NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:351
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tiga hari berlalu. Kota Baru bersiap untuk acara paling megah dan paling bergengsi sepanjang tahun: Malam Amal Wijaya-Andalan.

Acara ini bukan sekadar pesta makan malam biasa. Ini adalah panggung kekuasaan. Di sini, seluruh elit kota berkumpul: Gubernur, Walikota, Jaksa Agung daerah, Kepala Kepolisian, pengusaha terkaya, selebritas, dan duta besar negara sahabat. Semua orang yang punya kuasa, punya uang, atau punya nama, hadir di sini.

Dan tentu saja, tuan rumah acara ini adalah Andri Andalan—dan di belakangnya, diam-diam mengatur segalanya, adalah Sari Dewi.

Malam itu, gedung pertemuan paling mewah di kota itu berkilauan dengan ribuan lampu kristal, bunga-bunga langka, dan karpet merah sepanjang ratusan meter. Musik orkestra mengalun lembut, pelayan-pelayan berpakaian rapi silih berganti menyajikan makanan dan minuman termahal di dunia. Suara tawa, obrolan ringan, dan gelas yang berdenting memenuhi udara.

Di sudut ruangan, berdiri dua sosok muda yang langsung menjadi pusat perhatian semua mata.

Sari Dewi dan Kirana Adhisti.

Malam ini, Sari tidak lagi memakai seragam sekolah atau baju santai. Dia mengenakan gaun pesta berwarna putih bersih, sederhana namun mempesona, dengan potongan yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai tumbuh menjadi wanita muda. Rambut ikalnya ditata rapi jatuh di bahu, dihiasi satu jepit rambut berlian kecil yang berkilauan setiap kali dia bergerak. Dia tidak memakai riasan berlebihan, cukup sedikit lipstik merah muda dan bedak tipis, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun dari langit—murni, suci, dan tak tersentuh.

Di sebelahnya, Kirana mengenakan gaun biru muda yang elegan, penampilan yang dirancang untuk terlihat cantik namun tidak menyaingi Sari. Dia berdiri tegak, senyum sopan terukir di bibirnya, matanya mengamati segalanya dengan waspada. Kamera tersembunyi di dalam kalungnya merekam setiap wajah, setiap percakapan, setiap interaksi.

"Indah sekali, bukan?" bisik Sari lembut, matanya berkeliling menatap kerumunan orang-orang penting itu dengan pandangan yang penuh rasa memiliki, seolah mereka semua adalah barang koleksi pribadinya. "Semua orang besar, semua orang hebat, semua orang yang punya kuasa di kota ini... ada di sini, Kirana. Semuanya datang ke rumahku. Semuanya datang memberi hormat pada Kakekku."

Kirana tersenyum tipis, mengangguk. "Kakekmu sangat dihormati, Sari. Semua orang memandangnya dengan kagum."

Sari tertawa kecil, suara renyahnya terdengar di tengah keramaian.

"Kagum? Mungkin. Tapi lebih tepatnya... mereka takut, Sayangku. Mereka tidak datang karena hormat. Mereka datang karena mereka tahu: Kalau mereka tidak ada di sini, kalau mereka tidak tersenyum dan bersalaman... besok pagi, bisnis mereka bangkrut, izin usaha mereka dicabut, atau anak mereka ditangkap polisi karena alasan konyol. Dunia dewasa itu sederhana, Kirana. Hormat itu dibeli. Kesetiaan itu dibayar. Dan kekuasaan... kekuasaan itu diambil, bukan diberikan."

Kirana menahan napas. Kata-kata itu diucapkan dengan nada santai, bahkan sedikit ceria, seolah sedang membicarakan cuaca. Tapi maknanya tajam, gelap, dan mengerikan. Ini adalah sisi lain Sari. Sisi yang tidak ditunjukkannya pada guru atau teman sekolah.

Sebelum Kirana sempat menjawab, kerumunan terbuka. Andri Andalan berjalan mendekat, didampingi dua pengawal berbadan besar—Raga Wijaya dan seorang pria lain yang wajahnya tertutup bayangan.

Malam ini, Andri terlihat berbeda. Dia tidak lagi bungkuk dan gemetar seperti di rumah. Dia mengenakan jas hitam sempurna, rambut putihnya disisir rapi, wajahnya keras, dingin, dan penuh wibawa. Tatapan matanya tajam, mengintimidasi, dan penuh kekuasaan. Dia kembali menjadi Raja Mafia yang sesungguhnya. Hanya ada satu pengecualian: Setiap kali matanya jatuh pada Sari, seluruh kekerasan di wajahnya langsung meleleh, digantikan oleh kelembutan dan cinta yang gila.

"Sayangku," sapa Andri rendah, tangannya yang besar dan kasar mengusap pipi cucunya dengan sangat hati-hati, seolah menyentuh kaca yang bisa pecah. "Kamu cantik sekali malam ini. Kamu bintang malam ini. Semua orang akan menatapmu. Semua orang akan tahu siapa pemilik kota ini."

Sari tersenyum manis, memegang lengan tuanya dengan akrab. "Terima kasih, Kakek. Kakek juga gagah sekali. Seperti pahlawan tua."

Andri tertawa rendah, lalu menoleh ke arah Kirana. Seketika itu juga, senyumnya hilang. Matanya menyipit, menatap tajam, penuh kecurigaan dan kebencian dingin. Dia tidak pernah menyukai gadis ini. Dia tidak pernah percaya siapa saja yang mendekati Sari.

"Kamu..." gumam Andri, suaranya berat dan mengancam. "Kamu masih di sini. Kamu masih dekat-dekat dia."

Sari langsung menyela cepat, nada suaranya sedikit naik, ada teguran halus.

"Kakek! Jangan begitu. Dia Kirana, temanku. Sahabatku. Aku sudah bilang kan? Dia baik. Dia aman. Kalau Kakek galak sama dia, aku marah lho."

Ancaman halus itu langsung bekerja. Wajah Andri langsung berubah panik, takut, dan menyesal. Dia buru-buru menunduk, mengangguk berkali-kali pada Kirana, memaksakan senyum yang kaku dan mengerikan.

"Maaf... maafkan Om, Nak. Om... Om sudah tua. Mata Om sudah buram. Om cuma... cuma ingin jaga cucu Om. Dia satu-satunya harta Om. Satu-satunya alasan Om hidup. Kalau ada apa-apa sama dia... Om hancurkan semuanya. Om bakar kota ini sampai rata tanah."

Kirana menelan ludah, mengangguk sopan. "Saya mengerti, Pak Andalan. Saya akan jaga dia. Saya janji."

Andri menatapnya lama, mencari kebohongan, lalu akhirnya berbalik saat seorang pejabat tinggi berjalan mendekat menyapa.

Sari menarik tangan Kirana, membawanya berjalan masuk lebih dalam ke kerumunan.

"Maaf ya kalau Kakek agak kasar," bisik Sari santai. "Dia cuma terlalu sayang sama aku. Dia tidak percaya sama orang lain. Dia pikir semua orang mau sakiti aku. Padahal... orang yang mau sakiti aku biasanya orang yang paling dekat, kan Kirana?"

Kirana merasakan es dingin merambat di tulang punggungnya. Dia tahu Sari sedang mengujinya lagi. Dia tahu Sari sedang bermain pisau di lehernya.

"Tentu saja tidak, Sari. Aku temanmu. Aku di sini untukmu," jawab Kirana tenang, mempertahankan topengnya.

Sari tersenyum puas, lalu menunjuk ke arah sekelompok orang yang berdiri di dekat panggung utama.

"Lihat ke sana. Lihat pria tua gemuk itu, yang pakai dasi merah, sedang tertawa keras sekali?"

Kirana melihat. Pria itu mengenakan jas mahal, perhiasan emas berton-ton, wajahnya merah padam karena minum anggur. Dia mengenali pria itu. Hadi Tanudjaya. Kepala keluarga Tanudjaya, pemilik pabrik-pabrik besar di Sektor 7, salah satu orang terkaya dan paling berpengaruh di kota ini. Keluarga yang kabarnya menolak bekerjasama dengan Wijaya-Andalan.

"Itu Pak Hadi Tanudjaya," kata Kirana pelan. "Pengusaha besar."

"Betul," Sari mengangguk, matanya menyala penuh minat jahat. "Dia orang paling kaya kedua di kota ini. Pabriknya menghasilkan uang miliaran setiap bulan. Dia bangga sekali. Dia sombong sekali. Dia bilang keluarganya sudah ada di sini sejak zaman penjajahan. Dia bilang dia tidak mau tunduk pada siapa pun. Dia bilang dia lebih kuat dari Wijaya-Andalan."

