Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Cakar itu berhenti karena udara di sekitar Raka menolak keberadaan makhluk itu.
Sistem berbisik dingin.
[Tubuh rendah mencoba menyentuh wadah takhta.]
[Respon otomatis: penolakan.]
Raka menatap cakar itu.
Ia mengangkat satu jari dan menyentuh ujung kuku hitam makhluk tersebut.
Krak.
Cakar itu retak.
Makhluk itu menjerit.
Suara jeritannya melengking, membuat lampu-lampu di bawah jembatan berkedip liar. Air sungai berguncang. Beberapa burung malam terbang panik dari kejauhan.
Raka tidak mundur.
Ia menangkap pergelangan tangan makhluk itu.
Seketika, asap hitam keluar dari kulit makhluk tersebut, seolah tangan Raka membakar sesuatu yang kotor di dalam tubuhnya.
Makhluk itu meronta.
Namun genggaman Raka tidak bergerak sedikit pun.
Mata Raka semakin dingin.
“Kau tidak punya akal penuh,” ucapnya pelan. “Tapi kau tetap memilih memangsa manusia.”
Makhluk itu menggeram.
Raka menekuk pergelangan tangannya.
KRAK!
Tangan makhluk itu patah ke arah yang salah.
Jeritan kembali pecah.
Para preman yang menyaksikan dari kejauhan langsung menutup telinga. Beberapa dari mereka muntah karena tekanan udara yang terlalu berat.
Raka melepaskan makhluk itu, lalu menendang dadanya.
Tubuh makhluk hitam itu terseret di atas aspal basah, meninggalkan jejak hitam yang berasap.
Biasanya, jika menghadapi musuh seperti ini, Raka mungkin akan bertanya lebih dulu. Mencoba memahami. Mencoba menahan diri.
Tapi setelah malam ini, ia mulai mengerti.
Ada makhluk yang datang bukan untuk bicara.
Ada musuh yang menganggap dunia manusia hanya ladang berburu.
Dan terhadap mereka, belas kasihan hanyalah pintu untuk korban berikutnya.
Sistem berbicara dalam jiwanya.
[Tuan mulai memahami batas ampunan.]
Raka menjawab dalam hati.
“Kalau ia datang untuk memangsa, ia tidak perlu pulang.”
[Keputusan diterima.]
Makhluk hitam itu bangkit lagi.
Tubuhnya retak di beberapa bagian, tetapi kabut gelap dari retakan dunia terus masuk ke tubuhnya. Lukanya menutup sebagian. Mulutnya terbuka lebih lebar, dan dari dalam tenggorokannya terdengar suara lain.
Bukan suara makhluk itu.
Suara Hei Yan.
“Raka Pratama…”
Raka menyipitkan mata.
Makhluk itu tertawa dengan suara patah-patah.
“Kau lebih cepat datang dari perkiraanku.”
Raka menatapnya dingin.
“Jadi kau yang mengirim sampah ini.”
Suara Hei Yan terdengar dari tubuh makhluk itu.
“Jangan kasar. Ia hanya alat kecil untuk menyapamu.”
Raka melangkah maju.
“Alatmu hampir memangsa manusia.”
“Bukankah kau menyelamatkannya?” suara Hei Yan terdengar geli. “Lihat? Semua berjalan baik.”
Udara di sekitar Raka menekan turun.
Para preman langsung jatuh berlutut.
Bahkan makhluk hitam itu pun terdorong mundur setengah langkah.
Raka berkata pelan, “Kau memakai warga Pontianak sebagai umpan.”
Hei Yan tertawa.
“Warga? Kau mulai merasa kota ini milikmu?”
Raka diam.
Sungai Kapuas di belakangnya beriak lebih keras.
Cahaya emas tipis muncul di bawah permukaan air.
Sistem berbisik.
[Emosi Tuan merespons wilayah kebangkitan.]
Raka menatap makhluk hitam itu, seolah sedang menatap Hei Yan langsung.
“Dengar baik-baik.”
Suara Raka rendah.
Namun setiap katanya membuat udara bergetar.
