NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Jejak yang Tertinggal

BAB 6: Jejak yang Tertinggal

​Dengan tangan yang masih gemetar, Kiara merapikan kancing kemeja putihnya yang sempat berantakan. Napasnya masih terasa pendek-pendek, dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Begitu pintu ruang dosen terbuka, ia bergegas keluar dengan langkah seribu, seolah sedang melarikan diri dari terkaman singa kelaparan. Di dalam ruangan itu, Adrian masih duduk tenang di kursi kebesarannya, menatap punggung Kiara yang menjauh dengan senyuman tengil yang teramat puas.

​Kiara berjalan cepat menyusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan jam istirahat. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya yang sengaja digerai jatuh menutupi sebagian besar wajah dan lehernya. Rasa takut, malu, marah, dan gairah yang sempat tersulut di dalam ruang dosen tadi kini bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya.

​"Kiara!"

​Sebuah tepukan mendadak di bahunya membuat Kiara tersentak kaku. Ia hampir saja memekik histeris sebelum menyadari bahwa sosok di depannya adalah Maya, sahabat dekat sekelasnya.

​"Astaga, Kiara! Kamu kenapa sih? Kagetnya sampai segitunya," cerocos Maya sambil menatap Kiara dengan dahi berkerut. Maya memperhatikan penampilan sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Lagian, kamu dari mana saja? Tadi aku cariin ke kantin nggak ada. Terus... kok muka kamu merah banget? Kamu sakit?"

​Kiara menelan ludah dengan susah payah, mencoba mati-matian bersikap normal di depan Maya. "A-ah, enggak kok, May. Tadi... tadi aku dari toilet. Iya, toiletnya agak panas, makanya mukaku merah," bohong Kiara, suaranya terdengar sedikit parau di telinganya sendiri.

​Maya menyipitkan matanya, menatap Kiara penuh selidik. "Masa sih? Tapi kok bibir kamu agak bengkak gitu ya? Terus rambut kamu juga agak berantakan. Kamu beneran nggak apa-apa?"

​Kepanikan Kiara melonjak ke tingkat maksimal. Ia langsung menggigit bibir bawahnya, merutuki Adrian habis-habisan dalam hati. Ciuman menuntut dari pria itu ternyata meninggalkan bekas yang terlalu kentara. "A-ah, ini... tadi aku nggak sengaja kegigit pas makan camilan di tas. Udah yuk, kita ke toilet lagi, aku mau benerin rambut."

​Tanpa menunggu jawaban Maya, Kiara langsung menarik lengan sahabatnya itu menuju toilet wanita terdekat yang untungnya sedang sepi. Begitu masuk, Kiara langsung berdiri di depan cermin besar di atas wastafel. Ia menyingkirkan helaian rambutnya yang menutupi leher sebelah kanan.

​Mata Kiara seketika membelalak sempurna. Napasnya tercekat.

​Di sana, tepat di atas kulit lehernya yang putih mulus, tercetak jelas sebuah tanda kemerahan yang pekat cenderung keunguan. Sebuah tanda kepemilikan yang sangat kentara akibat hisapan dan gigitan kecil yang diberikan Adrian dengan begitu intens beberapa menit yang lalu di balik pintu terkunci.

​"Gila... ini terlalu jelas," bisik Kiara dengan bibir bergetar. Air matanya hampir saja luruh karena rasa frustrasi yang membuncah. Bagaimana mungkin ia bisa mengikuti sisa perkuliahan hari ini dengan tanda maksiat yang begitu mencolok di lehernya? Jika ada mahasiswa lain atau dosen lain yang melihat, tamatlah riwayatnya. Dia akan dicap sebagai wanita murahan yang menggoda dosennya sendiri.

​"Kiara, kamu lagi lihatin apa sih?" tanya Maya yang baru saja keluar dari bilik toilet.

