JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Serang Musuh
Ciiiiiittttt! Dor! Dor!
"Tuan Muda, merunduk!" teriak Lucas, memutar kemudi dengan liar saat rentetan peluru tajam mendadak menghujani kaca depan mobil.
Duarrr!
Ban depan mobil mereka meledak hebat akibat tembakan senapan laras panjang musuh. Mobil sedan hitam itu kehilangan kendali, berputar 180 derajat di atas aspal sepi yang kanan kirinya dihuni oleh hutan lebat pinggiran Surabaya, sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan keras.
Asap mengepul dari kap mesin. Di dalam mobil, Nayara terbatuk-batuk, kepalanya pening akibat benturan. Namun, sebelum dia sempat mencerna apa yang terjadi, pintu mobil di sampingnya sudah ditarik paksa dari luar.
"Keluar! Cepat!" bentak Dante, wajahnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol di pelipis. Pria itu mencengkeram lengan Nayara, menariknya keluar dari mobil yang ringsek.
"D-Dante, ada apa ini?! Siapa mereka?!" pekik Nayara histeris saat melihat tiga mobil jip hitam meluncur cepat dan langsung mengepung mereka. Belasan pria berbadan kekar dengan topeng hitam melompat turun, masing-masing memegang senjata api dan bilah pisau komando yang berkilat tajam.
"Lokasi kita bocor, Tuan Muda! Sialan, mereka sengaja menunggu kita di jalur sepi ini!" seru Lucas, napasnya memburu saat dia mencabut dua pistol dari balik jasnya. "Kita tidak membawa pengawal cadangan!"
"Masuk ke hutan! Sekarang!" perintah Dante mutlak.
Dor! Dor! Dor!
Lucas membalas tembakan musuh, merobohkan dua orang di barisan depan untuk membuka jalan. Dante langsung menarik paksa Nayara, membawa gadis itu berlari menembus rimbunnya pepohonan dan semak berduri hutan. Di belakang mereka, suara derap langkah kaki belasan orang berisik mengejar, disertai rentetan peluru yang mengikis kulit pohon di sekitar mereka.
"Hosh... hosh... Dante, aku tidak kuat lagi!" jerit Nayara, kakinya yang tanpa alas kaki tergores ranting dan batu tajam, menyisakan perih yang luar biasa.
Dante menghentikan langkahnya mendadak di balik sebuah pohon beringin raksasa yang dikelilingi semak belukar setinggi dada. Pria itu membalikkan tubuh Nayara dengan kasar, mencengkeram kedua pundaknya.
"Dengar, Kucing Liar," desis Dante, sepasang mata elangnya menatap tajam langsung ke manik mata Nayara yang bergetar ketakutan. "Masuk ke dalam semak itu. Tutup mulutmu, jangan bersuara, dan jangan pernah keluar sampai aku yang memanggilmu. Paham?!"
"T-Tapi kamu—"
"Masuk!" bentak Dante tanpa bantahan, mendorong tubuh Nayara hingga gadis itu terjatuh ke dalam ceruk semak yang gelap dan rimbun.
Begitu tubuh Nayara tersembunyi sempurna, Dante berbalik. Di saat yang sama, tiga orang musuh berbaju hitam muncul dari balik kabut hutan, langsung menerjang ke arahnya dengan pisau terhunus.
Bugh! Krek!
Dante mengelak cepat, menangkap pergelangan tangan musuh pertama, lalu memutarnya hingga tulang lengan pria itu patah seketika. Dia merebut pisau komando milik musuh, lalu menyayat leher pria itu tanpa belas kasihan. Darah segar tepercik, mengenai sudut rahang tegas Dante.
Di sudut lain, Lucas bertarung dengan membabi buta. Pria yang biasanya rapi dan jenaka itu kini berubah menjadi mesin pembunuh yang mengerikan. Jas mahalnya robek, wajahnya bersimbah darah akibat hantaman balok kayu dari musuh, namun tangannya tetap cekatan mematahkan leher lawan.
"M4ti kau, keparat!" teriak Lucas, menghujamkan sikunya ke wajah musuh, lalu melepaskan tembakan tepat di dada lawan yang mencoba mendekatinya.
Bugh! Duakh!
Pertempuran berlangsung sengit dan menegangkan. Dante dikepung oleh lima orang sekaligus. Meskipun dia seorang Don Mafia yang terlatih, menghadapi kepungan musuh yang beringas tanpa senjata api di tangan membuatnya kewalahan. Sebuah sabetan pisau mengenai lengan kirinya, merobek kemeja putihnya hingga darah segar mengalir deras.
"Argh!" Dante melenguh, namun matanya justru makin berkilat kejam. Dia menerjang maju, menghantamkan lututnya ke perut lawan, lalu merebut senjata musuh dan menembak mati tiga orang di depannya dalam hitungan detik.
"Tuan Muda! Di belakang Anda!" teriak Lucas parau.
Lucas mencoba berlari membantu, namun dua orang musuh menendang punggungnya hingga Lucas tersungkur di atas tanah, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Lucas babak belur, pelipisnya robek dan matanya membengkak, namun dia masih mencoba merangkak untuk meraih pistolnya yang terjatuh.
Dante memutar tubuhnya, menghindar dari tebasan pedang musuh terakhir, lalu dengan satu gerakan cepat, dia menembak kepala pria itu hingga hancur.
Duar!
Hutan mendadak sunyi. Belasan tubuh musuh kini terkapar tak bernyawa di atas tanah berlumur darah. Dante terengah-engah, memegangi lengan kirinya yang terluka parah. Wajah tampannya dipenuhi noda darah dan peluh, tubuhnya lemas, namun matanya tetap waspada memindai sekeliling.
