"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita di Balik Buah Lonceng
Setelah atmosfer kelas 10-2 berangsur-angsur mulai tenang dari riuh tawa, Rahman masih tampak berdiri santai di samping meja guru. Melihat hal itu, Alvin bangkit dari duduknya. Dia meraih kantong plastik hitam besar berisi jambu air di atas meja Bagas, lalu melangkah santai menuju ke depan kelas.
Brug!
Suara tumpukan jambu air yang diletakkan Alvin terdengar cukup jelas saat mendarat di atas meja guru.
Alvin menatap tumpukan buah segar itu, lalu beralih ke arah Rahman. "Wah, banyak juga lo bawanya, Man," ucap Alvin sambil tersenyum ramah.
Rahman terkekeh, lalu menimpali dengan gaya slengeannya. "Rencana sih gue mau bawa pakai karung, Sif. Tapi karungnya gak ada," sahut Rahman jujur.
"Haha, ada-ada aja lo!" Alvin tertawa kecil.
Sedetik kemudian, Alvin mengangkat tangan kanannya, mengepalkan tinju tepat di depan dada Rahman. Rahman tertegun sesaat melihat kepalan tangan Alvin, sebelum akhirnya tersenyum paham. Dia ikut mengepalkan tangannya dan menyentuhkannya pelan ke tinju Alvin—sebuah tos persahabatan yang tulus.
"Terima kasih," ucap Alvin tulus.
Rahman mengibas-ngibaskan tangannya santai. "Iya, sama-sama. Cuma jambu ini."
Alvin kemudian merogoh ke dalam kantong plastik hitam tersebut. Sembari memilah buah, dia berucap tanpa menoleh, "Mulai sekarang, jangan panggil gue Sifu lagi."
Rahman hanya tertawa menanggapi ucapan itu. Namun, dahinya seketika berkerut heran saat melihat Alvin hanya mengambil empat buah jambu air dari dalam kantong plastik yang masih sangat penuh itu.
"Ooy, Sifu!" panggil Rahman spontan.
Alvin langsung melirik tajam, namun dengan binar jenaka. "Aalaah... dibilang jangan panggil gue itu."
Rahman terkekeh geli. "Iya, iya. Tapi kenapa lo cuma ambil empat buah aja? Padahal di dalam masih banyak loh." Rahman menunjuk plastik hitam yang posisinya sengaja ditinggal Alvin di atas meja guru.
Alvin tidak langsung menjawab. Dengan ketenangan khasnya, dia melirik ke arah bangku tengah, tepat ke arah Bagas yang sedari tadi tidak peduli dengan sekitar dan masih sibuk mengunyah jambu air di kursinya dengan lahap.
Alvin kembali menatap Rahman, lalu tersenyum tipis. "Kata kawan baru gue... berat sama dijinjing, ringan sama dipikul. Sisanya biar anak-anak sekelas yang habisin," ucap Alvin santai. "Haha, oke. Gue balik ke bangku gue dulu, Man."
Rahman yang mendengar peribahasa yang sengaja dibalik oleh Alvin itu hanya bisa melongo kaku, sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya takjub melihat kemurahan hati sang murid baru.
Begitu Alvin berjalan santai kembali ke bangkunya, suasana kelas 10-2 yang awalnya kaku perlahan mencair sepenuhnya. Anak-anak yang tadinya hanya berani mencuri pandang ke arah meja guru, kini mulai memberanikan diri mendekat.
Doni, yang sejak tadi berdiri setia di sisi Rahman, tertawa kecil melihat tingkah "Sifu"-nya. "Tuh, dengerin tuh, Man! Sifu emang beda kelas. Kalau kita yang bagiin mungkin bakal dibilang nyogok, tapi kalau dia yang naruh di meja guru, namanya berbagi berkah," celetuk Doni sambil menyenggol lengan Rahman. Rahman hanya bisa tersenyum lebar, merasa keputusan Alvin untuk meninggalkan sisanya adalah cara terbaik untuk merebut hati seisi kelas.
