Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja itu setelah sambungan telepon terputus. Suara tawa dingin Ramon Salazar seolah masih menggema di udara, menusuk telinga dan membakar amarah yang sudah sedemikian rupa menumpuk di dada Alex. Pria itu berdiri kaku di tempatnya, tangan kanannya masih menggenggam ponsel dengan kekuatan seolah ingin meremukkan benda itu menjadi debu. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol jelas, tanda bahwa ia sedang menahan ledakan amarah yang bisa meledak kapan saja amarah yang jauh lebih dahsyat dibandingkan saat ia melihat puing-puing rumah produksi mereka tadi.
Bagi Alex, membakar aset, merusak bisnis, atau mencoba menjatuhkan nama baiknya adalah hal yang masih bisa ditoleransi sebagai bagian dari permainan kotor dunia bisnis dan kekuasaan. Namun, menyentuh Aulia wanita yang ia beli seharga 1 miliar, wanita yang kini menjadi nyawa dan hatinya adalah dosa terbesar yang tidak akan pernah bisa dimaafkan. Ramon telah melangkahi batas yang paling suci, dan dengan tindakan itu, ia baru saja menandai dirinya sendiri sebagai musuh yang harus dimusnahkan hingga ke akar-akarnya, tanpa sisa.
“Dia gila…” gumam Rio dengan suara bergetar, wajahnya pucat pasi. Ia sudah cukup lama bekerja bersama Alex, tahu persis betapa kejam dan dinginnya bosnya ini, tapi ia juga tahu betapa berharganya Aulia bagi pria itu. “Dia benar-benar tidak peduli lagi dengan hukum atau aturan apa pun. Dia ingin membunuhmu, Bos. Tempat yang akan dia kirimkan pasti sudah dipenuhi orang-orangnya, dipasang jebakan dari segala arah. Jika kau pergi sendirian seperti yang dia minta, kau tidak akan pernah bisa kembali hidup-hidup.”
Alex tidak menjawab. Matanya yang tajam dan gelap menatap kosong ke dinding, namun di balik tatapan itu, otaknya bekerja secepat kilat menyusun ribuan skenario sekaligus. Di satu sisi, naluri mafianya berteriak untuk menghancurkan semua yang menghalangi, menyerbu masuk dengan kekuatan penuh dan membasmi musuh hingga rata dengan tanah. Namun di sisi lain, ada suara hati yang jauh lebih lembut namun jauh lebih kuat suara Aulia, keselamatan Aulia, dan janji yang pernah ia ucapkan untuk melindungi wanita itu dengan nyawanya sendiri.
Aulia yang sedari tadi diam, kini melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Alex. Ia mengangkat kedua tangannya, meletakkan telapak tangan dinginnya di atas pipi keras pria itu, memaksanya untuk menatap mata wanita itu. Tatapan Aulia tidak lagi penuh ketakutan atau keraguan seperti dulu. Meski jantungnya berdegup kencang karena cemas, matanya memancarkan ketegaran yang membuat hati Alex bergetar.
“Kau tidak akan pergi sendirian, Alex,” ucap Aulia tegas, suaranya lembut namun tidak bisa dibantah sama sekali. “Dan kau tidak akan menuruti semua permintaan Ramon begitu saja. Dia ingin kau terjebak, dia ingin kau mati, dan dia tahu satu-satunya cara untuk membuatmu kehilangan akal sehat adalah dengan mengancamku. Jangan beri dia kepuasan itu. Jangan biarkan dia menang hanya karena kau terlalu mencintaiku.”
Alex menangkup tangan Aulia yang ada di pipinya, mencium telapak tangan itu dengan penuh rasa sakit dan cinta yang mendalam. “Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu, Aulia… tidak ada arti lagi bagiku menjadi orang yang berkuasa, menjadi orang kaya, atau menjadi apa pun. Kau adalah satu-satunya alasan aku masih berdiri sampai sekarang. Jika aku harus memilih antara nyawaku atau nyawamu, jawabannya sudah pasti sejak awal.”
“Dan aku juga sama!” potong Aulia cepat, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap keras. “Aku tidak mau hidup dalam keamanan palsu jika harus kehilanganmu. Kau pikir aku bisa tidur tenang, bisa melanjutkan kuliahku, bisa menggambar desain-desain indah jika aku tahu kau mengorbankan dirimu demi aku? Tidak, Alex. Kita berdua sudah terikat dalam perjanjian ini dibeli seharga 1 miliar, kau bilang begitu. Jadi kau tidak berhak mengambil keputusan besar sendirian tanpa membawaku serta. Kita hadapi ini bersama, sama seperti saat kita membangun mimpi kita dari nol.”