Sari tertawa kecil, geli sekali.

"Kamu lihat dia tertawa? Kamu lihat dia bicara keras-keras, membual soal kekayaannya, soal koneksinya di ibu kota, soal betapa kuatnya dia?"

"Iya. Dia terlihat sangat percaya diri," jawab Kirana.

Sari mendekatkan bibirnya ke telinga Kirana, suaranya berubah menjadi bisikan dingin, beracun, dan penuh kepastian.

"Lihat baik-baik, Kirana. Nikmati pemandangannya. Karena malam ini... malam ini juga... aku akan hancurkan dia. Aku akan ambil semua yang dia punya. Uangnya. Tanahnya. Pabriknya. Nama baiknya. Kehormatannya. Dan aku akan buat dia berlutut di kakiku, menangis, dan memohon ampun seolah dia anak kecil yang ketakutan."

Kirana menoleh cepat, menatap wajah Sari. Wajah gadis itu tetap manis, tetap cantik, tetap polos. Tapi matanya... matanya gelap, kosong, dan penuh kejahatan murni.

"Ini... ini pesta amal, Sari. Dia tamu Kakekmu. Kamu tidak bisa..."

Sari memotong cepat, jari telunjuknya mungil menempel di bibir Kirana, menyuruhnya diam.

"Sstt... Jangan berisik. Tonton saja. Ini pertunjukan spesial. Cuma buat kamu. Hadiah persahabatan."

Tepat saat itu, suara mikrofon berdering. Andri Andalan berdiri di panggung, memegang mikrofon, seluruh ruangan menjadi hening.

"Teman-teman, sahabat-sahabat, rekan-rekan sekalian," suara Andri berat dan berwibawa, menggema di seluruh ruangan. "Terima kasih telah datang malam ini. Seperti yang kita tahu, tujuan kita berkumpul adalah untuk beramal, untuk membantu anak-anak yatim, untuk membangun rumah sakit, untuk memajukan kota kita tercinta."

Tepuk tangan meriah terdengar.

"Tapi..." nada Andri berubah, menjadi lebih tajam, lebih keras. "Ada satu hal yang harus kita sadari. Kota ini besar. Kota ini kaya. Tapi kekayaan ini, kenyamanan ini, keamanan ini... tidak datang begitu saja. Itu datang karena kita bersatu. Itu datang karena kita saling mendukung. Itu datang karena kita semua punya tujuan yang sama: Memajukan Kota Baru."

Andri menunjuk ke arah Hadi Tanudjaya yang berdiri di tengah ruangan, wajahnya mulai pucat.

"Namun, sayang sekali... masih ada di antara kita yang merasa dirinya lebih hebat. Masih ada yang merasa dirinya di atas aturan. Masih ada yang merasa tidak perlu bersatu. Masih ada yang mencoba mencuri, mencoba merusak, mencoba menghancurkan apa yang sudah kita bangun bersama."

Suasana ruangan berubah tegang. Semua mata tertuju pada Hadi Tanudjaya. Hadi berdiri kaku, keringat dingin mulai turun di pelipisnya. Dia mencoba tersenyum, mencoba tertawa gugup.

"Pak Andalan... apa maksud Bapak? Saya tidak mengerti..." seru Hadi berusaha santai, tapi suaranya bergetar.

Andri tersenyum miring, senyum serigala tua. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat.

Di layar besar di belakang panggung, tiba-tiba muncul gambar. Gambar rekaman CCTV yang jelas. Gambar yang menunjukkan Hadi Tanudjaya sedang bertemu dengan seorang pria asing di pelabuhan. Mereka bertukar tas besar. Uang. Banyak uang.

Lalu gambar berikutnya: Dokumen resmi, tanda tangan Hadi, surat perjanjian kerjasama rahasia dengan sindikat luar negeri untuk menyelundupkan barang ilegal melewati wilayah pelabuhan—wilayah yang seharusnya di bawah kendali eksklusif Wijaya-Andalan.

Lalu gambar berikutnya: Rekaman suara. Suara Hadi terdengar jelas, kasar, dan penuh penghinaan.

"Andri Andalan? Orang tua pikun itu? Dia sudah mati berjalan. Cuma masalah waktu sebelum aku ambil alih semuanya. Dia pikir dia raja? Aku punya koneksi di ibu kota. Aku punya tentara bayaran. Aku punya uang sepuluh kali lipat dia. Aku akan hancurkan dia dan cucu setan kecilnya itu sampai debu."

