Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: HARAPAN YANG DIBALUT ILUSI
Seminggu setelah kepastian kehamilan itu terpatri di dalam rahim Laras, ketenangan di rumah petak itu mulai terusik oleh desakan batin Rendra. Ia merasa bahwa langkah selanjutnya yang harus ia ambil adalah pengakuan. Ia butuh restu. Ia butuh validasi bahwa apa yang ia bangun bersama Laras adalah sesuatu yang sah dan memiliki masa depan. Di dalam benaknya yang terus-menerus membenarkan setiap kesalahan, ia meyakini bahwa jika ia membawa kabar tentang "cucu baru" kepada orang tuanya, maka pintu maaf dan penerimaan akan terbuka lebar.
Ia lupa bahwa orang tuanya, terutama Pak Didi, juga memiliki beban sejarah yang mungkin tak bisa menerima skenario ini begitu saja. Namun, Rendra terlalu dibutakan oleh obsesi untuk menciptakan kehidupan normal yang baru.
"Laras," panggil Rendra suatu sore, saat ia sedang membelah kayu di halaman belakang. Suaranya sedikit gemetar. "Aku ingin pulang sebentar. Ke rumah orang tuaku."
Laras, yang sedang menjemur pakaian, menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menatap Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kekhawatiran, namun juga ada secercah harapan. "Untuk apa, Mas? Bukankah kamu bilang hubunganmu dengan mereka sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian di Semarang?"
Rendra mendekati Laras, meraih tangannya dengan lembut. "Aku ingin memberitahu mereka tentang kabar ini. Tentang kamu, tentang Satria, dan tentang anak kita yang ada di rahimmu. Aku ingin mereka tahu bahwa aku sudah menemukan kehidupan yang baru. Aku ingin kita menikah secara resmi, Laras. Aku ingin memberikan nama yang sah untuk anak kita nanti."
Mendengar kata 'menikah' dan 'nama yang sah', pertahanan Laras runtuh. Trauma masa lalunya yang begitu mendambakan sebuah ikatan yang tak akan hilang, membuat logikanya terkubur. Ia tidak memikirkan bagaimana mungkin Rendra bisa menikahi dirinya secara sah sementara secara hukum Rendra masih terikat pernikahan dengan Yuni—proses perceraian yang dulu diajukan Yuni memang sedang berjalan, namun belum mencapai putusan akhir. Laras, dalam ketidaktahuannya akan detail hukum dan masa lalu Rendra, hanya melihat ini sebagai janji kesetiaan.
"Pergilah, Mas," bisik Laras dengan senyum tipis yang tulus. "Aku akan menunggu di sini bersama Satria. Jangan lama-lama, ya? Kami tidak terbiasa tanpamu."
Rendra mengangguk mantap. Ia merasa dirinya adalah pria yang bertanggung jawab. Ia merasa bahwa dengan melakukan kunjungan ini, ia sedang memperbaiki segala kekacauan yang pernah ia perbuat di masa lalu. Ia tidak sadar bahwa yang ia lakukan justru sedang menyeret lebih banyak orang ke dalam labirin kebohongannya.
Malam itu, Rendra menyiapkan tas kecilnya. Ia memeluk Satria yang sedang terlelap di atas dipan bambu, membisikkan janji yang entah kapan bisa ia tepati. Ia kemudian memeluk Laras dengan erat, sebuah pelukan yang penuh dengan ambisi untuk mengubah nasib.
Penulis melihat bagaimana Rendra berangkat dengan keyakinan yang rapuh. Ia menumpang angkutan umum menuju kota asal orang tuanya, dengan hati yang dipenuhi oleh skenario-skenario indah tentang bagaimana orang tuanya akan menangis haru mendengar kabar tentang cucu baru mereka. Ia benar-benar telah kehilangan orientasi akan kenyataan.
Di sepanjang perjalanan, Rendra tidak lagi memikirkan Yuni. Nama itu sudah ia kunci rapat-rapat di ruang bawah sadar yang paling gelap. Ia tidak memikirkan bagaimana Yuni sedang berjuang dengan status jandanya di Sukorejo, atau bagaimana Arum mungkin mulai belajar merangkak tanpa pernah mengenal sosok ayahnya. Yang ada di kepala Rendra hanyalah bayangan Laras yang tersenyum menantinya, dan bayangan keluarga yang akan ia bangun di atas reruntuhan.
Namun, dunia tidaklah selebar daun kelor. Rendra tidak menyadari bahwa keputusannya untuk muncul kembali di hadapan orang tuanya adalah langkah yang akan membuka tabir yang selama ini ia tutup-tutupi. Ia tidak tahu bahwa dalam upayanya mencari pengakuan, ia justru sedang berjalan menuju konfrontasi yang tak terelakkan.
Saat ia tiba di depan rumah orang tuanya, Rendra menarik napas panjang. Ia menguatkan hatinya. Ia yakin, kali ini, semesta akan berpihak padanya. Ia yakin bahwa darah daging yang dikandung Laras adalah tiket emas untuk melegalkan hubungan yang ia bangun di pengasingan.
Di mata penulis, pemandangan ini tampak begitu ironis. Seorang pria yang lari dari tanggung jawab, kini justru sibuk menuntut tanggung jawab dari orang lain untuk merestui pelariannya. Rendra tidak sadar bahwa setiap langkahnya saat ini adalah gerak lambat menuju kehancuran yang lebih telak. Ia sedang membawa berita tentang kehidupan baru, namun ia tidak menyadari bahwa berita itu akan menjadi pemicu bagi terungkapnya segala kebohongan yang telah ia rajut selama berbulan-bulan.
Rendra mengetuk pintu rumah orang tuanya dengan mantap. Ia siap untuk mengumumkan bahwa ia akan memulai hidup baru. Ia siap untuk meminta restu. Namun, ia tidak siap untuk menghadapi kenyataan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan di rumah orang tuanya, ia akan segera mendapati bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati—ia hanya sedang tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangun dan menagih semua hutang-hutang moral yang pernah ia tinggalkan.