"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Pilihan Ashura
Malam itu amukan Hewan Buas yang terjadi Pulau Emberwind berhasil dihentikan. Situasi mencekam yang barusan terjadi menjadi sebuah pukulan telak ditanah Elf karena Hewan Buas yang seharusnya melindungi penduduk Pulau Emberwind justru menyerang mereka.
Namun kehancuran yang dilakukan Hewan Buas membuat permukiman di Pulau Emberwind luluh lantah.
Kondisi di alun-alun cukup kondusif, karena semua penyihir di pulau berhasil memukul mundur Hewan Buas. Belum diketahui secara pasti penyebab Hewan Buas mengamuk dan menghancurkan permukiman penduduk.
Beruntung tidak dapat memakan korban jiwa, namun kematian Tetua Talion menjadi perbincangan karena terbunuh ditangan Magus Magnus.
Thranduil menjelaskan situasi yang terjadi kepada Raja Eldrin dengan penjaga hutan yang diserang Tetua Talion sebagai saksinya.
"Tetua Talion menyerang Pangeran Thorin..." Raja Eldrin masih terkejut setelah mendengar pengakuan penjaga hutan.
Yang lebih mengejutkan adalah kekuatan Tetua Talion yang meningkat secara drastis dan mengatakan sesuatu yang merujuk pada keabadian.
"Kematian Tetua Talion sangat disayangkan, tetapi kita harus memeriksa jasadnya untuk memastikan dengan siapa terakhir Tetua Talion bertemu. Demi memastikan dalang dibalik semua ini, Yang Mulia Raja." Tetua Aleazea memberi pendapat.
"Aku juga sepemikiran dengan Tetua Aleazea. Selain itu Yang Mulia harus fokus untuk berdiskusi dipertemuan yang akan datang dengan dua pemimpin. Untuk masalah ini serahkan saja pada kami," ujar Tetua Galdur yang menyadari ada seorang pengkhianat di antara Elf.
"Aku akan memastikan orang yang menyebabkan kerusuhan dinegeri ini 5 tahun lalu akan mati ditanganku!" Tetua Galdur melanjutkan.
Raja Eldrin pun menyerahkan kasus ini kepada Tetua Galdur, kemudian ia melihat kedua anaknya yang sedang bermain dengan cucu Thranduil.
"Dengar Kakak Elara, pasti Kakak tidak percaya melihat Kakak Asura memeluk Indi dan tiba-tiba semua Hewan Buas mati."
Disana terlihat Indi sedang menjelaskan bagaimana Ashura menyelamatkan dirinya kepada Elara.
"Ashura yang melakukannya?" Elara terlihat tidak yakin, karena bagaimanapun membunuh seratus Hewan Buas diumur sepuluh tahun bisa dibilang sangat mustahil.
"Indi berbohong, tidak mungkin Ashura melakukan itu," sahut Liorael ketus.
"Kalau Kakak Liorael tidak percaya, Indi tidak peduli!" Indi justru terlihat sibuk mencari keberadaan Ashura.
"Dimana ya Kakak Ashura?"
Melihat percakapan ketiganya, Raja Eldrin langsung bertanya kepada Thranduil untuk memastikan kebenarannya.
"Apa benar yang diceritakan cucumu itu, Thranduil?" Raja Eldrin bertanya untuk memastikan.
"Aku sendiri cukup terkejut saat mendengarnya menjelaskan hal itu, tetapi yang diceritakan cucuku itu benar, Yang Mulia Raja." Thranduil memberitahu kebenarannya.
Hal ini membuat Raja Eldrin penasaran karena diusia yang masih sangat muda, Ashura memiliki kemampuan yang bisa dikatakan melebihi seorang jenius.
Yang lebih mengejutkan adalah Ashura yang merupakan sosok manusia, bukan Elf atau Dwarf yang memiliki mana lebih besar dari manusia.
"Dimana anak itu? Aku ingin bertemu dengannya!" ujar Raja Eldrin antusias dan dipenuhi rasa penasaran.
"Kemungkinan anak itu sedang berlatih, Raja Eldrin. Sejak kedatangannya di pulau ini, Ashura berlatih dibawah asuhan Tuan Magus Magnus." Thranduil memberitahu.
Ekspresi Raja Eldrin tidak puas, namun tak lama Ashura datang bersama Serlin, Yuna dan Onyx. Terlihat mereka berempat telah selesai mengevakuasi penduduk Pulau Emberwind.
"Kau harus banyak belajar dariku, Ashura! Kau terlalu banyak membuang-buang mana!" ujar Onyx yang sedang menggendong Ashura dipunggungnya.
Ashura terlihat menahan kesal karena Onyx terus-terusan menasehatinya.
"Tapi kau sudah menyelamatkan banyak penduduk, Ashura. Jika bukan karena sihir es milikmu itu, kami akan kesulitan mengatasi Hewan Buas yang tersisa." Serlin memuji Ashura agar suasana anak itu gembira.
"Ini belum cukup..." Ashura menghela nafas ringan, menyadari kekuatannya masih terlalu lemah.
"Sebaiknya kita segera menemui Yang Mulia Magus Magnus," ucap Yuna mengingatkan Serlin.
Serlin mengangguk dan menatap langit mengingat keluargaku yang ada di Kerajaan Flameheart.
"Situasi disini sangat kacau, aku harap di Flameheart, mereka baik-baik saja..." Serlin bergumam pelan mengingat sosok Ibunya dan murid-murid akademi.
Saat Onyx hendak menuju tempat keberadaan Magus Magnus, Raja Eldrin menghadang dan menanyakan sosok Ashura yang digendong Onyx.
"Dimana anak yang bernama Ashura itu? Aku ingin bertemu dengannya!" ujar Raja Eldrin kepada Onyx.
