NovelToon NovelToon
Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Istri Solehot Dan Raket Nyamuk Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Kehidupan Tentara / Beda Usia / Perjodohan / Cinta setelah menikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

"Pesta apa? Pedang... pedang pora? Itu pedangnya beneran tajam enggak, Pa? Jangan sampai salah potong terus kena gaun Calla!"

​Suara cicitan Calla memecah keheningan ruang makan keluarga Vance yang mewah. Di atas meja jati besar itu, mangkuk sup ayam kampung buatan Mama Diah masih mengepulkan uap hangat, namun fokus Calla sudah sepenuhnya teralih pada lembaran brosur berlogo militer yang disodorkan oleh Papa mertuanya.

​Papa Alaric, sang Jenderal purnawirawan, langsung tertawa terbahak-bahak hingga bahunya yang tegap terguncang. "Hahaha! Tidak akan terpotong, Calla. Itu tradisi upacara pernikahan militer. Pedangnya hanya sebagai simbol penghormatan dari para perwira muda untuk melepas masa lajang Alaric."

​"Tapi, Pa... Calla kan nggak bisa jalan tegap kayak tentara. Kalau Calla kesandung kain kebaya terus jatuh gelinding gimana? Malu-maluin nama besar keluarga Vance, dong?" Calla mengerucutkan bibirnya, menyendok kuah sup dengan malas.

​"Kamu tidak perlu khawatir, Sayang," potong Mama Diah lembut sambil mengusap punggung tangan Calla. "Semua urusan dekorasi, gedung, katering, sampai desainer kebaya resepsimu nanti, Mama yang atur semuanya. Kamu dan Alaric tinggal datang, senyum yang cantik, dan terima beres. Ya, kan, Pa?"

​"Betul. Tugas Alaric cuma satu: pastikan berkas dinasnya beres minggu ini, lalu latihan jalan pelan biar tidak sekaku tripleks saat menggandeng kamu di pelaminan nanti," sahut Papa Alaric sambil melirik putranya dengan tatapan jenaka.

​Alaric yang sejak tadi makan dalam diam dengan posisi duduk yang sangat tegap hanya bisa menghela napas pendek. Ia meletakkan sendoknya dengan rapi di atas piring keramik mahal ibunya. "Siap, Pa. Berkas personel sudah diproses siang tadi. Sisanya saya serahkan pada Mama."

​"Ih, Paksu kok pasrah banget sih? Nggak ada request apa gitu? Misalnya... kamar pengantinnya harus penuh bunga mawar biar aura istri solehot-nya makin keluar?" celetuk Calla tanpa dosa, mengedipkan sebelah matanya ke arah Alaric.

​Uhuk!

​Alaric langsung tersedak air putih yang baru saja diteguknya. Wajah tegasnya mendadak kaku, sementara Mama Diah dan Papa Alaric justru saling pandang sebelum akhirnya ruang makan itu kembali dipenuhi suara tawa riuh kedua orang tua tersebut.

​Malam harinya, suasana berubah total.

​Kamar masa kecil Alaric di rumah joglo itu sangat luas, didominasi furnitur kayu jati tua yang kokoh dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Jendelanya yang besar terbuka sedikit, membiarkan embusan angin malam bertiup pelan, menggoyangkan tirai putih tipis.

​Calla duduk di tepi ranjang berukuran king size. Gadis yang biasanya tidak bisa diam, cerewet, dan hobi menggoda Alaric itu kini mendadak berubah menjadi sangat tenang. Ia memakai piyama satin panjang berwarna abu-abu, kedua lututnya ditekuk dan dipeluk erat ke dada. Tatapan matanya kosong, lurus menatap lantai kayu.

​Alaric yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan kaus dalam hitam dan celana training panjang. Ia menyisir rambutnya yang setengah basah dengan jari, lalu langkah kakinya melambat saat menyadari keheningan yang tidak biasa dari istri kecilnya. Tidak ada daster mini, tidak ada rayuan gombal, dan tidak ada raket nyamuk gila yang berbunyi bzzzt.

