King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Iring-iringan tiga mobil SUV hitam antipeluru klan Stone melesat meninggalkan kompleks St. Jude Academy dengan kecepatan tinggi, menuju kawasan elite Gold Coast, tempat di mana mansion mewah milik Kaelix Stone berdiri kokoh menghadap Danau Michigan.
Nora Amelie Martinez duduk di kursi belakang mobil utama, diapit di antara Xavier yang terus mengoceh riang dan King yang sejak tadi tidak melepaskan tatapan intens penuh haru darinya.
Awalnya, Nora menolak keras saat diajak masuk ke dalam mobil. Ia bahkan sempat bersiap menekan tombol darurat pada jam tangan pintar yang terhubung langsung ke ponsel ibunya.
Namun, kepala sekolah St. Jude—yang tahu betul siapa Klan Stone—segera mendekat bersama wali kelas Nora.
Sang guru menenangkan Nora, meyakinkannya dengan senyuman hangat bahwa pria-pria tegap bersetelan mahal ini adalah para pelindung utama sekolah dan paman-paman yang baik yang tidak akan menyakitinya.
Ditambah lagi, Kendrick dengan gaya taktisnya telah memberikan instruksi tegas pada pihak sekolah. "Telepon Dokter Olivier Martinez sekarang. Katakan anaknya aman bersama kami. Berikan alamat kediaman Kaelix Stone dan Lavender Lynn. Suruh dia datang menjemput ke sana jika dia ingin putrinya kembali."
Begitu gerbang besi setinggi empat meter milik mansion Kaelix terbuka, SUV hitam tersebut berhenti tepat di depan teras pilar marmer.
King dengan sigap turun dari mobil—mengabaikan rasa perih di perutnya yang kian berdenyut hebat—dan membukakan pintu untuk Nora.
Pria itu menuntun putrinya masuk ke dalam ruang tengah mansion yang sangat megah, bergaya minimalis namun sarat akan kemewahan aristokrat.
Namun, baru beberapa langkah kaki mereka menapak di atas karpet beludru ruang utama, langkah King, Kendrick, dan Kaelix seketika terhenti.
Di ujung tangga melingkar, telah berdiri sesosok wanita cantik berambut cokelat bergelombang yang mengenakan gaun rumah sutra berwarna pastel.
Lavender Lynn.
Istri murni dari Kaelix Stone, sang nyonya rumah yang terkenal memiliki kepribadian sekeras baja di balik keanggunan wajahnya.
Lavender berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, melayangkan tatapan maut penuh selidik ke arah tiga bersaudara Stone, terutama pada King yang tampak kaku memegangi bahu seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun.
"Bisa seseorang menjelaskan padaku, mengapa tiga serigala Chicago pulang ke rumah sebelum jam makan siang dengan membawa seorang anak gadis?" Suara Lavender Lynn mengalun tenang, namun sarat akan nada intimidasi yang sanggup membuat nyali para pengawal di luar ciut.
Tatapannya meneliti Nora dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba menduga-duga dari rahim wanita mana si bujang King Stone berhasil menghasilkan replika wajahnya yang begitu nyata.
Belum sempat King menjawab, dari arah ruang santai samping, melangkah keluar seorang wanita muda lainnya yang menggendong seorang anak perempuan berusia empat tahun.
Wanita itu adalah Freya Alexandra, istri tercinta dari Kendrick Stone, dan bocah kecil di pelukannya adalah Kyara Stone.
Lavender dan Freya adalah kakak adik kandung. Lavender sang kakak memiliki aura tegas yang dominan—sangat cocok mendampingi Kaelix yang dingin—sementara Freya sang adik memiliki pembawaan yang sedikit lebih lembut namun cerdas, pendamping sempurna bagi Kendrick yang sedikit gila.
Begitu Freya menurunkan Kyara kecil ke lantai, bocah berusia empat tahun itu langsung berlari kecil menuju Xavier. "Xavi! Siapa Kakak cantik itu?" tanya Kyara dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
Freya melangkah mendekati kakaknya, Lavender. Kedua singa betina mansion itu kini berdiri berjejer, menatap King dengan pandangan menuntut penjelasan mutlak.
"Jadi... King," Lavender Lynn maju satu langkah, menaikkan sebelah alisnya ke arah King. "Pacarmu yang mana, dari sekian banyak model klan Eropa yang sering diberitakan bersamamu itu, yang berhasil menghasilkan seorang anak perempuan secantik ini? Mengapa kau baru membawanya sekarang? Apa kau berniat menyembunyikannya dari kami?"
King Stone mengusap tengkuknya dengan canggung, wajah pucatnya mendadak dihiasi rona merah akibat interogasi dari adik iparnya.
"Dia... dia bukan anak dari mereka, Lynn. Dia anakku bersama Olivier. Satu-satunya wanita yang..."
"Wah, wah, jadi tebakan kita selama ini benar!" potong Freya dengan binar mata terkejut yang tertahan. Ia menatap Kendrick suaminya, yang hanya membalas dengan kedipan mata jenaka seolah mengatakan 'aku sudah tahu sejak tadi'.
