Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Balkon
Seperti biasa Aeros menghabiskan waktunya sebelum tidur dengan berdiam diri di balkon kamarnya yang tepat mengarah ke balkon kamar Sael. Ia sedang minum kopi dengan ponsel menyala di tangannya. Matanya sesekali melihat ke kamar Sael yang masih menyala. Kamar yang selalu padam delapan tahun terakhir kini pemiliknya telah kembali.
Sael terlihat sedang berkutat dengan laptopnya, ia sesekali menguap dan mengacak rambutnya frustasi. Terlihat menggemaskan di mata Aeros.
Ia kembali menatap ponselnya yang memperlihatkan gambar akun milik Sael. Tak bisa dipungkiri hobi Aeros selama beberapa tahun ini adalah 𝘴𝘵𝘢𝘭𝘬𝘪𝘯𝘨 akun media sosial Sael. Sael kerap kali mengunggah postingan dirinya sendiri ataupun pemandangan sekitarnya.
Ketika matanya fokus dengan ponselnya, Sael yang diseberang kini sedang berjalan di balkon kamarnya. Sontak membuat Aeros turun dari tempat duduknya dan bersembunyi di balik tembok balkon.
Dari lubang kecil di tembok ia bisa melihat Sael tengah melihat ke arah kamarnya.
Jantungnya berdetak dengan kencang, lampu balkonnya yang sengaja tidak ia nyalakan dan lampu kamarnya yang mati membuat suasana di balkonnya terasa lebih gelap.
Selama beberapa menit Sael terus berdiri disana, pandangannya sesekali ke arah langit, malam itu bulan tampak terlihat bulat sempurna, langit penuh hiasan bintang-bintang, ia tengah mengambil beberapa foto yang kemudian diunggah di akun media sosialnya.
Aeros terus menahan diri untuk tidak keluar dari balik tembok, tangannya menekan tombol suka di postingan terbaru Sael.
Tepat setelah Aeros menekan tombol suka, ia mendengar suara notifikasi dari arah balkon Sael.
Sael sedikit tersentak. Ia menunduk, menatap layar ponselnya dengan dahi yang berkerut. Aeros bisa melihat raut wajah Sael yang berubah menjadi penasaran.
"Cepat banget," gumam Sael pelan.
Sael terdiam sebentar, tangannya mengetuk-ngetuk pagar balkon. Penasaran siapa pemilik akun itu.
"Biarlah." Sael menepis rasa penasarannya, rasa kantuk mulai mendatanginya. "Ngantuk sekali rasanya."
Begitu Sael masuk kamarnya ia langsung menutup gordennya lalu mematikan lampu kamarnya dan bersiap tidur.
Melihat kamar Sael yang sudah gelap, Aeros baru kembali ke tempat duduknya, ia meneguk sisa kopinya yang sudah dingin.
Ia kembali menatap layar ponselnya. 𝘍𝘦𝘦𝘥 𝘐𝘯𝘴𝘵𝘢𝘨𝘳𝘢𝘮 Sael yang menampilkan foto bulan itu ia perbesar sebuah senyum manis tersungging di wajahnya,
Ia kemudian mematikan layar ponselnya, menatap ke arah kamar Sael yang sudah gelap, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi.
*****
Keesokan paginya, sinar matahari yang menembus gordennya dengan tajam memaksa Aeros terbangun dengan kepala yang sedikit berat,
Aeros beranjak dari tempat tidur, mengambil air putih dan melangkah gontai menuju balkon.
Matanya terpaku melihat pemandangan di bawahnya.
"Selamat pagi, Kak Aeros!" teriak Sael melambaikan tangannya, sedang tangan satunya tengah menyirami tanaman.
Aeros mengucek matanya pelan, lalu membalas dengan anggukan dan memberikan senyuman tipis.
"Baru bangun, Kak?" tanya Sael .
"Apa perlu ditanya lagi, Sael, karena seseorang aku nggak bisa tidur" jawab Aeros merapikan rambutnya yang masih acak-acakan.
"Hahaha... Ternyata ada orang yang bisa bikin kakak nggak bisa tidur yaa" goda Sael.
Sael tertawa renyah, ia lalu mematikan keran air, meletakkan selang di sudut tembok, dan menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.
"Seseorang itu sepertinya harus bertanggung jawab," ujar Sael dengan nada yang sengaja dibuat dramatis, namun matanya berbinar jenaka.
Aeros menopang dagu dengan kedua tangannya di atas pagar balkon, menatap lurus ke arah Sael yang tampak begitu bercahaya terkena sinar matahari pagi.
"Iya... Kayaknya dia memang harus bertanggung jawab" ujar Aeros.
Sael tertawa kecil mendengar ucapan Aeros meskipun ia sendiri tidak tahu siapa yang Aeros maksud.
"Ya udah kak, aku mau siap-siap ke kantor dulu, udah kesiangan ini" ujar Sael, melihat jam tangannya.
"Yaa, hati-hati."
Sael melempar senyum kecil sebelum benar-benar berbalik dan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Aeros yang masih terpaku di balkonnya sendiri.
Begitu Sael tidak lagi terlihat, Aeros langsung mundur selangkah, menyandarkan punggungnya ke tembok kamar dengan napas memburu. Ia menyentuh dadanya lalu menutup kedua matanya, dan berbisik lirih pada dirinya sendiri dengan frustrasi.
"Gila... Dia cantik banget."
Kata itu lolos begitu saja dari bibirnya. Aeros meremas rambutnya, merutuki dirinya sendiri, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya bersiap untuk pergi ke kafenya.