NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Perdebatan sengit antara Kaiden dan Leon di perpustakaan berakhir mengecewakan bagi keduanya. Alma, yang menjadi sumber perdebatan, tidak memilih untuk mengikuti salah satu dari mereka. Ia memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Alasannya sederhana, kemarin ia sudah tidak pulang, dan ia khawatir Isabella akan cemas jika dirinya kembali.

Sesampainya di rumah, Alma langsung menuju kamarnya. Ia mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih sederhana. Blus putih longgar dan rok selutut warna krem. Rambutnya ia ikat rendah, membiarkan beberapa helaian terlepas membingkai wajahnya. Usai merapikan penampilannya, ia keluar dari kamar dan melangkah menyusuri lorong lantai dua yang lengang.

Di persimpangan lorong, ia berpapasan dengan seorang bodyguard keluarga Morrison. Pria itu mengenakan setelan hitam lengkap dengan ear-piece di telinganya. Langkah mereka sama-sama terhenti, saling memberi ruang.

Jean, nama bodyguard itu. Dia sedikit membungkuk, lalu mendekat untuk membisikkan sesuatu di telinga Alma. Kata-katanya singkat, namun cukup untuk membuat bibir gadis itu melengkung membentuk senyum samar yang tidak ia tunjukkan kepada orang lain.

"Terima kasih, Jean," ucap Alma pelan.

Jean menegakkan kembali tubuhnya, mengangguk sopan, lalu melanjutkan tugas patrolinya tanpa suara. Alma menatap punggungnya sebentar sebelum melangkah menuruni anak tangga menuju lantai satu.

Begitu sampai di ruang tamu, Alma mendapati Isabella tengah duduk anggun di sofa utama. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan dandanan rapi dan seorang gadis seusia Alma tengah berbincang. Alma mengenal keduanya dengan baik.

"Alma, kemarilah," panggil Isabella, suaranya terdengar ramah namun tegas. "Tante Rachel dan Bianca berkunjung hari ini."

Alma mendekat, lalu duduk di sisi Isabella.

Rachel menyambutnya dengan senyum lebar. "Alma, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau semakin cantik saja, ya."

Senyuman dan pujian itu terdengar manis, namun bagi Alma terasa seperti lapisan gula di atas racun. Ia tahu, Rachel bukan tipe orang yang memberi pujian tanpa maksud tertentu.

Rachel adalah sepupu jauh Isabella, yang sejak muda diasuh oleh kakek-nenek Alma setelah insiden yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Karena itulah, kunjungan mereka ke kediaman Morrison bukanlah hal yang aneh.

"Terima kasih, Tante Rachel," jawab Alma dengan senyum sopan, walau hatinya tetap waspada.

Rachel mengangguk tipis, lalu mengalihkan pandangan kepada Isabella. "Ngomong-ngomong, tujuan kedatanganku hari ini untuk menanyakan sesuatu."

Isabella meletakkan cangkir tehnya. "Menanyakan hal apa?"

"Begini," Rachel tersenyum tipis. "Kau tahu kan tentang pesta teh yang diselenggarakan oleh Nyonya Radcliffe? Aku rasa undangannya sudah sampai padamu."

"Ya, memang sudah."

"Kalau begitu, bisakah kau membawa Bianca bersamamu? Dia akan bersikap baik, tidak akan mempermalukanmu. Lagipula ini kesempatan bagus untuknya." Nada bicara Rachel tenang, namun ada desakan halus yang tidak bisa disamarkan.

Senyuman di wajah Isabella menegang. Ia menatap Rachel cukup lama sebelum menjawab. "Maaf, Rachel. Aku rasa aku tidak bisa membawa putrimu."

Alis Rachel sedikit berkerut. "Kenapa?"

"Karena nanti aku akan membawa Alma."

Ekspresi Rachel berubah. "Alma? Untuk apa membawanya ke acara seperti itu? Dia tidak pernah menghadiri pesta teh bergengsi. Berbeda dengan Bianca." Suaranya mulai terdengar sinis. "Alma biasanya hanya pergi ke tempat-tempat... kumuh itu, kan?"

