"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Lingkaran Setan
**Pesan Penulis (Author's Note)**
> **Halo Semuanya!** Selamat datang di cerita terbaru gue, **RED FLAG**. Terima kasih sudah mampir dan meluangkan waktu buat baca kisah Mika, Saka, dan Devan. Cerita ini bakal penuh dengan drama sekolah, persahabatan yang rumit, dan tentunya... cowok-cowok posesif yang bikin geregetan. Jangan lupa buat klik **Favorit**, kasih **Like**, dan tinggalin **Komentar** kalian di bawah ya! Siapa nih yang dari bab satu udah punya firasat bakal tim Saka atau tim Devan? *Happy reading!*
>
****
Kata orang-orang di SMA Tunas Bangsa, gue adalah cewek paling beruntung abad ini.
Setiap kali gue berjalan di koridor sekolah, setidaknya bakal ada puluhan pasang mata yang menatap gue dengan berbagai macam emosi. Ada yang menatap iri, ada yang mencibir sinis, dan ada juga yang terheran-heran seolah gue adalah makhluk ajaib yang salah masuk planet. Gue udah biasa menghadapi itu semua sejak kelas sepuluh. Kenapa? Jawabannya sederhana. Karena di kanan dan kiri gue, selalu ada dua makhluk visual ciptaan Tuhan yang paling banyak digilai di sekolah ini.
Di sebelah kanan gue, berjalan seorang cowok dengan seragam dikeluarkan, dasi entah terbang ke mana, dan rambut hitam acak-acakan yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih keren. Jaket kulit hitam kesayangannya tersampir cuek di salah satu bahu. Dia adalah Saka. Sang *bad boy* ugal-ugalan yang hobi balapan liar dan langganan masuk ruang BK karena kasus perkelahian.
Sementara di sebelah kiri gue, berjalan seorang cowok yang penampilannya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Seragamnya putih bersih, disetrika rapi, lengkap dengan atribut OSIS yang terpasang sempurna di dadanya. Rambutnya tertata rapi, dan sebuah senyuman ramah selalu bertengger di wajah tampannya. Dia adalah Devan. Ketua OSIS kebanggaan sekolah, murid teladan peringkat satu paralel, dan menantu idaman semua ibu-ibu di komplek.
Dan gue? Gue cuma Mikaela. Cewek biasa saja yang kebetulan nasibnya terikat dengan mereka berdua sejak kami masih hobi main tanah di taman kanak-kanak.
"Mik, lo nanti pulang jam berapa?" suara berat Saka memecah keheningan koridor. Dia melirik gue sambil mengunyah permen karet dengan santai. "Gue jemput di kelas lo ya. Gak ada penolakan."
Sebelum gue sempat menjawab, Devan yang berjalan di sisi kiri gue langsung memotong dengan suara tenangnya yang khas, namun entah kenapa terdengar sedikit menusuk. "Mika hari ini pulang bareng gue, Sak. Dia ada janji mau nemenin gue nyari buku referensi di toko buku dekat rumah."
Saka langsung berhenti melangkah, membuat gue ikut terhenti. Dia mendengus kasar, menatap Devan dengan tatapan menantang yang biasa dia gunakan sebelum menghajar orang di jalanan. "Gak bisa. Gue udah bilang dari semalam kalau hari ini gue mau ngajak Mika ke bengkel. Motor baru gue udah turun, dan gue mau dia yang pertama kali nyoba duduk di jok belakang."
"Mika bukan objek pameran lo, Saka," balas Devan, suaranya tetap tenang, bahkan dia masih sempat melempar senyum tipis pada dua cewek kelas sepuluh yang barusan lewat dan menyapanya. Tapi gue tahu, mata Devan sama sekali gak mencerminkan keramahan itu saat menatap Saka. "Pendidikan lebih penting daripada motor balap lo yang berisik itu."
"Heh, Ketua OSIS terhormat," Saka maju satu langkah, menatap Devan sengit. "Mika itu sahabat gue. Hak gue dong mau ngajak dia ke mana aja."