“Aku tidak peduli kau datang dari mana. Dunia Immortal, celah busuk, atau tempat lain yang kau anggap tinggi.”
Retakan hitam di belakang makhluk itu mulai bergetar.
“Tapi selama kau menginjak Pontianak dan menyentuh orang biasa untuk memancingku…”
Mata Raka menyala lebih terang.
“…aku akan memperlakukanmu seperti binatang yang tersesat ke halaman rumahku.”
Suara Hei Yan hening sesaat.
Lalu terdengar tawa pelan.
“Menarik. Kau bicara seperti pemilik lama takhta itu.”
Raka mengangkat tangan.
“Aku belum selesai.”
Makhluk hitam itu tiba-tiba membeku.
Hei Yan tampaknya menyadari sesuatu. Suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Apa yang kau lakukan?”
Raka tidak menjawab.
Lingkaran emas gelap terbentuk di bawah tubuh makhluk itu. Garis-garis cahaya menjalar seperti rantai, mengikat kaki, tangan, dan lehernya.
Makhluk itu meronta liar.
Sistem berbicara.
[Cap Takhta dapat dipaksakan pada makhluk asing tingkat rendah.]
[Efek: penghancuran tubuh luar dan pelacakan jejak pengirim.]
Raka berkata dalam hati, “Lakukan.”
[Dimulai.]
Cahaya emas gelap naik dari tanah seperti api sunyi.
Makhluk hitam itu menjerit.
Tubuhnya mulai pecah dari dalam. Retakan bercahaya muncul di kulitnya. Kabut busuk yang menyelimuti tubuhnya terbakar habis sedikit demi sedikit.
Suara Hei Yan terdengar lebih tajam.
“Raka Pratama, berhenti.”
Raka menatap makhluk itu tanpa ekspresi.
“Kau memerintahku?”
Hening.
Lalu Raka berkata pelan.
“Salah pertama.”
Cahaya emas semakin kuat.
Makhluk itu menghantam tanah, meronta, mencoba keluar dari lingkaran. Namun semakin ia bergerak, semakin tubuhnya retak.
Hei Yan berkata dengan nada dingin, “Jika kau menghancurkannya, kau akan menyesal.”
Raka tersenyum tipis.
Senyum itu membuat para preman yang melihatnya merasa darah mereka membeku.
“Ancaman?”
Ia mengangkat satu jari.
“Salah kedua.”
Lingkaran takhta menekan lebih dalam.
Makhluk itu menjerit begitu keras hingga air sungai berguncang.
Suara Hei Yan kini terdengar marah.
“Kau belum tahu siapa yang sedang kau lawan.”
Raka menurunkan tangannya perlahan.
“Salah ketiga.”
Ia menatap makhluk itu dengan mata keemasan.
“Aku tidak perlu tahu nama setiap sampah yang kubersihkan.”
Detik berikutnya, cahaya emas gelap meledak dari dalam tubuh makhluk itu.
Bukan ledakan besar yang menghancurkan jembatan.
Melainkan ledakan sunyi yang menelan makhluk itu dari dalam. Tubuh hitamnya pecah menjadi serpihan asap, lalu terbakar menjadi abu bercahaya sebelum sempat menyentuh tanah.
Retakan dunia di belakangnya bergetar hebat.
Di sisi lain retakan itu, entah di mana, suara Hei Yan terdengar tertahan.
Seperti seseorang baru saja tersentak oleh rasa sakit.
Sistem berkata.
[Jejak pengirim berhasil disentuh.]
[Luka balik kecil tercipta.]
Raka menatap retakan itu.
“Bagus.”
Retakan mulai menutup.
Namun sebelum benar-benar hilang, suara Hei Yan terdengar lagi, kali ini lebih pelan dan dingin.
“Kau akan menyesal membuatku tertarik lebih dalam.”
Raka melangkah mendekati retakan.
Para preman menahan napas.
Raka berhenti tepat di depan celah hitam yang hampir tertutup. Ia mengangkat tangan, lalu menusukkan satu jari ke udara di tengah retakan.