NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dikota bastan

Ketiganya akhirnya tiba di Kota Perbatasan Bastan.

Gerbang kayu setinggi tiga tombak menyambut kedatangan mereka dengan suara derit tua yang panjang setiap kali terbuka. Jalanan kota dipenuhi hiruk-pikuk suara pedagang kaki lima, roda kereta barang yang bergemuruh, dan suara tawar-menawar yang bersahutan dari segala penjuru. Bau ikan asin, asap daging panggang, serta keringat bercampur menjadi satu—bau khas kota perbatasan yang selalu jadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai bangsa dan suku.

Sesuai rencana yang sudah disusun matang, mereka langsung berganti wujud dan menyamar sebelum melewati gerbang utama. Cindy melepaskan semua perhiasan indahnya, menyembunyikan gaun sutra biru yang mewah ke dalam tas, lalu mengenakan pakaian kain kasar berwarna coklat tanah yang sudah agak lusuh. Rambut emasnya yang indah ia kepang longgar, bahkan ia sengaja mengoleskan sedikit debu jalanan di pipi dan dahinya supaya terlihat seperti gadis desa biasa yang baru turun dari pegunungan. Ia juga mengubah cara jalannya, berjalan sedikit membungkuk seolah sedang memikul beban berat di pundak.

“Aku Lia… anak pedagang rempah dari desa seberang,” gumamnya pelan berulang-ulang, berusaha membiasakan diri dengan nama dan identitas barunya.

Di sampingnya, Brisa bergerak sepenuhnya tanpa suara. Jubah peraknya yang mencolok ia balik, memperlihatkan bagian dalam yang berwarna hitam kusam dan sudah tipis. Rambut perak panjangnya yang sangat khas dan mudah dikenali ia gulung rapat-rapat, lalu disembunyikan sepenuhnya di balik tudung jubah abu-abu tebal. Hanya sepasang mata perak yang sedingin es saja yang terlihat dari balik kain penutup mulutnya. Ia sengaja membuat langkah kakinya terlihat tertatih dan lemah, persis seperti orang yang baru sembuh dari luka parah.

“Jangan harap bisa dapat jawaban dariku,” bisiknya singkat pada Yuse. “Mulai detik ini aku bisu dan tuli.”

Sementara itu Yuse mengenakan baju pendekar kelana berwarna coklat tua yang polos, lengkap dengan kain penutup kepala yang menutupi sebagian wajahnya. Pedang panjangnya yang indah ia balut rapat dengan kain usang, sampai terlihat persis seperti tongkat kayu biasa. Dari luar, ketiganya sama sekali tidak terlihat istimewa—hanya sekelompok pengembara miskin yang sedang mencari pekerjaan serabutan.

Sore harinya, tepat sesuai rencana, Yuse melangkah masuk ke kedai minuman paling ramai dan terkenal di sudut kota: Kedai Taring Serigala. Udara di dalamnya penuh dengan asap tembakau yang tebal, suara gelas yang beradu keras, serta tawa kasar para tamu. Di setiap sudut duduk para pendekar bayaran dengan wajah penuh bekas luka, buronan yang menyembunyikan wajah di balik topeng, dan penyelundup yang saling berbisik di tempat gelap. Suara musik kecapi yang sumbang bersahut-sahutan dengan suara adu mulut dan cekcok di meja sebelah.

Yuse memilih duduk di meja paling pojok yang agak gelap, punggungnya menempel rapat ke dinding supaya tidak ada orang yang bisa menyergap dari belakang. Dari posisi itu ia bisa mengawasi seluruh isi ruangan dengan jelas. Dengan gerak-gerik yang sengaja dibuat terlihat sangat waspada dan takut ketahuan, ia meletakkan sebuah buku replika yang dibungkus kain sutra merah di atas meja. Bungkusannya sedikit ia buka celahnya, memperlihatkan pinggiran kertas tua yang sudah menguning. Lalu ia berpura-pura menutupnya lagi dengan cepat, matanya melirik kiri dan kanan seolah sangat takut ada orang yang melihat benda itu.

“Hei Pelayan!” panggil Yuse agak keras, suaranya dibuat cukup terdengar oleh meja-meja sekitar. “Kudengar di pasar gelap sebelah utara ada yang mau bayar ribuan keping emas buat beli kitab kuno semahal ini. Kau tahu siapa pembelinya yang paling tinggi tawarannya?”

Pelayan itu cuma mengangkat bahu bingung lalu buru-buru pergi melayani tamu lain, tapi Yuse tahu betul: umpannya sudah berhasil dilempar. Di setiap sudut ruangan, beberapa pasang telinga tiba-tiba jadi lebih terpasang dan peka. Bisik-bisik pelan mulai terdengar menyebar dari satu meja ke meja lain.

Umpan itu ternyata langsung dimakan.