Ucapan itu menusuk, namun Isabella tidak membiarkan emosinya terpancing. Ia menegakkan tubuhnya dan menjawab tenang, namun dengan nada yang tegas. "Memang, tapi yang perlu kau ingat, Alma adalah putri satu-satunya keluarga Morrison. Sedangkan Bianca..." Isabella menatap tajam, "...apa statusnya?"

Suasana ruangan seketika mengeras.

"D-dia... keponakanmu..." jawab Rachel dengan suara tertahan.

"Entahlah," Isabella mengangkat bahu seakan tak peduli. "Kita hanya sepupu jauh. Meskipun dulu kau diasuh oleh kedua orang tuaku, seharusnya kau tahu tempatmu. Jangan melewati batas."

Kata-kata itu membuat Rachel dan Bianca membeku. Bianca menunduk, menahan amarah, sementara Alma yang duduk di samping Isabella justru menahan senyum puas.

"Jika tidak ada hal lain," Isabella berdiri, "kalian boleh pergi. Aku sedang sibuk dan tidak bisa mengantar kalian."

Rachel dan Bianca bangkit dengan wajah masam. Bukan hanya gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka juga diusir dengan cara halus yang sangat menusuk harga diri. Alma mengikuti dari belakang, sengaja memperlambat langkah.

Saat mereka mencapai pintu, Arthur baru saja masuk. Rachel tersenyum manis, melangkah lebih cepat. "Arthur, kau sudah pulang," sapanya lembut, seolah berusaha mencuri perhatian.

Arthur bahkan tidak melirik. Ia melewati keduanya begitu saja. Namun, ketika suara Alma terdengar dari arah pintu, ekspresinya berubah.

"Ayahhh..." Alma memanggil sambil berlari kecil, lalu memeluk Arthur erat-erat.

Senyum lembut muncul di wajah pria itu. Ia mengusap kepala putrinya, lalu mengecupnya. "Alma menyambut Ayah?"

Gadis itu mengangguk dari dalam pelukan, membuat Arthur terkekeh.

Pemandangan itu bagai tamparan bagi Bianca. Dadanya terasa sesak, matanya panas. Ia berbisik kesal kepada ibunya, "Lihat, kalau saja Mama yang menikah dengan Om Arthur, aku yang akan menjadi putri keluarga Morrison. Kenapa Mama malah menikah dengan pengusaha kecil yang bahkan untuk mendapatkan undangan pun harus mengemis?" Tanpa menunggu tanggapan, ia melangkah pergi.

Rachel mengepalkan tangan. "Anak ini..." gumamnya, namun nada suaranya menyiratkan hal yang sama. Siapa yang tidak ingin berada di posisi Isabella? Belasan tahun tinggal di rumah orang tua Isabella, namun perbedaan perlakuan tidak pernah berubah. Isabella selalu mendapatkan yang terbaik, sementara dirinya hanya menerima sisa.

🥀🥀🥀

"Ini masih siang, kenapa kau sudah pulang?" suara Isabella terdengar lembut namun sarat keheranan ketika melihat Alma masuk bersama Arthur.

Arthur menepuk ringan bahu putrinya, lalu menjawab sambil tersenyum tipis, "Bukan pulang, sayang. Aku hanya mampir sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal, lalu akan kembali ke kantor." Nada suaranya tenang, seperti ingin menepis kekhawatiran istrinya.

Isabella mengangguk mengerti. Tangannya yang ramping menuang teh dari teko porselen berukir emas ke dalam cangkir Arthur. Aroma harum daun teh pilihan memenuhi ruangan, bercampur dengan hangatnya cahaya matahari yang menembus tirai tipis.

Arthur melangkah ke kursi tunggal berlapis kulit, duduk dengan sikap elegan. Alma menyusul, mengambil tempat di samping Isabella di sofa panjang yang empuk.

"Aku melihat sepupumu di luar. Alasan apa lagi yang dia utarakan untuk datang ke sini?" tanya Arthur sambil menerima cangkir porselen dari Isabella, mengangkatnya seolah menghargai setiap detail pahatan di permukaannya.

