Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merancang Pengkhianatan Spiritual
Endang tersentak, suaranya tercekat. Ia meraih lengan Agus dan menariknya berdiri. “Ayo, Gus! Sekarang! Kita harus pergi!”
Ketakutan yang mereka rasakan berbeda. Endang takut pada entitas gaib itu; Agus takut pada ancaman hilangnya kekayaan yang belum ia terima.
Mereka berdua berjalan tergesa-gesa keluar dari pondok reot itu, meninggalkan Ki Joladrang yang kembali duduk, menghisap pipanya dengan mata terpejam, seolah-olah seluruh drama itu hanyalah tontonan yang melelahkan.
Begitu mereka melewati batas pepohonan dan kembali ke jalan setapak yang lebih terbuka, Endang segera mencari mobil butut mereka. Mobil itu terparkir diam di persimpangan, asap putihnya telah hilang.
“Ayo kita pergi,” desak Endang, air matanya kini mengalir deras, bukan karena frustrasi finansial, tetapi karena rasa jijik spiritual yang mendalam. “Kita batalkan. Kita bilang kita tidak sanggup. Kita hadapi saja penyitaan itu, Gus. Aku tidak peduli lagi!”
Agus menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia mengabaikan kepanikan Endang. Ia harus berpikir jernih.
“Coba nyalakan mobilnya,” perintah Agus, suaranya kembali dikuasai nada memerintah yang biasa ia gunakan ketika berada di bawah tekanan.
Endang memasukkan kunci, memutarnya. Mesin mobil yang tadi mati total, kini menyala dengan suara deru yang mengejutkan, seolah-olah tidak pernah ada masalah.
Agus tersenyum kecil. Itu adalah konfirmasi—Titi Kusumo sudah mengaktifkan perjanjian. Gerbang kekayaan telah dibuka.
“Lihat? Dia tidak ingin kita mati, Endang. Dia ingin kita kaya. Dia hanya menakut-nakuti kita,” ujar Agus, berusaha meyakinkan Endang dan dirinya sendiri.
Mereka masuk ke mobil. Agus menginjak gas, memutar mobil dengan kasar, dan melaju cepat menjauhi lereng Gunung Gumrebek.
Keheningan yang mencekik memenuhi kabin. Endang menatap Agus, matanya penuh tuduhan.
“Kau dengar apa yang dia katakan, Gus?” tanya Endang, suaranya gemetar. “Seribu jiwa untuk satu kebohongan. Dia bisa merasakan kepalsuan! Kita tidak bisa menipu entitas sekuat itu, apalagi setelah kita setuju untuk menjadi tulus.”
Agus membanting setir, frustrasi. “Tentu saja aku mendengarnya! Aku tidak tuli! Tapi apa maumu? Kita kembali ke kota dan menjadi pengemis? Kita sudah mengikat janji dengan darah, Endang. Kita tidak bisa membatalkannya begitu saja. Kita akan mati jika kita mencoba mundur sekarang, atau lebih buruk, kita akan kembali ke kehidupan yang busuk itu.”
Endang memejamkan mata. Ia tahu Agus benar. Mereka sudah melangkah terlalu jauh.
“Lalu apa?” bisik Endang. “Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa… aku tidak bisa tulus memberikan ikatan suci pernikahan kita kepada iblis itu. Aku tidak mau!”
Agus memperlambat laju mobil, pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Ia memikirkan setiap kata yang diucapkan Ki Joladrang: ‘Dia bisa menembus topeng yang kalian kenakan’ dan ‘Ia haus koneksi spiritual yang tulus’.
Kunci masalahnya adalah ‘ketulusan’ dan ‘Endang yang asli’.
“Tunggu,” kata Agus, tiba-tiba matanya menyala dengan ide yang mengerikan. “Ki Joladrang bilang dia punya Mata Jati. Dia sensitif terhadap ikatan spiritual.”
“Ya, dan ikatan itu adalah kita,” balas Endang putus asa.
“Bukan, Endang. Ikatan itu terpatri pada auramu sebagai istri sah. Itulah yang dia butuhkan. Tapi dia tidak bilang bahwa ikatan itu harus berasal dari dirimu yang sebenarnya,” kata Agus, senyum tipis, licik, mulai terukir di bibirnya.
Endang menatap suaminya dengan ngeri. “Apa maksudmu?”
Agus menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi, mematikan mesin. Ia menoleh sepenuhnya ke Endang, matanya berkilauan oleh ambisi yang baru.
“Ki Joladrang bilang Raden Titi Kusumo adalah pangeran yang dikutuk karena menolak cinta. Dia tidak butuh Endang, istriku. Dia butuh Pengantin yang membawa aura ikatan spiritual. Bukankah begitu? Ki Joladrang tidak bilang dia tidak bisa ditipu dengan cara lain.”
Endang menggeleng, menolak menangkap arah pikiran Agus. “Agus, ini sihir tingkat tinggi! Dia adalah entitas yang sangat kuat!”
