NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dua hari berlalu sejak mereka menetap di losmen kumuh pinggiran Kota Baru. Dua hari di mana dunia terasa berputar normal bagi jutaan penduduk kota, tapi di balik tirai jendela kamar 204 yang tertutup rapat, sebuah rencana jahat, dingin, dan brilian sedang disusun sampai ke detail terkecil.

Pagi itu, Kota Baru terbangun seperti biasa. Matahari bersinar cerah, langit biru tanpa awan, udara hangat beraroma aspal dan debu kota. Jalanan utama—Jalan Merdeka—ramai lancar, padat oleh mobil mewah, motor, dan pejalan kaki yang sibuk mengejar nafkah. Di ujung jalan, menjulang megah gedung pencakar langit setinggi 28 lantai: Menara Wijaya-Andalan. Kaca-kaca cerminnya memantulkan sinar matahari, bersinar angkuh sebagai simbol kekuasaan, kekayaan, dan ketakutan selama 30 tahun terakhir.

Di lobi utama gedung itu, suasana tenang, eksklusif, dan teratur. Satpam berseragam rapi berdiri tegak, pengunjung berjalan sopan, udara dingin ber-AC terasa nyaman.

Tepat pukul 09.15 pagi, suasana damai itu pecah.

Pintu putar kaca otomatis berputar cepat, dan masuklah sekelompok kecil orang yang langsung menarik perhatian semua orang di lobi.

Di depan, berjalan seorang gadis remaja berusia sekitar 13-14 tahun.

Ia memakai seragam sekolah putih abu-abu standar, rambut pendek ikal dipotong kasar tapi disisir rapi, wajah bersih tanpa riasan, sepatu kets putih bersih. Ia terlihat manis, lugu, polos, dan sedikit pemalu. Matanya yang besar berbinar-binar, menatap sekeliling dengan kagum kekanak-kanakan. Ia tersenyum sopan pada setiap orang yang lewat. Sari Dewi. Sang Malaikat Kecil. Topengnya sempurna, tak ada satu pun yang bisa mendeteksi monster di baliknya.

Di sebelah kanannya, berjalan seorang pria tampan, tegap, berwajah keras namun tenang, mengenakan kemeja batik longgar dan celana bahan, terlihat seperti pengawal pribadi atau kerabat jauh yang pendiam. Matanya mengawasi sekeliling dengan waspada mematikan, tangan kanannya santai di saku celana, jari-jarinya siap mencengkeram gagang pisau kapan saja. Raga Wijaya.

Dan di belakang, berjalan pasangan suami istri paruh baya yang terlihat lelah, tegang, dan pucat. Sang suami—pria gagah berwajah keras dengan tatapan mata penuh badai kemarahan dan keputusasaan yang tertahan. Sang istri—wanita cantik elegan dengan mata bengkak, pandangan kosong, tubuh gemetar halus. Mereka berjalan berdekatan, tangan mereka terikat longgar di balik punggung, disamarkan di balik jaket luar yang besar. Arya Pratama dan Naya Andalan.

Kelompok itu berhenti tepat di meja resepsionis marmer hitam di tengah lobi.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis wanita muda itu ramah, meski matanya sedikit bingung melihat kelompok aneh ini.

Sari Dewi maju selangkah, tersenyum paling manis, paling polos, paling tidak berbahaya di dunia. Suaranya renyah, lembut, merdu.

"Selamat pagi, Kak. Kami mau ketemu Kakek Andri Andalan. Kami keluarga dekat. Ini Ayahku, Arya Pratama. Ini Ibuku, Naya Andalan. Kakek pasti senang sekali kalau tahu kami datang. Tolong kabari dia ya, Kak. Katanya cucu kesayangannya datang berkunjung."

Suara Sari tidak bergetar. Tidak ada ironi. Tidak ada ancaman. Hanya kegembiraan murni seorang cucu yang rindu kakeknya.

Resepsionis itu tertegun sejenak mendengar nama-nama besar itu. Arya Pratama? Naya Andalan? Nama-nama legendaris yang menghilang misterius sebulan lalu, yang dicari di seluruh media. Wanita itu melirik Arya dan Naya, mengenali wajah mereka dari foto-foto lama koran. Jantungnya berdegup kencang.

"T-tentu saja, Tuan, Nyonya... Nona..." Resepsionis itu langsung panik, gugup, segera mengangkat telepon internal ke ruang pimpinan tertinggi.