"Mohon maaf Yang Mulia, tetapi Ashura kehabisan mana dan saat ini dia butuh perawatan." Onyx menjelaskan kondisi Ashura dan membuat Raja Eldrin memberi jalan.
Raja Eldrin sendiri belum mengetahui jika yang digendong Onyx adalah Ashura karena tidak ada yang memberitahunya.
Serlin dan Yuna memberi hormat kepada Raja Eldrin, sebelum mengikuti Onyx.
"Kenapa Yang Mulia Raja Eldrin ingin bertemu dengan Ashura, Kakak Serlin?" Yuna bertanya dengan suara lirih karena penasaran dengan tindakan Raja Eldrin barusan.
"Aku rasa karena Ashura telah menyelamatkan gadis kecil itu..." Serlin menebak dan memahami situasi Ashura.
"Kita perlu menyembunyikan identitas Ashura. Itu adalah salah satu misi yang diberikan Yang Mulia Leywin kepada kita."
Setelah bertemu dengan Magus Magnus, terlihat Ashura mendapatkan pertolongan dan dapat menggerakkan tubuhnya.
"Ashura, kau terlalu memaksakan dirimu. Kau harus mengingat pesanku agar berhati-hati menggunakan kekuatanmu itu." Magus Magnus mengingatkan Ashura.
Bagaimanapun semakin Ashura menggunakan sihir es, maka kekuatan Frost juga semakin kuat.
"Selain sihir es, aku tidak bisa menggunakan sihir apapun. Jadi apa yang Kakek inginkan dariku?" Ashura menjelaskan situasinya kepada Magus Magnus.
"Kau memiliki darah penyihir terhebat sepanjang masa yang dapat memanipulasi lima elemen sekaligus. Darah Kaisar Xyrus mengalir didalam dirimu, kau harus memanfaatkannya, Ashura." Magus Magnus memberitahu.
Ashura pun menatap tajam Magus Magnus dan mengepalkan tangannya. Memang dia akui, sosok Raphael memiliki lima unsur sihir dan memiliki mana yang besar, tetapi dirinya tidak percaya juga memiliki kemampuan seperti itu.
"Sejak awal aku berlatih. Sihir es sudah menemaniku bahkan sejak diriku lahir. Aku tidak percaya jika diriku juga dapat memanipulasi lima unsur sihir." Ashura berkata kepada Magus Magnus, bahwa tidak mungkin dirinya juga dapat menguasai lima unsur sihir.
Magus Magnus pun ingin membuat Ashura mengerti, dan menyelimuti tangan kanannya dengan mana.
"Sihir es mu itu bukan kutukan ataupun bencana yang tidak dapat kau kendalikan, tetapi ia akan bergerak melindungimu jika dirimu terluka."
Tepat setelah mengatakan itu, Magus Magnus melayangkan pukulan kearah Ashura dan apa yang terjadi selanjutnya cukup mengejutkan semua orang.
BOOOMMM!!!
Ashura yang memiliki sedikit mana tidak terluka sekali, padahal Magus Magnus menyerangnya dengan niat membunuh.
"Apa yang kau lakukan Yang Mulia -"
Serlin berlari dan terkejut saat melihat sebuah dinding es terbentuk melindungi Ashura.
"Apa kau ingin membunuhku Kakek?!" teriak Ashura tidak percaya.
Magus Magnus tersenyum dan memperhatikan sebuah serpihan es yang mengelilingi Ashura, saat nyawa Ashura dalam bahaya.
"Kau melihatnya bukan? Serpihan es yang mengelilingi dirimu itu. Kau pasti pernah setidaknya sekali mendengar jika mendiang Ibumu berjuang untuk melahirkanmu..." Magus Magnus mencoba memperlihatkan kepada Ashura jika sihir es miliknya bukanlah sebuah kutukan, melainkan bentuk perlindungan mendiang Ibunya untuk melindungi dirinya.
Ashura tanpa sadar meneteskan air mata, dia menyadari satu hal yang berarti jika kehadirannya didunia bukanlah aib melainkan sebuah harapan.
"Hei, Ashura, aku hanya bercanda..." Magus Magnus panik saat Ashura mengusap matanya yang berlinang air mata.
Serlin dan Yuna tersenyum lega, karena melihat sosok Ashura yang sama seperti anak pada usianya hanya saja ia kehilangan peran orang tua dan tidak pernah mendapatkan kasih sayang, sehingga ia tumbuh seperti ini.
"Kau membuatnya menangis, Kakek Magnus!" ujar Onyx yang menyalahkan Magus Magnus.
"Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu kepadanya, bukan berniat melukainya..." Magus Magnus terlihat panik.
"Menjelaskan bagaimana! Kau terlihat seperti ingin membunuhnya Kakek!" Onyx menegur Magus Magnus.
Ashura yang mengerti tujuan Magus Magnus pun yakin untuk kembali belajar dibawah asuhannya.
"Jadi kau telah siap Ashura? Aku tidak akan memberikan belas kasih sedikitpun kepadamu jika kau bersedia menjadi muridku!" ujar Magus Magnus kepada Ashura.
"Murid, bersedia! Guru!"
Magus Magnus pun tersenyum canggung mendengar Ashura menyebutnya sebagai guru.
"Guru ya? Tetap panggil Kakek seperti biasanya saja."
"Murid, mengerti, Guru!"
"Kau memanggilku Guru kembali..."
Serlin, Yuna dan Onyx tertawa melihat Ashura yang bersikap demikian kepada Magus Magnus.
Takdir bergerak dan tak ada yang menyadari apa yang akan terjadi di tanah keesokan harinya.
Di bawah kepulan asap magis, takdir pulau elf ini dipertaruhkan di ujung bilah pedang.