NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dua minggu berlalu.

Dua minggu sejak hari bersejarah di lobi Menara Wijaya-Andalan. Dua minggu di mana nama Andri Andalan kembali bersinar lebih terang dari sebelumnya, disucikan oleh pengakuan "kegilaan" Arya Pratama. Media memuji-muji kesabaran, kebaikan hati, dan kasih sayang Andri yang mau menerima kembali menantu "gila" dan cucu "malang"-nya.

Di mata publik, ini adalah kisah Penebusan Dosa & Kasih Sayang Tanpa Syarat.

Di lantai 28, di kediaman pribadi Andri Andalan seluas 1.200 meter persegi, penuh marmer Italia, kayu mahoni, lukisan mahal, dan perabotan antik... kisah yang sebenarnya jauh berbeda.

Ini adalah kisah Penjara Emas.

Pagi itu, jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.

Matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela kaca setinggi langit-langit, menyinari ruang tamu utama yang luas dan dingin. Di ujung ruangan, di atas sofa raksasa berbahan kulit putih murni, duduklah Sari Dewi.

Gadis itu sedang sarapan. Di depannya terhampar meja panjang berisi makanan yang cukup untuk memberi makan sepuluh orang: Buah-buahan impor, roti panggang hangat, telur rebus, sosis, keju, yoghurt, jus jeruk segar, kopi, dan susu.

Sari makan perlahan, anggun, tenang. Dia tidak terburu-buru. Dia makan dengan nikmat, matanya tertutup sebagian, menikmati rasa, sementara jari-jarinya yang halus memutar-mutar sendok perak di cangkirnya. Dia terlihat seperti putri kerajaan yang manja dan beruntung.

Di sisi kiri meja, berdiri Andri Andalan.

Pria itu tidak duduk. Dia tidak makan. Dia berdiri tegak, meski lututnya tua sering gemetar, meski pinggangnya sering nyeri. Dia berdiri dengan tangan tergenggam di depan perut, kepala sedikit menunduk, tatapan matanya kosong namun waspada, persis seperti pelayan istana yang menunggu perintah tuannya.

Pakaian Andri berubah drastis. Dulu, dia selalu mengenakan jas tiga potong mahal, dasi sutra, sepatu kulit mengkilap, penampilan garang dan berwibawa. Sekarang, dia hanya mengenakan kemeja katun polos berwarna krem, tanpa dasi, kancing terbuka dua, celana bahan biasa, dan sandal rumah. Rambut putihnya disisir rapi tapi tidak lagi diminyaki. Tongkat kayunya yang berukir emas... sudah lenyap. Sari menyita tongkat itu di hari pertama.

"Raja tidak pakai tongkat, Kakek. Tongkat itu buat orang lemah, orang tua, orang cacat. Dan kamu tidak cacat, kan? Kamu kuat. Kamu sehat. Kamu Andri Andalan. Berdiri tegak. Jangan terlihat menyedihkan di depan aku."

Kalimat itu terucap manis, penuh kekaguman, tapi isinya adalah perintah mutlak. Dan Andri, terpesona, takut, dan terikat mati, menurutinya. Dia membuang tongkatnya. Dia menahan rasa sakitnya. Dia berdiri tegak sampai kakinya kesemutan dan kram.

"Kopi ini agak dingin, Kakek," ucap Sari Dewi pelan, tanpa menoleh, tanpa mengangkat wajah dari piringnya. Suaranya santai, acuh tak acuh.

Detik itu juga, tubuh Andri menegang. Wajahnya memucat sedikit. Jantungnya berdegup kencang karena rasa takut—bukan takut dipukul atau dibunuh, tapi takut mengecewakan, takut dianggap tidak berguna, takut kehilangan kasih sayang gadis ini.

"M-maafkan aku, Sayangku!!" seru Andri cepat, suara parau dan panik. Ia segera melangkah cepat (terpincang sedikit karena nyeri lutut) ke meja samping, mengambil cangkir kopi Sari, berlari kecil ke mesin espresso mahal, menyeduh ulang, memanaskan susu, mengaduk gula dengan presisi milimeter, persis seperti yang dia pelajari dalam dua minggu terakhir ini. Dia harus tepat. Dia harus sempurna. Kalau tidak... ada "hukuman".

Hukuman Sari bukanlah pukulan. Bukan teriakan. Hukuman Sari adalah Diam.

Jika Andri salah sedikit saja, jika makanan terlalu asin, jika kopi terlalu panas, jika dia datang terlambat... Sari hanya akan menatapnya. Tatapan dingin, kosong, tanpa ekspresi. Lalu dia akan berbalik, pergi ke kamarnya, dan tidak bicara sepatah kata pun pada Andri selama berjam-jam, kadang berhari-hari.