Dari sudut kedai yang paling gelap, di balik tumpukan tong kayu kosong, sepasang mata tajam milik seorang wanita terus mengawasi setiap gerakan Yuse tanpa kedip sedikit pun. Wanita itu berpakaian serba hitam ketat yang pas di badan, rambut panjangnya diikat tinggi rapi, dan bibirnya dilapisi warna merah tua pekat. Di pinggang kirinya tergantung sebuah tabung bambu kecil—jelas berisi jarum atau racun mematikan. Ia menyunggingkan senyum licik, memperlihatkan ujung gigi yang sengaja diruncingkan. Perlahan ia bangkit berdiri, pinggulnya bergoyang pelan penuh pesona, lalu berjalan mendekati meja Yuse dengan langkah yang sangat percaya diri.

“Bolehkah aku duduk di sini sebentar, Pendekar Muda?” tanyanya dengan suara yang dibuat sangat manis, lembut, dan memikat—persis seperti madu yang kelihatan manis tapi penuh duri tersembunyi di dalamnya.

Yuse menatap wanita itu dengan tatapan waspada dan menilai. Bau wangi melati yang terlalu menyengat menusuk hidungnya—bau yang biasa dipakai para pembunuh untuk menutupi bau amis racun. Tapi ia tetap mengangguk pelan seolah terpesona. “Silakan saja Nona. Kursi ini kosong.”

Wanita itu langsung duduk di depan Yuse tanpa diminta, lalu menyandarkan dagunya di atas kedua tangannya sambil menatap lekat-lekat wajah Yuse. “Namaku Mila,” katanya sambil tersenyum menggoda. “Aku cuma pengembara biasa yang suka menolong orang yang kelihatannya kesepian dan lelah. Kau kelihatannya sangat lelah sekali ya, Pendekar?”

Sepanjang obrolan, Mila terus saja melontarkan pujian-pujian manis dan tatapan yang sengaja dibuat menggoda.

“Kulitmu halus dan bersih sekali ya, jarang ada pendekar yang sepertimu,” katanya sambil menyentuh lengan Yuse dengan jari-jarinya yang dingin. “Ototmu juga kuat dan kokoh. Pasti kau hebat sekali bertarung… maksudku, hebat di medan perang kan?”

Yuse cuma tersenyum tipis sambil berpura-pura jadi pemuda polos yang salah tingkah dan malu-malu. Padahal diam-diam ia terus mengawasi setiap gerakan tangan wanita itu. Tanpa disadarinya—atau tepatnya tanpa disangka Yuse sudah tahu—dengan gerakan jari yang sangat cepat dan tak kasat mata, Mila menjatuhkan beberapa butir serbuk halus tak berwarna tepat ke dalam cangkir minuman Yuse. Serbuk itu langsung melebur sempurna, sama sekali tidak mengubah warna maupun aroma minuman sedikit pun.

‘Dasar bocah pendekar bodoh dan polos,’ batin Mila sambil menahan senyum puas. ‘Kitab Janma Manunggal ini bakal jadi milikku dengan mudah tanpa perlu buang tenaga. Nanti aku jual ke Tuan Bertopeng, dan aku bisa hidup mewah tenang selama sepuluh tahun penuh.’

“Minumlah dulu, Pendekar,” ujar Mila sambil menyodorkan cangkir itu dengan senyum yang terlihat sangat tulus dan manis, padahal di balik itu tersembunyi niat membunuh. “Perjalanan jauh pasti membuatmu sangat haus dan lelah kan? Tenang saja, aku tidak akan meracunimu… kecuali kalau kau memang menginginkannya sendiri.”

Yuse melirik sekilas ke dalam cangkir itu. Indranya yang sangat tajam hasil latihan belasan tahun di padepokan langsung menangkap bau samar yang aneh—bau logam tembaga tipis yang khas dari racun pelumpuh seluruh saraf tubuh. Tapi demi kelancaran rencana menjebak mata-mata ini, ia berpura-pura sama sekali tidak tahu apa-apa. Ia mengangkat cangkir itu tinggi-tinggi, menempelkan ke bibirnya, lalu berlagak meminum seluruh isinya sampai habis tandas.

Padahal, menggunakan teknik pernapasan rahasia padepokan yang sudah ia kuasai sempurna, ia cuma menahan cairan itu di pangkal tenggorokan saja tanpa menelannya sedikit pun. Cairan itu tetap ada di mulutnya, aman dan tidak masuk ke tubuh.

Belum sampai lima menit berlalu, Yuse langsung memegangi kepalanya erat-erat sambil memasang wajah kesakitan yang sangat meyakinkan.

“Aduh… kepalaku mendadak berat sekali… pandanganku jadi buram dan kabur…” keluhnya pelan, suaranya terdengar sangat lemah dan bergetar. Tubuhnya terhuyung-huyung oleng ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya kepalanya jatuh membentur meja dengan suara “BRAKK” yang cukup keras—berpura-pura pingsan total lumpuh akibat racun.

Melihat korbannya sudah tak berdaya dan lumpuh total, senyum manis serta sikap lembut di wajah Mila seketika lenyap seolah tidak pernah ada. Digantikan oleh seringai dingin dan kejam yang sangat mengerikan.

“Huh! Dasar ksatria bodoh dan gampangan,” umpatnya ketus dan penuh rasa jijik. “Gampang sekali.”

