebih hangat.
Sebuah ruang. Bukan ruangan fisik. Lebih seperti ruang di dalam kepala. Di dalamnya ada sumber air kecil, sebening kristal, dengan aroma yang tidak bisa dideskripsikan.
Air Suci.
Nama itu muncul begitu saja di benaknya. Air yang katanya dulu ditemukan oleh kakek buyut dari pihak ibu di sebuah gua tersembunyi di pegunungan kapur Malang Selatan. Air yang dipercaya bisa menyembuhkan ternak yang sekarat.
Tapi memori itu tidak jelas. Cuma fragmen, seperti mimpi yang setengah terlupakan. Saskia Utami sendiri tidak pernah benar-benar percaya. Atau tidak pernah sempat membuktikannya.
Saskia Mahendra memfokuskan pikirannya. Ruang itu... ia bisa merasakannya. Samar-samar, seperti mengingat wajah orang yang pernah dikenal lama sekali.
Belum sempat ia mendalaminya lebih jauh, bunyi keras mengguncang seluruh kandang.
BRAK!
Pintu kayu lapuk itu didobrak hingga engselnya berderit keras. "Saskia! Kapan kau bayar utang?!"