Bagi Andri Andalan, pria yang seluruh hidupnya didefinisikan oleh kekuasaan, perhatian, dan rasa dikagumi... diabaikan oleh Sari Dewi adalah siksaan neraka murni. Itu lebih menyakitkan daripada tusukan pisau di dada. Itu meremukkan jiwanya menjadi debu. Dia akan melakukan apa saja, menurunkan harga dirinya sejauh apa saja, menjadi apa saja... asalkan Sari mau bicara padanya, mau menatapnya, mau tersenyum padanya—meski senyum itu palsu, meski senyum itu penuh racun.

"Ini, Sayangku... Panas, hangat, persis seperti yang kamu suka," bisik Andri gemetar, menyodorkan cangkir baru dengan kedua tangan, kepalanya menunduk hormat, seolah menyajikan persembahan pada dewi.

Sari Dewi akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya menatap Andri dari atas ke bawah, menilai, memeriksa, seperti seorang peternak memeriksa kuda peliharaannya. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum manis, cerah, tulus.

"Terima kasih ya, Kakek kesayangan. Kamu memang paling hebat. Kamu tahu kan, kalau tanpa Kakek, aku tidak bisa hidup. Aku butuh Kakek. Aku sangat butuh Kakek."

Kalimat manis itu jatuh seperti balsem penyembuh di hati Andri yang perih dan cemas. Mata tua Andri langsung berkaca-kaca. Rasa bangga, rasa bahagia, rasa dicintai meluap memenuhi dadanya, menghapus rasa sakit di lutut dan punggungnya. Dia tersenyum lebar, senyum bahagia, senyum bodoh, senyum seorang budak yang dipuji tuannya.

"Aku ada di sini, Sayang. Kakek selalu ada. Kakek akan selalu buat kamu bahagia. Apa saja. Apa saja untukmu."

Sari menyeruput kopinya, matanya terpejam nikmat, sementara di balik kelopak matanya yang tertutup, otaknya bekerja cepat, dingin, dan penuh penghinaan.

Lihat dia, pikir Sari, rasa jijik bercampur kemenangan mengalir di darahnya. Lihat Raja Terbesar ini. Diktator. Pembunuh. Penguasa Uang dan Darah. Dulu dia bisa membunuh ribuan orang tanpa kedip. Dulu dia bisa menghancurkan hidup orang cuma karena dia tidak suka hidung mereka. Dan sekarang? Sekarang dia bahagia, dia bangga, dia menangis haru... cuma karena aku bilang 'terima kasih' dan minum kopi buatan tangannya sendiri. Betapa murahnya harga diri manusia. Betapa mudahnya meruntuhkan gunung tertinggi. Cukup dengan sedikit perhatian. Cukup dengan sedikit cinta palsu.

"Omongan saja tidak cukup, Kakek," kata Sari membuka mata, menatap Andri dengan tatapan mata besar yang polos dan menuntut. "Aku tahu Kakek sayang aku. Tapi aku juga tahu, di luar sana, masih banyak orang jahat yang mau sakiti aku. Masih banyak orang yang iri sama kita. Masih banyak orang yang bilang Kakek penjahat, bilang aku anak haram, bilang keluarga kita kotor. Aku takut, Kakek. Aku takut kalau aku keluar, orang-orang akan menatapku dengan mata jijik. Aku takut polisi akan tangkap Kakek lagi. Aku takut kita dipisah lagi."

Air mata buatan mulai menggenang di sudut mata Sari. Suaranya bergetar, lemah, dan menyedihkan.

"Kakek janji kan? Kakek janji akan bersihkan nama kita? Kakek janji akan pastikan tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang berani bicara jelek tentang kita? Kakek janji akan buat kita jadi orang paling dihormati, paling takuti, paling suci di negara ini? Kalau Kakek tidak bisa lindungi nama baik kita... buat apa aku di sini? Buat apa aku ikut Kakek? Lebih baik aku mati saja di hutan sana."

"JANGAN!!" teriak Andri histeris, tangannya gemetar mencengkeram pinggiran meja, wajahnya pucat pasi ketakutan mendengar kata "mati" keluar dari mulut kesayangannya. "Jangan bicara begitu, Sayang!! Demi Tuhan, jangan!! Kakek janji! Kakek sumpah! Kakek akan bersihkan semuanya! Kakek akan buat kita jadi keluarga Kerajaan! Tidak ada yang berani bicara jelek! Tidak ada yang berani melawan! Aku akan bunuh siapa saja, aku akan beli siapa saja, aku akan hancurkan siapa saja yang mengganggu ketenanganmu!! Percaya sama Kakek!"