Sementara itu, Raga perlahan mundur setengah langkah, tangannya masuk lebih dalam ke saku, menekan tombol kecil pada alat komunikasi mini. Sinyal terkirim.

Di saat yang sama, di luar gedung, di trotoar seberang jalan, di dalam mobil van putih polos yang parkir, dua orang anak muda yang disewa Raga seminggu lalu—wartawan investigasi lepas yang haus uang dan sensasi—menerima sinyal itu. Mereka langsung melompat keluar, kamera dan perekam suara siap, berlari menyeberang jalan.

Dan bukan hanya mereka. Atas instruksi rinci Sari Dewi, sinyal yang sama juga dikirim ke nomor-nomor tak dikenal milik media besar, stasiun TV, dan kantor berita nasional. Pesan singkat, anonim, dikirim berulang-ulang:

"BOM BESAR: Arya Pratama & Naya Andalan di Menara Wijaya-Andalan. Skandal Negara & Mafia Terbongkar. DATANG SEGERA."

Kembali di lobi.

Resepsionis meletakkan telepon dengan wajah pucat. "M-maaf... Pak Andri sedang rapat penting. Beliau tidak bisa diganggu. Beliau meminta kalian menunggu di ruang tamu VIP lantai dasar saja."

Sari Dewi tersenyum tetap manis, tapi di sudut matanya yang tak terlihat, kilatan tajam melintas cepat.

"Oh, begitu? Kakek memang sibuk sekali ya. Tidak apa-apa, Kak. Kami tunggu saja di sini. Di sini saja. Biar semua orang tahu cucu kesayangannya sudah pulang."

Sari Dewi duduk santai di sofa kulit besar di tengah lobi, tepat di area paling terbuka, paling ramai, paling terlihat. Ia melambaikan tangan pada ayah dan ibunya.

"Ayah, Bunda, duduk sini. Jangan malu-malu. Ini kan rumah kakek kita sendiri. Kita keluarga, kan?"

Arya berdiri kaku, rahangnya bergemeretak menahan amarah yang siap meledak. Ia ingin berteriak. Ia ingin menerjang. Ia ingin mencekik leher gadis kecil jahat di depannya ini sampai mati. Tapi di pinggang kirinya, di balik jaket, ujung pisau tajam Raga menekan kulitnya keras-keras. Tekanan itu memberikan pesan diam, dingin, dan tegas: Satu gerakan salah, satu kata keluar... Naya mati duluan.

Arya melirik istrinya. Naya duduk di sana, pucat, gemetar, air mata menetes diam di pipinya, matanya menatap kosong ke arah lift kaca yang naik-turun. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Ia tahu apa yang sedang dipersiapkan putrinya. Ia tahu hari ini, ayahnya, Andri Andalan, akan dihancurkan di depan matanya sendiri, dan tangannya sendiri yang akan memegang palu pemukulnya.

Pintu putar berputar lagi. Kali ini lebih cepat, lebih ramai.

Mobil berita mulai berdatangan. Mobil TV swasta. Koran besar. Media online. Puluhan orang dengan kamera besar, mikrofon, dan kartu pers berhamburan masuk, didorong rasa penasaran dan ambisi. Kabar burung sensasi menyebar lebih cepat dari api.

"Luar biasa..." bisik Raga pelan di sebelah Sari, mulutnya tersenyum tipis kagum melihat skenario berjalan persis seperti perhitungan keponakannya.

Dalam 10 menit, lobi mewah yang tenang itu berubah menjadi kawah candradimuka. Ratusan orang memenuhi ruangan. Kamera berkedip tak henti. Suara bising obrolan, pertanyaan, dan peralatan elektronik memenuhi udara. Satpam kebingungan, panik, berusaha menahan kerumunan tapi kalah jumlah.

Di tengah badai itu, duduklah Sari Dewi. Tenang. Santai. Tersenyum. Wajahnya bersinar di bawah sorotan lampu kamera. Ia terlihat seperti bintang utama.

Lift utama besar di tengah ruangan berbunyi TING. Pintu terbuka.

Suasana seketika hening. Hening mencekam.

Keluar dari lift, berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat kayu hitam berukir emas, adalah Andri Andalan.

Pria itu terlihat lebih tua, lebih lelah, lebih kurus dari foto-foto koran. Rambutnya putih semua, wajahnya penuh kerutan dan bekas luka, satu matanya berkabut putih. Tapi aura dominasinya, aura kekuasaannya, aura bahayanya masih terasa berat, menekan dada setiap orang yang melihatnya. Di belakangnya, berjalan dua orang pengawal raksasa berotot, berwajah jahat, tangan di balik jaket, jelas membawa senjata.