Dengan gerakan cepat, tangan liciknya langsung menyambar buku replika di atas meja. Ia membuka bungkus sutranya, memeriksa halaman-halamannya dengan mata berbinar puas.

“Benar… ini dia,” bisiknya pelan. Tanpa membuang waktu, Mila langsung melangkah keluar dari kedai melewati pintu belakang menuju sebuah gang sempit yang gelap dan sepi, berniat membawa kabur kitab tersebut sendirian agar tidak perlu membagi hasil dengan siapa pun.

Namun, baru beberapa langkah Mila menyusuri gang gelap itu, langkah kakinya mendadak terkunci mati. Hembusan angin dingin yang sangat pekat berputar di sekelilingnya, menekan atmosfer udara hingga terasa menyesakkan dada. Lampu obor di dinding gang padam satu per satu tanpa ada angin yang bertiup.

Dari balik kegelapan gang, sesosok gadis berambut perak melangkah maju perlahan. Tudungnya terbuka lebar, memperlihatkan rambut perak panjang yang berkilau indah meski dalam gelap pekat. Tatapannya sedingin es abadi, aura membunuh terpancar kuat dari tubuhnya sampai membuat dinding batu di sekitar mereka bergetar pelan.

“Kau mau membawa ke mana barang palsu itu, Penyihir Racun?” tanya Brisa dengan nada datar dan dingin. Suaranya rendah, tapi setiap kata yang keluar menusuk tajam seperti pisau.

Mila tersentak kaget luar biasa dan refleks mundur ke belakang, buku di tangannya hampir terjatuh ke tanah.

“Ka-kau… kau gadis perak dari Desa Angin?!”

Namun belum sempat ia sempat bereaksi atau lari, di ujung gang satunya lagi, sosok Cindy sudah berdiri tegak menghadang jalan keluarnya. Pakaian lusuhnya kini tak lagi bisa menyembunyikan aura agung yang memancar terang dari tubuhnya. Telapak tangannya mulai memercikkan api merah menyala—api Phoenix yang panasnya membuat udara di sekitar bergetar hebat.

“Sialan! Aku dijebak!” teriak Mila murka dan panik. Ia sadar sekarang—ini sama sekali bukan kebetulan. Ini jebakan yang sudah disiapkan rapi buatnya.

Tanpa pikir panjang, Mila langsung merogoh kantong bajunya, lalu melempar sekumpulan jarum beracun ke arah Brisa dengan kecepatan yang tak terlihat mata. Jarum-jarum itu berkilau hijau samar, jelas dilumuri racun mematikan. Sambil melempar, ia berniat melarikan diri menggunakan ilmu meringankan tubuh, melompat tinggi ke atas mau memanjat dinding batu gang.

Wush! Brakk!

Tiba-tiba, sesosok pemuda melesat sangat cepat dari atas udara. Gerakannya senyap tanpa suara, tapi tebasan pedangnya memecah keheningan malam. Dengan akurasi sempurna, ia menepis seluruh jarum beracun itu sampai berjatuhan ke tanah, mengeluarkan asap hijau beracun saat menyentuh batu.

Pemuda itu mendarat tepat di depan Mila dengan hentakan keras, membuat wanita licik itu terpental jatuh ke tanah. Debu beterbangan ke mana-mana. Mila terbelalak tak percaya menatap pemuda yang tadi dianggap sudah lumpuh total.

“Ba-bagaimana mungkin?! Kau sudah meminum racun pelumpuh sarafku!” jerit Mila histeris, suaranya pecah karena ketakutan. Wajahnya yang tadinya penuh percaya diri kini pucat pasi seperti kain kertas.

Yuse berdiri tegak dengan senyum tipis yang penuh wibawa, ujung pedangnya masih menunjuk ke bawah. Sama sekali tidak terlihat gejala keracunan sedikit pun. Napasnya teratur dan tenang, matanya jernih tajam.

“Sejak awal aku sudah tahu minuman itu aneh, Nona Mila,” kata Yuse pelan tapi tegas. “Aku cuma pakai teknik pernapasan padepokan untuk menahan cairan itu di tenggorokan tanpa menelannya, lalu memuntahkannya diam-diam saat kau lengah. Kau pikir kau satu-satunya yang bisa main racun dan tipu muslihat?”

Yuse perlahan mengacungkan ujung pedangnya yang berkilau tajam tepat di bawah dagu Mila yang sudah gemetar ketakutan. Di belakangnya, Brisa dan Cindy mengepung dari dua sisi. Tidak ada celah, tidak ada jalan keluar sedikit pun.

“Sekarang,” suara Yuse berubah dingin dan menekan berat, “katakan pada kami di mana markas rahasia Padepokan Lintis Bumi. Katakan siapa sosok bertopeng yang mengendalikan kalian. Atau racunmu sendiri yang akan mengakhiri hidupmu di gang ini sekarang juga.”

Mila menelan ludah. Keringat dingin membasahi seluruh wajah dan lehernya. Ia tahu, malam ini permainannya benar-benar sudah berakhir.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!