NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

6) Makan Bareng Musuh

Bebuyutan

Mereka naik ke lantai dua. Bola mata Langit berbinar melihat berbagai buku memenuhi ruangan yang sangat luas itu. Ia lekas berlari cepat ke bagian buku yang berjejer di rak.

Bumi mengedarkan pandang. Tidak seperti Langit, dia tampak tidak minat. Tapi langkahnya menyusul gadis bertas pink yang sibuk mengambil novel dan membacanya bagian belakangnya. Entahlah Bumi tidak mengerti.

Cowok itu hanya berdiri dan bersandar ke rak belakangnya. Dua tangannya diselipkan ke kantong celana. Matanya menatap lurus gadis dihadapannya.

Ia memperhatikan dalam diam ekspresi yang Langit tunjukkan saat membaca tulisan bagian belakang itu. Memberi gelengan pelan, lantas Langit menaruh kembali buku yang dia pegang. Mengambil buku lain dan membaca lagi.

"Kenapa suka baca novel?"

"Diturunin nyokap. Lo tahu? Di rumah ada rak buku segede gaban. Ada tempat khusus. Saking nyokap gue suka banget. Mana papa juga rajin kasih mama hadiah. Makin banyak deh."

"Kenapa gak lo baca itu aja?"

"Udah selesai. Lagian kebanyakan buku lama. Gue kan mau yang terbaru."

"Memang ada berapa?"

Langit diam sesaat. Ia menatap jarinya, menghitung. "30, 40 apa 50 novel ya? Itu pun di kasih gitu aja ke orang."

"Lo baca buku sebanyak itu?" Bumi sangat takjub.

"Heum."

"Pantes nilai lo anjlok." Bumi mencibir, mendapat tatapan maut dari Langit.

"Bumi. Kalau lo cuman ngikutin gue doang mending lo balik deh sana." Ia mengubah posisi tubuhnya berbalik sepenuhnya pada Bumi. Ia mendekat satu langkah

"Gak. Gue di sini."

"Ngapain sih?"

"Baca buku. Gue kepo." Bumi menarik asal salah satu novel yang terbuka, bebas dibaca.

Cowok itu masih bersandar nyaman.

Langit mengernyit.

"Bum?"

"Ya?"

Bumi masih sok fokus ke bacaannya. Dia membaca, tapi wajahnya tampak bosan.

Langit menarik novel di tangan Bumi hingga pria itu mendongak. Tatapan gadis itu tampak serius.

"Hm?" Bumi menelan salivanya saat Langit sedikit mencondongkan wajahnya. Apa Langit tidak sadar sikapnya membuat Bumi jadi salah tingkah? Dia sampai menahan nafas.

Apalagi dengan jarak yang dikatakan dekat itu, ia bisa melihat jelas wajah cantik Langit. Mata yang jernih, hidung mancung, bibir yang ranum.

"A-apa?"

"Lo gak suka gue kan?"

Puk!

Bumi memberikan pukulan lembut di puncak kepala Langit hingga gadis itu kembali mundur. Bibirnya mengerucut kesal.

"Suka lo? Gue masih waras."

"Ye gue kirain. Abis lo ngikutin gue ke sini. Curiga. Secara gue yang cantik ini banyak naksir." Tangan Langit mengipas angkuh di depan wajah. "Emang rada susah kalau cantik gini."

"Punya musuh kok sok cakep." Bumi mendengus.

"Ngaku aja. Lo naksir gue kan?"

"Sampai kucing berubah jadi harimau gue gak bakal suka lo."

"Cih sombong. Nelen omongan sendiri gue ketawain."

"Oh ya?" Bumi maju, Langit sontak mundur hingga punggungnya menabrak rak novel. Kornea mata Bumi terus menatap matanya. Gantian Langit yang jadi tidak berkutik.

"Gimana kalau lo yang suka gue, Qanita Langit Zoe?" Suara itu terdengar berat. Sebelah alis Bumi naik. Tangan cowok itu kemudian naik. Langit membeku.

"Lo-"

"Hm?" Bumi menaruh novel yang dia pegang di rak belakang Langit. Cowok itu kemudian kembali mundur dan bersandar seperti tadi.

Langit menghela nafas lega. Dia kira Bumi mau ngapain. "Never. Tipe gue Kak Biru," ucapnya berbalik badan dan melangkah ke rak lain.

Bumi masih di posisinya.

Langit menyentuh perasaannya yang sedikit aneh.

