NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjuangan

Udara dingin malam itu seolah berubah menjadi panas dan berbau mesiu di dalam gudang tua yang luas itu. Suara bentakan, langkah kaki berlarian, dan dentuman senjata saling bersahutan, memecah keheningan yang tadinya mencekam. Di tengah kekacauan itu, Putra bergerak lincah bagai bayangan hitam, keahlian tempur yang diasah selama bertahun-tahun sebagai prajurit elit ia gunakan sepenuhnya. Setiap gerakannya terukur, cepat, dan mematikan, namun tetap terkendali. Tujuannya bukan sekadar mengalahkan musuh, melainkan melindungi nyawa orang-orang yang dicintainya dan memastikan keadilan ditegakkan.

Di sisi lain ruangan, Mayor Danu kini bertempur berdampingan dengan pasukan setia Kolonel Bayu. Ia yang tadinya menjadi alat pengkhianat, kini berjuang mati-matian untuk menebus segala dosa besar yang pernah diperbuatnya. Rasa bersalah yang membebaninya bertahun-tahun kini berubah menjadi amarah yang meledak-ledak ke arah mereka yang telah memanfaatkan kelemahan dan ketakutannya. Di matanya, ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa tidur tenang kembali, dan mungkin saja, mendapat pengampunan dari negara dan Tuhan.

Di dekat pintu darurat yang sudah terbuka separuh, Bu Ratih mundur selangkah demi selangkah. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri dan senyum kemenangan kini berubah pucat dan bengis. Tangannya mencengkeram kuat lengan Dinda yang sudah sangat lemah dan lemas akibat siksaan serta penahanan berhari-hari. Ujung pisau tajam yang ia pegang tetap menempel erat di leher Dinda, meninggalkan jejak goresan kecil yang mengeluarkan darah. Di samping Ratih, Kolonel Aditya berdiri terhuyung-huyung, seragam militernya yang gagah kini kotor dan robek, wajahnya merah padam menahan marah luar biasa karena rencana cerdiknya hancur berantakan hanya dalam hitungan jam.

"Berhenti di sana! Jangan satu langkah pun mendekat!" teriak Ratih dengan suara parau dan melengking, berusaha menutupi rasa panik yang mulai menguasai dirinya. Matanya melotot menatap Putra dan Citra yang berjalan mendekat dengan hati-hati namun mantap. "Ingat, nyawa wanita ini ada di tanganku! Sekali kalian bergerak sembarangan, aku pastikan lehernya tergorok sebelum kalian sempat menembak!"

Putra mengangkat kedua tangannya sedikit ke atas sebagai tanda tidak berniat menyerang, namun sorot matanya tetap tajam mengawasi setiap gerakan kecil musuhnya. Di sampingnya, Citra berdiri tegak. Meski hatinya berdebar kencang karena melihat kakaknya dalam bahaya maut, ia tetap tampil tenang dan berani. Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi situasi kritis, dan sebagai istri seorang prajurit, ia sudah belajar bahwa ketenangan adalah senjata yang sama ampuhnya dengan senapan.

"Sudah berakhir, Bu Ratih," ucap Putra dengan suara berat namun tegas, suaranya menggema memenuhi ruangan luas itu. "Pasukan kami sudah mengepung seluruh area ini. Tidak ada jalan keluar lagi bagi kalian. Kolonel Aditya, jaringan kejahatan, perdagangan gelap, dan pengkhianatan yang kalian bangun bertahun-tahun sudah terbongkar semuanya. Bukti-bukti ada di tangan kami. Anak buahmu sudah menyerah atau sudah dilumpuhkan. Mengapa harus memperpanjang penderitaan ini? Lepaskan Dinda. Dia tidak ada hubungannya dengan dendam kalian."

Aditya tertawa keras namun kering, tawaan yang penuh kepahitan dan keputusasaan. Ia menatap Putra dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kekaguman dan kebencian mendalam.

Ratih meludah ke lantai, rasa kecewanya karena rencana gagal bercampur dengan amarah.

"Kau sudah kalah, Ratih," ucap Putra Putra tegas, suaranya kembali berwibawa dan penuh kemenangan. Ia melangkah maju satu langkah lagi, matanya menatap tajam ke arah wanita itu. "Kebohonganmu sudah terbongkar. Jaringan pengkhianatan Aditya sudah hancur. Segala kejahatan, pembunuhan, persekongkolan, dan kerusakan yang kalian timbulkan sudah tercatat semuanya. Tidak ada lagi senjata yang tersisa di tanganmu. Dan sekarang, saatnya kalian bertanggung jawab atas segala hal buruk yang telah kalian lakukan bertahun-tahun lamanya."

Putra memberi isyarat tangan dengan cepat. Dalam sekejap, pasukan khusus yang bersembunyi di balik tiang-tiang penyangga dan tumpukan barang menyerbu keluar dengan gerakan cepat dan terlatih. Aditya yang berusaha melawan segera dilumpuhkan dan ditangkap. Ratih yang terkejut dan panik sempat mengayunkan pisau ke arah Dinda, namun Citra yang sudah bersiap sejak tadi bergerak lebih cepat. Dengan keahlian medis yang dimilikinya, ia melempar alat kecil ke arah tangan Ratih, membuat pisau itu terlepas jatuh berdentang ke lantai. Dalam hitungan detik, Ratih sudah terkapar dan terikat erat di lantai dingin gudang itu.

Dinda segera ditarik ke tempat aman, jatuh ke dalam pelukan adiknya sambil menangis haru. Kolonel Bayu menghela napas panjang, beban berat di pundaknya yang dipikulnya sejak kematian sahabatnya kini terangkat sepenuhnya. Keadilan akhirnya terwujud.

Malam itu berakhir dengan kemenangan besar bagi kebenaran. Di luar gudang, langit mulai memerah pertanda fajar akan menyingsing. Di tengah keramaian pasukan yang membereskan barang bukti dan membawa para tahanan keluar, Putra berdiri diam memandang istrinya. Citra sedang duduk merawat luka-luka ringan Dinda, wajahnya tampak lelah namun sangat damai.

Putra berjalan mendekat, merentangkan tangannya, dan Citra langsung berbalik lalu masuk ke dalam pelukan suaminya. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun pelukan itu berbicara lebih banyak dari ribuan kalimat. Perjodohan terpaksa yang dulu mereka benci, yang membuat mereka menangis dan marah, kini telah menjadi ikatan terindah yang menyelamatkan segalanya. Dari kebencian tumbuhlah kasih sayang, dari paksaan lahirlah cinta sejati.

"Kita sudah melewati badai terbesar, Citra," bisik Putra pelan di telinga istrinya, sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa syukur dan cinta yang tak terhingga.

Citra mengangguk, menyandarkan kepalanya lebih dalam ke dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang selama ini menjadi tempat pulang baginya.

Di kejauhan, Kolonel Bayu memanggil mereka untuk segera bergegas kembali ke markas guna melaporkan keberhasilan besar ini. Namun, di detik itu juga, di tengah kemenangan dan kelegaan hati mereka, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Kolonel Bayu yang baru saja diambil dari saku jasnya. Ia berhenti melangkah, membaca pesan itu dengan wajah yang perlahan berubah kembali serius dan penuh keheranan.

Ada satu nama yang tertulis di sana, nama yang tidak pernah disebut oleh Aditya maupun Ratih, namun nama yang seolah mengawasi semua kejadian malam itu. Sebuah nama yang menyiratkan bahwa di balik Aditya dan Ratih, masih ada sosok lain yang jauh lebih besar, jauh lebih cerdik, dan jauh lebih berbahaya yang masih bebas, bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!