"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udara sejuk pedesaan
Udara sejuk khas pedesaan langsung menyergap begitu pintu bus terbuka. Satu per satu dari dua belas anggota kelompok itu turun, disusul dengan gotong royong menurunkan barang-barang bawaan dari bagasi dan atap bus kecil. Kardus logistik, tas-tas besar, hingga peralatan masak darurat kini berjajar di bahu jalan.
Mereka mendarat di sebuah pinggir jalan yang sangat asri. Sejauh mata memandang, bentangan bukit hijau berdiri kokoh di bawah langit sore yang mulai menguning, berpadu sempurna dengan hamparan sawah berundak yang subur. Pemandangan indah itu sempat membuat beberapa mahasiswi, termasuk Kanaya, menghela napas kagum. Rasa lelah setelah empat jam perjalanan seolah sedikit terangkat oleh angin pedesaan yang berembus pelan, mempermainkan ujung rambut sebahunya.
"Teman-teman, ayo barang-barangnya langsung dibawa. Posko kita nggak bisa diakses bus, jadi kita harus jalan kaki lewat sini," seru Wisnu memecah kekaguman mereka, menunjuk sebuah jalan setapak di tepi sawah.
Jalan setapak itu berupa tanah padat yang hanya muat untuk berjalan satu baris. Di kanan dan kirinya, gemercik air mengalir jernih di selokan irigasi sawah.
Sebagai laki-laki, Arman langsung mengambil inisiatif memikul beban yang cukup berat. Ia mengangkat dua kardus besar berisi sembako di kedua bahunya, lalu mulai melangkah masuk ke jalan setapak, berada di barisan belakang rombongan laki-laki.
Dari posisinya, Arman kembali bisa memperhatikan Kanaya yang berjalan beberapa meter di depannya. Kanaya tampak berjalan hati-hati, menjinjing tas jinjing dan kantong plastik Alfamart-nya tadi agar tidak mengotori sepatunya. Di samping Kanaya, Wisnu berjalan siaga, sesekali mengulurkan tangan untuk membantu Kanaya menyeimbangkan badan saat melewati bagian jalan yang agak licin.
Iring-iringan dua belas mahasiswa itu perlahan bergerak membelah keheningan sawah, melangkah beriringan menuju rumah yang akan menjadi posko KKN mereka selama satu bulan ke depan.
Setelah beberapa menit berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah sawah, ujung jalan itu akhirnya membawa mereka ke sebuah jalanan desa yang sedikit lebih lebar. Di sana berdiri sebuah gapura kayu sederhana namun tampak kokoh, bertuliskan "Selamat Datang di Desa Sukamukti".
Tepat di sebelah gapura tersebut, sekelompok orang paruh baya dengan pakaian rapi khas perangkat desa sudah berdiri menunggu. Begitu melihat rombongan mahasiswa KKN datang, senyum ramah langsung merekah di wajah mereka.
"Selamat sore, Adik-adik sekalian! Wah, akhirnya sampai juga dengan selamat di desa kami," sambut seorang pria berpeci yang berada di barisan paling depan dengan suara kebapakan yang hangat. Beliau adalah Kepala Desa Sukamukti.
Wisnu, selaku ketua kelompok, langsung mempercepat langkahnya ke depan. Ia meletakkan barang bawaannya sejenak lalu menjabat tangan Pak Kades dengan sangat sopan. "Selamat sore, Pak. Iya, Alhamdulillah kami baru saja sampai. Saya Wisnu, ketua kelompok KKN dari Universitas yang akan mengabdi di sini selama satu bulan ke depan."
"Saya Pak Subroto, Kepala Desa di sini. Ini ada staf desa yang nanti akan membantu keperluan kalian sehari-hari," balas Pak Kades ramah, menyalami Wisnu dan beberapa mahasiswa lain yang baru tiba di dekat gapura, termasuk Kanaya yang memberikan anggukan hormat. "Pasti capek ya, perjalanan jauh. Mari, langsung saya antar ke posko biar bisa langsung istirahat dan menaruh barang-barang."
"Baik, Pak, terima kasih banyak," sahut Wisnu antusias. Ia kemudian berbalik menatap anggotanya. "Teman-teman, ayo ikuti Pak Kades. Sebentar lagi kita sampai di posko."
Rombongan pun kembali bergerak, kini dipimpin oleh Pak Kades dan stafnya. Arman, yang masih memikul kardus berat di bahunya, berjalan di barisan paling belakang bersama beberapa anak laki-laki lain. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, namun pandangannya tetap tidak lepas dari sosok Kanaya yang berjalan di depan, tampak sesekali mendengarkan penjelasan Pak Kades tentang sejarah singkat Desa Sukamukti.