Di bangkunya sendiri, Bagas tidak membuang waktu. Dia langsung melompat berdiri, bertindak seolah-olah dia adalah "pembuka jalan" bagi teman-temannya. "Woy, buruan serbu! Mumpung jambunya manis, nih! Rezeki anak soleh dari Sifu Alvin!" serunya dengan nada bercanda, membuat suasana yang tadinya canggung berubah menjadi pesta kecil-kecilan di depan meja guru. Murid-murid lain yang tadinya sungkan, kini berebutan dengan ceria, bahkan sampai ada yang mengucapkan terima kasih ke arah meja Alvin.
Sementara itu, Luna yang masih berdiri di dekat barisan bangkunya hanya bisa tertegun melihat pemandangan di depan matanya. Dia melihat bagaimana para siswa yang tadinya takut setengah mati pada Rahman, sekarang justru tertawa bersama karena menikmati jambu air tersebut. Namun, perhatian Luna tidak berhenti di situ. Matanya terpaku pada Alvin yang baru saja duduk kembali di samping Bagas.
‘Benar-benar luar biasa,’ batin Luna. Dia melihat Alvin yang tampak tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya, seolah-olah tindakannya tadi adalah hal yang sangat biasa.
Tiba-tiba, Alvin menyadari tatapan Luna. Dia mengulurkan satu jambu air yang paling merah dan paling utuh ke arah gadis itu. "Buat kamu," ucap Alvin singkat sambil tersenyum tipis.
Luna tersentak, wajahnya sedikit memanas karena tertangkap basah sedang memperhatikan Alvin. "E-eh... makasih, Alvin," jawab Luna, suaranya sedikit tertahan. Saat jemari mereka bersentuhan sebentar untuk menerima buah itu, Luna merasakan aliran hangat yang aneh. Rasa penasaran soal bekas luka di pipi Alvin yang sempat terpotong tadi kembali menyeruak, namun kali ini, dia merasa Alvin tidaklah sejahat atau semisterius yang dia bayangkan di awal.
Di sisi lain, kelas 10-2 yang tadinya penuh dengan aura permusuhan, kini dipenuhi oleh aroma segar jambu air dan suara tawa renyah dari teman-temannya. Alvin baru saja membuktikan bahwa dia tidak perlu menjadi penguasa yang ditakuti; dia cukup menjadi seseorang yang bisa merangkul, dan dengan sendirinya, semua orang akan berbalik menghormatinya.
Luna perlahan berjalan kembali dan duduk di bangkunya. Namun, sedetik setelah dia mendaratkan tubuhnya di kursi, Alvin tiba-tiba ikut melangkah mendekat dan langsung duduk di samping Luna.
Luna tersentak kaget. Matanya melebar kecil sembari melirik Alvin dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Mengapa cowok misterius ini tiba-tiba berpindah tempat duduk di sebelahnya?
Alvin tidak menatap Luna, pandangannya lurus ke depan dengan ketenangan yang menghanyutkan. Dia mengulas senyum tipis, lalu membuka suara dengan nada rendah yang sangat tenang. "Oh iya, tadi kamu nanya soal bekas luka di pipi ini, ya?"
Alvin terkekeh pelan, menoleh sedikit ke arah Luna yang masih membeku. "Kalau aku gak kasih tahu, nanti kamu malah penasaran terus, hehe."
Luna makin dibuat kebingungan dengan perubahan sikap Alvin yang mendadak melunak padanya. Namun, sebelum Luna sempat menyela, Alvin kembali melempar pandangannya ke luar jendela kelas. Tatapan mata cowok itu mendadak meredup, seolah jiwanya sedang ditarik masuk ke dalam sebuah video kenangan lama yang sudah berdebu.
"Waktu itu aku masih SD kelas dua," kenang Alvin memulai cerita. "Setiap sore aku selalu bermain di taman kota. Selesai lari-lari sore, aku pasti bermain dengan temanku di sana. Ya... kami sering main petak umpet."
