NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Mawar Hitam dan Darah

Pagi harinya, atmosfer di dalam mansion mewah Adrian berubah menjadi teramat kaku dan dingin. Sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi emosional di ruang kerja semalam masih membekas dengan sangat jelas di antara mereka berdua. Elena duduk di salah satu kursi kayu ek yang berjejer di meja makan panjang lantai bawah, menatap secangkir kopi hitam dan sarapan paginya tanpa selera sedikit pun. Pikirannya masih lumpuh, terus-menerus memutar ulang setiap detail cerita Adrian tentang pengkhianatan Paman Bram dan konspirasi berdarah Syndicate yang telah merenggut nyawa ayahnya.

Di ujung meja yang lain, Adrian duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi. Pria itu telah mengenakan setelan kemeja formal berwarna hitam pekat yang membingkai sempurna tubuh tegapnya, sibuk memeriksa beberapa laporan pergerakan saham konsumen di ponsel bisnisnya. Tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya ada suara dentingan sendok perak yang sesekali beradu dengan piring porselen, memecah keheningan ruang makan yang luas berlantai granit tersebut.

Namun, keheningan yang janggal itu mendadak terinterupsi ketika pintu ganda ruang makan terbuka dengan sentakan yang cukup keras. Hendra, kepala keamanan pribadi tepercaya Adrian, melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajah pria paruh baya mantan komando militer itu tampak sangat kaku, dengan gurat kecemasan yang luar biasa di pelipisnya. Sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi pada seseorang yang memimpin sistem pertahanan Arsa Group.

Di kedua tangannya yang dilapisi sarung tangan lateks hitam, Hendra membawa sebuah kotak kayu kecil berukiran kuno yang dibungkus oleh selembar kain beludru hitam pekat.

"Tuan Adrian, Nyonya Elena... mohon maaf jika saya harus mengganggu sarapan Anda," ucap Hendra, suaranya terdengar sangat berat dan penuh penekanan saat ia membungkuk hormat di samping kursi Adrian. "Ada sebuah paket misterius tanpa nama pengirim yang ditinggalkan secara sengaja di depan gerbang utama perimeter luar mansion kurang dari lima belas menit yang lalu. Tim penjinak bom kami sudah melakukan pemindaian sinar-X berlapis dan menyatakan bahwa kotak ini aman dari bahan peledak fisik maupun zat beracun udara. Namun, isinya..." Hendra menggantung kalimatnya, melirik ragu ke arah Elena.

Adrian meletakkan ponselnya ke atas meja dengan ketukan pelan yang sarat akan otoritas. Matanya yang gelap seketika menyipit tajam, memancarkan aura predator yang langsung waspada. "Buka di sini, Hendra. Jangan ada yang disembunyikan dari istriku."

"Baik, Tuan."

Hendra melangkah mendekati meja makan, meletakkan kotak kayu itu tepat di tengah-tengah permukaan meja yang kosong, lalu perlahan membuka penutupnya. Begitu isi di dalam kotak tersebut terpapar cahaya lampu ruangan, Elena refleks tersentak mundur di kursinya, tangannya menangkup mulutnya sendiri untuk menahan pekikan ngeri yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Di dalam kotak kayu yang dialas kain satin putih bersih tersebut, terdapat setangkai mawar hitam berukuran besar. Kelopaknya telah layu dan tampak menghitam legam layaknya terbakar, namun yang membuat bulu kuduk berdiri adalah mawar itu ditusuk tepat di bagian tengahnya oleh sebuah paku besi besar bersisi tajam. Paku itu menembus kelopak mawar hingga menancap pada sepucuk surat kecil berbahan kertas linen kuno, yang permukaannya dipenuhi oleh bercak-bercak cairan merah pekat yang telah mengering, cairan yang dari aromanya saja sudah bisa ditebak adalah darah segar.

Adrian meraih surat tersebut dari tusukan paku menggunakan ujung jemarinya yang stabil tanpa keraguan sedikit pun. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ekspresinya justru mendadak berubah menjadi sedingin es yang paling kaku, dengan rahang yang mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat menegang dengan jelas. Ia membaca sebaris kalimat pendek yang ditulis dengan tinta hitam tebal di atas kertas berdarah tersebut.