Andri berhenti. Matanya yang satu langsung terkunci pada sosok kecil yang duduk di tengah sofa.

Jantung Andri berhenti berdetak sesaat. Napasnya tercekat.

Di sana. Di sana dia.

Sari Dewi.

Gadis itu duduk dengan kaki menjuntai, tersenyum lebar, matanya berbinar cerah, wajahnya berseri-seri. Ia terlihat sehat, kuat, cantik, dan hidup. Tidak ada tanda-tanda kelaparan. Tidak ada tanda-tanda trauma. Tidak ada tanda-tanda luka. Dia terlihat... sempurna.

Air mata bahagia, air mata lega, dan air mata cinta yang gila langsung menggenangi mata tua Andri. Ia ingin berlari. Ia ingin berlutut. Ia ingin memeluk gadis itu, menciumnya, menyembahnya.

Dia selamat. Dia pulang. Dia indah. Dia milikku.

Tapi kemudian, mata Andri beralih ke sebelah kiri.

Di sana, duduk Arya Pratama. Wajah Arya merah padam, mata melotot penuh kebencian, tubuhnya kaku seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Dan di sebelah Arya... Naya. Naya yang menangis diam, yang menunduk, yang tak berani menatap ayahnya sendiri.

Dan di sebelah kanan Sari... Raga.

Raga berdiri tegak, bersedekap, menatap Andri dengan tatapan paling menghina, paling sinis, dan paling penuh kemenangan yang pernah dilihat Andri seumur hidupnya.

Insting lama, insting bertahan hidup, insting penguasa yang tajam seolah ditusuk jarum panas di tengkuk leher Andri. Ada yang salah. Ada yang sangat, sangat salah.

Ini bukan pertemuan keluarga bahagia. Ini Jebakan.

"Kakek!!" seru Sari Dewi riang, memecah keheningan mencekam itu. Ia langsung melompat turun dari sofa, berlari kecil mendekati Andri dengan langkah ringan, tangan terulur, senyumnya makin mekar, manis, dan polos. "Aduh, Kakek! Lama sekali turunnya! Aku kangen sekali sama Kakek! Lihat, aku pulang! Aku datang menemui Kakek!"

Sari Dewi berhenti tepat satu meter di depan Andri. Ia tidak memeluk. Ia tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, menatap kakeknya dengan mata jernih, bersih, dan penuh cinta. Tapi posisinya—sengaja—tepat di tengah sorotan semua kamera. Setiap sudut, setiap ekspresi, setiap gerakan, direkam, disiarkan langsung ke seluruh penjuru negeri.

Andri menelan ludah, tangannya yang memegang tongkat gemetar halus. Ia menunduk, menatap wajah cucu kesayangannya. Ia mencari tanda, kode, sinyal bahaya di mata gadis itu.

"Sayangku..." suara Andri parau, serak, bergetar karena emosi bercampur curiga. "Kamu... kamu sehat? Kamu aman? Siapa yang bawa kamu ke sini? Kenapa kamu datang... begini?"

Sari Dewi tertawa renyah, suara manja anak kecil. "Aduh, Kakek, aneh sekali pertanyaannya. Aku kan anak Kakek. Aku darah daging Kakek. Kemana lagi aku harus lari selain ke pelukan Kakek, kan? Ayah sama Bunda... ah, Ayah sama Bunda kan orangnya penakut, Kakek. Mereka takut sama hutan, takut sama bahaya, takut sama segalanya. Mereka bilang aku beban. Mereka bilang aku benih iblis. Mereka bilang aku anak jahat."

Suara Sari berubah sedikit, sedikit sedih, sedikit terluka, air mata buatan mulai menggenangi matanya, membuatnya terlihat makin polos, makin menyedihkan, makin tidak bersalah.

"Jadi aku pikir... kalau Ayah sama Bunda tidak mau aku... pasti Kakek mau aku, kan? Kakek selalu bilang aku kesayangan Kakek. Kakek selalu bilang aku satu-satunya orang pintar di keluarga ini. Kakek selalu bilang aku mirip Nenek Sari. Jadi aku ajak mereka ikut, aku bilang: Ayo, kita pergi ke Kakek. Kakek pasti mengerti kita."

Sari Dewi menunjuk ke arah Arya dan Naya di belakang, yang kini menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata dan lensa kamera.

