NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan di Balik Tatapan

"Ketegangan yang membeku di pinggir jalan raya itu akhirnya pecah ketika mobil sedan mewah berkaca gelap milik Sherly perlahan mulai melaju, menjauh, dan menghilang di balik kepadatan arus lalu lintas kota.

Neya tetap berdiri mematung di tepi trotoar selama beberapa saat. Sepasang manik mata bulatnya yang jernih menatap lurus ke arah perginya mobil itu dengan tatapan yang teramat dingin dan penuh selidik. Di balik topeng wajahnya yang tampak tenang, otak cerdas Neya langsung bekerja dengan sangat cepat. Ia tidak tahu siapa wanita di dalam mobil itu, tetapi intuisi tajamnya menangkap adanya ancaman yang tidak biasa dari tatapan intens yang baru saja mengarah padanya.

Neya mengulas senyuman tipis yang sarat akan misteri, lalu membalikkan tubuhnya dengan anggun. Ia melangkah masuk kembali melewati pintu kaca lobi gedung kantor cabang, mengabaikan gangguan kecil itu karena siang ini ada agenda yang jauh lebih besar dan penting untuk ia eksekusi.

Sinar matahari siang yang terik menembus dinding kaca area proyek lantai lima belas gedung baru Wijaya Corp. Debu-debu tipis berterbangan di udara, berpadu dengan aroma cat yang masih basah dan tumpukan material interior yang belum sepenuhnya tertata. Di tengah hiruk-pikuk para pekerja lapangan yang sedang sibuk, atmosfer di salah satu sudut ruangan mendadak terasa begitu tipis dan menegangkan.

Kinan berdiri di sana dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang tampak kontras dengan latar belakang proyek yang berantakan. Sepasang matanya yang tajam terus bergerak, berpura-pura memeriksa cetak biru (blueprint) tata ruang di tangannya. Namun, fokusnya sama sekali tidak berada pada lembaran kertas tersebut. Sejak sepuluh menit lalu, seluruh panca indranya tersedot sepenuhnya pada sosok wanita muda yang sedang berdiri beberapa meter di depannya, sedang sibuk memberikan instruksi lembut kepada kepala tukang.

Hari ini Neya tampil dengan kesederhanaan yang justru memancarkan elok yang luar biasa memikat. Ia mengenakan kemeja katun longgar berwarna putih bersih yang digulung hingga sebatas siku, dipadukan dengan celana kain berwarna krem yang memperlihatkan siluet tubuhnya yang proporsional. Rambut hitamnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai di sekitar pelipis dan leher jenjangnya yang putih pucat. Tidak ada riasan tebal di wajahnya, hanya polesan pelembap bibir tipis yang membuat bibir ranumnya tampak berkilau alami.

Neya tahu betul bahwa sejak ia menginjakkan kaki di lantai ini, sepasang mata Kinan tidak pernah sedetik pun lepas dari gerak-geriknya. Ia bisa merasakan intensitas tatapan pria itu—sebuah tatapan yang sarat akan kerinduan yang menyiksa, frustrasi, dan gairah yang mati-matian ditekan di balik topeng formalitas. Namun, alih-alih menunjukkan bahwa ia menyadarinya, Neya justru memulai permainan barunya dengan memanfaatkan kepolosan palsu yang teramat rapi.

Neya membalikkan tubuhnya perlahan, berpura-pura baru menyadari keberadaan Kinan yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Detik itu juga, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu terkejut, canggung, sekaligus memancarkan binar rasa takut yang tertahan—sebuah akting sempurna untuk memancing naluri protektif Kinan.

Ah... Pak Kinan," ucap Neya dengan suara yang sengaja direndahkan, terdengar begitu lembut, rapuh, dan sedikit bergetar. Ia melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang sedikit membungkuk hormat, seolah-olah ia benar-benar hanya seorang asisten kreatif rendahan yang merasa segan di hadapan sang CEO tertinggi. "Maaf, saya tidak tahu kalau Anda sudah tiba di lokasi proyek sejak tadi."

Kinan menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram pinggiran kertas cetak biru di tangannya hingga berkerut. Mendengar suara merdu yang begitu ia rindukan menyebut namanya dengan embel-embel formalitas 'Pak', dada Kinan terasa seperti dihantam godam yang luar biasa besar. "Tidak apa-apa. Saya baru saja sampai untuk meninjau hasil akhir re-desain lantai ini."

Semua pengerjaan sudah selesai sesuai dengan draf yang saya kirimkan di email tadi pagi, Pak," lanjut Neya. Ia mendongak perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata Kinan dengan sepasang mata bulatnya yang jernih, polos, dan tanpa dosa.

Saat mereka berdiri sedekat itu, Neya dengan sengaja memainkan gerak tubuhnya yang teramat halus. Ia mengulurkan tangannya untuk menunjukkan salah satu sudut partisi kayu, namun di saat yang sama, bahunya sedikit bergetar halus seolah ia sedang menahan pusing. Wajahnya yang pucat sengaja ia buat tampak sedikit lemas, mengeksploitasi fakta bahwa dirinya saat ini sedang berbadan dua di mata dunia, sekaligus memancing ingatan Kinan pada kejadian di lift kemarin.

"Neya... kamu baik-baik saja?" suara Kinan mendadak berubah menjadi sangat berat, nada dinginnya runtuh seketika digantikan oleh rasa cemas yang teramat pekat. Pria itu refleks mengambil satu langkah maju, tangannya hampir saja terulur untuk meraih lengan Neya, sebelum akhirnya ia teringat bahwa mereka sedang berada di tempat umum dan gerak-geriknya diawasi oleh mata-mata keluarganya.

"Saya... saya tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit kelelahan," bisik Neya dengan senyuman tipis yang dipaksakan, mengulas raut wajah yang tampak begitu tegar di tengah kerapuhannya. Ia menurunkan pandangannya dengan canggung, meremas jemarinya sendiri seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu. "Akhir-akhir ini kondisi fisik saya memang agak sedikit menurun. Tapi ini sama sekali tidak akan mengganggu jalannya presentasi proyek hari ini, saya jamin."

Kinan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana, rahangnya mengeras kaku hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Di dalam kepalanya yang kacau, rasa frustrasi Kinan telah mencapai puncaknya. Ia melihat wanita yang paling dicintainya berdiri di depannya dalam kondisi lemas, pucat, dan tampak sangat tertekan—yang ia duga akibat tekanan hidup bersama Aris—namun ia tidak bisa memeluknya, tidak bisa meraihnya, dan dipaksa untuk berpura-pura menjadi orang asing yang kejam.

Jika kamu merasa tidak sehat, kamu bisa beristirahat di ruang tunggu. Biarkan rekan kerjamu yang melanjutkan," ucap Kinan dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi yang bergemuruh di dadanya.

Neya mendongak kembali, melemparkan satu tatapan terakhir yang teramat pekat—sebuah tatapan yang sarat akan kerinduan yang mendalam, rasa takut yang disamarkan, dan kepasrahan seorang korban takdir, tepat sebelum ia melangkah mundur. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Pak Kinan. Tapi saya harus profesional."

Neya berbalik dan melangkah pergi menuju area meja kerja lapangan dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit tidak seimbang. Dari balik punggungnya, ia tahu betul bahwa Kinan masih berdiri mematung di tempatnya, menatap punggungnya dengan napas yang memburu dan dada yang sesak. senyum tipis terurai dari bibir ranumnya yang indah ,ada kehangatan yang ia rasakan

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!