NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Garis Batas yang Mengabur

Meja makan di kediaman Wijaya malam itu terasa begitu mencekam.

Kesunyian yang menyelimuti ruangan bukanlah jenis ketenangan yang menenteramkan, melainkan keheningan yang sarat akan ketegangan yang tertahan di udara.

Renard Wijaya, sang CEO yang biasanya dikenal dengan sikap perfeksionis dan dominannya, tampak jauh lebih pendiam.

Ia menghabiskan sup ayam herbalnya tanpa banyak kata, hanya sesekali bergumam pendek sebagai respons saat Mama Sofia menanyakan perkembangan audit perusahaan atau detail operasional di kantor.

Namun, bagi Arumi, ada hal yang jauh lebih menyita perhatian ketimbang sikap diam sang suami.

Ia bisa merasakan sepasang mata tajam milik Renard beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.

Tatapan itu sulit diterjemahkan; ada campuran antara rasa jengkel yang ditekan, kebingungan yang nyata, dan sesuatu yang asing—sebuah pancaran emosi yang belum pernah Arumi lihat di wajah datar pria itu sebelumnya.

Arumi menyadari bahwa sejak pertemuan mereka di paviliun siang tadi, ada pergeseran halus dalam cara Renard memandangnya.

Selesai makan, Renard tidak berlama-lama di ruang keluarga seperti biasanya. Ia langsung bergegas kembali ke kamar utama di lantai dua dengan alasan klasik: masih ada tumpukan dokumen penting yang harus ditinjau sebelum fajar menyingsing.

Pukul sepuluh malam, Arumi akhirnya memutuskan untuk menyusul ke kamar. Setelah memastikan Mama Sofia sudah beristirahat dengan tenang di kamar tamu, ia menaiki tangga dengan langkah perlahan.

Begitu pintu kayu ek yang berat itu terbuka dan tertutup kembali dengan bunyi klik yang halus, Arumi mendapati pemandangan yang cukup langka.

Renard tengah duduk di kursi kerjanya yang ergonomis di sudut ruangan.

Kacamata berbingkai perak tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan cerdas sekaligus dingin yang kontras dengan suasana kamar yang remang.

Layar laptop yang menyala menyorotkan cahaya biru ke wajahnya, namun jemarinya sama sekali tidak bergerak di atas keyboard. Pria itu hanya menatap layar dengan pandangan kosong, seolah terjebak dalam labirin pikirannya sendiri.

Arumi berjalan pelan menuju sofa panjang di sisi lain kamar.

Ia mulai merapikan duvet bulu angsa abu-abu pemberian Renard semalam, sebuah benda yang kini menjadi saksi bisu atas perubahan dinamika hubungan mereka.

"Tuan Renard," panggil Arumi dengan suara lembut, memecah kesunyian yang seolah menghimpit ruangan.

Renard tersentak kecil, seolah baru saja tersadar dari lamunan panjang.

Ia buru-buru membetulkan posisi kacamatanya dengan gerakan yang sedikit kaku, lalu menoleh ke arah Arumi.

Ia berusaha keras kembali mengenakan topeng dingin andalannya. "Apa?" tanyanya singkat, dengan nada sedatar permukaan air kolam.

"Apakah pekerjaannya sangat berat malam ini? Kalau Anda lelah, sebaiknya lampu utamanya saya matikan saja agar Anda bisa langsung beristirahat," tawar Arumi.

Ia mengucapkannya dengan tenang, tanpa niat memancing pertengkaran atau mencari perhatian. Ia murni hanya ingin menawarkan kenyamanan.

Renard menyipitkan mata, menatap Arumi dengan penuh selidik.

Sikap manis istrinya sejak sore tadi—perhatian kecil yang tulus namun konsisten—benar-benar mengacaukan insting bisnisnya yang selalu waspada.

Pria itu menutup laptop-nya dengan gerakan tegas, lalu berdiri dan melangkah mendekat ke arah sofa dengan langkah terukur.

"Arumi, sebenarnya apa yang Mama katakan padamu tadi siang di paviliun?" tanya Renard, langsung menuju inti masalah.