***

Langit baru menyadari ada hikmahnya juga Bumi ngikutin dirinya. Dia jadi bisa bertanya. Biasanya laki-laki suka dikasih hadiah apa. Cukup membantu Langit yang sejak semalam bingung mau kasih apa.

Dia membalikkan tubuhnya tiba-tiba.

Bumi yang berjalan di belakang Langit mendadak berhenti karena gerakan tiba-tiba Langit. Kalau tidak dia sudah menabrak Langit.

"Lo kalau berhenti kabarin," decaknya.

Langit memberikan cengiran. "Bum.

Cowok biasanya suka dikasih apa?"

"Buat si Rubi itu?"

"Kak Albiru," ucapnya meluruskan

"Ya. Itu maksud gue."

"Jadi apa?"

"Kasih apa aja. Gak perlu mahal."

"Gitu ya?"

"Hem."

"Bagusnya apa?"

"Mobil-mobilan sabi tuh."

Langit sontak memukul lengan Ghabumi dengan paper bang novel dari Gramedia. "Seriusan kenapa sih?"

"Itu gue serius." Bumi berseru jengkel seraya mengusap lengannya.

"Kak Albiru itu udah gede. Dia Dokter. Ya kali aja gue kasih mainan."

"Lah lo suka om-om?"

"Astaghfirullah Bumi. Kak Albiru baru 26 tahun. Sembarangan lo bilang dia Om-om."

"Ooh."

"Jadi apa?"

"Uang lo berapa?"

"Budget 100.000?"

"Kemeja aja."

"Kemeja?"

"Ya."

Langit mengetuk dagunya berpikir. Ia kemudian menggeleng. "Gak deh, gue beli peci aja, tadinya mau itu," ucapnya kemudian.

"Kalau gitu kenapa tanya gue Maimunah?" Bumi menghela nafas. "Gak habis fikri gue."

"Kan gue perlu pilihan." Langit terkekeh. Ia kembali melangkah diikuti Bumi, kali ini bersisian.

"Laper gak?"

"Enggak."

"Temenin gue makan dulu. Gue traktir."

"Gue gak laper."

"Bodo amat." Bumi merampas paper bag yang dipegang Langit. Mau tidak mau gadis itu mengejar.

"Gue gak mau Bumii!"

"Gue belum makan dari pagi." Kalimat itu membuat Langit sontak melirik jam di tangannya. Pukul 3 sore. Dia tidak lagi memberontak.

"Kalau lagi sehat, jangan cari sakit,"

omelnya. "Mau makan di mana?"

Bumi tersenyum. "Gak jauh dari sini ada Kafe. Kita mesti jalan 10 meter dulu. Gimana?"

"Oke. Tapi abis itu bantu pilih peci buat Kak Biru."

"Deal." Mereka kemudian keluar dari Gramedia, Karena kafenya di sebrang. Keduanya memutuskan melintas dahulu.

Bumi berdiri di sisinya, dia yang memastikan mereka aman saat melintas. Satu tangan kanan bumi terulur memberikan tanda pada kendaraan yang melaju agar memberi mereka lewat, sisi kiri melindungi Langit. Pria itu sama sekali tidak menyentuh Langit. Namun dari jauh Bumi seakan tengah memastikan Langit aman.

"Gue bisa nyebrang."

"Mobilnya lumayan padat."

"Ayo!"

Keduanya lalu berlari. Bumi baru menjauh

Setelah mereka sampai di trotoar sebrang.

"Bum motor lo di mana?"

"Di sana." Tangan Bumi terarah ke bagian belakang mereka. Langit mengikuti arah tunjuk Bumi. Di sana ada Rumah Sakit dan juga ruko berjejer.

"Di mana?"

"Rumah Sakit."

"Kenapa ditinggal? Lo abis lihat siapa?"

Keduanya berjalan bersisian. Langit memeluk tasnya sedang Bumi masih membawa paper bagnya.

"Kepo lo kayak Dora."

Dia mendengus. Nyesal sudah bertanya. Pada akhirnya Langit memilih diam saja.

"Jadi lo suka sama Doker?" Bumi melirik Langit yang diam. Ia kembali membuka obrolan karena jadi canggung jika keduanya diam saja.

"Iyap." Anggukan disertai senyum bahagia itu tampak kala sedang membahas Albiru.

"Emang pengen yang Dokter gitu?