Isabella menghela napas, lalu menjawab dengan nada yang setengah kesal, "Dia meminta aku membawa Bianca ke pesta teh Nyonya Radcliffe." Ia mendengus pelan. "Heh, seolah itu perkara mudah. Tidak semua orang bisa masuk ke lingkaran itu. Dia pikir bisa memanjat tangga sosial melalui keluarga Morrison? Terlalu naif."

Ia mengangkat alisnya sedikit, menyunggingkan senyum sinis. "Aku beralasan akan membawa Alma," tambahnya sambil menatap putrinya sekilas.

Arthur terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Itu bukan ide yang buruk," katanya mantap. "Lagi pula, sudah waktunya Alma mulai mengenal lingkungan sosial kelas atas."

Alma yang tengah menyesap teh nyaris tersedak. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya, matanya membelalak kecil ketika mendapati kedua orang tuanya kini menatapnya penuh harap.

"Bagaimana menurutmu, Alma?" tanya Isabella, kali ini nada suaranya lembut namun tidak memberi ruang untuk menghindar.

"Aku… tidak begitu yakin," jawab Alma dengan nada ragu. Jemarinya memainkan ujung rok yang dikenakannya.

Arthur mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap putrinya dengan penuh kesabaran. "Sayang, kau akan berusia delapan belas tahun sebentar lagi. Sudah sepantasnya identitasmu dikenal oleh kalangan yang tepat. Ini bukan sekadar pesta, tapi awal dari perjalanan sosialmu."

Isabella menimpali dengan nada hangat, "Benar, Alma. Dan memulainya dari pesta Nyonya Radcliffe adalah pilihan yang sangat tepat. Mama akan ada di sampingmu sepanjang acara, jadi tak perlu cemas."

Alma menelan ludah, lalu mencoba berargumen, "Tapi… kenapa tidak Kak Daniel saja yang menemani Mama?"

Isabella tersenyum geli, matanya berkilat jenaka. "Oh, sayang. Pesta teh itu untuk para wanita. Apa kau benar-benar ingin melihat kakakmu mengenakan gaun renda dan duduk manis di meja minum teh?"

Alma spontan meringis, membayangkan sosok Daniel dengan tubuh yang atletis dipaksa memakai gaun pastel. "Baiklah… itu memang pemandangan yang terlalu aneh untuk dibayangkan," gumamnya.

Arthur terkekeh pelan, meneguk tehnya sambil berkata, "Jadi sudah diputuskan. Besok, kau akan menemani Mamah mu. Anggap saja ini latihan sebelum kau benar-benar terjun ke dunia sosial."

Isabella menepuk lembut lutut Alma, senyumnya penuh kasih. "Percayalah, kau akan baik-baik saja. Mama akan memastikan semuanya berjalan lancar."

Alma hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menerima kenyataan. "Baiklah… kalau itu sudah keputusan kalian," ucapnya pasrah, meski dalam hati ia masih merasa sedikit gugup membayangkan suasana pesta yang akan dihadirinya.

🥀🥀🥀

Sore itu, langit di atas kediaman keluarga Morrison berwarna jingga keemasan, seolah seluruh matahari mencurahkan sisa hangatnya sebelum tenggelam di balik cakrawala. Di balkon lantai dua yang luas, Alma duduk santai di kursi rotan berlapis bantalan lembut. Tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terarah jauh ke hamparan kebun mawar yang memenuhi taman. Mawar-mawar merah itu mekar sempurna, menebarkan aroma lembut yang terbawa angin sore.

Di belakangnya, Jean berdiri tegap layaknya bayangan setia. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, setiap gerakan kecil di halaman bawah tidak luput dari perhatiannya. Mantan prajurit itu selalu menjaga jarak yang pas: cukup dekat untuk melindungi, namun tidak mengganggu.

"Jadi mereka mulai mengawasi Violet," ucap Alma lirih, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan lengan kursi. Senyum yang terulas di bibirnya lembut, namun ada yang janggal. Senyum itu mengandung makna lebih dari sekadar kebahagiaan.

Jean mengangguk, suaranya tenang namun tegas. "Ya. Mungkin mereka mengira dia target berikutnya karena pesan itu. Dengan begitu, mereka berharap bisa menangkap pelakunya."