​Dengan gerakan secepat kilat, Kiara kembali menjatuhkan rambut panjangnya untuk menutupi leher kanan, lalu berpura-pura sibuk membasuh tangannya di wastafel. "Enggak, enggak ada apa-apa, May. Cuma lagi ngecek jerawat," kilih Kiara dengan senyum paksa yang terlihat sangat kaku di cermin.

​"Ya udah, yuk balik ke kelas. Bentar lagi kelasnya Profesor dosen killer itu mulai lagi buat sesi praktikum. Aku nggak mau ya kita dikunciin di luar karena telat semenit," ajak Maya sambil merapikan bedaknya.

​"Kamu duluan aja, May. Aku... aku mau dandan bentar. Nanti aku menyusul," ucap Kiara.

​Setelah Maya keluar dari toilet, pertahanan Kiara runtuh. Ia menyandarkan kedua tangannya di pinggiran wastafel, menatap bayangan dirinya di cermin dengan emosi yang meluap-luap. Rasa kesal yang teramat sangat kepada Adrian membuat dadanya bergemuruh. Pria itu benar-benar tengil dan kejam. Adrian tahu betul risiko yang dihadapi Kiara di kampus, tapi dengan sengaja pria itu menandainya seolah Kiara adalah seekor hewan peliharaan yang telah diberi cap kepemilikan.

​Kiara merogoh saku rok span hitamnya, mengambil ponselnya dengan kasar. Dengan jemari yang menghentak karena amarah, ia mengetik pesan singkat ke nomor Adrian.

​Kiara: “Bapak benar-benar keterlaluan!! Kenapa Bapak harus meninggalkan tanda sejelas ini di leher saya?! Di koridor tadi saya hampir ketahuan oleh Maya! Bapak sengaja ingin menghancurkan reputasi saya di kampus ini, ya?!”

​Kiara mengirim pesan itu dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Ia mengira Adrian tidak akan membalasnya karena pria itu harus bersiap untuk kelas selanjutnya. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponsel di genggamannya bergetar pelan.

​Bzzzt.

​Sebuah balasan masuk dari Adrian, dan isinya benar-benar membuat Kiara ingin melempar ponselnya ke dalam wastafel saat itu juga.

​Tuan Posesif: “Tutupi dengan rambut indahmu itu, Sayang. Lagipula, itu adalah hukuman karena kamu mencoba menghindar dariku tadi. Mengapa kesal? Tanda itu terlihat sangat seksi di kulit putihmu.”

​Kiara menggeram pelan, dadanya naik turun menahan amarah yang kian memuncak. Belum sempat ia mengetik balasan, ponselnya kembali bergetar menampilkan pesan lanjutan yang jauh lebih tengil dan nakal.

​Tuan Posesif: “Atau... jika kamu terus memprotes lewat chat ini, aku tidak keberatan memanggilmu kembali ke ruanganku sekarang. Akan kubuatkan satu tanda lagi di leher sebelah kirimu agar terlihat simetris sebelum kelas praktikum dimulai. Bagaimana, Mahasiswaku?”

​Wajah Kiara seketika memerah padam, bukan lagi hanya karena gairah, melainkan karena rasa emosi yang bergejolak tinggi menghadapi kelakuan suaminya—ralat, dosen kontraknya yang luar biasa menyebalkan itu. Adrian tahu persis bagaimana cara menekan titik lemah Kiara dan memutarbalikkan situasi demi kepuasan egonya yang dominan.

​Kiara menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya yang membumbung tinggi. Ia mematikan layar ponselnya tanpa berniat membalas lagi, menyadari bahwa meladeni Adrian lewat pesan hanya akan membuat pria itu makin gencar menggodanya.

​Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Kiara merapikan kembali rambut panjangnya, memastikan tidak ada satu jengkal pun kulit leher kanannya yang terekspos. Setelah yakin tanda merah itu tersembunyi dengan aman di balik gerai rambutnya, ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari toilet dengan perasaan campur aduk—marah, takut, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada debaran aneh yang terus menggelitik egonya setiap kali mengingat bagaimana posesifnya cara Adrian mengklaim dirinya.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!