NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Bawah Rinai Hujan

Malam membungkus kompleks pemakaman tua di pinggiran Jakarta dengan keheningan yang mencekam. Rinai hujan gerimis sisa badai sore tadi menyisakan kabut tipis yang merayap di antara batu-batu nisan yang berlumut. Cahaya lampu merkuri jalanan yang temaram hampir tidak mampu menembus rimbunnya pohon kamboja besar, menciptakan bayang-bayang panjang yang tampak menari mengerikan di atas tanah basah.

Sebuah mobil utilitas sport (SUV) hitam tanpa pelat nomor berhenti di sudut tergelap luar pagar makam. Di dalam kabin yang senyap, Devan duduk dengan pandangan mata yang lurus menembus kegelapan, tertuju pada satu titik beberapa puluh meter di depan: makam Clara yang bertabur bunga kering yang mulai membusuk.

Di sampingnya, Anya duduk dengan jaket parka hitam menutupi blus kantornya. Genggaman tangan Devan di jemarinya terasa begitu kencang dan protektif, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Anya akan lenyap ditelan kegelapan malam.

"Randi dan tim sekuriti sudah mengepung seluruh parameter pelarian," ucap Devan, suaranya merendah, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Alat pelacak menunjukkan sinyal perangkat pemancar itu masih aktif di sekitar area makam Clara. Skenario kita tetap sama, Anya. Kau akan berjalan masuk sendirian sebagai umpan. Aku akan berada tepat sepuluh meter di belakangmu, bersembunyi di balik bayangan pohon besar."

Anya menatap Devan, melihat kecemasan yang mendalam bersembunyi di balik mata elang pria itu. "Aku tidak takut, Devan. Kita sudah melangkah sejauh ini. Kita harus mengakhirinya malam ini."

Devan menarik napas pendek, lalu mengulurkan tangannya untuk merapikan tudung jaket Anya dengan gerakan yang sangat lembut. "Begitu kau melihat sosoknya, jangan mencoba bernegosiasi. Langsung beri isyarat dengan menjatuhkan ponselmu ke tanah. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhmu bahkan seujung kuku pun."

Anya mengangguk mantap. Ia membuka pintu mobil perlahan, menembus dinginnya udara malam yang langsung menusuk kulit wajahnya. Langkah kakinya terasa berat saat menginjak rerumputan basah dan tanah yang agak berlumpur, menimbulkan suara kecipak halus yang memecah keheningan makam.

Tak... Tak... Tak...

Langkah Anya semakin dekat ke arah nisan marmer putih bertuliskan nama "Clara Anastasia". Jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, namun ia terus memaksakan dirinya untuk menegakkan punggung.

Tiba-tiba, dari balik batang pohon kamboja besar yang berada tepat di belakang makam Clara, sesosok tubuh tegap yang mengenakan jas hujan hitam panjang melangkah keluar dengan perlahan. Wajahnya tertutup rapat oleh tudung jas hujan dan sebuah masker hitam, hanya menyisakan sepasang mata yang berkilat penuh kebencian di bawah temaramnya lampu merkuri.

Di tangannya, pria misterius itu memegang sebuah perangkat portabel berlampu indikator merah yang terus berkedip—alat pengubah sinyal dan suara yang selama ini meneror Anya.

"Kau melanggar janji, Anya Anandita..." Suara pria itu terdengar, kali ini tanpa distorsi digital dari ponsel, meluncur langsung sebagai suara bariton yang serak dan sarat akan racun dendam. "Aku menyuruhmu pergi ke Stasiun Gambir, bukan datang ke tempat ini. Apakah kau begitu tidak sabar untuk menyusul Clara ke dalam tanah?"

Anya menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan pria itu. Sesuai instruksi Devan, tangannya perlahan bergerak, menjatuhkan ponsel pribadinya ke atas tanah berlumpur dengan bunyi *buk* yang pelan.

"Siapa kau?" tanya Anya, suaranya terdengar lantang menantang angin malam. "Kenapa kau menggunakan nama Clara untuk menerorku? Devan tidak bersalah atas kematiannya! Kau hanya pengecut yang mencoba mengorek luka lama yang sudah kering!"

Pria itu tertawa rendah sebuah tawa yang terdengar sangat hancur dan gila di tengah kegelapan makam. "Devan tidak bersalah? Gadis bodoh! Kau telah dicuci otak oleh pesona dan uangnya! Enam tahun lalu, Devan adalah pria egois yang hanya mementingkan ambisi bisnisnya sendiri, mengabaikan Clara yang ketakutan hingga akhirnya tewas di dasar jurang!"

Pria itu melangkah maju satu kali, melepaskan tudung jas hujannya dengan gerakan kasar, menampilkan wajah paruh baya yang dipenuhi oleh garis-garis keriput kemarahan yang mendalam.

Anya tertegun. Wajah itu... meskipun tampak jauh lebih tua dan kurus, memiliki kemiripan struktur wajah yang sangat akrab di dalam ingatannya.

"Kau... kau adalah...?" Anya terbata.

"Hendra Wijaya?" Sebuah suara bariton yang dingin dan penuh ancaman mendadak menggelegar dari arah belakang bayangan pohon besar.

Devan melangkah keluar dari kegelapan dengan langkah tegap yang memancarkan aura kematian yang pekat. Matanya mengunci sosok pria paruh baya di hadapannya dengan kilat amarah yang meledak-ledak.

Namun, pria itu tertawa semakin keras, menggelengkan kepalanya. "Hendra Wijaya hanyalah orang tua yang bodoh yang bisa dengan mudah kumanfaatkan sebagai tameng, Devan! Anggap saja aku adalah... utusan sejati dari masa lalu yang kau hancurkan."