“Dan kita akan menggunakan sihir yang lebih kuat untuk menipunya!” seru Agus, suaranya dipenuhi kegembiraan yang gila. “Kita tidak akan melanggar sumpah suci pernikahan kita. Kau akan tetap menjadi istriku, Endang, secara fisik dan spiritual. Tetapi, kita akan menciptakan tiruan spiritualmu.”
Endang merasa mual. “Tiruan? Bagaimana mungkin?”
“Kita akan mencari orang lain,” bisik Agus, mendekatkan wajahnya. “Seseorang yang bisa kita bayar. Seseorang yang mirip denganmu. Dan kemudian, kita akan meminta bantuan dukun lain, yang lebih ahli dalam penyamaran astral.”
Agus mulai menyusun rencana itu dengan presisi seorang arsitek kejahatan. “Kita akan memindahkan aura pernikahanmu, aura istri sah, ke tubuh wanita lain itu. Kita akan menipu Titi Kusumo. Dia akan datang, dia akan mendapatkan apa yang dia pikir adalah ‘Pengantin Tulus’, dan kita akan mendapatkan kekayaan abadi, tanpa kau harus mengorbankan kehormatanmu!”
Endang mundur, punggungnya menempel ke pintu mobil. Rencana ini jauh lebih buruk daripada perjanjian aslinya. Perjanjian asli hanya mengorbankan kehormatannya; rencana ini mengorbankan jiwa orang lain.
“Gus, itu pembunuhan spiritual! Itu sama saja dengan menjadikan orang lain tumbal, jauh lebih buruk daripada yang kita baca di forum!” Endang histeris. “Kau akan menyerahkan jiwa orang lain ke entitas terkutuk itu!”
Agus meraih tangan Endang dan menggenggamnya kuat-kuat. “Dengarkan aku, Sayang. Ini adalah satu-satunya jalan keluar. Kita tidak punya pilihan lain. Jika kau yang melakukannya, kita berdua hancur. Jika orang lain yang melakukannya, kita berdua selamat dan kaya.”
Ia menatap Endang dengan ekspresi memohon yang dibuat-buat, memohon pengampunan atas dosa yang belum ia lakukan. “Aku akan membayar wanita itu dengan baik. Dia akan menjadi kaya. Dia akan melakukan ini dengan sukarela, demi uang. Kita hanya meminjam auramu untuk ditransfer sementara. Setelah Titi Kusumo kenyang, kita akan memutus ikatan itu. Kita tidak akan membunuhnya, Endang. Kita hanya menyewa jasanya.”
Endang menggeleng, air mata kembali mengalir. “Kau tidak mendengarkan Ki Joladrang. Lanang Sewu tidak bisa diputus ikatan spiritualnya! Kau akan menempatkan jiwa tak berdosa dalam bahaya abadi hanya karena ambisimu!”
“Tidak ada jiwa tak berdosa di dunia ini, Endang,” balas Agus dingin. “Hanya ada orang yang putus asa. Dan aku tahu persis di mana menemukan orang yang putus asa.”
Agus menarik kembali tangannya, mengeluarkan ponselnya. Jantung Endang berdebar kencang saat ia melihat Agus kembali menelepon Kuskandar, nama yang menjadi pintu gerbang menuju neraka.
“Kuskandar,” kata Agus, suaranya rendah dan mendesak. “Aku butuh kontak. Dukun yang ahli dalam... penyamaran. Penyamaran spiritual tingkat tinggi. Aku butuh seseorang yang bisa membuat topeng agar iblis tidak bisa melihat siapa yang ada di balik bayangan itu. Dan aku butuh dia sekarang.”
Agus menunggu jawaban Kuskandar, senyumnya semakin melebar. Ia telah menemukan ‘celah’ yang ia cari—celah moral yang akan ia gunakan untuk mendorong orang lain ke dalam jurang kekejaman.
“Ya,” kata Agus, mengakhiri panggilan itu, matanya berkilat penuh tekad. “Raden Titi Kusumo ingin pengantin spiritual? Dia akan mendapatkannya. Tapi itu bukan dirimu, Endang. Itu akan menjadi tumbal yang sempurna.”
Ia menatap Endang, yang kini terlihat sangat kecil dan ketakutan.
“Aku akan mencari jalan keluar, meskipun itu jalan iblis. Ingat itu, Sayang. Kita akan kaya.”
Agus menyalakan mesin mobil lagi, tetapi tidak menginjak gas. Ia membiarkan mesin itu menderu sementara ia menatap jalanan di depannya, yang kini terlihat bercahaya, dipenuhi janji kekayaan.
“Aku akan menghubungi Kuskandar lagi besok pagi,” gumam Agus, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku harus mencari wanita itu. Dan aku harus mencari dukun yang bisa memindahkan sukma. Kita akan kembali ke kota, Endang. Dan kita akan memulai hidup baru.”