Kata-kata itu menusuk tepat ke dalam hati Alex. Ia menatap wajah wanita di depannya mahasiswi desain yang lembut, yang suka menggambar, yang dulu hanya gadis polos yang ia beli untuk membayar utang ayahnya kini berubah menjadi kekuatan terbesarnya. Di matanya, Aulia bukan lagi sekadar barang belian, melainkan ratu yang memegang kendali penuh atas seluruh dunia gelap dan terang miliknya.
Belum sempat Alex menjawab, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk, berisi alamat lengkap beserta foto lokasi sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan yang sudah lama ditinggalkan, tempat yang dikenal sebagai sarang kejahatan dan pertemuan gelap. Di bawah alamat itu, ada pesan tambahan: Jam 11 malam. Datang sendiri. Jika terlihat ada orang lain atau kendaraan pengawal, orang-orangku yang mengawasi kampus dan jalanan sekitar akan langsung bertindak. Kau tahu aku tidak bercanda, Alex.
Wajah Alex mengeras kembali. Ia menoleh ke arah Rio, tatapannya berubah menjadi tatapan seorang pemimpin mafia yang kejam dan dingin, sisi yang jarang terlihat oleh siapa pun kecuali saat pertarungan nyawa terjadi.
“Rio, kumpulkan semua orang kepercayaan kita. Yang paling terlatih, yang paling setia, dan yang tahu cara bergerak tanpa terlihat,” perintah Alex dengan suara rendah namun berwibawa, tidak ada lagi keraguan di sana. “Kau dan timmu akan bergerak duluan, masuk dari jalur belakang dan jalur bawah tanah pelabuhan itu. Gunakan peralatan pendeteksi dan pengawasan canggih. Aku ingin tahu berapa banyak orang yang dia bawa, di mana posisi mereka, dan di mana letak jebakan-jebakan yang mereka pasang. Tapi ingat, jangan bertindak sebelum aku memberi sinyal. Satu gerakan salah, dan nyawa Aulia bisa terancam.”
Rio mengangguk tegas, matanya menyala penuh kesiapan bertempur. “Siap, Bos. Aku akan atur semuanya. Tidak ada satu pun lalat yang bisa masuk atau keluar dari tempat itu tanpa sepengetahuan kita.”
“Dan satu lagi,” tambah Alex, nada bicaranya menjadi sangat dingin dan berbahaya. “Siapkan bukti lengkap tentang semua kejahatan Ramon penggelapan dana, penipuan, pembakaran, hingga ancaman pembunuhan ini. Aku ingin dia hancur total, baik di dunia bisnis maupun di dunia bawah tanah. Aku ingin dia merasakan apa artinya kehilangan segalanya, persis seperti yang dia coba lakukan padaku.”
Setelah Rio bergegas pergi untuk menyiapkan segala sesuatu, suasana kembali hening di antara Alex dan Aulia. Jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung mundur waktu menuju pertempuran yang akan menentukan segalanya. Aulia duduk di kursi kerja, sementara Alex berdiri di sampingnya, tangannya memegang bahu wanita itu erat seolah takut ia akan hilang begitu saja.
“Kau tahu risikonya, kan?” tanya Alex pelan, matanya menatap pantulan wajah Aulia di kaca jendela yang gelap. “Aku akan pergi ke sana, seolah-olah aku menuruti permintaannya sendirian. Tapi aku tidak akan membiarkan dia menang. Aku akan memancingnya keluar, membuatnya merasa dia sudah menang, dan saat dia lengah… kita akan serang balik dengan kekuatan penuh. Tapi Aulia… kau harus tetap di sini, di vila ini, dikawal ketat oleh tim keamanan paling andal. Aku tidak bisa bergerak bebas jika aku tahu kau ada di tengah bahaya.”
Aulia berbalik badan, menatap pria itu lekat-lekat. Ada rasa cemburu yang sedikit menyelinap kembali saat ia teringat wajah Isabella Voss tadi malam wanita yang berani mengaku lebih mengerti dunia Alex, wanita yang ingin masuk ke celah di antara mereka. Rasa cemburu itu bercampur dengan rasa takut kehilangan, membuat hatinya terasa perih.
“Isabella pernah bilang dia lebih mengerti caramu bekerja, lebih tahu dunia ini,” ucap Aulia pelan, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang bercampur aduk. “Aku hanya mahasiswa biasa, Alex. Aku hanya bisa menggambar dan menyusun konsep. Kadang aku takut… aku takut aku tidak cukup kuat untuk menemanimu melewati semua badai ini. Aku takut suatu saat kau akan lelah berjuang sendirian, dan kau akan mencari seseorang yang lebih setara denganmu, seseorang seperti dia.”