Pernikahan kontrak tidak akan pernah bisa mengubah takdir sang Putri Kecil. Kembalikan apa yang bukan milikmu kepada kami, atau abu akan menjadi akhir dari seluruh sisa hidupmu.

"Mereka sudah mulai melangkah keluar dari bayang-bayang," ucap Adrian, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan setajam mata pisau yang siap menggorok leher musuh. Dengan satu gerakan tangan kanannya yang besar, ia meremas surat linen tersebut hingga hancur menjadi serpihan kusut di dalam kepalan tangannya yang kuat.

Elena merasakan sekujur tubuhnya mendadak sedingin es, rasa mual yang hebat mulai merayap di perutnya saat ia menatap mawar hitam yang layu di dalam kotak. "Adrian... itu mawar hitam yang sama dengan yang pernah kulihat di dalam dokumen lama milik ayahku sebelum beliau menghilang. Itu adalah simbol dari perintah eksekusi Syndicate."

Adrian perlahan berdiri dari kursi makannya. Tubuhnya yang tinggi besar dan tegap seketika memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat, seolah siap meruntuhkan dinding-dinding di sekitarnya. Ia berjalan mengitari meja makan panjang tersebut, melangkah mendekati Elena, lalu meletakkan kedua tangan besarnya yang hangat di atas bahu Elena, menyalurkan kekuatan fisik yang kokoh untuk menenangkan tubuh istrinya yang sedang sedikit bergetar karena syok.

"Mereka mencoba melakukan intimidasi psikologis karena berita pernikahan kita dan lonjakan saham gabungan kita mulai mengacaukan stabilitas pergerakan dana kotor mereka di lantai bursa," desis Adrian, matanya yang gelap menatap tajam ke arah pintu keluar seolah ia bisa melihat para musuhnya sedang mengintai di luar sana. "Mereka pikir, dengan mengirimkan teror seperti ini ke dalam rumahku, aku akan ketakutan, membatalkan aliansi kita, dan menyerahkanmu kepada mereka seperti yang dilakukan Bramantyo sepuluh tahun lalu."

Adrian menundukkan kepalanya, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena yang sedang menatapnya dengan penuh harap dan ketakutan. "Dengarkan aku dengan baik, Elena. Mulai detik ini, sandiwara manis kita di depan kamera sudah selesai. Kita tidak lagi hanya sekadar bermain peran sebagai pasangan suami istri di hadapan para wartawan. Kita berada di dalam medan perang fisik yang sesungguhnya. Mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar dengan mengirimkan ancaman ini ke dalam wilayah kekuasaanku."

Adrian beralih menatap Hendra yang masih berdiri tegap di samping meja. "Hendra, naikkan status keamanan seluruh perimeter mansion dan kantor pusat ke tingkat tertinggi. Siapkan seluruh unit komando internal Arsa Group untuk melakukan pengawasan melekat pada Elena selama dua puluh empat jam penuh. Dan beri tahu tim intelijen kita... cari dari mana kotak ini berasal sebelum matahari terbenam hari ini."

"Siap, Tuan Adrian!" Hendra membungkuk hormat, lalu dengan cepat membawa kembali kotak kayu penuh teror tersebut keluar dari ruangan.

Elena menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam badai kepanikan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menggenggam erat lengan kemeja hitam Adrian yang berada di bahunya, merasakan kehangatan dan kekerasan otot suaminya yang memberikan rasa aman yang tak terbantahkan. Mawar hitam dan bercak darah itu mungkin adalah sebuah ancaman maut dari organisasi paling berbahaya di dunia, namun melihat sorot mata Adrian yang menyala penuh amarah dan determinasi untuk melindunginya, Elena tahu bahwa ia telah memilih sekutu yang tepat. Sumbu peperangan telah resmi terbakar, dan mereka berdua siap untuk menghancurkan siapa saja yang mencoba menghalangi langkah mereka.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!