Sari Dewi tersenyum di dalam hati. Umpan dimakan. Kail sudah terpatri di tenggorokan.

Dia baru saja, dengan kalimat sedih dan takut, memaksa Andri Andalan untuk mengaktifkan kembali seluruh jaringan kejahatannya. Dia baru saja memaksa Andri untuk memulai kembali korupsi, pemerasan, pembunuhan, pencucian uang, dan politik kotor... semata-mata demi "keamanan dan kehormatan" Sari Dewi.

Sari tidak perlu kotor tangan. Sari tidak perlu memberi perintah langsung untuk membunuh. Dia hanya perlu bilang: Aku takut, aku tidak aman, aku tidak dihormati. Dan Andri, seperti anjing terlatih, akan berlari keluar, menggigit musuh, mencakar pesaing, membunuh ancaman, dan kembali dengan mulut penuh darah, meletakkan kepala musuh di kaki Sari sebagai hadiah cinta.

Sari Dewi mengangguk pelan, air matanya menetes satu butir turun di pipi.

"Terima kasih, Kakek. Kamu satu-satunya laki-laki sejati di dunia ini. Tidak seperti Ayah."

Nada suaranya berubah dingin, tajam, penuh penghinaan saat menyebut kata "Ayah".

"Ngomong-ngomong, di mana Ayah sama Bunda? Kenapa aku tidak lihat mereka pagi ini? Aku kan sudah bilang, aku mau mereka ada di sini setiap pagi. Aku mau mereka lihat. Aku mau mereka lihat betapa bahagianya aku sama Kakek. Aku mau mereka lihat betapa salahnya mereka. Aku mau mereka menderita melihat aku hidup mewah, dicintai, dan berkuasa, sementara mereka... jadi sampah."

Wajah Andri mengeras, matanya menyala tajam penuh kebencian setiap kali mengingat menantu dan putrinya. Dia masih ingat betul bagaimana Arya "menghasut" Sari, bagaimana Arya membawanya kabur, bagaimana Arya menyakiti mental cucunya. Bagi Andri, Arya dan Naya adalah parasit, racun, musuh nomor satu kebahagiaan Sari.

"Mereka ada di bawah, Sayang. Di kamar pembantu. Mereka sedang bekerja. Aku suruh mereka bersihkan gudang tua di lantai bawah. Gudangnya kotor sekali, penuh debu, laba-laba, dan tikus. Pekerjaan yang pas buat orang kotor seperti mereka." Andri tertawa sinis, kejam, dan puas.

Sari Dewi ikut tertawa. Tawa renyah, manja, jahat.

"Bagus. Biar mereka ingat posisi mereka. Mereka dulu sombong sekali ya, Kakek? Dulu mereka pikir mereka lebih baik dari kita. Dulu Ayah pikir dia pahlawan. Dulu Bunda pikir dia putri istana. Sekarang? Hahaha... Sekarang mereka sapu lantai. Sekarang mereka makan sisa makanan kita. Sekarang mereka tidur di kasur tipis di ruang sempit tanpa jendela. Keadilan memang indah sekali, kan Kakek?"

"Indah sekali, Sayangku. Sangat indah."

 

Sementara itu, di lantai 26, dua tingkat di bawah, di bagian paling belakang, di lorong sempit yang jarang dilewati orang, di balik pintu besi yang terkunci ganda...

Ada ruangan kecil, panjang, rendah, lembap, bau apek dan debu. Dulu ruangan ini adalah gudang penyimpanan arsip lama yang terlupakan. Sekarang, ini adalah kamar hunian Arya Pratama dan Naya Andalan.

Tidak ada jendela. Hanya ada satu bola lampu 5 watt yang bergoyang pelan di langit-langit rendah, menerangi ruangan yang penuh kotoran, kotak-kotak tua, debu tebal, dan sarang laba-laba.

Di sudut ruangan, di atas dua kasur tipis yang diletakkan langsung di lantai semen dingin, duduklah Naya Andalan.

Wanita itu berubah drastis. Kecantikannya yang dulu mempesona, kulitnya yang halus, rambutnya yang hitam berkilau... semuanya hilang. Rambutnya kini kusut, panjang tak terurus, penuh uban yang tumbuh pesat dalam dua minggu terakhir. Wajahnya kurus, cekung, mata besarnya cekung ke dalam, lingkaran hitam tebal melingkari mata yang dulu indah itu. Kulitnya abu-abu, kering, bersisik. Dia terlihat 20 tahun lebih tua dari usia aslinya.

