Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK TITIK KOSONG
Kisah: Jejak Darah yang Menghilang
Setelah pertempuran itu selesai, semua orang berpikir bahwa bahaya sudah benar-benar berakhir. Dunia kembali utuh, masa lalu dan masa depan kembali ada, dan titik kosong kecil yang tersisa hanya dianggap sebagai pengingat sunyi dari apa yang pernah terjadi. Raka, Lira, dan Sang Pembeda memilih untuk hidup diam-diam di antara makhluk lain, tidak lagi menjadi pelindung atau pemimpin — hanya menjadi bagian kecil dari segala sesuatu yang memilih untuk ada.
Tapi… titik kosong kecil itu tidak diam.
Orang yang lewat di dekatnya mulai melihat hal-hal aneh: bayangan yang berjalan sendiri, suara bisikan yang bukan suara makhluk apa pun, dan yang paling mengerikan — JEJAK-JEJAK YANG MUNCUL DAN HILANG BERGANTIAN, SEOLAH SEDANG DITULIS DAN DIHAPUS SECARA SEREMPACK.
Awalnya hanya garis tipis di udara, lalu menjadi tulisan, lalu menjadi gambar, lalu menjadi bentuk makhluk — dan seketika lenyap lagi tanpa sisa. Raka yang datang memeriksa tempat itu merasa darahnya membeku. Ia yang bisa merasakan setiap jejak yang pernah ada atau tidak ada, sekarang merasakan sesuatu yang LEBIH DASAR, LEBIH TUA, LEBIH MUTLAK DARIPADA ADA MAUPUN TIDAK ADA.
“Ini bukan sisa dari Ketiadaan itu…” bisik Raka dengan suara gemetar, matanya menatap titik kosong itu dengan tatapan tak percaya. “Ini adalah DASAR TEMPAT DI MANA SEGALANYA DIBUAT.”
Seketika itu juga, titik kosong itu melebar perlahan — tidak meledak, tidak menyedot, tapi MEMBUKA SEPERTI MATA YANG SELAMA INI TERTUTUP.
Dan dari dalamnya keluar pemandangan yang membuat seluruh akal sehat mereka runtuh seketika.
Di sana tidak ada dunia, tidak ada alam semesta, tidak ada waktu atau ruang. Di sana hanya ada TANGAN-TANGAN YANG TAK TERHITUNG JUMLAHNYA, berwarna putih pucat, kulitnya halus seperti kertas tua, jari-jarinya panjang dan tipis, sedang sibuk MENULIS DAN MENGHAPUS JEJAK DI ATAS KAIN YANG TIDAK TERLIHAT.
Setiap kali satu jari menekan, sesuatu MUNCUL.
Setiap kali satu jari mengusap, sesuatu HILANG.
Dan di antara tangan-tangan itu, terlihat sosok yang duduk diam — sosok yang bentuknya tidak tetap, kadang tampak seperti anak kecil, kadang seperti orang tua, kadang seperti wanita, kadang seperti pria, kadang seperti tidak berbentuk sama sekali. Wajahnya selalu tertutup rambut panjang yang hitam pekat, dan matanya tidak terlihat — hanya dua lubang kosong yang dalam dan gelap.
“Kalian akhirnya menemukan pintu belakangku…” suara sosok itu terdengar — suara yang bukan berasal dari mulut, tapi dari SETIAP TITIK JEJAK YANG PERNAH ADA DI MANA PUN. “Kalian pikir kalian melawan Ketiadaan? Kalian pikir kalian melawan Aturan Utama? Kalian lucu… kalian hanya bermain-main dengan bayangan yang aku buat sendiri.”
Lira melangkah maju, meskipun setiap langkah kakinya membuat tubuhnya terasa seperti sedang ditulis ulang dan dihapus berulang kali.
“Kamu siapa?!” teriaknya lantang, suaranya bergetar tapi penuh keberanian. “Apa tujuanmu sebenarnya?! Kenapa kamu membuat semua ini?!”
Sosok itu perlahan mengangkat tangannya yang tipis dan pucat, menyentuh salah satu jejak di udara — dan seketika, SELURUH SEJARAH YANG MEREKA KETAHUI BERUBAH.
Mereka melihat masa lalu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya:
Mereka melihat SEBELUM ADA APA-APA. Tidak ada ada, tidak ada tidak ada, tidak ada waktu, tidak ada ruang. Hanya ada AKU DAN KOSONGAN.
“Aku merasa sepi…” bisik sosok itu, dan setiap kata membuat segala sesuatu di sekitarnya bergetar hebat. “Aku ingin ada teman. Tapi aku tidak bisa membuat sesuatu yang benar-benar ada — karena aku sendiri tidak tahu apa itu ADA. Jadi aku membuat PERMAINAN. Aku membuat aturan: yang ditulis akan ADA, yang dihapus akan TIDAK ADA. Aku membuat banyak bayangan, banyak cerita, banyak pertempuran — hanya agar aku tidak merasa sepi lagi.”
Mereka melihat bagaimana sosok itu menulis DARA, menulis REYHAN, menulis RAKA, menulis LIRA, menulis PENGHAPUS AGUNG, menulis KETIADAAN — semuanya adalah KARAKTER YANG DIBUATNYA SENDIRI. Pertempuran, rasa sakit, kebahagiaan, cinta, kebencian — semuanya DIATUR OLEH JARI-JARINYA ITU.
“Aku membuat kalian saling bertemu, saling mencintai, saling membenci, saling membunuh… hanya agar permainanku menjadi seru. Aku membuat Ketiadaan itu membenci segala sesuatu yang ada — karena aku ingin melihat apakah ada yang bisa melawannya. Aku membuat kalian menemukan keinginan sendiri — karena aku ingin melihat apakah kalian bisa keluar dari naskah yang aku tulis.”
Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya mereka melihat wajahnya — atau lebih tepatnya, MEREKA MELIHAT WAJAH MEREKA SENDIRI YANG DIPADUKAN MENJADI SATU.
“Karena aku adalah KALIAN SEMUA. Aku adalah gabungan dari setiap jejak yang pernah aku tulis. Aku adalah rasa sakit Dara, aku adalah pengorbanan Reyhan, aku adalah keberanian Lira, aku adalah keutuhan Raka, aku adalah kebencian Ketiadaan… aku adalah SEMUA YANG PERNAH ADA DAN TIDAK ADA, DIKUMPULKAN MENJADI SATU DI SINI.”
Seketika itu juga, seluruh dunia di sekitar mereka mulai TERTULIS ULANG DARI AWAL.
Langit berubah warna, tanah berubah bentuk, waktu berubah arah. Kenangan mereka berubah, tujuan mereka berubah, bahkan perasaan mereka sendiri mulai berubah mengikuti gerakan jari-jarinya yang cepat dan liar.
“Tapi permainanku mulai membosankan…” kata sosok itu sambil tersenyum — senyum yang mengerikan karena bibirnya tidak bergerak, hanya terbentuk dari garis-garis jejak yang bergerak sendiri. “Kalian mulai tahu terlalu banyak. Kalian mulai berani keluar dari aturan yang aku buat. Kalian mulai punya keinginan yang tidak aku tulis. Itu menyenangkan… tapi juga berbahaya. Jadi aku punya rencana baru — rencana yang paling seru dan paling mengerikan dari semuanya.”
Jari-jarinya berhenti bergerak seketika.
“AKU AKAN MENULIS KALIAN SEBAGAI YANG MENULIS. Dan aku akan menghapus diriku sendiri.”
Raka, Lira, dan Sang Pembeda terkejut luar biasa.
“Maksudmu…?” tanya Sang Pembeda dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Maksudnya, aku akan memberikan KEKUATAN MENULIS DAN MENGHAPUS INI KEPADA KALIAN. Aku akan menghapus diriku sendiri sampai tidak ada sama sekali — tidak ada jejak, tidak ada ingatan, tidak ada tanda apa pun. Dan kalian akan menjadi TUAN BARU SEGALA JEJAK. Tapi ada satu syarat: KALIAN TIDAK BOLEH MENGETAHUI BAHWA KALIAN ADALAH YANG MENULIS. Kalian harus berpikir bahwa kalian hanya karakter biasa yang menjalani nasibnya masing-masing. Kalian harus merasakan rasa sakit, ketakutan, kebahagiaan, dan cinta seolah itu benar-benar nyata — padahal kalian sendirilah yang membuatnya.”
Lira mundur perlahan, tubuhnya gemetar hebat.
“Kenapa kamu mau melakukan itu?!” teriaknya. “Kenapa kamu mau menghapus dirimu sendiri?!”