"Dia juga sahabat gue kalau lo lupa," sahut Devan dingin.
Gue menghela napas panjang, memijit pelipis gue yang mendadak terasa pening. Kejadian seperti ini bukan baru sekali atau dua kali terjadi. Hampir setiap hari, koridor sekolah selalu jadi saksi bisu perdebatan tidak penting antara si pintar dan si pemberontak ini. Celakanya, gue selalu berada di tengah-tengah mereka seperti samsak tinju emosional.
"Stop! Bisa diam gak, sih?" lerai gue akhirnya, menyisipkan tubuh gue di antara mereka berdua sebelum mereka benar-benar adu jotos di depan mading sekolah. "Ini masih jam tujuh pagi, dan gue gak mau nama gue masuk dalam daftar gosip menfess sekolah lagi gara-gara kalian berdua ribut!"
Saka mengerucutkan bibirnya, ekspresi garangnya mendadak hilang digantikan wajah cemberut yang kalau dilihat-lihat agak mirip *puppy* minta makan. "Ya habisnya si Devan sok mengatur banget, Mik. Padahal gue yang nanya duluan."
"Gue gak mengatur, Saka. Gue cuma mengingatkan skala prioritas," Devan membetulkan letak kacamata bacanya yang sebenarnya tidak miring, lalu beralih menatap gue dengan tatapan lembut—atau setidaknya, itu yang gue tangkap saat itu. "Gimana, Mik? Mau bareng gue atau... dia?"
Gue melihat jam tangan. Lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Kalau gue meladeni mereka terus, gue bisa terlambat masuk kelas Bu Ratna yang terkenalnya galak melebihi macan kelaparan.
"Hari ini gue pulang sendiri! Gue mau naik angkot," putus gue tegas. "Gak ada bengkel, gak ada toko buku. Titik!"
Saka mendesah kecewa, sedangkan Devan hanya tersenyum tipis, seolah tahu kalau keputusan gue adalah jalan tengah yang paling aman.
"Ya udah, kalau gitu ntar istirahat gue ke kelas lo. Awas aja kalau lo makan siang bareng cowok lain," ancam Saka sambil mengacak rambut gue asal-asalan sebelum akhirnya berbalik arah menuju kelasnya di ujung koridor gedung belakang—wilayah kekuasaan anak-anak IPS yang terkenal santai.
"Aku duluan ya, Mik. Jangan lupa sarapan, tadi aku lihat kamu belum sempat mampir ke kantin," kata Devan lembut, tangannya terangkat untuk merapikan beberapa helai rambut gue yang berantakan gara-gara ulah Saka tadi. Sentuhannya singkat, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk gue sedikit meremang. Setelah itu, Devan berjalan pergi menuju ruang OSIS dengan langkah tegapnya yang berwibawa.
Gue berdiri sendirian di koridor, mengembuskan napas lega yang tertahan.
"Gila ya lo, Mik. Punya pawang dua begitu, jantung lo gak copot apa setiap hari?"
Sebuah suara cempreng tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Gue menoleh dan menemukan Risa, sahabat sebangku gue, sedang berjalan mendekat sambil membawa segelas es teh manis di tangannya. Wajahnya dipenuhi ekspresi antara kagum dan ngeri.
"Pawang pala lo peyang," gerutu gue sambil berjalan beriringan bersamanya menuju kelas XII MIPA 2. "Yang ada gue darah tinggi tiap hari hadapi mereka. Heran deh, dari kecil sampai segede ini kelakuannya gak pernah berubah. Selalu aja meributkan hal gak penting."
Risa menyedot es tehnya sampai berbunyi *sruuup*, lalu menatap gue serius. "Gue serius, Mikaela. Lo itu terlalu polos atau emang buta, sih? Lo gak lihat gimana cara mereka menatap lo? Itu bukan tatapan mata seorang sahabat, tahu gak!"
Gue mengernyitkan dahi. "Terus tatapan apa dong? Musuh?"