"Lucas... kau aman?" tanya Dante dengan suara serak, melangkah pincang mendekati asistennya yang sedang berusaha bangkit dengan tubuh gemetar.
"Hosh... hosh... masih hidup, Tuan Muda," ringkih Lucas, menyeka darah di dagunya. "Semua... semua musuh sudah tumbang."
Di dalam semak-semak, Nayara yang sejak tadi menutup matanya rapat-rapat sambil menangis dalam diam, perlahan membuka mata. Melalui celah dedaunan, dia melihat Dante dan Lucas berdiri di tengah-tengah mayat yang bergelimpangan. Suara tembakan sudah berhenti.
'Sudah aman?' pikir Nayara dengan jantung yang masih bertalu hebat.
Dengan tubuh gemetar, Nayara merangkak keluar dari semak belukar. Langkah kakinya gontai, matanya menatap ngeri ke arah darah yang menggenang di mana-mana. "D-Dante..." panggilnya dengan suara bergetar, melangkah mendekati pria itu.
Dante menoleh ke arah suara Nayara. Namun, belum sempat dia menyahut, telinga tajamnya menangkap suara asing dari arah atas bukit di belakang Nayara. Suara kokangan senjata penembak jitu.
Dante mendongak cepat. Di balik rimbunnya pohon pinus di ketinggian, moncong senapan laras panjang milik seorang pembunuh bayaran yang tersisa—yang sejak awal mengincar Nayara—sudah membidik tepat ke arah dada gadis itu. Red dot, titik merah laser, terarah lurus di dahi Nayara.
"Nayara, merunduk!!!" teriak Dante dengan suara menggelegar, matanya melebar sempurna dilingkupi rasa horor yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Nona Nayara, lari!" Lucas ikut berteriak parau, mencoba melangkah namun tubuhnya yang babak belur langsung ambruk ke tanah.
Nayara menghentikan langkahnya. Dia bingung, otaknya mendadak stuck tidak bisa memproses teriakan panik kedua pria itu. Dia hanya berdiri mematung di tengah area terbuka, menatap Dante dengan pandangan polos dan linglung. "Hah? Apa—"
DOR!
Suara tembakan senapan runduk memecah keheningan hutan dengan gaung yang memekakkan telinga.
Di detik yang sama saat peluru melesat membelah udara, Dante mengerahkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya. Pria itu menerjang maju seperti kesetanan, melompat dan memeluk tubuh Nayara dengan erat, memutar posisi mereka di udara agar punggung tegapnya menjadi tameng hidup bagi gadis itu.
Jleb!
Satu peluru tajam berkaliber besar menghujam telak ke punggung sebelah kiri Dante, menembus daging dan mendekati organ vitalnya.
"Argh!" Dante mengerang hebat, matanya terpejam menahan rasa sakit luar biasa yang menghantam sarafnya seperti sengatan listrik ribuan volt.
Namun, si penembak jitu di atas sana tidak memberi jeda. Belum sempat tubuh mereka jatuh ke tanah, suara tembakan kedua kembali menggema.
DOR!
Jleb!
Peluru kedua menghantam belikat kanan Dante, membuat tubuh kokoh Don Mafia itu bergetar hebat. Darah segar langsung menyembur dari mulut Dante, membasahi pundak baju Nayara yang berada di dalam dekapannya.
Bruk!
Kedua tubuh itu jatuh berhantam di atas tanah. Dante ambruk di atas tubuh Nayara, menindih gadis itu dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis. Napasnya terengah patah-patah, sangat berat dan berbau anyir darah.
Nayara mematung di bawah kungkungan tubuh Dante. Pandangannya kosong menatap langit hutan yang tertutup dedaunan, sebelum akhirnya tangannya yang gemetar menyentuh punggung Dante. Cairan kental, hangat, dan pekat langsung membasahi telapak tangannya dalam jumlah yang sangat banyak.
Gadis itu mengangkat tangannya ke depan wajah. Merah. Seluruh tangannya dipenuhi darah Dante.
"D-Dante...?" bisik Nayara, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa takut yang sesungguhnya kini mencengkeram dadanya hingga dia susah bernapas. "Dante, bangun... Jangan bercanda! Ini tidak lucu!"
Dante perlahan membuka matanya yang mulai sayu dan meremang hitam. Dia menatap wajah Nayara yang kini pucat pasi dan berlinang air mata. Sudut bibir Dante berdarah, namun dia memaksakan sebuah senyuman tipis—sangat tipis, hampir tak kentara.
"Kau... aman, Kucing Liar..." bisik Dante sangat lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin hutan, sebelum akhirnya sepasang mata elang itu tertutup sempurna. Kepala tegapnya terkulai lemas di ceruk leher Nayara, menjadi beban mati yang tak bergerak lagi.
"Tuan Muda!!!" lolong Lucas histeris di kejauhan, mencoba merangkak dengan sisa tenaganya, namun pandangannya sendiri mulai mengabur dan kesadarannya perlahan hilang.
Di tengah hutan yang sepi, di bawah ancaman pembunuh bayaran yang entah masih ada atau tidak di atas sana, Nayara hanya bisa menjerit histeris sambil memeluk erat tubuh Dante yang kian mendingin.
"DANTE!!! BANGUN, BAJINGAN! JANGAN MATI!!! DANTE!!!"
Namun, tidak ada jawaban. Hanya menyisakan suara detak jantung Dante yang perlahan... berhenti.