Naya sedang makan. Di tangannya, dia memegang mangkuk plastik retak berisi nasi dingin, lembek, bercampur sisa kuah sayur berminyak, sisa makanan dari meja makan Sari dan Andri. Tidak ada sendok. Dia makan menggunakan jari-jari tangannya yang kotor dan kasar. Dia makan dengan cepat, rakus, terburu-buru, seolah dia kelaparan berhari-hari.

Karena dia memang kelaparan.

Ransum makanan mereka diatur ketat oleh Sari. Cukup untuk bertahan hidup, cukup untuk tidak mati, tapi tidak cukup untuk kenyang. Selalu kurang. Selalu lapar. Lapar konstan, rasa perih di lambung yang tidak pernah hilang, rasa lemah di otot, rasa pusing di kepala. Ini adalah penyiksaan halus, perlahan, yang merusak fisik dan mental sekaligus.

Di seberangnya, Arya Pratama.

Pria yang dulu tegap, berotot, kekar, dan gagah... sekarang kurus kering, bahunya membungkuk, tulang rusuknya terlihat menonjol di balik kemeja lusuh kebesaran. Tangannya penuh luka gores, kotor, kuku pecah dan hitam karena debu dan kotoran. Dia sedang bekerja. Dia sedang menyapu, mengangkat kotak berat, memindahkan tumpukan kertas tua, membersihkan kotoran tikus. Dia bekerja diam-diam, tanpa suara, tanpa keluhan, mekanis, seperti robot atau hewan beban.

Jiwa Arya Pratama sudah mati. Mati di hari dia berlutut di depan Andri. Mati di hari dia dipaksa mengaku gila. Mati di hari dia sadar bahwa dia telah melahirkan monster terburuk di muka bumi ini, dan monster itu bukan hanya akan menghancurkan musuhnya, tapi juga akan memakan hidupnya sendiri sampai habis.

"Arya..." suara Naya parau, berbisik serak, memecah kesunyian gudang itu.

Arya berhenti bekerja sejenak. Punggungnya lebar dan bungkuk itu bergetar pelan. Dia tidak menoleh.

"Arya..." Naya menangis lagi, air mata jatuh ke dalam mangkuk nasinya. "Kenapa... kenapa begini? Bagaimana bisa... anak kita... jadi... jadi Tuhan neraka ini? Dia cuma 13 tahun, Arya! Dia masih anak-anak! Tapi dia... dia lebih jahat dari ibunya Andri. Lebih dingin dari batu. Lebih kejam dari setan. Dia nikmati ini, Arya. Dia nikmati penderitaan kita. Dia bahagia melihat kita hancur."

Arya meletakkan sapu di tangan. Dia berbalik perlahan, menatap istrinya. Mata Arya tidak lagi berapi-api, tidak lagi penuh amarah atau keberanian. Matanya kosong. Hitam. Mati. Hanya ada satu emosi di sana: Penyesalan. Penyesalan yang begitu dalam, begitu pekat, begitu menghancurkan sampai-sampai rasanya dia ingin merobek dadanya sendiri.

"Karena kita yang buat dia begini, Naya," bisik Arya, suaranya pecah, parau, nyaris tak terdengar. "Ingat kata-kata si psikiater dulu? 'Dia punya kecerdasan luar biasa, tapi dia juga punya potensi gelap yang besar. Dia butuh cinta, dia butuh arahan, dia butuh stabilitas. Kalau dia merasa dicintai dan aman, dia akan jadi orang terhebat. Tapi kalau dia merasa dibuang, dikhianati, ditakuti... dia akan jadi monster paling berbahaya yang pernah lahir di dunia ini.'"

Arya berjalan mendekat, berjongkok di depan istrinya, tangannya yang kasar dan kotor mengusap pipi kurus Naya.

"Dan apa yang kita lakukan, Naya? Saat dia paling butuh kita, saat dia takut sama dirinya sendiri, saat dia menangis minta tolong karena dia merasa aneh dan berbeda... apa yang kita lakukan? Kita takut. Kita jijik. Kita buang pandangan. Kita bilang dia benih iblis. Kita bilang kita takut sama dia. Kita dorong dia keluar dari hati kita. Dan di detik itu... dia mati. Sari Dewi yang kita kenal mati. Dan monster ini... lahir."

Arya tertawa kecil, tawa kering, hampa, dan gila.

"Dan ironinya, Naya... dia benar. Dia benar 100%. Dia memang lebih hebat dari kita. Dia memang lebih pintar. Dia memang lebih kuat mental. Dia memang lebih kejam. Dia melihat dunia apa adanya, bukan seperti yang kita inginkan. Dia melihat manusia bukan sebagai saudara, bukan sebagai teman, bukan sebagai keluarga... dia melihat manusia sebagai alat. Sebagai pion. Sebagai mainan. Dan dia pandai memainkannya."