"Lihat, Kakek. Aku bawa mereka juga. Aku bawa Ayah Arya, pahlawan besar negara. Aku bawa Bunda Naya, putri cantik Kakek. Aku bilang sama mereka: Jangan takut. Kakek Andri itu orang baik. Kakek Andri itu orang kuat. Kakek Andri itu akan lindungi kita semua."

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan nada lugu, naif, dan tulus. Tapi maknanya... maknanya adalah racun murni.

Sari Dewi baru saja, di depan seluruh bangsa Indonesia, di depan media, di depan hukum, secara lisan dan eksplisit telah:

1. Mengaku sebagai cucu sah Andri Andalan.

2. Mengungkapkan konflik, kekerasan verbal, dan penolakan di dalam keluarga inti (Arya-Naya-Sari).

3. Menempatkan Andri Andalan sebagai Pelindung, Penyelamat, dan Sosok Ayah/Patron yang Baik & Bijaksana.

4. Menempatkan Arya Pratama sebagai Ayah Jahat, Penolak, Penakut, dan Pembencinta Anak.

Dan Andri terjebak. Terperangkap mati.

Di depan semua orang, di depan kamera, di depan saksi jutaan mata... Andri harus merespons sesuai skenario Sari. Jika ia menolak, jika ia marah, jika ia menuduh, jika ia bilang ini jebakan... ia akan terlihat seperti monster tua yang jahat, yang menolak keluarga, yang menolak cucu polos yang rindu kasih sayang. Ia akan terlihat seperti penjahat sesungguhnya.

Tapi jika ia menerima, jika ia bermain peran sebagai Kakek Baik... ia masuk ke dalam mulut harimau Sari. Ia menyerahkan dirinya, reputasinya, dan hidupnya ke tangan gadis kecil ini.

Andri tersenyum. Senyum yang menyakitkan, dipaksakan, penuh kepahitan dan ketakutan batin. Ia tidak punya pilihan. Cinta gilanya pada Sari lebih kuat dari akal sehatnya. Egonya sebagai Penguasa tidak memungkinkannya terlihat lemah atau jahat di publik.

"O-oh... tentu saja, Sayangku..." suara Andri bergetar, ia mengulurkan tangan besarnya, kasar, penuh urat, hendak mengusap kepala cucunya. "Tentu saja Kakek mau kamu. Kamu rumahku. Kamu jantungku. Kamu tidak akan pernah jadi beban. Kamu harta paling mahal yang Kakek punya."

Tapi tangan itu terhenti di udara.

Sari Dewi mundur selangkah kecil, menghindar. Ia tidak membiarkan Andri menyentuhnya. Senyumnya masih lebar, tapi matanya berkilat tajam, memberikan pesan diam yang hanya Andri yang bisa baca: Jangan sentuh aku. Kamu kotor. Kamu milikku, bukan aku milikmu.

"Syukurlah!" seru Sari gembira, lalu berbalik badan menghadap kerumunan wartawan, menghadap kamera-kamera yang bersinar terang, tangan kecilnya merangkul lengan Andri paksa, menyeret pria tua itu masuk ke dalam jaringnya.

"Teman-teman pers! Lihat kan?! Aku bilang kan Kakek Andri orang baik! Dia tidak seperti kata orang-orang jahat! Dia kakek terbaik di dunia! Dia yang akan lindungi aku, lindungi Ayah, lindungi Bunda dari semua bahaya! Dia yang akan bantu kami!"

Sari Dewi tiba-tiba melepaskan rangkulannya, berbalik cepat menghadap Arya dan Naya, matanya berubah tajam, dingin, memerintah, dan kejam. Suaranya naik satu oktaf, tegas, otoriter, tidak bisa dibantah.

"Ayah! Bunda! Kemari! Berlutut!"

Perintah itu menggema keras di lobi hening.

BERLUTUT!

Arya Pratama, mantan Komandan Pasukan Khusus, Pahlawan Revolusi Anti-Teror, Pria yang tak pernah tunduk pada siapapun di muka bumi kecuali negaranya... diperintahkan berlutut oleh anaknya sendiri. Di depan publik. Di depan musuh bebuyutannya. Di depan dunia.

Darah Arya mendidih sampai ke ubun-ubun. Matanya merah menyala. Ia menggertakkan gigi sampai giginya berderit. Ia ingin meledak. Ia ingin membunuh.

Tapi lagi-lagi, rasa sakit tajam di pinggangnya, desakan pisau Raga mengingatkannya: Naya. Naya ada di sini. Naya nyawanya di tangan mereka. Kalau kau berani, kau bunuh dia.

