NovelToon NovelToon
NAMA LAIN DIBIBIRNYA

NAMA LAIN DIBIBIRNYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mamany Ali

Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad

Raya menyalakan showe, air dingin mengguyur kepalanya, menampar kukut, menampar kesadarannya. Dingin. Sakit. Tapi justru itu yang dibutuhkannya sekarang.

 Dia membiarkan air mengalir bersama airmatanya. Tidak ada yang tahu. tidak ada yang dengar. Hanya dia, lantai kamar mandi dan suara gemericik yang menenggelamkan isaknya.

Bau bawang

Sapi perah

Lusuh.

kata kata Andini itu menempel dikulitnya, lengket seperti minyak.

Raya menggosok lengannya kencang kencang, sampai merah, seolah kalau kulitnya terkelupas agar hinaan itu ikut lepas.

Tapi tidak, yang lepas justru yang lain. Marahnya, kasihan pada diri sendiri. Dia mematikan shower. Hening.

Dicermin yang berembun, dia tulis dengan jarinya Cukup. Satu kata itu saja.

Raya bangkit dan segera berjalan ke lemari pakaian. Lemari dibuka. Daster lusuh itu dia lepas, dia remas, dia lempar ke keranjang kotor paling dalam. Seperti membuang versi dirinya yang selalu mengalah.

Dia ambil kaos putih bersih. Celana jens yang dua tahun tidak muat. Dia tarik. kancingnya masuk.Nafasnya sesak, bukan karena sedih, tapi karena tekad.

Sisir, bedak bayi yang biasa dipakaikannya ke anak anaknya saat mereka gatal gatal, dipoleskan tipis kewajahnya, lip balm. Cuma itu, tidak ada parfum mahal. Tapi dia tegak dan bangkit.

 Raya menatap cermin lagi. Mata masih sembab.iya. Tapi kosongnya sudah hilang. Ada bara kecil disana.

11.05 wib- Lapangan SD HARAPAN BANGSA.

" Gol" Galang berlari memeluk teman setimnya. kausnya basah karena keringat, tanah merah menempel di dengkul. Matanya liar mencari di lapangan.

  Dan dia lihat. Mamanya berdiri dengan kaos putih,rambut diikat. Melambai dan senyum padanya. Senyum yang sampai kemata. Bukan senyum yang dipaksa seperti pagi tadi dilihatnya.

Galang bengong seperkian detik. Lalu senyumnya paling lebar sedunia. Dia acungkan dua jempol ke Mamanya.

 Raya balas. dadanya hangat. Untuk pertama kalinya hari ini dia bisa bernafas panjang tanpa sesak.

  HP disakunya bergetar lagi. Nomor tidak dikenal yang sama. Raya tidak buka. Dia matikan HPnya dan memasukkannya kedalam sakunya.

 Drama dikantor biar menjadi urusan Bagas. Drama chat biar menjadi urusan Andini.

  Urusannya cuman satu sekarang, yaitu menjadi tempat pulang paling aman bagi kedua jagoan kecil nya.

 Dikantor Bagas masih duduk dikursi paling pojok ruang meeting. Presentasi sudah diambil alih oleh Andini. Tepuk tangan untuk Andini dan bukan untuk dia.

Satria lewat dan menepuk bajunya sekali. Tidak ada kata. Tapi beratnya seribu kekecewaan.

 HP Bagas menyala Andini." Terimakasih sayang, aku semakin cinta sama kamu!" Isi pesan Andini.

  Bagas melihat kearah Andini yang kini tersenyum lebar kearahnya.

Bagas terdiam sejenak. Dia berdiri, kaki masih goyah. Tapi suara akhirnya keluar. Tidak kosong lagi.

  " Pak Satria, saya mau izin setengah hari," Satu ruangan melihatnya. Andini senyumnya luntur.

   " Alasan?" Tanya Satria datar.

 Bagas meluruskan punggungnya, menatap Andini tepat dimata.

  " Saya mau menjemput anak saya, pak. Saya sudah janji melihat dia tanding bola hari ini."

 Bagas berjalan keluar, meninggalkan flashdisk, meninggalkan Andini yang wajahnya tampak sangat kesal.

  Satria pun hanya bisa memberi izin, bukankah sekarang waktunya juga untuk makan siang, lagian semua pekerjaan tampak sudah selesai.

  Andini berlari keluar mengikuti Bagas yang tergesa gesa.

  " Pak Bagas!" Panggilnya.

  Namun Bagas sudah lebih dulu hilang dari pandangannya.

" Sial" Umpat Raya yang kini mengambil HPnya dan mulai menelpon nomor Bagas.

  Bel pulang, Gilang lari paling depan, tasnya kebesaran tapi tidak menghalangi langkahnya.

" Mama" teriaknya.

 Raya jongkok. Buka tangan. Gilang nyemplung ke pelukannya. Wangi matahari sama keringat anak kecil. Wangi paling mahal sedunia.

  Galang menyusul dibelakang dan ikut berpelukkan bersama Gilang sambil tersenyum. Medali juara tiga kini dilehernya. Tapi sekarang wajahnya cemberut melihat kebelakang Raya.

 Raya menoleh. Bagas berdiri kaku beberapa meter dari mereka bertiga. Kemeja masih lecek bekas cengkraman Andini. Mata bengkak.

 Galang maju setengah langkah, untuk menghalangi Raya sama Gilang.

 " Papa ngapain?" Nadanya datar.

  Raya terdiam melihat Bagas yang kini sudah ada didepannya, Kenapa? kenapa dia harus ada disini sekarang, bukankah dia sekarang sedang bersenang senang dengan Andini.

  Bagas sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Galang. Dia berhenti tiga langkah dari Raya dan tidak langsung bicara.