Suara itu bergema keras di seluruh ruangan. Hening maut.

Wajah Hadi Tanudjaya berubah menjadi pucat pasi. Kakinya lemas. Dia gemetar hebat. Dia tahu dia kalah. Dia tahu dia hancur. Dia tahu dia masuk jebakan. Semua bukti ini... pasti disiapkan, dipalsukan, atau dicuri oleh Wijaya-Andalan. Tapi siapa yang akan percaya pembelaannya? Semua orang di sini sudah tahu: Siapa yang dilawan Andri Andalan... dia musuh semua orang di ruangan ini.

Andri menurunkan mikrofonnya, berjalan turun dari panggung, berjalan pelan mendekati Hadi. Semua orang mundur memberi jalan, menjauhkan diri dari Hadi seolah dia membawa wabah penyakit.

Hadi jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin. Dia tidak peduli lagi pada harga dirinya. Dia tidak peduli lagi pada gengsinya. Dia cuma mau hidup.

"Maaf... maafkan saya, Pak Andalan!!" seru Hadi terisak, menangis, bersujud di kaki Andri. "Saya salah!! Saya bodoh!! Saya gila!! Ampuni saya!! Saya serahkan semuanya!! Pabrik saya, tanah saya, saham saya... semuanya milik Bapak!! Saya minta hidup saja!! Tolong!!"

Andri berdiri diam, menatap pria besar yang sekarang merangkak seperti cacing di kakinya itu dengan tatapan jijik dan dingin. Dia tidak bicara. Dia tidak menoleh. Dia hanya menatap ke satu arah: Ke arah Sari Dewi.

Dia menunggu perintah. Dia menunggu keputusan. Dia cuma alat. Dan semua orang di ruangan itu—termasuk Kirana—akhirnya sadar melihat pandangan itu.

Andri Andalan tidak memegang kendali.

Kendali ada di tangan gadis 14 tahun yang berdiri tenang di sudut ruangan itu, tersenyum manis sambil memegang gelas jus jeruk.

Semua mata beralih ke Sari. Ratusan pasang mata. Pejabat, polisi, pengusaha, selebritas... semuanya menatap gadis kecil itu dengan campuran rasa takut, kagum, dan kengerian.

Sari Dewi berjalan pelan mendekat, melewati kerumunan yang memberi jalan hormat. Dia berjalan mendekati Hadi Tanudjaya yang masih bersujud menangis. Dia berhenti tepat di depan wajah pria tua itu.

Dia berjongkok, menatap mata Hadi yang penuh air mata dan keringat. Suaranya lembut, sangat lembut, sangat manis, sampai-sampai membuat bulu kuduk semua orang merinding.

"Paman Hadi... kenapa menangis? Kan Paman bilang Paman lebih kuat dari kami? Kan Paman bilang cucu setan kecil ini tidak berbahaya?"

Hadi menggeleng keras, kepalanya membentur lantai. "Maaf!! Maafkan saya, Nona Sari!! Saya salah bicara!! Saya binatang!! Saya sampah!! Ampuni saya!!"

Sari mengusap rambut tua Hadi dengan gerakan sayang, persis seperti mengusap anjing peliharaan yang nakal.

"Sstt... jangan menangis. Aku tidak marah kok. Aku mengerti. Manusia memang serakah. Manusia memang sombong. Kalau tidak, aku tidak akan punya alasan untuk hidup, kan? Kalau semua orang baik, siapa yang akan aku atur? Siapa yang akan aku ajari pelajaran?"

Sari berdiri kembali, menatap Andri, lalu menatap seluruh ruangan. Suaranya sedikit ditinggikan, terdengar jelas oleh semua orang.

"Paman Hadi sudah minta maaf. Dia sudah sadar dia salah. Dia sudah menyerahkan semua asetnya untuk yayasan amal keluarga kita. Dia sudah berjanji akan bekerja sama sepenuhnya mulai sekarang. Jadi..."

Sari berhenti sejenak, menatap wajah Hadi yang penuh harap.

"...Aku maafkan dia."

Helaan napas lega terdengar dari banyak orang. Hadi tersenyum lebar, menangis bahagia, bersujud berulang kali. "Terima kasih!! Terima kasih Nona!! Kamu malaikat!! Kamu baik sekali!!"