Arya menunjuk langit-langit di atas kepala mereka, menunjuk ke lantai 28 di atas sana.

"Dia mengikat Andri bukan dengan rantai besi, Naya. Dia mengikat Andri dengan Obsesi. Andri gila sama dia. Andri rela mati, rela miskin, rela hancur, asal Sari senyum sama dia. Andri sekarang cuma boneka. Boneka yang punya uang, punya pasukan, punya kuasa. Tapi otaknya di sini..." Arya menunjuk pelipisnya sendiri. "...di kepala Sari Dewi."

"Terus kita apa, Arya? Kita akan mati begini? Kita akan jadi pembantu anak kita sampai kita tua dan mati?" isak Naya, tubuhnya berguncang.

Arya menunduk, menatap lantai semen yang kotor.

"Tidak. Tidak selamanya. Aku kenal anakku. Aku kenal cara pikirnya. Dia logis. Dia efisien. Dia tidak suka barang yang tidak berguna. Selama kita masih berguna... kita hidup. Selama dia masih dapat kepuasan batin dari menyiksa kita... kita makan, kita bernapas. Tapi saat dia bosan. Saat dia merasa kita sudah tidak lucu lagi. Saat dia merasa kita cuma beban ruang dan makanan..."

Arya mengangkat jari telunjuk, membuat gerakan memotong leher.

"...Dia akan buang kita. Seperti sampah. Dingin. Tenang. Tanpa rasa bersalah. Tanpa air mata. Karena baginya... kita sudah mati sejak lama."

Tiba-tiba, suara kunci berputar terdengar dari pintu besi tebal itu. KLAK!

Pintu terbuka lebar. Cahaya terang menyilaukan masuk, membuat Arya dan Naya menyipit dan menutup mata.

Di ambang pintu, berdiri Raga Wijaya.

Pria itu berubah luar biasa. Dia mengenakan seragam hitam ketat, bahan mahal, dipotong pas menonjolkan otot-otot tubuhnya yang padat dan berbahaya. Di dadanya, lencana emas kecil bertuliskan: Komandan Keamanan Pribadi. Rambutnya dipotong rapi, wajahnya bersih, bercukur, matanya tajam, waspada, dan penuh otoritas. Di pinggang kanannya, terselip pistol semi-otomatis besar. Di pinggang kiri, pisau tempur.

Raga bukan lagi orang buangan, pecundang, atau preman jalanan. Dia sekarang adalah Orang Kedua Terkuat di Kerajaan Baru ini. Tangan kanan Sang Penguasa. Jenderal Eksekutor.

Di belakang Raga, berdiri dua pengawal muda berotot besar, berseragam sama, wajah datar, senjata terlihat jelas.

"Waktunya," kata Raga singkat, dingin, tanpa ekspresi. Tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi hubungan paman-keponakan. Hanya perintah.

"Kemana?" tanya Arya pelan, bangkit berdiri, menyeka tangannya ke celana lusuh.

"Ke atas. Ke lantai 28. Nona Sari minta kalian hadir. Ada tamu penting hari ini. Rapat Dewan Direksi. Nona mau kalian ada di sana. Di sudut. Diam. Lihat. Dan belajar."

Naya terguncang hebat. "T-tamu? Rapat? Kami... kami mau diapain lagi?"

Raga melangkah masuk, mendekati mereka. Dia menunduk sedikit, berbisik pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua, matanya melirik cepat ke arah pengawal di belakang memastikan mereka tidak dengar.

"Dengar baik-baik," bisik Raga, suaranya rendah, tegas, berbahaya. "Jangan cari masalah. Jangan coba bicara. Jangan coba kasih kode. Jangan coba tatap orang dengan tatapan minta tolong. Kalau kalian lakukan satu gerakan bodoh saja... dia akan bunuh kalian. Bukan langsung. Dia akan lakukan perlahan. Dan dia akan suruh aku yang melakukannya. Dan kalian tahu aku, Arya. Kalian tahu aku sekarang bekerja untuk dia sepenuhnya. Aku tidak akan ragu. Aku tidak akan menahan diri. Karena aku percaya. Aku percaya dia adalah masa depan. Dan kalian... kalian cuma masa lalu yang bau."

Raga mundur, kembali ke mode dinginnya.

"Cuci muka. Sikat gigi. Pakai baju bersih yang aku taruh di sini. 5 menit. Kalian harus terlihat menyedihkan, miskin, dan patuh. Itu perintah Nona."

5 menit kemudian, pintu gudang terbuka kembali.