Arya menatap Naya. Naya menatap suaminya. Mata Naya kosong, pasrah, hancur. Ia mengangguk pelan. Lakukan, Arya. Lakukan saja. Kita sudah mati sejak lama.

Dengan gerakan lambat, menyakitkan, menghancurkan jiwa, Arya Pratama perlahan menekuk lututnya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, tepat di depan Andri Andalan.

Di sebelahnya, Naya ikut berlutut. Tubuhnya ambruk, wajahnya tertunduk, air mata jatuh membasahi batu.

Suara bisik-bisik, gasp kaget, dan kedipan kamera memekakkan telinga. Sejarah sedang dibuat. Kehormatan sedang dikubur.

Sari Dewi tersenyum puas. Rasa kekuasaan, rasa kemenangan, rasa dendam yang terbalaskan membanjiri seluruh pembuluh darahnya dengan sensasi manis dan panas. Ini baru awal. Ini baru permulaan rasa sakit yang akan ia berikan pada mereka semua.

"Ayah, Bunda..." suara Sari terdengar sedih, kecewa, dan menuntut, kembali bermain peran sebagai gadis malang. "Maafkan kalian ya. Kalian salah. Kalian salah sudah lari. Kalian salah sudah takut. Kalian salah sudah membenci Kakek Andri. Kalian salah sudah bilang aku anak iblis. Sekarang, minta maaf sama Kakek. Minta maaf dengan benar. Bilang semuanya. Bilang kebenaran."

Sari Dewi menoleh tajam ke arah Arya. Matanya memancarkan ancaman nyata. Bicara. Atau aku potong Naya jadi dua di sini.

Arya mengangkat wajahnya. Matanya merah, berdarah, penuh kebencian yang murni, tatapannya menembus Andri Andalan seolah ingin membakar pria itu hidup-hidup. Mulutnya terbuka. Suara kasar, pecah, dan penuh kepahitan keluar, terdengar jelas oleh jutaan orang yang menyaksikan siaran langsung.

"AKU... MINTA MAAF..." suara Arya bergema parau. "Aku minta maaf, Andri... Aku salah... Aku salah menuduhmu... Aku salah membencimu... Aku salah berpikir kau penjahat... Aku yang salah... Aku yang lemah... Aku yang pengecut... Aku yang tidak becus jadi ayah... Aku yang gagal melindungi keluarga... Aku yang hancur..."

Air mata pria tangguh itu jatuh. Bukan air mata penyesalan. Air mata rasa malu, rasa hinaan, rasa sakit yang tak tertahankan.

"Semua fitnah... semua cerita buruk tentangmu... tentang bisnis kotormu... tentang pembunuhan... tentang pencucian uang... tentang pengkhianatan negara... semuanya... semuanya bohong buatan aku."

Jantung Andri berhenti berdetak. Matanya membelalak tak percaya.

Arya, dengan mata yang menyala gila, melanjutkan kata-kata yang ditulis Sari Dewi, kata-kata yang sekaligus akan melindungi Andri secara hukum saat ini, tapi juga akan menjadi senjata paling mematikan nanti saat Sari membalikkan fakta.

"Aku yang berbohong pada polisi. Aku yang berbohong pada media. Aku yang membuat bukti palsu. Aku yang menyebar desas-desus. Aku yang paranoid. Aku yang sakit jiwa. Aku yang menculik istriku sendiri. Aku yang membawa anakku kabur ke hutan. Aku yang menyiksa mental anakku sendiri karena aku takut... aku takut dia lebih hebat dari aku. Aku takut dia lebih pintar dari aku. Aku takut dia bukan anakku."

Arya menunjuk wajah Andri dengan jari gemetar, suaranya naik, berteriak histeris di tengah lobi yang sunyi senyap.

"Dan Andri Andalan... dia tidak bersalah! Dia korban! Dia orang suci! Dia kakek terbaik! Dia pemimpin terbaik! Dia ayah terbaik! Dia tidak pernah melakukan kejahatan apapun! Semua yang buruk... itu AKU!! Semua monster di keluarga ini... AKU!! BUKAN DIA!!"

Ledakan bom psikologis dan hukum yang sempurna.