Sepasang sudut bibir Alvin terangkat samar. "Aku gak tahu nama aslinya siapa, tapi aku senang dan seru aja setiap kali bermain sama dia. Dulu, kami sering main di bawah pohon bell fruit. Aku manggilnya buah lonceng, hehe, karena bentuk buahnya mirip banget sama lonceng kecil."
Alvin menghela napas pendek, ada binar kerinduan yang mendalam di matanya. "Setiap sore ketika kami mau berpisah karena udah magrib, aku selalu bilang, 'Eeh, besok main lagi ya di sini, sambil makan buah lonceng.' Terus temanku itu pasti tertawa. Dia menjawab, 'Ini mah bukan buah lonceng tapi jambu air! Kalau orang sini bilang bell fruit.'"
Alvin terdiam sejenak. Suaranya merendah. "Makanya, tadi saat aku ngelewatin pohon jambu di sekolah ini, aku langsung teringat sama temanku itu."
Mendengarkan rentetan kalimat Alvin, jantung Luna mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ada sebuah rasa familier yang aneh, yang mulai merayap di benaknya.
Alvin menghela napas panjang, melanjutkan bagian terkelam dari memorinya. "Besok sorenya, kami bertemu lagi. Bermain, berlari, tertawa, bercanda... Tapi, sore itu tiba-tiba dia bilang ingin membeli es krim di seberang jalan. Katanya, dia ingin membelikan es krim buat aku juga. Dia kelihatan begitu semangat, berlari sambil tertawa lepas."
Suasana di sekitar bangku mereka mendadak terasa sunyi, hanya menyisakan suara Alvin yang mulai terdengar agak berat.
"Tapi saat dia baru mau menyeberang jalan, aku yang berdiri beberapa meter di belakangnya melihat ada sebuah motor yang melaju sangat kencang dari arah sebelah kiri. Saat itu aku terkejut dan panik luar biasa. Aku berteriak, berlari sekuat tenaga, lalu mendorong tubuhnya menjauh dari jalanan." Alvin menyentuh bekas luka di pipinya perlahan. "Aku terserempet motor itu sampai terpental beberapa meter. Dan setelah kejadian hari itu... aku gak pernah bertemu dengan dia lagi."
Deg!
Kalimat terakhir Alvin berdentang keras di dalam kepala Luna, meruntuhkan seluruh pertahanan logikanya. Seisi bumi seolah berhenti berputar bagi Luna saat itu juga.
Dada Luna bergemuruh hebat, napasnya tertahan di tenggorokan. 'Cerita ini... kecelakaan itu... taman kota, buah lonceng, bahkan es krim di seberang jalan...' batin Luna berteriak histeris di dalam hatinya.
Seluruh pasokan udara di paru-parunya seakan menguap. Cerita masa kecil yang baru saja keluar dari mulut Alvin bener-bener sama persis—tidak meleset satu detail pun—dengan cerita yang pernah diuraikan oleh Nadia, sang Ketua OSIS!
Luna dan Nadia sudah menjadi teman dekat sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Bagi Luna, Nadia bukan sekadar kakak kelas, tapi sosok yang sudah dia anggap sebagai Kakaknya sendiri. Luna ingat betul bagaimana Kak Nadia sering melamun sedih setiap kali melihat jambu air, sembari menceritakan tentang seorang anak laki-laki pahlawan masa kecilnya yang hilang tanpa jejak setelah menyelamatkannya dari kecelakaan motor maut.
Luna menatap wajah Alvin dari samping dengan tatapan horor bercampur takjub yang luar biasa. Jemarinya yang memegang jambu air pemberian Alvin bergetar hebat.
'Nadia... Kak Nadia... Anak laki-laki yang selama ini Kak Nadia cari dan tangisi setiap malam... apa itu beneran kamu, Vin?' batin Luna terguncang hebat, menyadari bahwa takdir bener-bener sedang memainkan lelucon gila di sekolah baru ini.
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya