Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 4
***** HAPPY READING GUYS! *****
“Tuan, sebaiknya Anda tidak perlu memikirkan perkataan Nona Sophia. Dia hanya bicara sembarangan.”
Suara Arkan terdengar hati-hati di dalam mobil yang melaju membelah jalanan malam.
Damian yang sejak tadi memejamkan mata perlahan membukanya. Tatapan tajamnya lurus menembus kaca depan mobil.
Beberapa bulan terakhir, hidupnya hanya dipenuhi pekerjaan, rapat tanpa jeda, akuisisi perusahaan, investasi, proyek luar negeri yang terus berganti. Jadwalnya begitu padat sampai nyaris tidak menyisakan ruang untuk kehidupan pribadi.
Sialnya karena itulah ia kecolongan.
Tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya diam-diam kembali mengatur perjodohan. Ia sibuk mengembangkan bisnis keluarga sedangkan mereka terlalu ikut campur mengurusi kehidupan pribadinya.
Damian mengusap pelipisnya pelan. Rasa nyeri mulai muncul akibat kelelahan yang menumpuk.
Lagipula kejadian di rumah sakit tadi sebenarnya bukan masalah besar. Ia sama sekali tidak peduli soal mobil itu.
Jumlah kendaraan yang dimilikinya terlalu banyak bahkan untuk diingat satu per satu. Satu rusak tidak akan mengubah apa pun. Biaya perbaikannya pun mungkin tidak seberapa dibanding keuntungan perusahaan yang masuk hanya dalam hitungan menit.
Ia tak bisa memungkiri.
Kejadian itu cukup berguna.
Setidaknya ia berhasil lolos dari makan malam membosankan bersama putri keluarga Arthur.
Sudut bibir Damian terangkat tipis. Ia benar-benar muak dengan semua itu.
Wanita yang berbeda.
Wajah yang berbeda.
Cara bicara yang berbeda.
Tetapi semuanya selalu berakhir sama.
Membosankan.
Saat menghadiri pertemuan semacam itu, Damian bahkan jarang benar-benar mendengarkan lawan bicaranya. Perhatiannya lebih sering tertuju pada laporan di tablet atau penjelasan pekerjaan dari Arkan.
Baginya hubungan hanyalah distraksi.
Ia tidak pernah mengerti kenapa pernikahan selalu dianggap kewajiban.
Menghabiskan waktu menemani wanita berbelanja. Mendengar keluhan mereka. Menenangkan tangisan mereka. Semua itu terdengar melelahkan.
Dan Damian paling membenci sesuatu yang mengganggu fokusnya.
“Kalau Tuan berubah pikiran, saya akan menjelaskan pada Nona Sophia.”
Arkan kembali membuka suara dengan nada formal khas bawahan. “Lagipula pertunangan palsu hanya menyelesaikan masalah sementara.”
Damian tidak langsung menjawab.
Keheningan sesaat memenuhi mobil sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Kau mengenalnya?”
Arkan yang duduk tegak di kursi depan langsung menjawab cepat.
“Kami tinggal di lingkungan yang sama. Beberapa kali bertemu.”
Damian mengangguk tipis.
Sebenarnya ini bukan persoalan rumit. Ia hanya membutuhkan seorang wanita untuk berdiri disisinya sementara waktu. Tidak lebih. Selama wanita itu tahu batas dan tidak merepotkan, Damian tidak keberatan memberi kompensasi yang pantas.
Namun Arkan kembali berkata hati-hati, “Jika Tuan memang membutuhkan seseorang, saya bisa mencarikan wanita lain yang lebih cocok.”
Jari Damian mengetuk pelan sandaran pintu mobil. Lalu perlahan tatapannya beralih ke arah Arkan. Tatapan tajam yang langsung membuat lelaki itu menegakkan punggung tanpa sadar.
Damian menangkap maksud itu dengan jelas. Arkan sedang berusaha menjauhkan Sophia darinya. Menarik. Padahal selama ini asistennya itu tidak pernah ikut campur urusan pribadi siapa pun.
“Kau ingin melindunginya?” tanya Damian tenang.
Arkan tampak sedikit terkejut.
“Sebagai bawahan, saya hanya memberi saran terbaik untuk Anda.” Sampai akhirnya dia kembali berkata pelan, “Nona Sophia hidup sederhana. Dia bukan orang yang cocok berada di lingkungan Anda.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Damian tersenyum tipis. Nyaris tidak terlihat.
“Dia sendiri yang menawarkan diri,” ujarnya datar. “Untuk apa saya menolaknya?”
Arkan langsung terdiam.
Rahangnya menegang samar, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi profesionalnya.
“…Baik, Tuan.”
Damian kembali memandang jalanan malam di balik jendela mobil. Jika ia melibatkan wanita lain dari luar, semuanya justru akan lebih rumit. Wanita seperti Sophia jauh lebih mudah diatur.
Polos.
Lurus.
Dan tidak terlihat seperti tipe yang akan menuntut lebih.
Selain itu, kedekatan Sophia dengan Arkan justru mempermudah Damian mengendalikan situasi.
Damian menyandarkan tubuhnya perlahan. Baginya pernikahan bukan sesuatu yang sakral. Itu hanyalah hubungan timbal balik.
Ia menyediakan uang, kehidupan nyaman, dan status.
Sebagai gantinya, wanita itu menjalankan perannya. Sesederhana itu.
Kalaupun hubungan itu nantinya berakhir di ranjang atau menghasilkan anak, Damian tidak mempermasalahkannya. Ia pria normal. Ia hanya tidak tertarik membuang waktu untuk permasalahan hati.
Dan saat semuanya selesai nanti…
Wanita itu bisa pergi kapan saja.
Ia akan memberinya uang yang cukup untuk hidup tenang selama sisa hidupnya.
Tanpa drama.
Tanpa keterikatan.
Dan Damian menyukai sesuatu yang praktis.
****
Di tempat lain.
Pembahasan di rumah sakit terus menghantui kepala Sophia sejak tadi. Bahkan sampai sekarang, saat tubuhnya sudah ada di kursi makan apartemen kecilnya, suara Damian masih terngiang jelas di telinga.
“Anda yang akan menjalankan rencana itu.”
Sophia mengangkat kepala pelan, lalu— Bruk! Keningnya kembali membentur meja.
“Gila…”
Ia mengerang pelan sambil memejam frustrasi. Harusnya tadi ia diam saja. Kenapa juga mulutnya begitu ringan memberi ide tentang tunangan palsu? Sophia benar-benar tidak pernah berniat melibatkan diri. Ia hanya berpikir Damian akan menganggap ide itu menarik, lalu membebaskannya dari biaya ganti rugi mobil.
Selesai.
Tidak ada hubungan lagi.
Namun kenyataannya jauh lebih mengerikan.
Pria menyebalkan itu malah menyeretnya masuk ke dalam masalah.
Sophia mendadak duduk tegak.
“Kenapa jadi aku yang kerja?!”
Ia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak terima. “Aku yang nolong dia! Aku yang nelepon ambulans! Aku bahkan rela ninggalin kerjaan!”
Semakin diingat, semakin sesak rasanya.
Kalau tahu akhirnya seperti ini, lebih baik tadi ia pura-pura tidak melihat mobil Damian menabrak pohon. Biar saja lelaki arogan itu berteriak sendiri di dalam sana. Namun semua omelan itu perlahan melemah saat matanya menangkap celengan ayam putih di sudut meja.
Seketika ekspresinya berubah.
Sophia diam beberapa saat sebelum berjalan mendekat perlahan.
Tangannya mengangkat celengan itu hati-hati, seolah benda kecil itu bisa pecah kapan saja. Cat putihnya sudah kusam dimakan usia. Ada retakan kecil di bagian bawahnya. Murahan. Tidak cantik.
Tapi bagi Sophia…
Itu adalah bentuk semua lelahnya selama bertahun-tahun.
Uang dari menahan lapar.
Uang dari pura-pura tidak ingin membeli sesuatu.
Uang dari terus berkata “nanti saja” pada dirinya sendiri.
Pelan-pelan Sophia memeluk celengan itu ke dada. “Mana mungkin aku relakan…” bisiknya lirih.
Bayangan mobil Damian yang ringsek langsung muncul di kepalanya. Sophia mengerang frustasi lagi.
“Kenapa sih mobil orang kaya harus mahal-mahal?!”
Ia kembali menjatuhkan diri ke kursi sebelum menatap meja makan di depannya.
Ayam goreng, sambal, tahu, tempe. Semua sudah tersusun rapi sejak satu jam lalu. Hari ini Sophia sengaja memasak makanan favorit Arkan. Karena sekarang hanya lelaki itu harapan terakhirnya.