Pria itu membuka maskernya, dan di bawah pencahayaan lampu yang minim, barulah terlihat identitas aslinya. Dia adalah Rendra, mantan kekasih Anya dari masa lalu, yang ternyata memiliki hubungan darah tersembunyi sebagai anak kandung dari sang pejabat kepolisian korup yang dulu menerima suap dari Karina untuk memalsukan dokumen ayah Anya, sekaligus orang yang menangani kasus kematian Clara enam tahun lalu!

"Rendra?!" Anya berteriak tidak percaya, matanya membelalak sempurna melihat mantan kekasihnya yang ternyata menjadi dalang di balik teror mengerikan ini.

"Ya, Anya! Aku!" seru Rendra dengan mata yang memerah penuh dendam. "Keluarga Alfarezel telah menghancurkan hidup keluargaku! Ayahku dipenjara dan karirnya hancur karena Devan membongkar kasus penyuapan itu minggu lalu! Dan enam tahun lalu... Clara, wanita yang sangat kucintai secara rahasia, tewas mengenaskan karena dikejar oleh monster ini!"

Rendra menunjuk ke arah Devan dengan jari yang bergetar hebat. "Aku bersumpah akan membalas dendam pada Alfarezel! Ketika aku tahu kau terikat kontrak dengan Devan, aku merasa ini adalah kesempatan emas. Aku ingin merebutmu kembali sekaligus menghancurkan Devan dengan menggunakan hantu masa lalunya!"

Devan melangkah maju, memposisikan tubuh tegapnya tepat di depan Anya, mengurung wanita itu di belakang punggungnya yang aman. "Kau salah mengira medan perang, Rendra. Ayahmu mendekam di penjara karena kejahatannya sendiri. Dan tentang Clara... jika kau benar-benar mencintainya, kau harusnya tahu bahwa sindikat tempat ayahmu bernaunglah yang menyabotase rem mobilnya, bukan aku!"

"BOHONG!" teriak Rendra histeris. Ia meraba saku jas hujannya dengan cepat, mengeluarkan sebuah benda logam hitam kecil yang berkilat tajam di bawah rintik hujan. Itu adalah sebilah pisau lipat taktis. "Aku tidak peduli lagi dengan kebenaran! Jika aku tidak bisa menghancurkan Alfarezel Group, maka aku akan memastikan pernikahanmu bulan depan berubah menjadi upacara pemakaman terbesar untuk asisten kesayanganmu ini!"

Rendra menerjang maju dengan membabi buta ke arah Devan dengan pisau yang teracung tinggi.

Namun, Devan Alfarezel bukanlah pria yang bisa diremehkan dalam pertarungan fisik. Dengan refleks yang sangat cepat, Devan bergeser menghindari tikaman pertama Rendra. Ia mencengkeram pergelangan tangan Rendra dengan kekuatan penuh, memutarnya dengan satu gerakan judo yang presisi hingga terdengar bunyi krek yang tajam disertai jeritan kesakitan dari mulut Rendra.

Bruk!

Pisau lipat itu terlepas dari tangan Rendra, jatuh ke dalam lumpur basah. Devan mendorong tubuh Rendra hingga tersungkur di atas tanah, tepat di samping nisan marmer Clara.

Dalam hitungan detik, Randi dan empat orang petugas sekuriti berbadan tegap melompat dari balik pagar makam, langsung mengunci kedua tangan Rendra ke belakang punggungnya dan menekan tubuh pria itu ke tanah agar tidak bisa bergerak lagi.

"Lepaskan aku! Devan! Kau akan membayar semua ini! Alfarezel akan runtuh!" teriak Rendra dengan sisa-sisa nafasnya yang memburu di tengah lumpur, sebelum akhirnya sebuah borgol besi mengunci pergelangan tangannya dengan final.

Randi menatap Devan dengan hormat. "Pak Devan, pihak kepolisian sudah menunggu di luar gerbang makam. Kami akan menyerahkan orang ini beserta seluruh perangkat bukti komunikasinya untuk kasus terorisme domestik dan percobaan pembunuhan."

"Bawa dia pergi. Pastikan dia mendapatkan hukuman maksimal tanpa ada remisi hukum apa pun," perintah Devan, suaranya terdengar sangat dingin dan datar tanpa emosi.

Setelah Rendra digiring pergi oleh petugas sekuriti dan suasana makam kembali sunyi, Devan berbalik perlahan menghadap Anya. Seluruh aura dingin dan mematikan di tubuhnya seketika menguap, digantikan oleh ekspresi kelegaan yang teramat sangat.

Devan melangkah mendekat, meraih tubuh Anya yang masih sedikit gemetar karena syok ke dalam dekapannya yang sangat erat dan hangat. Hujan gerimis yang membasahi rambut mereka seolah membasuh sisa-sisa kotoran dari masa lalu yang selama ini merantai hidup Devan.

"Semuanya sudah benar-benar berakhir sekarang, Anya," bisik Devan tepat di telinga Anya, mengecup puncak kepala wanita itu dengan penuh takzim dan cinta yang mendalam. "Hantu masa lalu itu sudah lenyap. Tidak akan ada lagi teror, tidak akan ada lagi sandiwara. Mulai besok, kita akan membangun masa depan kita yang nyata."

Anya menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdegup dengan ritme yang tenang dan stabil, sebuah ritme yang memberikan rasa aman mutlak bagi jiwanya. Ia tersenyum kecil di dalam dekapan Devan, menatap nisan Clara untuk terakhir kalinya, memberikan penghormatan terakhir yang damai sebelum melangkah pergi meninggalkan kegelapan makam menuju cahaya masa depan mereka yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!