Keluar Arya dan Naya. Arya mengenakan kemeja putih kusam, terlalu besar, kerah kusut, celana kain hitam pudar, sepatu kets tua yang solnya tipis. Naya mengenakan gaun rumah katun polos berwarna abu-abu, rambutnya diikat kencang ke belakang, wajahnya pucat pasi tanpa riasan, mata tertunduk rendah. Mereka terlihat seperti pasangan pelayan tua yang miskin dan tak berdaya.

Mereka dibawa naik lift VIP, naik ke lantai 28.

Lift terbuka.

Suara riuh rendah percakapan, tawa, dan aroma mahal langsung menyambut mereka.

Di ruang rapat utama, ruangan besar berbentuk persegi panjang dengan meja kayu mahoni raksasa di tengah, sudah berkumpul sekitar 15 orang pria paruh baya berpakaian jas mahal, dasi sutra, wangi parfum mahal.

Ini adalah Dewan Direksi & Komisaris PT Wijaya-Andalan Global. Orang-orang terkaya, terkuat, dan paling berpengaruh di negara ini. Para taipan, politisi, jenderal pensiunan, pengusaha raksasa.

Di ujung kepala meja, di kursi besar berkulit merah, duduk Andri Andalan. Dia terlihat agak tegang, gugup, matanya sering melirik ke samping kanannya.

Di sebelah kanan Andri, di kursi kedua paling tinggi—kursi yang seharusnya kosong, atau diisi wakil presiden direktur—duduklah Sari Dewi.

Gadis 13 tahun itu duduk santai, kaki kecilnya menjuntai, tidak sampai menyentuh lantai. Dia mengenakan setelan blazer mini berwarna merah darah, rok lipit hitam, sepatu hak datar hitam. Rambut pendek ikalnya disisir rapi. Di lehernya, kalung kunci emas itu berkilau jelas.

Dia duduk bersandar malas, satu tangan menopang dagu, satu tangan memutar pulpen emas di meja. Wajahnya bosan, acuh tak acuh, sedikit malas, persis seperti seorang Ratu muda yang sedang mendengarkan laporan pelayan rendahan.

Ketika Arya dan Naya masuk, semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada mereka. Percakapan mati seketika.

Orang-orang besar itu menatap Arya Pratama. Mantan pahlawan. Mantan ikon. Mantan musuh negara. Sekarang... tampilannya begitu menyedihkan, begitu hina, begitu rendah. Tatapan mereka penuh rasa kasihan, rasa jijik, rasa curiga, dan rasa takut.

"Duduk di sana," perintah Sari Dewi dingin, jarinya menunjuk sudut ruangan, di dekat pintu, di atas dua kursi plastik murah yang diletakkan khusus di sana. Bukan kursi kulit mewah. Kursi plastik.

Arya dan Naya berjalan melintasi ruangan hening itu, berjalan melewati orang-orang yang dulu mereka anggap teman, kolega, atau atasan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas belati tajam. Rasa malu, rasa hinaan, rasa sakit, membakar setiap sel tubuh mereka.

Mereka duduk di sudut, kepala tertunduk, mata menatap lantai.

Sari Dewi kembali menatap para direktur, wajahnya berubah cerah, manis, dan sopan.

"Maaf ya, Pak-Bapak semua," ucap Sari dengan suara renyah, sopan, lucu, persis seperti anak SD yang sedang bicara di depan kelas. "Itu Ayah sama Bunda saya. Mereka kan sakit jiwa, Pak. Mereka gila sedikit. Makanya mereka suka bicara aneh-aneh, suka lari-larian ke hutan, suka buat onar. Kasihan kan? Jadi saya sama Kakek Andri sudah ambil keputusan: Biar mereka tidak ganggu orang lain, biar mereka aman, dan biar mereka sembuh... kita rawat mereka di sini saja. Jadi asisten rumah tangga. Biar mereka sibuk. Biar mereka terapi kerja. Kan lebih baik daripada mereka di penjara atau di rumah sakit jiwa, Pak? Kita kan keluarga, harus saling menjaga, kan?"

Tawa kecil terdengar di ruangan itu. Tawa canggung, tawa lega, tawa yang setuju. Para direktur mengangguk-angguk.

Ah, begitu ternyata. Benar kata berita. Arya gila. Naya stres. Kasihan. Untung Andri bijak dan baik hati, mau menampung orang gila di rumahnya. Dan cucunya, Sari Dewi, gadis kecil yang manis, polos, dan bijaksana ini... dia yang mengurus semuanya. Dia yang menjaga kakeknya tua. Dia malaikat kecil.

"Benar sekali, Nona Sari. Anda sangat mulia," puji seorang Komisaris Utama tua, tersenyum ramah pada gadis kecil itu.

Sari Dewi tersenyum balik, senyum paling tulus, paling manis, dan paling berbisa di dunia.