  " Papa ada disini juga? mau jemput Gilang sama Abang ya." Gilang tampak girang. Dia sama sekali tidak tahu apa apa.

   " Ayo kita pulang sekarang sayang." Raya menarik tangan Gilang, Galang mengikuti Raya dan adiknya dari belakang.

  Bagas melihat hal itu, Ingin mendekat tapi rasanya sudah tidak mungkin, Nampak sekali Raya tidak mengizinkan dia untuk memegang anak anaknya.

Raya berhenti sejenak di depan Bagas.

   " Jangan mengatakan apa apa, lebih baik kita tidak menampakkan luka didepan mereka."

 Bagas mengangguk, niat hati ingin memperbaiki semuanya justru harus melihat wajah kesal dari Raya.

" Papa mau jemput kita ya ma? kok kita tidak ajak Papa pulang?" Gilang bertanya sambil terus berjalan.

" Papa sibuk dek, Papa tidak bisa mengantarkan kita pulang!" Galang memberikan kata kata yang pas untuk Gilang.

Raya menoleh kepada Galang, seolah olah mengatakan, Mama sangat bangga padamu sayang, karena kamu sudah sangat dewasa sekarang.

Bagas hanya menatap punggung Raya dan anak anaknya yang kini sudah naik motor. Tidak ada lagi sapaan hangat yang keluar dari mulut mereka semua. Yang ada hanya diam membisu yang sangat menyiksa Bagas.

Bagas bingung sekarang. Antara mengikuti Raya dan anak anaknya pulang. Atau tetap diam berdiri ditempatnya.

HP Bagas bergetar, lagi pesan dikirim Andini." Lihat mas, Istri dan anak anakmu sama sekali tidak menganggap kamu ada. Untuk apa lagi kamu mempertahankan rumah tanggamu?"

Bagas membaca pesan dari Andini sambil melihat kesekeliling dan mendapati Andini yang kini sudah ada didepannya.

Andini melambaikan tangan, sambil tersenyum licik, Senyuman licik penuh kemenangan setelah berbuat kecurangan.

" Kamu tidak ada bisa hidup tanpa aku mas, hanya aku yang peduli dengan kamu!" teriaknya.

Bagas menarik nafas kasar, Kini banyak sekali pikiran didalam benaknya. Dia tidak tahu kalau Andini bisa mengikutinya sampai kesekolah.

Bagas berjalan kedepan tanpa menoleh sedikitpun kearah Andini.

" Makan siang yuk!" Ajak Andini saat Bagas Sudan dekat dengannya.

" Andini cukup!" Bagas kini sudah sangat kesal dengan semua kelakuan Andini hari ini." Biarkan aku sendiri." lanjutnya.

" What?" Andini tersenyum canggung saat mendengar ucapan dari Bagas yang kini mengusir nya.

" Aku seperti ini karena aku peduli sama kamu mas. Aku cinta sama kamu, Bukankah kamu juga cinta sama aku?" Andini berusaha merayu Bagas, Kali ini dia tidak ingin melepaskan Bagas, Dia sama sekali tidak ingin kalah dari siapapun.

" Ma, aku mau pipis.." Gilang memegang bagian bawahnya sambil merapatkan kedua kakinya.

Mereka baru saja sampi di parkiran motor, Namun Gilang sudah tidak tahan ingin pipis." Kamu sudah kebelet ya dek?" Tanya Galang.

" Iya bang, sudah diujung."

" Ya sudah ayo kita ke toilet sekolah, kasihan kamu sayang." Raya memegang tangan Gilang, " Biar aku saja ma, Mama disini saja dulu." Galang segera mengajak Gilang ke toilet sekolah.

Sepertinya Galang tidak ingin melihat mamanya sedih lagi kalau bertemu dengan papanya.

Saat mengantar Gilang ke toilet, Galang melihat Bagas bersama dengan seorang wanita, langkahnya terhenti." Aku sudah tidak tahan.." Sementara Gilang sudah berlari menuju toilet.

Galang tetap berdiri ditempatnya, menyaksikan pemandangan yang sangat membuat hatinya terluka.

1
Rini Anggraini
maaf point q habis thor😭😭 g bissa kasih hadiah...🙏🥲
Mamany Ali: iya kk, terimakasih sudah membaca ya kk😍
total 1 replies
Rini Anggraini
jadi g seru thor,soalnya g ada gregetnya dari bagas,g ada usaha sama sekali buat yakinin istrinya buat balikan,cuma pasarah doank,kaya novel² lainnya 🙏🙏
Mamany Ali: iya ya kk🤭
total 1 replies
Rini Anggraini
gimana jadinya thor,kaya sinetron rumah tangga sebelah...🤣🤣
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏
Mamany Ali: iya kk🤣🤣🤣
total 1 replies
Masitoh Masitoh
bagi pelempang dua kali ke pipinya biar tau rasa andini
Ma Em
Semoga Raya memergoki Bagas dgn Andini dirumah nya saat Bagas bermesraan dgn Andini agar Raya tdk jadi kembali pada Bagas , lbh baik Raya berpisah saja dgn Bagas .
Ma Em
Raya emang lbh baik berpisah dari Bagas apa yg hrs dipertahankan oleh Raya Bagas sebagai suami selingkuh sedangkan mertua bkn nya bela menantu malah bela selingkuhan anaknya dan selalu menghina Raya , Raya bagaimana mau bahagia hdp nya tdk ada yg akan tahan kalau nasib nya seperti Raya .
Mamany Ali
semoga terhibur, ditunggu kritik dan sarannya🥰
Mamany Ali: ini udah di up kk, belum bisa sama noveltoon masih di review 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!