Alex menghela napas panjang, lalu berlutut di hadapan Aulia, mensejajarkan tatapan mereka. Ia memegang kedua tangan wanita itu, menciumnya dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam, seolah Aulia adalah ratu yang paling mulia di dunia ini.
“Dengarkan aku baik-baik, Sayang,” ucapnya dengan suara berat namun lembut. “Isabella tahu caranya berbisnis, dia tahu cara bermain di dunia gelap ini, dia punya kekayaan dan koneksi. Tapi dia tidak pernah tahu apa arti mencintai dengan sepenuh hati. Dia tidak pernah tahu rasanya pulang ke rumah dan merasa damai hanya dengan melihat satu senyuman. Dia tidak pernah tahu rasanya hidup dengan tujuan yang jelas. Dunia ini mungkin milikku, kekuasaan ini mungkin milikku, tapi hati dan jiwaku hanya milikmu seorang. Kau bukan sekadar pendamping, Aulia. Kau adalah rumahku. Dan tidak ada kekayaan, tidak ada kecerdasan, dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan tempat itu.”
Kalimat itu menghapus semua keraguan dan rasa cemburu yang tersisa di hati Aulia. Ia mengangguk perlahan, air mata bahagia menetes di pipinya, namun kali ini air mata itu bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang mendalam. Ia sadar, meski Alex adalah seorang mafia yang ditakuti banyak orang, kejam dan dingin pada musuhnya, namun di hadapannya, pria itu hanyalah seorang laki-laki yang jatuh cinta dan berjanji setia seumur hidup.
“Aku percaya padamu,” bisik Aulia, memeluk leher Alex erat-erat. “Aku akan menunggu di sini, aku akan berdoa dan menyusun rencana cadangan jika ada yang salah. Tapi kau harus berjanji padaku… kau harus kembali. Kau harus kembali ke pelukanku, selamat dan utuh.”
“Aku berjanji,” jawab Alex tegas, menatap mata wanita itu dalam-dalam seolah ingin merekam setiap detail wajah Aulia ke dalam ingatannya selamanya. “Aku akan kembali. Dan setelah masalah ini selesai, setelah Ramon tidak lagi menjadi ancaman… kita akan memulai semuanya lagi. Kita akan membangun rumah produksi yang lebih besar, lebih indah, dan aku akan memastikan kau bisa menggambar dan berkarya sepuas hatimu tanpa ada gangguan siapa pun. Kita akan bahagia, Aulia. Aku berjanji di atas nyawaku sendiri.”
Waktu terus berjalan mendekati pukul 11 malam. Alex berdiri tegak, mengenakan pakaian hitam yang pas di badan, sepatu yang senyap, dan wajah yang kembali berubah menjadi topeng dingin tanpa emosi wajah sang penguasa yang akan pergi berperang. Sebelum melangkah keluar pintu, ia sekali lagi menatap Aulia, mengusap pipinya satu kali dengan lembut, seolah itu adalah sentuhan terakhir yang ia berikan.
“Tetap di dalam, kunci semua pintu, dan jangan percaya pada siapa pun kecuali orang-orang yang sudah kupercayai. Aku akan segera kembali,” ucapnya pelan, lalu berbalik dan pergi dengan langkah tegas, meninggalkan Aulia yang berdiri diam di tengah ruangan, hatinya berdebar kencang penuh kecemasan namun juga penuh keyakinan.
Di luar sana, malam semakin gelap. Awan hitam menutupi bulan, seolah ikut merasakan ketegangan yang melanda seluruh kota. Mobil Alex melaju kencang menuju kawasan pelabuhan, sendirian persis seperti permintaan Ramon. Namun, di balik ketenangan yang ia tampakkan, Alex sudah menyusun strategi yang matang sebuah perangkap di dalam perangkap.
Sesampainya di dekat lokasi gudang tua itu, Alex melihat puluhan mobil hitam terparkir berantakan, dan di setiap sudut bangunan, terlihat siluet orang-orang bersenjata yang mengawasi dengan siaga tinggi. Ramon benar-benar tidak main-main; ia membawa pasukan besar, seolah ingin memastikan Alex tidak punya jalan keluar sedikit pun.