"TAPI..." potong Sari tajam, senyumnya hilang seketika, digantikan oleh tatapan dingin yang menusuk tulang. "Ada satu syarat. Kita tidak mau ada pengkhianat di antara kita. Kita tidak mau ada orang yang bermuka dua. Jadi, sebagai tanda kesetiaan... sebagai tanda bahwa Paman Hadi sudah bersih dari dosa... Paman harus memberi kami sesuatu."

Sari menunjuk ke arah pintu masuk.

Pintu terbuka. Dua orang anak buah Riko masuk, menyeret seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun, tampan, berpakaian rapi tapi wajahnya penuh ketakutan dan memar. Itu adalah Dimas, cucu kesayangan Hadi Tanudjaya, pewaris tunggal kekayaannya.

Hadi menatap cucunya, matanya melotot ngeri. "Dimas!! Nak!! Apa yang kalian lakukan pada cucuku?! Jangan sentuh dia!!"

Sari berjalan mendekat ke pemuda itu. Dia mengangkat wajah Dimas yang gemetar ketakutan.

"Paman Hadi, kamu tahu kan aku suka main? Aku suka main tebak-tebakan? Nah, sekarang Paman harus pilih. Aset-asetmu bernilai ribuan miliar rupiah. Tapi... nyawa cucumu... berapa harganya menurutmu? Apakah dia bernilai sama dengan pabrikmu? Atau dia lebih murah?"

Sari mengeluarkan pisau lipat kecil yang indah, berkilauan di bawah lampu gantung. Dia membukanya perlahan.

"Kalau Paman benar-benar setia... kalau Paman benar-benar mau bergabung dengan kami... Paman harus buktikan. Paman harus potong satu jari tangan cucu kesayangan Paman sendiri. Di sini. Sekarang. Di depan semua orang. Bawa pisau ini. Potong. Dan aku akan anggap urusan kita selesai. Aku akan biarkan kalian hidup, aman, kaya, dan bahagia."

Hadi Tanudjaya terpaku. Wajahnya pucat, mulutnya terbuka tanpa suara. Dia menatap pisau itu. Dia menatap cucunya yang menangis memohon. Dia menatap Sari yang tersenyum polos dan penuh harap.

"Jangan..." rintih Hadi lemah. "Jangan suruh saya lakukan itu... Dia darah daging saya... Dia anak kesayangan saya..."

Sari mengangkat bahu, kembali menjadi gadis kecil yang kecewa dan manja.

"Yah... kalau begitu, berarti Paman masih sayang sama harga diri dan harga tanah Paman lebih dari sayang sama keluarga. Kalau begitu... aku salah duga. Aku pikir Paman orang pintar. Ternyata tidak."

Sari memberi isyarat kecil dengan jari ke arah pengawal.

"Kalau begitu, bawa Dimas pergi. Kita potong-potong dia, kita kirim potongan tubuhnya satu per satu ke rumah Paman. Lalu kita ambil paksa semua pabrik dan tanah itu. Lalu kita hancurkan seluruh keluarga Tanudjaya sampai tidak ada keturunan lagi. Semua atau tidak sama sekali. Pilihannya sederhana, kan?"

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Semua orang menahan napas. Mereka melihat wajah gadis kecil itu. Mereka mendengar kata-katanya. Dan mereka sadar satu hal mengerikan: Dia tidak bercanda. Dia benar-benar serius.

Hadi Tanudjaya jatuh duduk di lantai, tubuhnya berguncang hebat. Dia melihat kematian di depan matanya. Dia melihat kehancuran total. Dan dia tahu... Sari Dewi mampu melakukan semua ancaman itu. Dia sudah melihat buktinya malam ini.

Dia menatap cucunya. Dia menatap pisau itu. Dia menatap kekayaannya yang sudah hilang.

Akhirnya, dengan raungan kesakitan binatang yang terluka, Hadi merangkak maju, merampas pisau itu dari tangan Sari.

"BAIK!! BAIK!! SAYA LAKUKAN!! SAYA LAKUKAN!!" teriak Hadi histeris, matanya kosong, jiwanya hancur. "Lepaskan dia!! Saya potong!! Saya potong!!"

Dia menarik tangan cucunya yang berteriak ketakutan, meletakkannya di atas meja prasmanan. Dia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.

