NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Laras Kembali

Malem itu setelah chat panjang, Laras akhirnya mau ketemu lagi. Gue jemput dia di rumahnya dengan hati berdebar. Dia keluar pakai dress putih simpel yang lembut, rambutnya digerai, senyumnya masih agak ragu tapi ada kehangatan yang lama gue rindukan.

“Kita bicara dulu ya Bram,” katanya pelan pas masuk mobil.

Gue bawa dia ke tempat yang tenang, sebuah kafe kecil di pinggir kota. Obrolan kami mengalir. Gue cerita semua soal gosip Bambs, tekanan kerja, kesehatan gue, dan betapa gue sadar kalau Laras beda dari yang lain. Gue minta maaf dengan tulus, tanpa alasan macam-macam.

Laras dengerin sambil pegang tangan gue. Matanya berkaca-kaca. “Aku kecewa banget kemarin. Tapi aku juga sayang kamu. Aku mau coba lagi… tapi kali ini beneran serius ya Bram. Jangan bohong lagi.”

Gue peluk dia erat di mobil. “Iya Laras. Gue janji.”

Kami memutuskan untuk tidak pulang malam itu. Gue ajak dia ke Hotel Mulia, hotel bintang lima yang mewah. Meski harus menguras tabungan gue yang lumayan tebal, gue ga pikir dua kali. Ini saatnya gue benar-benar menyenangkan Laras, biar dia ga marah lagi.

Kamar suite yang gue booking elegan banget king size bed dengan seprai putih bersih, lampu temaram warm, bathtub besar di kamar mandi, dan pemandangan kota Jakarta yang berkelap-kelip dari jendela kaca besar.

Begitu pintu kamar nutup, Laras peluk gue dari belakang. “Kamu beneran serius kan malam ini?”

Gue balik badan, cium keningnya lama. “Serius banget.”

Gue tarik dia ke tempat tidur pelan-pelan. Malam itu gue ingin menikmati setiap detik bersama Laras. Gue beri hadiah dia pakaian dalam baru yang mahal bra dan celana dalam set hitam lace yang lembut dan elegan, lebih mahal dari yang pernah gue beliin ke Dian. Laras pakai di kamar mandi, keluar dengan malu-malu tapi cantik luar biasa.

Tubuh Laras benar-benar indah. Kulitnya halus seperti sutra, putih bersih dengan sedikit merah alami di pipi dan dada. Payudaranya sedang tapi proporsional, pinggulnya lembut melengkung, kakinya jenjang dan halus. Gue tarik dia ke pelukan, tangan gue menjelajah punggungnya yang mulus dengan gerakan lambat dan penuh penghargaan.

“Kamu cantik banget Laras…” bisik gue di telinganya.

Gue cium bibirnya pelan dulu, lalu semakin dalam. Lidah kami saling menyapa dengan lembut. Tangan gue turun ke bahunya, lepas tali branya pelan-pelan. Payudaranya terbebas, gue cium dan sentuh dengan penuh kasih, lidah gue menari lembut di puncaknya yang mengeras. Laras mendesah pelan, tangannya memegang kepala gue, jarinya masuk ke rambut gue.

Gue rebahkan dia di kasur dengan hati-hati. Gue menikmati setiap lekuk tubuhnya cium lehernya yang harum, turun ke dada, perut rata yang naik turun karena napasnya yang cepat, lalu ke pinggulnya yang lembut. Kulitnya benar-benar halus, seperti belum pernah disentuh kasar. Gue cium paha dalamnya pelan, lidah gue menelusuri dengan penuh rasa hormat.

Laras menggeliat, suaranya manis. “Bram… pelan ya… ini pertama kali aku benar-benar… kayak gini.”

Gue angkat kepala, cium bibirnya lagi. “Gue pelan-pelan. Gue mau kamu nikmatin juga.”

Gue lepas baju gue sendiri, tubuh kami saling menempel. Gue sentuh bagian intimnya dengan jari lembut, memastikan dia siap dan nyaman. Laras mendesah lebih dalam, pinggulnya bergerak pelan mengikuti sentuhan gue. Saat gue masuk perlahan, Laras memeluk punggung gue erat, napasnya tersengal. Gue berhenti sebentar, kasih dia waktu menyesuaikan, lalu bergerak dengan ritme yang lambat dan penuh perasaan.

Kami bergerak selaras. Gue nikmati setiap sensasi kehangatan tubuhnya, halusnya kulitnya yang bergesekan dengan kulit gue, desahannya yang manis di telinga gue. Gue cium dada, leher, bibirnya bergantian. Tangan gue remas pinggulnya pelan, dorongan gue semakin dalam tapi tetap lembut. Laras mulai ikut bergerak, kakinya melingkar di pinggang gue, tubuhnya melengkung indah.

“Enak… Bram… lebih dalam sedikit…” bisiknya dengan suara gemetar penuh kenikmatan.

Kami semakin larut. Gue balik posisi, Laras di atas. Dia naik turun pelan, payudaranya bergoyang lembut, rambutnya jatuh ke bahu. Gue pegang pinggulnya, bantu iramanya. Wajahnya penuh kenikmatan, mata setengah terpejam, bibir terbuka mengeluarkan desahan manis. Gue duduk, peluk tubuhnya erat, cium dadanya sambil dia terus bergerak.

Kami mencapai puncak bersama. Tubuh Laras menegang, desahannya panjang dan indah, memeluk gue erat seolah tak mau lepas. Gue rasain kehangatan dan getaran tubuhnya yang luar biasa.

Setelahnya kami rebahan saling pelukan, keringat tipis di kulit kami. Gue usap rambutnya pelan.

“Kamu oke?” gue tanya lembut.

Laras senyum, kepalanya di dada gue. “Lebih dari oke. Aku seneng banget malam ini Bram. Rasanya… spesial.”

Gue cium keningnya. “Gue juga. Lo bener-bener beda. Gue janji bakal jaga lo.”

Malam itu kami lanjut lagi dengan lebih santai. Gue menikmati tubuh Laras dengan penuh kekaguman setiap lekuk, setiap sentuhan kulit halusnya, setiap desahan yang keluar dari bibirnya. Kami mandi bareng di bathtub besar, bercanda sambil saling sabun, lalu kembali ke kasur untuk ronde yang lebih playful tapi tetap penuh kasih sayang.

Pagi harinya Laras bangun dengan senyum malu-malu di pelukan gue. “Kamu bikin aku ketagihan Bram…”

Gue ketawa kecil. “Bagus. Berarti lo ga bakal marah lagi kan?”

Dia cubit pinggang gue pelan. “Asal kamu serius sama aku.”

Kami sarapan di kamar, ngobrol panjang soal masa depan. Gue cerita soal promosi ke Yogya yang tertunda, Laras cerita mimpi dia. Rasanya damai. Meski gue tahu di luar sana masih ada masalah Angga, gosip Bambs, Maya, Marita, Dian tapi untuk malam itu, gue sepenuhnya milik Laras.

Gue nikmati keindahan tubuh dan hatinya dengan sepenuh hati. Dan gue berharap, kali ini bisa bertahan.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!