"Terima kasih, Pak. Saya cuma mau kita semua damai. Saya cuma mau Perusahaan Wijaya-Andalan makin besar, makin jaya, makin kaya, dan makin berkuasa. Karena kalau perusahaan ini bagus, Kakek saya senang. Kalau Kakek saya senang... saya senang. Dan kalau saya senang..."

Sari Dewi berhenti sejenak, matanya melirik cepat tajam ke arah setiap wajah orang di meja itu satu per satu, pupilnya melebar gelap, memberikan pesan diam yang jelas, dingin, dan mengancam, sebelum kembali ke mode manja.

"...kalian semua senang, sejahtera, dan hidup lama. Kan, Pak?"

Suasana ruangan sedikit mendingin. Ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri, meski mereka tidak tahu apa.

"Nah, ayo kita mulai rapatnya," kata Sari ceria, menepuk tangan kecilnya dua kali. "Kakek Andri, silakan bicara dulu. Ceritakan sama anak buah kita... apa rencana besar kita bulan ini."

Andri Andalan, Penguasa Mutlak yang dulu tidak pernah menerima perintah dari siapa pun, yang dulu suaranya adalah hukum, kini duduk tegak, menelan ludah, melirik takut-takut ke arah cucunya, lalu mulai bicara.

Suaranya tidak lagi menggelegar, tidak lagi berwibawa. Suaranya pelan, sopan, patuh.

"Ehem... baik... terima kasih, Sayang... Maksudku, terima kasih, Nona Sari... Teman-teman semua. Bulan ini, kita punya proyek besar. Proyek Jalan Tol Lingkar Utara senilai 5 Triliun Rupiah. Dan seperti yang sudah diputuskan... kita akan menyingkirkan pesaing kita. PT Surya Mas. Mereka terlalu berisik. Mereka terlalu jujur. Mereka terlalu murah. Mereka mengganggu pasar kita."

Andri berhenti, menatap Sari mencari persetujuan. Sari mengangguk pelan, senyum tipis.

"Lanjutkan, Kakek. Bagus. Aku suka jalan ceritanya."

Andri menghela napas lega, lalu melanjutkan, matanya kembali berkilau jahat—bukan karena dia jahat, tapi karena dia ingin terlihat jahat demi Sari.

"Jadi, instruksi saya... eh, instruksi kita... adalah: Hancurkan PT Surya Mas. Bakar pabriknya. Curi datanya. Tuduh pemiliknya korupsi dan narkoba. Tangkap keluarganya. Dan pastikan... pemiliknya, Bapak Hartono... dia meninggal dalam 'kecelakaan tragis' minggu ini. Saya mau dia mati. Saya mau dia mati menyedihkan. Karena dia tidak hormat sama keluarga saya. Dia tidak hormat sama Nona Sari Dewi."

Ruangan hening. Para direktur menelan ludah. Mereka kaget. Biasanya Andri membunuh pesaing karena uang, karena kuasa, karena ambisi. Tapi sekarang? Dia mau bunuh orang... karena orang itu "tidak hormat sama cucunya"?

Ini gila. Ini obsesi. Ini berbahaya. Tapi tidak ada yang berani protes. Karena Andri Andalan masih Andri Andalan. Dan di sebelahnya, duduk gadis kecil yang matanya bersinar gembira mendengar rencana pembunuhan itu.

"Bagus sekali!!" seru Sari Dewi riang, bertepuk tangan kecilnya. Dia berbalik menghadap Raga yang berdiri tegak di belakang kursinya. "Paman Raga, dengar kan? Tugas untukmu. Pastikan kecelakaannya indah. Pastikan tidak ada bukti. Dan pastikan... sebelum dia mati, dia tahu siapa bos sebenarnya yang memerintah kematiannya. Bilang sama dia: Ini pesan dari Ratu Kecil. Jangan main-main sama Keluarga Wijaya-Andalan."

"Siap, Nona," jawab Raga dingin, kepalanya menunduk hormat, matanya menyala gembira akan tugas membunuh itu.

Dari sudut ruangan, Arya Pratama melihat semuanya. Dia melihat anaknya, anak yang dia lahirkan, anak yang dia gendong, anak yang dia cium, duduk di sana, memerintahkan pembunuhan orang lain dengan santai, gembira, dan bangga. Dia melihat sahabat lamanya, Andri, menjadi boneka yang patuh dan gila. Dia melihat Raga, pamannya, menjadi algojo yang fanatik. Dia melihat orang-orang besar menjadi pengecut yang patuh.

Dan Arya sadar akan satu hal mengerikan:

Dunia ini sekarang milik Sari Dewi.