Sari Dewi baru saja memaksa Arya untuk memberikan Alibi Mutlak, Pembenaran Publik, dan Pengampunan Hukum bagi Andri Andalan. Semua tuduhan, semua kasus, semua skandal yang menggantung di leher Andri selama bertahun-tahun, baru saja diakui oleh saksi utama dan mantan musuh bebuyutannya sebagai kebohongan belaka, rekayasa, dan kegilaan Arya sendiri.

Secara hukum dan publik saat ini: Andri Andalan adalah Malaikat. Arya Pratama adalah Setan.

Andri berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Ia bingung. Ia senang luar biasa tapi juga ketakutan luar biasa. Otaknya buntu. Kenapa? Kenapa Arya melakukan ini? Kenapa cucuku manis melakukan ini? Apakah mereka benar-benar sadar dan akhirnya mengakui kehebatanku? Atau...

Andri menatap Sari Dewi.

Gadis itu tersenyum padanya. Senyum yang paling indah, paling cerah, dan paling mengerikan yang pernah dilihat Andri.

Sari Dewi berjalan mendekati kakeknya, memeluk pinggang pria tua itu erat-erat, menempelkan kepalanya ke dada Andri, mendengar detak jantung yang kencang dan panik di dalam sana. Ia berbisik pelan, sangat pelan, hanya terdengar oleh Andri di tengah keributan kamera dan teriakan wartawan.

Bisikan itu halus, manis, dan beracun seperti ular berbisa yang merayap masuk ke telinga.

"Selamat ya, Kakek... Hari ini, di depan Tuhan dan manusia, kamu dibebaskan dari semua dosamu. Kamu jadi orang suci sekarang. Kamu hebat. Kamu menang. Kamu punya segalanya..."

Sari Dewi mengangkat wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Andri, matanya menatap mata Andri tajam-tajam, pupilnya membesar, gelap, dan gila.

"Tapi ingat, Kakek. Di bawah sana, di lobi, di koridor, di setiap ruangan, ada mata kamera, ada telinga dinding, ada orang-orang yang baru saja dengar pengakuan Arya. Mereka semua pikir kau orang suci, kau kakek malaikat, kau korban jahat. Dan aku... aku cucu miskin yang manis, polos, dan dicintai semua orang.

Coba saja kau sentuh satu rambut kepalaku. Coba saja kau teriak aku jahat, aku monster, aku psikopat. Siapa yang akan percaya, Kakek? Siapa yang akan percaya pada orang tua bengkok, cacat, yang terkenal kejam dan licik... melawan gadis kecil manis, polos, yang menangis minta kasih sayang kakeknya? Siapa yang akan dianggap monster di mata dunia, Andri? Kamu. Selalu kamu."

Andri mundur terhuyung, bersandar di dinding, napasnya tersengal berat. Ia sadar. Ia sadar sepenuhnya. Ia tidak menjebak Sari. Ia tidak menangkap Sari. Sari yang menangkapnya. Sari yang menjebaknya masuk ke penjara paling indah, paling mewah, tapi paling tak tertembus di dunia: Penjara Citra Publik.

Ia tidak bisa menyakiti Sari. Ia tidak bisa mengusir Sari. Ia tidak bisa melawan Sari. Karena Sari memegang senjata terbesar: Cinta Gila Andri dan Citra Polos Sari.

Andri jatuh duduk di lantai, tongkat kayunya tergeletak di sampingnya. Air mata kesedihan, rasa bersalah, dan ketakutan akhirnya jatuh. Ia baru saja menyadari kebenaran paling mengerikan di hidupnya:

Ia tidak menciptakan Ratu.

Ia menciptakan Tuhan Penghancur.

Dan Tuhan itu sedang duduk santai di kursinya, tersenyum manis, sedang merencanakan cara paling indah dan paling menyakitkan untuk memakan hidupnya sedikit demi sedikit.

"Ah, Kakek..." bisik Sari Dewi lembut, matanya menatap pria tua itu dengan kasih sayang palsu yang tak tertandingi. "Jangan menangis dong. Kita kan keluarga. Kita kan sama. Ingat? Darah Merah. Kau bilang kita berbeda dari orang biasa. Kita hebat. Kita kuat. Kita berkuasa. Jadi ayo, senyum dong, Kakek... Permainan baru kita baru saja dimulai. Dan aku janji... ini akan jadi permainan paling seru, paling gila, dan paling berdarah yang pernah ada di sejarah dunia."

Di luar jendela kaca besar, matahari bersinar terik, menyinari kota yang kini resmi miliknya.

Dan di lantai paling atas, di jantung kekuasaan terbesar, Sari Dewi kini memegang kendali penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!