Dan di sudut ruangan, di antara kerumunan yang terpaku ngeri, Kirana Adhisti berdiri diam, kaku, darahnya membeku di pembuluh darah.

Dia melihat semuanya. Dia merekam semuanya. Dia mendengar semuanya.

Dia melihat betapa dinginnya Sari. Dia melihat betapa terencana semuanya. Dia melihat betapa mudahnya Sari memanipulasi nyawa manusia, harga diri, cinta keluarga, dan rasa takut. Dia melihat Sari tertawa dalam hati saat melihat pria tua itu hancur lebur.

Dan di detik pisau itu turun, di detik jeritan kesakitan Dimas menggema di ruangan mewah itu, di detik darah segar menetes di lantai marmer putih...

Kirana merasa dia akan muntah. Dia merasa dia akan pingsan. Dia merasa dia sedang berdiri di sisi Iblis yang sesungguhnya.

Sari Dewi berbalik perlahan, menatap tepat ke arah Kirana. Di wajahnya tidak ada sedikit pun rasa jijik, rasa bersalah, atau kaget. Dia tersenyum. Senyum yang sama persis dengan senyum saat dia bicara soal pelajaran sekolah tadi siang.

Dia berjalan pelan mendekati Kirana, melewati orang-orang yang sibuk membantu Hadi yang sekarang menangis dan berdarah di lantai.

Sari berhenti tepat di depan Kirana. Dia melihat wajah pucat, mata terbelalak, dan keringat dingin di dahi sahabat barunya itu.

Sari menunduk sedikit, berbisik sangat pelan, hanya bisa didengar Kirana seorang.

"Kamu lihat kan, Kirana? Kamu rekam kan? Kamu catat kan?"

Sari mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya yang bersih dan halus menyentuh dada Kirana, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang dan sakit.

"Nah... sekarang kamu tahu. Sekarang kamu mengerti. Ini bukan cerita dongeng, Sayang. Ini kenyataan. Dan ingat satu hal baik-baik..."

Sari mendekatkan wajahnya, matanya hitam pekat, tanpa dasar, menembus ke dalam jiwa Kirana.

"Orang yang baru saja memotong jari cucunya sendiri... orang yang baru saja hancur harga dirinya... orang yang baru saja menyerahkan segalanya... dia tidak benci aku. Dia tidak marah padaku. Dia tidak mau balas dendam. Dia malah akan berterima kasih padaku seumur hidup."

Sari tertawa kecil, penuh pemahaman gelap tentang sifat manusia.

"Karena aku memberinya pilihan. Karena aku membiarkan dia hidup. Karena aku cuma ambil sebagian, bukan semuanya. Manusia itu makhluk aneh, Kirana. Kalau kamu ambil sedikit saja, mereka benci kamu. Tapi kalau kamu hancurkan mereka sampai ke dasar, lalu kamu beri mereka sedikit sisa untuk bertahan hidup... mereka akan menyembahmu sebagai dewa penyelamat."

Sari mundur selangkah, kembali tersenyum ceria, seolah baru saja selesai bercerita tentang kucing lucu.

"Ayo, Sahabatku. Jangan tampang sedih begitu. Ini pesta amal lho. Kita harus senang. Uang hasil 'sumbangan' Pak Hadi tadi akan kita pakai buat bangun sekolah baru. Sekolah yang bagus. Sekolah seperti tempat kita belajar. Bukankah itu indah?"

Kirana tidak bisa bicara. Tenggorokannya kering. Lidahnya kaku. Dia menatap gadis di depannya dengan rasa ngeri yang mutlak.

Dia pikir dia datang ke sini untuk menangkap penjahat. Dia pikir dia datang ke sini untuk menumpas kejahatan. Dia pikir dia datang ke sini untuk melindungi warga kota.

Tapi malam ini, di ruangan penuh kemewahan dan darah ini, dia sadar satu hal yang mengerikan:

Sari Dewi bukan sekadar pemimpin geng. Dia bukan sekadar bos mafia. Dia adalah Penguasa Mutlak. Dia adalah Dewa Kecil yang memegang nyawa, harga diri, dan nasib ribuan manusia di ujung jarinya yang kecil dan halus.

Dan yang paling menakutkan... dia melakukannya dengan sangat cerdas, sangat sistematis, sangat terencana, dan sangat... benar secara logika yang terdistorsi.