​Alaric berjalan mendekat, lalu duduk di sisi ranjang yang kosong, tepat di samping Calla. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

​"Calla," panggil Alaric, suaranya melunak beberapa oktav dari biasanya. "Kamu kenapa? Ada yang sakit? Sup dari Mama tadi membuat perutmu tidak nyaman?"

​Calla tidak langsung menjawab. Ia perlahan menoleh, menatap Alaric dengan sepasang mata kucingnya yang ternyata sudah digenangi air mata. Satu kedipan saja, dan bulir-bulir bening itu langsung luruh melewati pipinya yang mulus.

​"Paksu..." bisik Calla, suaranya bergetar parau.

​"Iya, saya di sini. Ada apa?" Alaric menggeser duduknya lebih dekat, tangannya yang kekar dan kapalan bergerak ragu sejenak, sebelum akhirnya ia memberanikan diri membawa tubuh mungil Calla ke dalam pelukannya.

​Begitu dada bidang Alaric menyentuh bahunya, pertahanan Calla runtuh total. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alaric, mencengkeram kaus hitam suaminya dengan erat. Tangisannya pecah, sesenggukan yang menyayat hati memenuhi kamar yang sunyi itu.

​"Calla... kangen Papa, Paksu..." tangis Calla bombay, bahunya naik turun menahan buncahan rindu yang sejak kemarin ia tahan di depan umum. "Mama dan Papa Alaric baik banget sama Calla... Calla seneng banget... tapi... tapi Calla jadi inget Papa. Biasanya Papa yang selalu meluk Calla kalau Calla lagi sedih..."

​Alaric tidak pintar merangkai kata-kata manis. Sebagai tentara, ia lebih terbiasa memberi perintah atau taktik perang. Namun malam ini, ia hanya mengencangkan pelukannya, mengusap rambut panjang Calla dengan sangat lembut dan telaten, membiarkan kaus dalamnya basah oleh air mata istrinya.

​"Papa Harjuno sudah tenang di sana, Calla. Beliau menitipkanmu pada saya karena beliau tahu, di sini kamu tidak akan pernah sendirian lagi. Ada saya, ada Mama, ada Papa," bisik Alaric di dekat telinga Calla.

​Calla menghirup napas dalam-dalam, mencoba meredakan tangisnya walau hidungnya sudah memerah total. Ia mendongak, menatap Alaric dengan wajah sembap yang justru terlihat sangat menggemaskan.

​"Tapi sekarang Calla sebatang kara, Paksu... kayak kartun yang sering Calla tonton waktu kecil..." Calla menarik napasnya yang tersendat-sendat, lalu dengan suara serak mendadak mulai bernyanyi pelan di sela sesenggukannya. "Hachi... anak yang sebatang kara... pergi mencari... ibunya..."

​Alaric seketika membeku. Kerutan di dahinya langsung muncul. Pria 38 tahun itu mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mencerna situasi ajaib ini. Di tengah momen melow yang mengharu biru begini, istrinya sempat-sempatnya menyanyikan lagu soundtrack kartun lebah jadul?

​"Calla, kamu bukan lebah," ujar Alaric kaku, menahan diri setengah mati agar tidak mendengus geli melihat keajaiban otak istri cegil-nya.

​"Ih, mirip tahu! Sama-sama kasihan!" Calla mengusap ingusnya dengan tisu yang disodorkan Alaric, lalu bersandar lemas di dada kekar suaminya, merasa jauh lebih tenang setelah meluapkan emosinya.

​Keheningan kembali merayap, namun kali ini terasa hangat. Alaric perlahan melonggarkan pelukannya, berniat memperbaiki posisi tidur Calla. "Sudah malam. Tidurlah. Saya akan tidur di sofa depan."

​"Jangan!" Calla langsung menahan lengan kekar Alaric, menatapnya dengan pandangan frontal yang berani. "Malam ini tidur di sini aja sama Calla. Di kasur ini."

​Alaric menegakkan punggungnya, jakunnya naik turun. "Calla, kasur ini—"

​"Kalau Paksu belum siap kasih malam pertama yang sesungguhnya buat Calla karena Calla masih berduka, nggak apa-apa kok. Ismut paham," potong Calla dengan nada enteng tanpa beban, menatap lurus ke arah dada Alaric. "Tapi Ismut mau tidurnya sambil dipeluk erat sama Paksu. Dipeluk kayak guling. Dada Paksu kan keras kayak beton, enak buat senderan kepala Calla yang lagi pusing."