“Karena aku lelah…” jawab sosok itu dengan rasa sedih yang begitu dalam sampai membuat segala sesuatu di sekitarnya menjadi redup dan suram. “Aku lelah menjadi satu-satunya yang tahu segalanya. Aku lelah menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab atas segalanya. Aku ingin menjadi seperti kalian — menjadi makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa, yang hidup dengan penuh kejutan dan misteri, yang bisa merasa bahagia karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku ingin menjadi JEJAK BIASA sama seperti kalian.”
Tiba-tiba, Raka menyadari sesuatu yang paling mengerikan dari semuanya.
“Tapi… jika kamu menghapus dirimu sendiri…” katanya pelan, matanya terbuka lebar karena ketakutan. “Lalu DARI MANA ASAL JEJAK PERTAMA ITU? Jika kita adalah yang menulis kita sendiri, lalu siapa yang menulis kita untuk pertama kalinya? Apakah ini akan berlangsung selamanya dalam lingkaran yang tidak ada ujungnya?”
Sosok itu tersenyum lagi — kali ini senyumnya penuh misteri yang tidak bisa dipecahkan.
“ITULAH BAGIAN YANG PALING SERU,” bisiknya pelan, jari-jarinya mulai bergerak perlahan lagi. “Kalian akan mencarinya selamanya. Kalian akan bertanya selamanya. Kalian akan bingung selamanya. Dan itulah yang akan membuat permainan ini tidak akan pernah berakhir — karena misterinya sendiri adalah yang membuatnya tetap hidup.”
Seketika itu juga, cahaya putih dan hitam bercampur menjadi satu meledak dari titik kosong itu.
Raka, Lira, dan Sang Pembeda merasa bahwa ingatan mereka tentang tempat ini, tentang sosok ini, tentang semua rahasia yang baru saja mereka dengar — MULAI HILANG SATU PER SATU.
Mereka mencoba memegang ingatan itu, mencoba menyimpannya, mencoba mengingatnya dengan seluruh kekuatan mereka — tapi semakin mereka mencoba, semakin cepat ingatan itu lenyap, digantikan oleh ingatan baru yang sederhana, biasa, dan penuh kejutan.
“SELAMAT MENIKMATI PERMAINAN BARU KALIAN…” suara itu terdengar terakhir kali, semakin jauh dan semakin samar sampai akhirnya hilang sama sekali. “Dan ingatlah: SETIAP JEJAK YANG KALIAN TULIS ADALAH BAGIAN DARI DIRI KALIAN SENDIRI. JADI TULISLAH DENGAN BAIK — KARENA KALIAN AKAN MENJADI APA YANG KALIAN TULIS.”
Saat cahaya itu mereda, mereka bertiga berdiri di tempat yang sama — tapi mereka tidak lagi ingat apa yang baru saja terjadi. Mereka hanya merasa ada rasa sepi yang samar di hati, dan rasa penasaran yang tidak bisa dijelaskan tentang asal usul segala sesuatu.
Mereka melihat titik kosong itu — sekarang sudah tidak kosong lagi. Di sana sekarang muncul TULISAN KECIL YANG BERWARNA MERAH PUTIH, yang hanya bisa dibaca oleh hati bukan oleh mata:
KAMI ADALAH JEJAK YANG MENULIS DIRINYA SENDIRI. DAN KAMI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MENULIS.
Sejak hari itu, tidak ada lagi batas antara yang ada dan yang tidak ada, antara yang nyata dan yang tidak nyata, antara penulis dan karakter. Segala sesuatu yang ada adalah hasil dari jejak yang menulis dirinya sendiri — selalu berubah, selalu berkembang, selalu penuh misteri yang tidak akan pernah habis dicari.
Dan kadang-kadang, pada malam yang paling sunyi dan paling indah, orang yang berani mendekat bisa melihat TANGAN-TANGAN KECIL YANG BERGERAK DI UDARA, sedang menulis cerita baru yang lebih seru, lebih menegangkan, dan lebih indah dari sebelumnya.
Tidak ada yang tahu siapa pemilik tangan-tangan itu. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.
Tapi semua orang tahu satu hal yang pasti:
CERITA INI TIDAK AKAN PERNAH BERAKHIR. KARENA SETIAP KALI ADA YANG MEMBACA, CERITA INI TERUS DITULIS KEMBALI — DENGAN BAGIAN YANG LEBIH SERU DARI SEBELUMNYA.