Suaranya rendah, sarat akan kecurigaan yang selama ini dipendam. "Jangan coba-coba membohongiku. Aku tahu betul tabiat ibuku. Beliau pasti menceritakan hal-hal yang tidak penting tentangku, bukan? Atau mungkin beliau mencoba menjeratmu dengan kisah-kisah melodramatisnya?"

Arumi menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik suaminya.

Alih-alih merasa takut atau tersudut oleh intonasi Renard yang mendesak, Arumi justru tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh empati yang sanggup meluluhkan pertahanan siapa pun.

"Mama tidak mengatakan hal yang tidak penting, Tuan," jawab Arumi jujur.

"Mama hanya bercerita betapa hebatnya Anda. Beliau bilang Anda adalah anak yang luar biasa berbakti, yang rela mengorbankan masa muda dan kenyamanan sendiri demi melindungi warisan ayah Anda serta menjaga keselamatan Mama. Mama hanya merasa bangga, dan saya rasa itu adalah hak setiap ibu."

Rahang Renard seketika mengeras mendengar kalimat itu.

Dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun mendadak terasa diguncang hebat. Ia mengepalkan tangan di dalam saku celananya, berusaha menekan rasa rapuh yang tiba-tiba menyeruak dari masa lalunya yang kelam.

"Jangan dengarkan semua ucapan Mama, Arumi. Beliau hanya terlalu banyak bernostalgia dan berimajinasi," desis Renard tajam.

Suaranya bergetar halus, mencoba menekan ego raksasanya yang menolak terlihat lemah di depan wanita ini. "Aku melakukan semua ini murni demi ambisi bisnis dan kelangsungan saham Wijaya Group. Aku bukan pahlawan, dan aku tidak butuh belas kasihan dari siapa pun—termasuk dari istri kontrak sepertimu. Jadi, kembalilah ke posisimu dan jangan mencampuri urusan pribadiku!"

Meskipun kalimat yang keluar dari bibir Renard terdengar kasar dan dingin, Arumi tidak mundur selangkah pun.

Pandangannya justru turun ke arah kedua daun telinga Renard yang kini sudah memerah sempurna hingga ke pangkal lehernya. Pria ini sedang ketakutan—ia takut karena rahasia terbesarnya, sisi manusiawi yang penuh luka, telah terungkap.

Ia merasa terekspos.

"Saya tidak mengasihani Anda, Tuan Renard," ucap Arumi pelan, suaranya begitu lembut hingga mampu menenangkan gemuruh di dada pria itu.

"Saya justru menghormati Anda. Dan jika selama sisa kontrak ini saya bisa membantu Anda membuat Mama Sofia merasa bahagia dan tenang di rumah ini, maka saya akan melakukannya dengan tulus. Bukan demi kontrak, melainkan karena Mama pantas mendapatkannya. Begitu juga dengan Anda. Anda pantas merasa tenang di rumah Anda sendiri."

Renard membeku.

Kata-kata Arumi bagaikan palu gada yang menghantam telak baju zirah besi yang selama ini mengunci hatinya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada seseorang yang mampu melihat melampaui topeng monsternya dan tetap memilih untuk tinggal dengan kehangatan.

Ia merasa terpojok oleh kebaikan yang tak terduga.

Tidak mampu menahan gejolak debaran jantungnya yang kian menggila dan rasa malu yang sudah di ubun-ubun, Renard buru-buru memalingkan wajah ke arah ranjang.

"Terserah kamu saja! Cepat tidur dan matikan lampunya! Kamu sangat berisik!" bentak Renard salah tingkah.

Ia melangkah cepat menuju ranjang dan langsung merebahkan diri memunggungi Arumi, menarik selimut hingga sebatas telinga, mencoba menyembunyikan sisi rapuhnya dalam kegelapan.

Arumi hanya terkekeh pelan tanpa suara.

Ia mematikan sakelar lampu utama, menyisakan cahaya remang-remang dari lampu tidur di sudut kamar.

Saat ia membaringkan tubuh di atas sofa dan menarik duvet tebalnya, Arumi menyadari satu hal penting: garis batas yang tertulis dengan tinta hitam di atas kertas kontrak pernikahan mereka perlahan-lahan mulai mengabur.

Batasan antara profesionalisme dan perasaan mulai melebur, dan di tengah kegelapan malam yang hangat ini, Arumi merasa bahwa tembok pertahanan Renard Wijaya mungkin tak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!