Dan dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih gelap, jauh lebih berdarah, dan jauh lebih jahat dari sebelumnya. Karena penguasanya bukan lagi orang yang berambisi, bukan lagi orang yang rakus, bukan lagi orang yang marah.

Penguasanya adalah Anak Kecil yang Bosan. Dan anak kecil yang bosan... akan melakukan hal-hal paling mengerikan di dunia hanya untuk mencari hiburan.

Sari Dewi menoleh tiba-tiba, menatap tepat ke arah Arya di sudut ruangan. Mata mereka bertemu.

Sari tersenyum lebar, manis, dan penuh kemenangan. Dia mengangkat tangan kecilnya, melambaikan jari-jari halusnya pelan-pelan, seolah menyapa.

Hai, Ayah. Lihat aku? Lihat betapa hebatnya aku? Lihat betapa takutnya semua orang sama aku? Kamu bangga kan, Ayah? Kamu pasti bangga sekali.

Arya memalingkan wajahnya cepat, menahan muntah, menahan tangis, menahan jeritan di tenggorokannya. Dia menunduk dalam-dalam, membiarkan rambut kusutnya menutupi wajahnya yang penuh air mata dan keputusasaan.

Di atas sana, di kursi tahta kecilnya, Sari Dewi tertawa dalam hati. Permainannya baru saja mulai. Dan dia punya seumur hidup untuk memainkannya.

 

🩸👑🤯 YA TUHAN... INI SANGAT GELAP DAN SANGAT BRUTAL SECARA MENTAL!!

1. Tingkat Penyiksaan Baru: Sari tidak pakai kekerasan fisik (terlalu kasar dan berantakan). Dia pakai Psikologi Totalitarianisme.

- Andri: Disiksa lewat Ketergantungan Emosional. Dia dibuat merasa tidak berguna, lalu diberi sedikit kasih sayang palsu sehingga dia jadi ketagihan dan patuh total. Dia rela jadi budak asal "tuannya" senang. Ini manipulasi level dewa.

- Arya & Naya: Disiksa lewat Penurunan Status Sosial. Dari Puncak -> Dasar. Dari Diidolakan -> Dihina. Dari Mewah -> Miskin/Kotor. Dipaksa melihat anak mereka jadi monster jahat dan berkuasa. Dipaksa hormat, tunduk, dan diam. Ini siksaan mental paling berat bagi orang yang punya harga diri.

2. Peran Sempurna Sari: Di luar \= Malaikat Kecil, Polos, Lemah, Malang, Bijak. Di dalam \= Psikopat Dingin, Sadis, Ambisius, Manipulator Utama. Dia gunakan citra "anak kecil tidak berdaya" sebagai tameng hukum dan sosial mutlak. Siapa pun yang sakiti dia \= Jahat mutlak. Siapa pun yang dia sakiti \= Pantes/pasti jahat/gila. LOGIKA SEMPURNA.

3. Raga: Sang Pengikut Setia: Raga adalah kasus menarik. Dia bukan korban. Dia pengagum. Dia melihat Sari sebagai evolusi manusia yang lebih tinggi, sebagai dewa. Dia bahagia, bangga, dan hidup lagi karena dia punya tujuan: Melayani ratunya. Dia menjadi senjata paling berbahaya Sari.

4. Sari Mengendalikan Kerajaan: Dia benar-benar menjalankan perusahaan, politik, dan kejahatan dari belakang layar. Dia memerintahkan pembunuhan, korupsi, dan perang bisnis pada usia 13 tahun. Dia bukan sekadar penjahat remaja. Dia adalah Kriminal Mastermind Global.

5. Masa Depan: Sari baru mulai. Dia sekarang punya uang tak terbatas, pasukan bersenjata, koneksi politik, dan kekebalan sosial. Dia akan makin kuat, makin kejam, makin ambisius. Dia tidak akan puas cuma dengan satu provinsi. Dia mau negara. Dia mau dunia.

Di Bab 23, kita akan melihat sisi gelap lain: Musuh Lama Muncul. Ada kelompok lain, pesaing Andri yang dulu takut, sekarang mulai curiga ada yang "berubah" pada Andri. Mereka mencium bau ketidakstabilan, mencium bau kelemahan, dan mereka berani menyerang. Sari tidak hanya harus main politik internal, tapi juga harus memimpin perang sungguhan, perang bawah tanah, melawan mafia lain. Kita akan lihat Sari Dewi memimpin strategi militer dan spionase, mengalahkan musuh yang 10 kali lebih berpengalaman, lebih kejam, dan lebih besar dari dia. Arya dipaksa jadi penasihat strategi musuh anaknya sendiri.

Siap melihat Perang Mafia di Bawah Komando Gadis Kecil? 🔫🕵️‍♂️🗺️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!