Risa menepuk jidatnya sendiri dengan frustrasi. "Aduh, ampun deh! Mik, dengerin gue ya. Di mata seluruh anak SMA Tunas Bangsa, Saka dan Devan itu adalah dua kutub *red flag* terbesar yang berjalan di sekolah ini. Saka dengan segala keagresifan dan sifat ugal-ugalannya, dan Devan dengan segala manipulasi psikologis di balik topeng malaikatnya. Dan tebak siapa yang ada di tengah-tengah pusaran itu? Lo, Mika! Lo!"
Gue tertawa renyah, menganggap ucapan Risa hanyalah dramatisasi khas anak remaja yang terlalu banyak membaca novel romantis di aplikasi ponsel. "Lo kebanyakan baca fiksi, Ris. Saka sama Devan itu udah kayak saudara buat gue. Kita tumbuh bareng. Saka emang rada berandal, tapi dia selalu belain gue kalau ada yang jahat. Devan juga, dia selalu bantu gue belajar. Gak ada yang *red flag* dari mereka."
Risa hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan kasihan. "Terserah lo deh, Mik. Tapi ingat kata-kata gue ya, suatu hari nanti, kalau salah satu dari mereka—atau bahkan keduanya—mulai menunjukkan warna asli mereka yang posesif, jangan nangis-nangis ke gue."
Gue hanya mengedikkan bahu cuek. Bagi gue, peringatan Risa dan orang-orang di luar sana hanyalah angin lalu. Saka dan Devan adalah zona nyaman gue. Gak mungkin mereka menyakiti gue.
Namun, gue sama sekali gak tahu, kalau ucapan Risa hari itu adalah awal dari ramalan buruk yang bakal mengubah hidup gue seratus delapan puluh derajat dalam waktu dekat.
Jam pelajaran terakhir hari itu terasa berjalan lambat seperti siput. Di luar, hujan deras mulai mengguyur bumi, menciptakan suara gemercik yang berisik di atas atap seng kelas. Gue menatap keluar jendela, memikirkan ucapan gue tadi pagi tentang pulang naik angkot. Kalau hujannya sederas ini, nunggu angkot di depan gerbang sekolah sama saja dengan bunuh diri menyerahkan diri jadi basah kuyup.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Ponsel di dalam saku rok gue bergetar. Gue melirik Bu Ratna yang sedang sibuk menulis rumus fisika di papan tulis, lalu dengan mengendap-endap mengeluarkan ponsel di bawah kolong meja.
ada dua pesan masuk dari nomor yang berbeda.
> **Saka Ugal-ugalan:** *Hujan deras. Lo jangan nekat pulang naik angkot. Gue tunggu di parkiran belakang, gue bawa mobil abang gue hari ini. Gak ada tapi-tapi.*
>
Gue menghela napas. Baru saja gue mau membalas pesan Saka, satu notifikasi lagi muncul di layar atas.
> **Devan Ketua OSIS:** *Mik, di luar hujan. Aku udah minta supir aku buat jemput kita di depan lobi utama. Kamu gak usah hujan-hujanan ke gerbang depan ya. Aku tunggu di depan kelas kamu pas bel bunyi.*
>
Gue menatap kedua pesan itu dengan perasaan campur aduk. Kepalanya mendadak pening lagi. Kenapa hidup gue harus serumit ini, sih? Pilih Saka berarti gue harus siap-siap menerobos hujan ke parkiran belakang tempat anak-anak IPS biasa nongkrong. Pilih Devan berarti gue bakal jadi pusat perhatian lagi karena pulang naik mobil mewah bareng sang ketua OSIS di depan lobi utama yang ramai.
*KRIIING!!!*
Bel tanda pulang akhirnya berbunyi, menyelamatkan gue dari kebingungan sesaat—atau mungkin, justru melempar gue ke dalam masalah yang lebih besar.
"Gue duluan ya, Mik! Semoga lo selamat dari dua singa lo!" pamit Risa sambil nyengir jahil, buru-buru mengemas tasnya dan berlari keluar kelas bersama gerombolan siswa lainnya.
