NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teritorial Seorang Alfarezel

Suasana di sudut kafe lobi Menara Alfarezel mendadak mencekam. Pegangan tangan Devan di pinggang Anya terasa begitu posesif dan kokoh, seolah-olah pria itu sedang menancapkan bendera kekuasaannya di atas tanah miliknya sendiri. Anya bisa merasakan detak jantung Devan yang tenang namun konstan di balik kemeja mahalnya, sangat kontras dengan miliknya yang berpacu liar.

Rendra menelan ludah dengan susah payah. Keberaniannya yang menggebu-gebu saat mengintimidasi Anya tadi menguap begitu saja saat berhadapan langsung dengan pewaris tunggal Alfarezel Group.

"S-saya Rendra, Pak Devan..." ucap Rendra terbata-bata, mencoba menegakkan bahunya meski lututnya terasa lemas.

"Saya hanya... saya mantan kekasih Anya. Saya ke sini karena peduli padanya. Hubungan Anda dan Anya... ini tidak masuk akal. Anya bukan dari kalangan Anda, dan saya tahu betul bagaimana keadaan keluarganya"

"Lalu?" potong Devan cepat, nadanya sangat datar namun sarat akan penghinaan.

"Kau pikir aku peduli dengan apa yang kau ketahui?"

Devan melirik sekilas ke arah Dion yang masih menonton dari balik pilar marmer dengan senyum yang mulai memudar. Devan kembali menatap Rendra, kali ini dengan mata yang menyipit berbahaya.

"Enam bulan lalu, kau meninggalkan wanita ini saat dia berada di titik terendah hidupnya karena kau tidak sanggup memikul bebannya, bukan?" tanya Devan, suaranya yang bariton menggema pelan namun terdengar sangat jelas di telinga Rendra. Anya tersentak, tidak menyangka Devan mengetahui detail itu entah dari berkas latar belakang yang dikumpulkan asisten Randi atau dari analisanya sendiri.

Wajah Rendra memerah karena malu sekaligus tertangkap basah.

"Kau mencampakkannya demi mencari wanita yang bisa mendanai kariermu," lanjut Devan dengan seringai dingin yang mematikan.

"Dan sekarang, saat melihat dia berdiri di tempat yang tidak akan pernah bisa kau capai seumur hidupmu, kau datang dan berlagak menjadi pahlawan?"

"Pak Devan, Anda tidak mengerti"

"Aku sangat mengerti," potong Devan lagi, kini suaranya merendah menjadi bisikan ancaman yang membuat bulu kuduk meremang. "Kau hanya sepotong masa lalu yang tidak berharga yang mencoba mencari panggung. Dengar baik-baik, Rendra. Mulai detik ini, jika aku melihat wajahmu berada dalam radius seratus meter dari Anya, atau jika kau mencoba menghubunginya lagi... aku akan memastikan perusahaan tempatmu bekerja sekarang memutus kontrakmu, dan tidak akan ada satu pun perusahaan di kota ini yang sudi menerima surat lamaranmu."

Rendra membelalak. Ia tahu Devan Alfarezel tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Kekuasaan pria itu sanggup menghancurkan karier orang kecil sepertinya hanya dalam satu jentikan jari. Tanpa berani mengucapkan satu kata pun lagi, Rendra mundur beberapa langkah, berbalik, dan setengah berlari keluar dari lobi Menara Alfarezel dengan wajah pucat pasi.

Setelah Rendra pergi, Devan tidak langsung melepaskan rangkulannya di pinggang Anya. Ia mengalihkan pandangannya langsung ke arah Dion.

Devan berjalan mendekat ke arah sepupunya, menyeret Anya bersamanya dalam dekapannya. "Taktik yang sangat murahan, Dion," desis Devan tepat di depan wajah Dion. "Menggali sampah dari masa lalu untuk membuat drama di lobiku? Kau benar-benar sudah kehabisan akal."

Dion mendengus, mencoba menyembunyikan kekesalannya karena rencananya gagal total. "Aku hanya ingin memastikan calon kakak iparku ini bersih dari skandal, Devan. Siapa tahu dia masih menyimpan rasa pada mantannya yang miskin itu."

Mendengar itu, rahang Devan mengeras. Ada kilat emosi yang lebih gelap dari sekadar amarah profesional di matanya sebuah percikan cemburu yang bahkan tidak disadari oleh Devan sendiri.

"Dia milikku, Dion. Segala hal tentangnya, baik masa lalu maupun masa depannya, adalah urusanku. Bukan urusanmu," ucap Devan mutlak, mengunci kata-katanya dengan penegasan yang membuat jantung Anya berdesir hebat.

Devan kemudian berbalik, menatap Anya yang masih syok. "Ikut ke ruanganku. Sekarang," perintahnya, sebelum menuntun Anya kembali menuju lift eksekutif, meninggalkan Dion yang mengepalkan tangannya geram karena lagi-lagi kalah telak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!