Saat Alex turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gudang yang bau apek dan berdebu itu, lampu-lampu tua yang bergoyang tertiup angin menyala terang, menyorot ke arah tengah ruangan. Di sana, duduklah Ramon Salazar di atas kursi kayu tua, dikelilingi oleh puluhan orang berbadan besar yang memegang senjata api yang sudah terisi peluru dan siap ditembakkan kapan saja. Wajah Ramon dipenuhi senyum kemenangan yang sombong dan kejam.
“Selamat datang, Alex,” ucap Ramon sambil bertepuk tangan pelan, suaranya menggema di ruang kosong itu. “Aku senang kau cukup pintar untuk menuruti permintaanku. Kau lihat… di sini tidak ada tempat untuk lari, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Dan kau datang sendirian, persis seperti yang aku minta. Di mana kehebatanmu sekarang? Di mana kekuasaanmu? Kau hanya tikus yang terjebak di dalam kandangku.”
Alex berdiri tegak di tengah ruangan, tangannya tergantung bebas di samping tubuh, tatapannya dingin dan tanpa rasa takut sedikit pun, seolah ia bukanlah orang yang sedang dikepung oleh musuh. Ia menatap Ramon dengan pandangan merendahkan, persis seperti singa yang menatap serigala yang merasa dirinya paling kuat.
“Kau pikir kau sudah menang, Ramon?” tanya Alex pelan, namun suaranya terdengar jelas di tengah keheningan. “Kau pikir dengan melakukan semua pengecut ini membakar aset, mengancam wanita, bersembunyi di balik senjata orang lain kau bisa mengalahkanku? Kau salah besar. Kau tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang terjebak di sini.”
Ramon tertawa keras, tawa yang penuh ancaman. “Sompret saja kau masih bisa bicara tinggi. Kau lihat di sekelilingmu? Satu gerakan saja, dan kau akan menjadi daging cincang sebelum sempat bernapas lagi. Aku akan membunuhmu malam ini, mengambil alih semua aset Surya Corp, dan yang paling penting… aku akan memastikan gadis kecilmu, Aulia, tahu betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena telah memilihmu.”
Kalimat terakhir itu membuat nyala api amarah di mata Alex berkobar hingga titik puncaknya. Niat Ramon untuk menyentuh Aulia, bahkan setelah ia mati, adalah penghinaan terbesar yang tidak akan pernah dimaafkan. Alex perlahan mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kecil yang hanya dimengerti oleh orang-orangnya di luar sana.
“Kau berani menyebut namanya lagi…” ucap Alex, suaranya rendah namun penuh ancaman maut yang membuat suasana di gudang itu berubah menjadi sangat dingin dan menakutkan. “Kau pikir kau yang mengatur permainan ini? Kau pikir aku datang ke sini tanpa persiapan apa pun? Dengarkan baik-baik, Ramon… malam ini, bukan kau yang akan menentukan nasibku. Malam ini, aku akan menghancurkanmu, menghancurkan kekuasaanmu, dan menghancurkan segala sesuatu yang kau bangun. Dan saat kau berlutut memohon ampun, aku akan mengingatkanmu satu hal: bahwa kau tidak pernah, dan tidak akan pernah bisa, mengalahkan laki-laki yang berjuang demi cinta sejatinya.”
Saat kalimat itu selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara ledakan kecil dari arah pintu masuk dan jendela-jendela gudang, diikuti suara teriakan kaget anak buah Ramon. Lampu-lampu di dalam gudang itu tiba-tiba mati seketika, digantikan oleh cahaya sorot yang menyilaukan mata datang dari segala arah, membuat pasukan Ramon buta sepenuhnya. Suara langkah kaki cepat dan berat terdengar mendekat, disertai suara bentakan dan pertarungan yang mulai tak terelakkan.
Di tengah kekacauan itu, Ramon yang terkejut dan panik berusaha mencari sosok Alex di kegelapan, namun ia tidak melihat apa pun. Hanya suara Alex yang terdengar berbisik tepat di samping telinganya, suara yang dingin, mengerikan, dan penuh dendam:
“Permainan baru saja dimulai, Ramon. Dan kau baru saja masuk ke neraka yang aku buat khusus untukmu.”
Apakah Alex akan berhasil menundukkan Ramon tanpa membahayakan nyawanya sendiri? Bagaimana dampak pertarungan ini terhadap reputasi dan bisnis Surya Corp? Dan di sisi lain, apakah Aulia yang menunggu di vila benar-benar aman, atau ada bahaya lain yang mengintai dari tempat yang tidak disangka-sangka?
Ketegangan memuncak, bahaya mengancam dari segala arah, dan nasib cinta serta kekuasaan mereka kini tergantung pada pertarungan malam ini. Apakah kebahagiaan yang mereka impikan masih mungkin tercapai, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?