Di tengah atmosfer interogasi keluarga yang kian memanas, suara derit ban mobil yang mengerem kasar di luar mansion seketika memecah ketegangan.
Pintu utama mansion diketuk dengan hantaman yang sangat keras, sebelum akhirnya terbuka paksa oleh dorongan dari luar.
Olivier Martinez melangkah masuk dengan napas yang memburu. Jubah putih kedokterannya bahkan belum sempat ia lepaskan, menyisakan gurat kepanikan yang teramat pekat di wajah cantiknya.
Matanya menyapu seisi ruangan luas itu hingga akhirnya terkunci pada sosok Nora yang berdiri aman di dekat Xavier.
"Nora!" teriak Olivier, suaranya serak karena rasa takut yang teramat sangat sebagai seorang ibu. Ia berlari mendekat, langsung menjatuhkan dirinya berlutut untuk memeluk erat tubuh putrinya.
"Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa mereka melukaimu? Katakan pada Mommy!"
"Aku baik-baik saja, Mom. Mereka tidak melakukan apa pun, paman-paman ini hanya mengajakku ke sini," jawab Nora, mencoba menenangkan ibunya yang tampak sangat gemetar.
Olivier berdiri, menempatkan tubuhnya di depan Nora tak ubahnya seperti seekor singa betina yang siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh anaknya.
Mata bulat Olivier berkilat marah, menatap tajam ke arah King Stone yang berdiri tidak jauh darinya dengan perban perut yang kian berdarah.
"Kau berengsek, King! Kau menculik anakku dari sekolah!" desis Olivier dengan nada suara yang bergetar hebat karena amarah yang memuncak.
Namun, sebelum King sempat mengeluarkan satu patah kata pembelaan diri, Lavender Lynn melangkah maju, memotong jalur di antara Olivier dan King.
Kehadiran Lavender yang anggun namun sarat akan otoritas sebagai nyonya rumah seketika mengalihkan perhatian Olivier.
Dua singa betina dengan latar belakang yang berbeda kini saling berhadapan, memancarkan aura ketegangan yang pekat di tengah ruang tengah mansion. Lavender menatap Olivier dengan pandangan menyelidik yang mendalam, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Jadi, Anda adalah Ibu dari anak cantik ini?" tanya Lavender, suaranya terdengar tenang namun tegas.
"Benar. Dan aku datang untuk mengambil kembali anakku dari cengkeraman pria gila ini," jawab Olivier ketat, menunjuk King dengan pandangan benci.
Lavender Lynn tiba-tiba melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menoleh sekilas ke arah King Stone dengan pandangan menghina yang teramat puas, sebelum kembali menatap Olivier.
"Aku tidak menyalahkan kemarahanmu, Dokter," ucap Lavender dengan nada suara yang mendadak melunak, bertransformasi menjadi sekutu tak terduga bagi Olivier.
"Bahkan jika aku berada di posisi mu, aku mungkin sudah menembak kepala pria ini sejak dia menginjakkan kakinya di sekolah. Bagaimana bisa wanita secerdas dan seanggun Anda... bisa terjebak dan jatuh cinta pada pria playboy tidak berguna seperti King Stone ini di masa lalu?"
Olivier tertegun mendengar kalimat dari istri Kaelix tersebut. Ia mengedipkan matanya, tidak menyangka akan mendapatkan pembelaan dari dalam lingkaran inti klan Stone sendiri.
"Dia memang pria mesum yang hanya tahu cara merusak hidup orang, Nyonya Stone," timpal Olivier, memanfaatkan momen tersebut untuk menumpahkan seluruh kekesalannya pada King.
"Tentu saja! Lihat saja tabiatnya!" Lavender melanjutkan dengan semangat, memanaskan suasana sembari terus memojokkan kakak iparnya.
"Selama sepuluh tahun ini, wajahnya terus terpampang di majalah gosip bersama wanita-wanita klan Eropa. Dia egois, arogan, dan selalu merasa dirinya adalah pusat semesta hanya karena dia memegang kendali operasional dermaga. Meninggalkannya adalah keputusan terbaik yang pernah Anda lakukan, Dokter. Pria seperti dia tidak layak mendapatkan wanita sehebat Anda, apalagi putri secantik ini."
Freya yang berdiri di dekat Kendrick hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa melihat bagaimana kakaknya, Lavender, dengan begitu fasih menjelek-jelekkan King di depan Olivier demi mencairkan ketegangan awal.
Kendrick sendiri sudah terkekeh menggila di belakang istrinya, sementara Kaelix hanya menaikkan sebelah alisnya, mengamati bagaimana dua singa betina itu mulai membentuk aliansi tak kasat mata untuk menyudutkan sang pangeran sulung klan Stone.
King Stone berdiri terpaku di tempatnya, menatap adik iparnya dan Olivier dengan pandangan pasrah yang teramat menyedihkan.
Jahitan di perutnya yang robek terasa kian menyiksa, namun rasa sakit itu kalah jauh dengan rasa malu karena harga dirinya sebagai pria paling ditakuti di Chicago kini habis dikuliti oleh para wanita di dalam rumah adiknya sendiri.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