​Mendengar kata 'malam pertama yang sesungguhnya' keluar begitu saja dari bibir ranjang Calla, seluruh pertahanan kedisplinan Alaric runtuh dalam sekejap. Semburat merah merona langsung menjalar cepat dari leher, pipi, hingga ke ujung telinga sang Komandan Pasukan Khusus. Hasrat yang sejak kemarin ia tekan dalam-dalam di bawah lari maraton lapangan, malam ini mendadak kembali bergejolak hebat hanya karena permintaan polos berbalut frontal dari istrinya.

​"Calla... bicara yang sopan," tegur Alaric, suaranya mendadak berubah menjadi sangat serak, berat, dan dalam.

​"Tuh kan, beneran merah mukanya! Lucu banget sih Paksu kalau lagi nahan nafsu!" Calla malah terkekeh geli, kesedihannya menguap begitu saja digantikan kepuasan melihat suaminya yang garang berubah jadi salah tingkah.

​Tanpa permisi, Calla langsung menarik selimut tebal, merebahkan tubuhnya, dan dengan paksa menarik lengan Alaric untuk dijadikan bantalan kepalanya, lalu memeluk pinggang kokoh suaminya erat-erat.

​Alaric hanya bisa mengembuskan napas pasrah, ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi super kaku di samping Calla. Menatap langit-langit kamar dengan jantung yang berdegup dua kali lipat lebih cepat dari latihan militer mana pun, Alaric sadar, mendekap "Istri Solehot"-nya malam ini akan menjadi ujian iman paling panjang dalam hidupnya.

1
Fitra Sari
lanjut lagi kk 🙏🙏🙏pleasee 😊😊
Muft Smoker
sabar pak suu ,,
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
umie chaby_ba
Michelle lo lagian ngapain disitu 🤣🤣🤣
Muft Smoker: jdii nyamuk dy kak ,, 🤭🤭🤭
total 2 replies
umie chaby_ba
lanjutkan thor ...
Ariska Kamisa: siap komandan 👍
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gangguannya ada aja ya cal
Ariska Kamisa: begitulah ketika keimanan kita diuji🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cap paten 🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: paten no debat🤭🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
akhirnya kesampaian ya cal🤣🤣
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calla calla kamu kok lucu banget sumpah 😄
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yang sabar ya pak komandan 🤭
Ariska Kamisa: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
umie chaby_ba
Calla kayanya paling muda sendiri kali yaa...
Ariska Kamisa: seperti begitu makanya keliatan masih kaya bocah yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kocak ya calla ini... kaya bocah banget🤣🤣
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk ..ga sabarr nunggu resepsi nya 🥰🥰🥰🙏🙏🙏
Ariska Kamisa: siap kak...
lagi nyiapin resepsinya nih🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak. ,,



pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
Ariska Kamisa: siap laksanakan 💪
total 1 replies
Fitra Sari
uluh2 ...pak alaric mulai2 bucin 😊lanjut lagi pkoknya KK ...TK tunggu slalu 🥰🥰🥰🥰🥰
Fitra Sari: semangat 💪💪 KK ...aku tunggu KK up nya lagi ..minimal sore ini 😊😊
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,, pinjem kabel ny ke kak author calla ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: mungkin sapu lidi pak komandan di sangka ny sapu lidi portable kak🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ,,
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣


kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
Muft Smoker: sama2 kak 😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
tu si pak komandan lngsung nyebur ke kolam air kah🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ooo kirain pak komandan langsung nyemplung ke bak mandiii 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣 pertahanan bpa komandan udh hancuur lebur 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak ,, krn dy udh sedia air dingiin dkamar mandii🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
"Novel ini menyajikan kisah komedi romantis yang ringan, manis, dan menghibur antara seorang komandan berusia 38 tahun yang tegas, kaku, dan disiplin dengan istrinya yang berusia 21 tahun, seorang cegil ceria yang genit, usil, dan selalu berhasil membuat hidup sang komandan jungkir balik.
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!