"Enggak juga. Kak Biru itu tetangga gue. Dia guanteng banget banget tahu." Langit

Menungkup pipinya dengan wajah memerah. "Kak Biru itu juga dingin. Tapi itu sisi menariknya."

"Alah paling gantengan gue di mana-mana," cibir Bumi menyimpan satu tangannya di kantong celana.

"Lo kalah saing Bumi. Harus sadar diri."

"Sekelas Dokter gitu bakal mikir dua kali kalo mau sama lo Langit, ratu jahil."

Kepalanya menoleh cepat. "Kok lo gitu sih ngomongnya?"

"Lo itu jahil. Cocoknya sama yang sepadan. Kalau sama Dokter itu entar dia ilfil. Nilai lo juga anjlok."

"Bum kalau ngomong jangan bikin gue jadi minder dong." Langit bete. Kalimat Bumi membuatnya tersentak. Iya ada benarnya sih. Selama ini mana ada Langit pikirin hal itu.

Yang dia pikirkan. Suka Biru. Itu aja.

"Lo gak pernah tahu mungkin dia udah tunangan. Ada punya cewek yang mau dilamar."

"Gak asik lo Bum. Males ah. Gue lagi happy juga."

Bumi mengedikkan bahunya. "Gue cuman bantu buka pikiran lo aja."

"Ya kan jodoh gak ada yang tahu."

"Iya makanya itu. Kalau gak jodoh?"

Langit bungkam. Ia lalu menghela nafas.

Hal itu menjadi perhatian Bumi. Bagaimana jika Albiru lagi punya wanita yang dia perjuangkan? Lalu nasib dia?

Sepanjang jalan ke depan Kafe. Dia jadi overthinking. Membayangkan sikap Biru yang ketus dan dingin. Mana terang-terangan bilang gak mau sama dia.

Haish! Bumi memang benar-benar merusak moodnya.

"Dasar nyeselin lo!" Ia merebut paper bagnya lalu masuk duluan ke dalam Kafe. Dua alis Bumi naik. Ia ikut masuk kemudian.

Menyusul.

Langit mengambil duduk dekat jendela. Bumi bergabung usai memesan dahulu. Ia sekalian pesankan untuk Langit. Gadis itu sedang menatapnya seraya menjulurkan lidah.

Persis anak kecil kan? Makanya Bumi suka panggil Bocil.

"Gue dipesenin apa?"

"Nasi gak pakai apa-apa." Bumi mengambil duduk tepat depan Langit. "Minumnya air putih."

"Lo gak niat ya traktirnya?"

Anggukan Bumi kian membuat Langit kesal. "Sayang uang kalau buat lo. Musuh gak boleh dibaik-baikan."

"Perhitungan banget sama gue."

"Harus."

"Hih!" Langit menyandarkan punggungnya malas ke sandaran kursi. Ia melipat tangannya dan membuang wajah ke luar jendela.

Bumi tersenyum kecil. "Besok gue sekolah."

"Gak nanya."

"Bilang aja. Sekalian infoin hari tenang lo cuman tadi di sekolah aja."

"Hari gue tanpa lo damai."

"Hei gue tanpa ganggu lo gak damai."

Bumi membalikkan. Ia terbahak saat Langit memejamkan mata dengan helaan nafas berat.

"Pesanannya dua chicken katsu, taro dan jus jeruk." Laki-laki berumur dua pulu

Tahunan datang beberapa saat kemudian menyajikan pesanan keduanya.

Langit yang tadi kesal langsung duduk tegak dengan senang. "Gue kira tadi serius." Ia menarik piring terdekat. "Gue taro apa jus jeruk?"

"Taro. Lo kan suka Taro. Nih." Bumi menyerahkan sendok dan garpu yang sudah dia ambilkan. Langit menerimanya.

"Thanks, gak nyangka punya musuh baik banget."

"Musuh limited edition nih."

Langit tergelak. Keduanya menimati makan sore itu. Tidak ada keheningan saat mereka makan. Ada obrolan yang terus berisi. Sebentar bicara santai, setelah itu keduanya ribut lagi.

Pengunjung kafe sampai menjadikan mereka tontonan. Mereka berdebat masalah sepele. Yaitu masalah minuman kesukaan Pak Ego.

"Pokoknya jus jeruk."

"Gak Pak Ego suka kopi."

"Jus jeruk Bumi."

"Kopi Langit."

"Gue lebih sering ya dihukum. Gue tahu banget Pak Ego suka jus jeruk."