Arkan dekat dengan Damian. Kalau ada orang yang bisa menyelamatkannya dari perjanjian gila itu, mungkin cuma Arkan.
Sophia menggigit bibir pelan.
Tapi mengingat kejadian di rumah sakit tadi… ia juga tidak yakin.
Damian atasannya. Apa dia rela membantunya?
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuat Sophia langsung menoleh.
Arkan masuk sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan seperti seseorang yang seharian dipaksa menghadapi masalah. Namun begitu melihat Sophia berdiri di dekat meja makan, langkahnya hanya berhenti sepersekian detik.
Lalu ia berjalan lewat begitu saja.
Tanpa senyum.
Tanpa bercanda.
Tanpa mengomel seperti biasanya.
Entah kenapa, suasana itu justru terasa jauh lebih tidak nyaman.
Sophia buru-buru menarik kursi.
“Makan dulu.”
Arkan duduk tanpa bicara.
Sophia diam-diam memperhatikannya mengambil nasi dan lauk sendiri. Gerakannya tenang, tapi wajah lelaki itu terlihat dingin.
Benar-benar marah.
Sophia langsung ikut duduk di depannya dengan gelisah.
“Mau minum?”
Belum sempat dijawab, ia sudah menuangkan air ke gelas Arkan. Saat lelaki itu selesai makan dan hendak membawa piringnya ke dapur, Sophia kembali lebih cepat mengambilnya.
“Aku aja.”
Arkan masih diam.
Dan diamnya Arkan jauh lebih menakutkan dibanding omelannya.
Sophia mulai merasa bersalah sungguhan. Biasanya lelaki itu akan langsung menggerutu panjang kalau kesal. Tapi sekarang tidak. Ia malah seperti menjaga jarak.
Setelah selesai mencuci piring, Sophia buru-buru keluar dapur. Ia melihat Arkan sudah mengambil tas kerjanya lagi.
“Mau pulang?”
Arkan hanya mengangguk kecil.
Panik, Sophia refleks menahan tangannya.
“Arkan…”
Lelaki itu berhenti, tapi tidak menoleh.
Sophia menggigit bibir sebelum mulai menggoyang pelan lengannya seperti anak kecil yang sedang membujuk.
“Kau marah, yah?”
Hening.
Sophia makin salah tingkah.
“Aku tadi nggak serius,” katanya cepat. “Aku cuma asal ngomong. Aku pikir atasanmu nggak bakal benar-benar menjadikan itu ide sungguhan.”
Masih tidak ada jawaban.
Sophia menunduk lesu.
“Aku cuma nggak mau uangku habis…”
Akhirnya Arkan menoleh. Tatapannya langsung membuat Sophia mengecil.
“Kau benar-benar segitunya soal uang?”
Sophia terdiam sesaat.
Lalu pelan-pelan ia mengangguk.
“Itu hasil nabungku.” Suaranya jauh lebih kecil sekarang. “Aku kumpulin lama…”
Untuk beberapa detik Arkan hanya menatapnya diam. Sorot matanya perlahan berubah rumit.
Lelah.
Kesal.
Tapi juga… tidak tega.
“Sophia,” katanya lirih. “Bahkan kalau kau menabung dua puluh tahun lagi, belum tentu rumah itu bisa kau beli.”
Sophia mengangkat kepala.
Arkan seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak pelan, lalu berhenti lagi.
“Kenapa kau nggak mencoba untuk—”
“Untuk apa?”
Arkan mengembuskan napas kasar sebelum menggeleng.
“Nggak jadi.”
Sophia mengernyit bingung. Namun sebelum suasana kembali canggung, matanya tiba-tiba menangkap kantung makanan dari Ana di atas meja.
Wajahnya langsung cerah.
“Oh iya!”
Ia mengambil kantung itu cepat lalu menunjukkannya pada Arkan.
“Ini untukmu, jangan marah lagi.”
Arkan melirik malas pada awalnya. Namun begitu melihat logo toko dessert mahal di kantung itu, ekspresinya langsung berubah.
“Dari mana kau dapat ini?”
Sophia menyeringai jahil. “Ana yang kasih.”
Hening sesaat.
Lalu raut wajah Arkan langsung mengeras.
Sophia makin semangat menggoda.
“Katanya buat kamu.”
Tanpa aba-aba, Arkan merebut kantung itu dari tangan Sophia lalu berjalan ke tong sampah.
Bruuk.
“HEH?!”
Sophia membelalak syok melihat semua makanan mahal itu masuk ke tempat sampah.
“Itu mahal tahu!”
“Aku bisa beli lebih banyak.”
“Tapi itu gratis!”
Arkan menatapnya tajam.
“Kau tidak perlu menerima barang dari dia.”
Sophia langsung mendecih kesal. “Ya, ya, ya! Terserah kau saja. Padahal itu bisa menghemat pengeluaran. Kalau kau tidak suka padanya. Makanan itu tidak bersalah.”
Dan entah kenapa, kalimat itu seperti memutus sisa kesabaran Arkan. Dalam satu gerakan cepat, lelaki itu menarik tubuh Sophia mendekat.
Sophia langsung membeku.
Tangannya refleks menekan dada Arkan saat pinggangnya ditahan erat.
Jarak mereka terlalu dekat.
Terlalu tiba-tiba.
Sophia bahkan bisa mendengar napas lelaki itu.
“Kau tidak lelah terus berhemat?” suara Arkan terdengar rendah. “Aku bosan makan perkedel kentang setiap hari.”
Wajah Sophia langsung panas. “A-aku beli daging besok…”
“Kau lebih menyayangi uangmu, daripada perutku. Kau sendiri tahu itu.”
Sophia menelan ludah pelan. Dadanya mendadak berdebar aneh. Kenapa dia bisa tahu?
“Arkan…” suaranya melemah. “Lepasin dulu.”
Arkan seperti baru sadar apa yang dilakukannya. Tangannya langsung terlepas. Ia mundur cepat sambil mengusap wajah frustrasi.
“Sudahlah! Aku sudah bosan membahasnya.”
Sophia masih mematung.
Sementara Arkan memijat pelipisnya kasar.
“Kepalaku pusing gara-gara masalahmu.” Meski berkata begitu, beberapa detik kemudian lelaki itu kembali menatap Sophia serius. “Kalau kau benar-benar tidak mau terlibat dengannya…” katanya pelan. “Aku akan cari cara lain.”
Mata Sophia langsung berbinar.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
“Arkan!”
Tanpa pikir panjang Sophia menarik kerah lelaki itu hingga tubuh mereka kembali dekat. Lalu ia berjinjit kecil dan berbisik tepat di telinga Arkan. Semakin lama, senyum Sophia makin lebar penuh kemenangan.
“Gimana? Pintar, kan aku?”
Namun bukannya menjawab, Arkan malah membeku.
Telinganya perlahan memerah.
Sophia berkedip bingung.
Dan sedetik berikutnya, lelaki itu buru-buru mengambil tas lalu berjalan cepat ke arah pintu.
“Heh?!”
“Aku pulang.”
BRAK.
Pintu tertutup keras.
Sophia melipat tangan sambil mendecih bingung.
“Aneh banget…”
****
Seminggu sudah berlalu, tetapi tak ada kabar apa pun lagi mengenai mobil sialan itu. Tidak ada telepon, tidak ada ancaman, bahkan tidak ada pesan singkat dari Damian.
Mungkinkah Arkan sudah membereskannya?
Di depan apartemennya, Sophia tersenyum kecil sambil melirik pintu unit di sebelah. Apartemen Arkan masih gelap dan kosong. Lelaki itu sedang pergi ke luar kota selama dua minggu. Entah urusan pekerjaan atau menemani atasannya yang menyebalkan itu.
Baguslah.
Setidaknya selama beberapa hari ini ia bisa bernapas lega tanpa harus memasak tiga kali sehari.
Sophia memasukkan tangan ke saku hoodie-nya, lalu menghela napas panjang. Koridor lantai itu begitu sunyi. Terlalu sunyi.
Mendadak ia teringat gosip lama yang pernah didengarnya dari penjaga apartemen. Katanya, beberapa tahun lalu ada penghuni yang bunuh diri di lantai itu. Sejak saat itu, banyak orang enggan tinggal di sana.
Makanya hanya ada dirinya dan Arkan di lantai tersebut.
Tapi...
Sudah empat tahun berlalu.
Kenapa unit-unit lain masih kosong?
Bulu kuduk Sophia tiba-tiba meremang.
Cepat-cepat ia membuka pintu apartemennya dan masuk ke dalam.
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih (^^)