Alma terkekeh pelan, nada tawanya penuh sindiran. "Mereka begitu lambat. Luci bahkan sudah aku kirim pada mereka secara terang-terangan, ke pintu mereka. Tapi tetap saja, tidak ada satu pun petunjuk yang bisa mereka temukan."

Jean terdiam sejenak, sebelum bertanya hati-hati, "Lalu, nona… apa yang akan Anda lakukan padanya dan gadis yang lain"

"Tidak," jawab Alma singkat, matanya tetap mengamati hamparan mawar yang mulai disapu bayangan senja. "Untuk saat ini, aku akan melepaskan mereka. Ada rencana lain yang sudah kusiapkan." Kemudian, tanpa mengubah arah pandangan, ia bertanya datar, "Apa yang aku perintahkan… sudah kau kerjakan?"

"Ya," sahut Jean. "Orang itu sekarang sudah ada di vila."

"Bagus." Sebuah senyum kembali merekah di wajah Alma, kali ini lebih tipis namun jelas menyiratkan rasa puas. "Boneka untuk menemani Freya… akhirnya tiba."

Jean hanya diam. Diamnya bukan berarti patuh tanpa berpikir, melainkan sebuah bentuk kesadaran bahwa di hadapan Alma, semua kata yang berlebihan hanyalah sia-sia. Ia memilih berdiri di sana, menjaga punggung sang nona muda yang tengah menikmati sore seperti seorang ratu yang mengawasi kerajaan kecilnya.

🥀🥀🥀

Jean bukanlah pria sembarangan. Di usianya yang baru menginjak 27 tahun, ia telah mengukir prestasi mengesankan di Angkatan Darat. Disiplin, terlatih, dan memiliki reputasi yang bersih. Namun, dunia militer, seperti dunia mana pun yang diatur oleh manusia. Tak selalu adil. Ketika kepentingan orang-orang berkuasa mulai terancam, Jean menjadi kambing hitam. Ia difitnah oleh rekan-rekannya sendiri, tuduhan keji yang membuat pangkat dan jabatan yang ia raih dengan keringat dan darah dilucuti secara paksa.

Yang lebih menyakitkan, ancaman itu tidak berhenti padanya. Mereka memperingatkan, jika ia berani membuka mulut, keluarganya akan menjadi korban. Ibunya yang sudah renta, adiknya yang masih kuliah. Semuanya akan hancur jika ia menentang.

Dalam kebuntuan dan keputusasaan, Jean akhirnya keluar dari militer. Jalannya membawanya ke sebuah agensi keamanan swasta. Karena kemampuannya yang menonjol, ia segera ditempatkan di bawah perlindungan salah satu keluarga konglomerat paling berpengaruh di negeri ini, keluarga Morrison.

Dan di sanalah ia bertemu dengan Alma.

Nona muda itu, meski berpenampilan anggun dan sopan di hadapan publik, memiliki tatapan yang dapat menembus lapisan terluar seseorang. Alma tidak hanya tahu nama dan pekerjaannya, ia tahu masa lalunya. Ia tahu luka yang Jean simpan rapat-rapat, dan bahkan tahu siapa saja yang telah menghancurkannya.

"Aku bisa membantumu," kata Alma kala itu, duduk di kursi panjang dengan secangkir teh di tangannya. "Bukan hanya kau… tapi keluargamu juga. Dan… aku bisa memastikan mereka yang menjatuhkanmu akan membayar."

Syaratnya sederhana, namun berat. Jean harus bersumpah setia padanya. Kesetiaan yang mutlak. Melakukan apa pun yang diperintahkan Alma, bahkan jika itu berarti menentang hukum atau melawan nurani.

Pada saat itu, Jean yang sudah kehilangan segalanya hanya melihat dua pilihan. Hancur bersama keluarganya, atau bertahan dengan konsekuensi apapun. Maka, sumpah itu pun terucap. Sebuah janji yang, sejak hari itu, mengikat nasibnya dengan sang nona muda. Tanpa ruang untuk mundur.

Dan kini, berdiri di balkon sore ini, Jean tahu satu hal pasti, ia tidak hanya menjadi pelindung Alma. Ia juga menjadi bagian dari permainan rumit yang Alma jalankan, permainan yang tak pernah memberi kesempatan kedua bagi mereka yang mencoba melawan.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!