Gue mendesah pelan, merapikan buku-buku fisika ke dalam tas dengan perlahan, berharap saat gue keluar nanti, kedua cowok itu udah bosan menunggu dan pulang duluan. Tapi tentu saja, keberuntungan gak pernah berpihak pada gue dalam urusan seperti ini.
Begitu gue melangkah keluar pintu kelas, sosok Devan sudah berdiri di sana. Dia bersandar di tembok koridor dengan payung hitam di tangannya, tersenyum sangat manis begitu melihat gue keluar.
"Hai, udah selesai?" tanya Devan lembut. Dia melangkah mendekat, secara alami mengambil alih tas ransel gue yang berat untuk dia jinjing. "Yuk, mobilnya udah nunggu di depan lobi."
"Eh, Dev, gak usah repot-repot... gue bisa..."
"Mika!"
Sebuah teriakan lantang yang sangat familiar memotong ucapan gue. Dari ujung koridor, Saka berjalan dengan langkah lebar. Pakaiannya agak basah terkena cipratan air hujan, dan matanya menatap tajam ke arah Devan yang sedang memegang tas gue.
"Gue kan udah bilang di chat, lo pulang bareng gue!" kata Saka ketus begitu sampai di depan kami. Dia langsung merebut tas gue dari tangan Devan dengan sentakan kasar.
Suasana koridor yang tadinya ramai oleh anak-anak yang mau pulang mendadak hening. Beberapa murid sengaja memperlambat langkah mereka, berbisik-bisik sambil menonton drama gratisan yang menyajikan ketegangan antara dua cowok paling populer di sekolah.
Mata Devan menyipit, senyum manisnya hilang seketika digantikan oleh tatapan yang begitu dingin hingga membuat atmosfer di sekitar kami terasa membeku.
"Saka, lepasin tas Mika," kata Devan, suaranya sangat rendah, bernada penuh ancaman yang jarang dia tunjukkan di depan umum. "Dia pulang bareng gue. Supir gue udah nunggu di depan."
"Gue gak peduli sama supir lo!" bentak Saka, sama sekali gak gentar. Dia menarik lengan gue dengan lembut namun erat, menyembunyikan tubuh gue di belakang punggung tegapnya, seolah-olah Devan adalah musuh berbahaya yang mau merebut miliknya. "Mika bareng gue. Titik."
"Kalian berdua bisa diam gak?!" suara gue meninggi, membuat beberapa anak yang menonton langsung memalingkan wajah pura-pura gak lihat. Gue menarik tas gue dari cengkeraman Saka, lalu menatap mereka berdua bergantian dengan napas terengah-engah karena kesal.
"Gue cape. Gue mau pulang sendiri. Dan stop bikin keributan di depan kelas gue!" setelah mengatakan itu, gue langsung berbalik dan berlari menerobos koridor, mengabaikan teriakan Saka dan panggilan Devan yang menggema di belakang gue.
Gue terus berlari menuju tangga, masa bodoh dengan hujan deras yang sudah menunggu di luar. Yang gue tahu pasti saat itu, gue cuma ingin lepas dari atmosfer menceking yang diciptakan oleh kedua sahabat gue itu.
Gue tidak pernah menyadari, kalau pertengkaran-pertengkaran kecil ini hanyalah riak kecil di permukaan. Di balik itu semua, sebuah gelombang obsesi yang besar dari Saka dan Devan sedang bersiap untuk menggulung dan mengunci gue di dalam lingkaran mereka. Sebuah lingkaran peringatan yang orang-orang sebut sebagai... *Red Flag*.
Dan semua itu, bakal meledak tepat di hari ulang tahun gue yang ketujuh belas, beberapa minggu dari sekarang.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Gimana bab pertamanya, guys?** Konfliknya udah mulai kerasa belum nih? Saka yang agresif terang-terangan atau Devan yang tenang tapi mematikan, kalian lebih penasaran sama karakter yang mana? Coba ketik di kolom komentar ya! Jangan lupa tinggalkan jejak berupa **Like** dan **Vote** agar draf Bab 2 bisa cepat rilis. Sampai jumpa di bab selanjutnya, salam hangat dari **@ujang_Bonang**!
>