Di luar gedung, malam semakin gelap. Angin kencang bertiup, membawa bau darah dan bau kekuasaan.

Di dalam gedung, Sari Dewi mengaitkan lengannya ke lengan Kirana, menariknya berjalan kembali ke tengah keramaian, tertawa renyah, menyapa para tamu yang menunduk hormat saat lewat.

"Besok kita ke rumah sakit ya, Kirana. Kita jenguk Pak Hadi dan Dimas. Bawakan bunga dan buah. Kita tanya kabar mereka. Kita kasih semangat. Kita bilang kita sayang mereka. Pasti mereka senang sekali kalau kita datang."

Kirana berjalan kaku di sampingnya, setiap langkah terasa berat seperti besi. Dia tahu dia harus lapor. Dia tahu dia harus kirim bukti ini. Dia tahu dia harus minta bantuan pasukan khusus.

Tapi di saat yang sama, dia merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Ketakutan bahwa... tidak ada yang bisa menghentikan gadis ini. Tidak ada hukum. Tidak ada senjata. Tidak ada tentara.

Karena Sari Dewi tidak hanya menguasai kota ini dengan uang atau senjata. Dia menguasainya dengan Kendali atas Jiwa Manusia.

Dan permainan yang seharusnya menjadi perburuan mata-mata... kini berubah menjadi Perang Melawan Iblis.

 

🩸🥀😱 ASTAGA... INI BARU NAMANYA PENGUASA!!

1. Puncak Kejahatan Psikologis:

- Sari tidak membunuh. Dia menghancurkan. Dia tidak ambil paksa. Dia memaksa mereka menyerahkan sendiri. Dia memotong jari bukan karena kejam semata, tapi karena simbol kekuasaan. Dia ingin semua orang tahu: Aku bisa suruh kamu sakiti darah dagingmu sendiri, dan kamu akan lakukan karena kamu lebih takut mati padaku daripada takut dosa.

- Kata-kata terakhirnya tentang manusia: "Kalau kamu hancurkan mereka, lalu beri sisa... mereka menyembahmu" itu adalah pemahaman tingkat dewa soal sifat manusia. Itu bukan pemikiran anak 14 tahun. Itu pemikiran tiran dunia.

2. Kirana Hampir Gila:

- Ini titik balik untuk Kirana. Selama ini dia berpikir Sari cuma korban lingkungan, cuma anak yang dimanfaatkan kakeknya. Malam ini dia lihat kebenaran telanjang: Sari adalah otak utamanya. Andri cuma alat. Sari yang atur semuanya.

- Keyakinan Kirana pada keadilan mulai goyah. Dia mulai berpikir: Apakah mungkin menangkap dia? Apakah ada hukum yang bisa menjerat dia? Dia punya semua orang di sakunya.

3. Pertunjukan untuk Kirana:

- Sari sengaja melakukan ini di depan Kirana. Dia sengaja biarkan Kirana rekam. Dia sengaja pamer kekuasaannya. Tujuannya bukan cuma menakut-nakuti. Tapi merusak mental. Dia ingin Kirana sadar siapa yang paling kuat. Dia ingin Kirana menyerah sendiri. Dia ingin Kirana sadar bahwa melawan Sari itu sia-sia.

4. Apa Selanjutnya?

- Sari akan mulai melibatkan Kirana lebih dalam lagi. Dia akan suruh Kirana ikut urus bisnis. Dia akan suruh Kirana bawa pesan. Dia akan suruh Kirana ambil keputusan kecil. Dia ingin Kirana ikut berdosa. Karena kalau Kirana sudah ikut berbuat dosa... dia tidak bisa lagi jadi polisi. Dia akan jadi bagian dari sistem.

- David Kusuma akan terkejut luar biasa saat melihat rekaman ini. Dia akan sadar dia tidak bisa pakai cara biasa. Dia harus ambil risiko besar.

Di Bab 28, kita akan melihat dampak psikologis pada Kirana, dan langkah berani Sari: Mengundang Kirana untuk menginap di Menara Wijaya. Di sana, di malam hari, di lorong-lorong gelap, Kirana akan mendengar suara-suara aneh, melihat pintu-pintu tertutup, dan menemukan rahasia paling gelap yang disembunyikan Sari... tentang ayahnya, Arya Pratama.

Siap untuk masuk ke Penjara Emas? 🏢🔒👁️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!