11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keheningan
Hening.
Hanya suara napas gadis itu yang tersisa — kasar, tercekat, dan berat, persis seperti orang yang baru saja berlari ribuan kilometer tanpa henti. Angin yang tadi menggila dan mematikan kini hanya berhembus pelan menyapu dedaunan, seolah ikut menahan napas di tengah kesunyian yang menyayat hati ini.
Yuse tidak segera menjawab.
Pedangnya masih diturunkan ke bawah, jauh dari posisi menyerang. Gagang kayu itu kini basah oleh keringat dingin dan noda darah tipis dari goresan luka di tangannya. Kata-kata yang baru saja diucapkan gadis itu terasa jauh lebih tajam dan menyakitkan dibandingkan ribuan bilah angin yang tadi menggores tubuhnya.
“Apakah desa seperti itu masih berhak untuk hidup?!”
Pertanyaan itu menusuk tepat ke bagian terdalam dan paling sakit di benak Yuse.
Desa Angin. Tempat kelahiran Bibi Liana. Tempat yang selalu dihindari oleh wanita itu, tempat yang selalu membuatnya terbangun di tengah malam dengan wajah penuh keringat dingin, tempat yang tidak pernah mau ia ceritakan meski sudah berkali-kali ditanya.
“Aku tidak tahu,” jawab Yuse akhirnya. Suaranya rendah, namun terdengar jelas dan tegas menembus keheningan.
Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya, matanya membelalak kaget. Ia kira pemuda di depannya ini akan langsung membela warga desa, atau menyerangnya balik dengan omongan kosong soal keadilan dan hukum. Tapi jawaban itu… sama sekali tidak ia duga.
“Aku benar-benar tidak tahu apakah desa itu pantas hidup atau tidak,” ulang Yuse pelan namun mantap.
“Tapi aku tahu satu hal yang pasti. Kalau aku membunuhmu sekarang, atau kau membunuhku di sini, maka kebenaran yang sebenarnya akan terkubur selamanya. Dan orang-orang yang mati menderita di sini… mereka akan mati dua kali. Sekali karena wabah penyakit, dan sekali lagi karena dilupakan begitu saja oleh dunia.”
Gadis itu terdiam kaku. Nyala amarah yang menyala merah di matanya perlahan meredup, tergantikan oleh rasa lelah yang mendalam — rasa lelah yang sudah bertahun-tahun ia pendam seorang diri.
“Kau bilang kau dikhianati dan disakiti sampai sebegitu rupa,” lanjut Yuse perlahan. Ia melangkah maju satu langkah kecil, sangat pelan dan tidak mengancam sama sekali, seolah takut membuatnya kaget lagi. “Kalau begitu, biarkan aku membuktikan padamu bahwa tidak semua manusia di dunia ini sama jahatnya dengan mereka. Namaku Yuse. Aku datang ke sini sama sekali bukan untuk menangkapmu atau mengadili perbuatanmu. Aku datang karena Bibiku berasal dari desa ini. Dan aku ingin tahu… kenapa selama belasan tahun ini ia tidak pernah bisa tidur nyenyak satu malam pun.”
Satu kata itu — Bibi — membuat seluruh tubuh gadis itu menegang seketika.
“Bibi…?” gumamnya pelan, matanya membelalak penuh tanda tanya. “Siapa Bibimu…?”
“Liana.”
Seketika itu juga, pertahanan terakhir di hati gadis itu runtuh total.
Angin yang masih berhembus pelan di sekelilingnya mendadak padam sama sekali. Suasana menjadi sunyi senyap, seolah seluruh alam pun ikut terkejut mendengar nama itu disebut kembali setelah sekian lama.
“Liana…” bisiknya lirih, suaranya gemetar seolah sedang menyebut nama seseorang yang sudah lama mati dan terkubur. “Dia… dia pergi meninggalkan desa ini tepat sebelum semua bencana itu mulai terjadi. Dia bilang dia akan pergi sebentar saja dan pasti akan kembali… tapi dia tidak pernah datang…”
Suaranya pecah total. Kekuatan yang selama ini ia kumpulkan untuk melawan, untuk membenci, dan untuk bertahan hidup seorang diri, seolah tersedot habis dalam sekejap. Lututnya lemas tak bertulang, dan ia jatuh terduduk di tanah yang lembap dan penuh semak.
Yuse berjongkok beberapa langkah di depannya — tidak terlalu dekat agar tidak membuatnya tertekan, tapi cukup dekat agar ia tahu tidak sendirian lagi.
“Aku tahu aku tidak bisa menyembuhkan luka yang sedalam itu dalam waktu satu malam,” ujar Yuse lembut. “Aku juga tidak akan bilang ‘lupakan saja semua itu’ karena aku tahu itu mustahil. Tapi… kalau kau mau, ceritakanlah semuanya padaku. Dari awal sampai akhir. Aku akan mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan sampai selesai.”
Gadis itu menatapnya lama, menelusuri setiap inci wajah Yuse, mencari-cari kebohongan atau niat jahat yang tersembunyi di balik sorot matanya. Tapi tidak ada. Sama sekali tidak ada.
Yang ada hanya ketulusan yang bersih… persis seperti yang dulu pernah ia lihat di mata Liana bertahun-tahun yang lalu.
“Tanganku…” katanya pelan, perlahan mengangkat tangan kirinya yang gemetar. Di punggung tangannya terlihat jelas tanda hitam berbentuk ukiran cabang kayu yang retak — Tanda Kumaliti.
“Mereka bilang ini tanda kutukan pembawa bencana. Padahal… ini cuma bekas dari obat yang dulu aku buat untuk menyembuhkan mereka. Obat yang aku racik sampai berbulan-bulan, tapi ternyata gagal total…”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata yang sudah kering kini kembali mengalir deras membasahi pipinya.
“Dan sekarang… aku sudah tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Akukah yang sudah gila karena terlalu lama memendam rasa sakit… ataukah dunia inikah yang sudah gila sejak awal?”
Yuse tidak menjawab dengan kata-kata besar atau nasihat yang manis.
Ia hanya melepaskan tas perbekalannya dari pundak, lalu mengeluarkan kain perban bersih dan sebotol air minum yang masih tersisa. Ia meletakkannya perlahan di tanah tepat di depan gadis itu.
“Kalau kau bingung dan lelah sekali,” katanya pelan namun tegas. “Mulailah dari hal yang paling kecil dulu. Obati lukamu, bersihkan darah di wajahmu, dan istirahatlah sejenak. Setelah itu kita akan cari tahu siapa orang asing yang memulai semua kejahatan ini. Kalau dia masih hidup sampai sekarang… dialah yang harus bertanggung jawab atas segalanya.”
Tepat saat itu, di kejauhan di balik selimut kabut tebal, sesuatu bergerak perlahan.
Sebuah bayangan gelap berdiri diam di atas reruntuhan menara desa yang paling tinggi. Jaraknya terlalu jauh untuk dikenali wajahnya, tapi angin yang berhembus dari arah itu membawa bau yang sangat tajam dan menyengat — bau logam tua yang berkarat dicampur dengan bau dupa busuk. Bau yang sama persis dengan yang pernah disebutkan oleh Rokan sebelumnya.
Orang asing itu… orang yang memulai semua kebencian dan kehancuran itu… ternyata masih berada di sini. Mengawasi mereka diam-diam.