"Gak. Pak Ego suka kopi. Di ruangannya sering minum kopi. Jus jeruk sekali-kali."

"Gak. Lo salah. Pak Ego pokoknya suka jus jeruk."

"Kopi."

"Jus jeruk."

"Pokoknya kopi."

"Jus jeruk."

Keduanya saling menatap tajam tidak mau mengalah. Bukannya menghabiskan makanan malah mencengkram sendok di atas meja. Lagipula perdebatan mereka sangat tidak penting.

"Lo ngalah dong Bum."

"Gak. Lo yang ngalah. Lo salah."

"Lo yang salah. Gue lebih sering kena hukum. Jadi gue yang benar."

"Kita tanya Pak Ego besok," tantang Bumi.

"Oke siapa takut."

"Kalau salah bawain gue bekal besok.

Deal?"

"Oke kalau lo yang salah. Buat tugas gue seminggu."

"Lah kok berat sih?"

"Ih terserah gue dong."

"Gue juga nambah. Kalau lo kalah. Kasih gue bakal seminggu."

"Kok lo ngikut sih?" protes Langit.

"Biar adil. Kenapa? Lo takut kalah?"

"Enggak ya. Gue gak kalah. Oke setuju."

Bumi tersenyum puas. Mereka kembali menikmati makanan. "Kita datangin Pak Ego besok."

"Oke. Lo jangan telat."

"Paling lo yang telat."

"Besok gue gak bakal telat ya," ucap Langit yakin.

"Gue juga gak bakal."

"Besok gue datang duluan. Lihat aja."

Bumi menarik satu sudut bibirnya. "Gak yakin, lo pasti datang bel bunyi."

"Gak. Gue buktiin."

"Oke!" Mereka terus berdebat. Di tengah pembicaraan itu netra Langit tidak sengaja melihat ke arah pintu masuk Kafe. Di mana pria berpakaian jas dokter baru masuk bersama wanita dengan jas yang sama.

Gadis itu sampai menutup bibirnya yang tadi akan membalas Bumi. Di sana Albiru. Dokter muda itu menarik kursi tidak jauh darinya dan menghadap ke arah Langit. Sedang bersama Biru ada dokter perempuan cantik yang tampak anggun. Duduk dihadapan Biru.

Siapanya Biru?

"Lo gak pernah tahu mungkin dia udah tunangan. Atau punya cewek yang mau dilamar."

Kalimat Bumi tadi seketika terngiang.

Apa yang Bumi bilang benar? Biru punya wanita yang disukainya. Seorang dokter. Jauh beda dengannya yang masih SMA. Nakal dan nilai rendah lagi. Keunggulannya ya cuman cantik aja. Tapi wanita yang bersama Biru itu tidak hanya dokter, dia anggun juga.

Langit menelan rasa kecewanya. Melihat Biru sama wanita lain, dia jadi sesak dan

Cemburu.

"Langit!"

Lamgit tersentak akan panggilan Bumi yang sedikit keras. Ia berdecak melihat sang pelaku.

"Malah bengong. Lihat apa?" Bumi menoleh. Hingga ia dapati pria berjas dokter tengah melihat ke arah mereka.

Langit saat Albiru tiba-tiba melihat ke arahnya dan tatapan mereka bersitatap. Ia tersenyum tipis dan langsung menatap Bumi lagi.

"Lo bilang apa tadi?"

"Dia yang namanya Biru?" tanya Bumi menyadari raut Langit yang berubah drastis ketimbang tadi.

"Lo jadi nemenin gue kan?" Langit alihkan obrolan.

"Jadi cari hadiahnya emang?"

Langit mendengus. Ia melanjutkan makanannya yang terasa hambar.

"Iya gue temenin," ujar Bumi kemudian.

"Tapi kayaknya gak jadi deh. Mama gue minta pulang cepat." Langit menengok layar

Ponselnya.

Bumi menoleh lagi ke belakang seaat.

Tatapan dokter yang disebut Langit bernama Biru itu masih menatap ke arah meja mereka.

"Mau gue anterin?" tawar Bumi kembali hadap depan.

"Gak usah. Gue naik angkot."

"Oke gue temenin sampai halte."

"Hm," angguk Langit menengok Biru lagi.

Dokter tampan itu sedang berbicara dengan pacarnya atau tunangannya?

Langit mengerucutkan bibirnya. Ia jadi tidak bersemangat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!