Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kain Lusuh yang Menyimpan Duka & Penghinaan yang Tak Termaafkan
Di kedalaman pegunungan bersalju yang menyelimuti Sekte Xuanwu, Yao Linger duduk berlutut di hadapan gurunya dengan tangan terkepal di atas lutut.
Ia sudah mencoba diam. Sudah mencoba menekan kegelisahan itu dengan meditasi, dengan latihan pedang hingga tengah malam, dengan apa pun yang biasanya bekerja.
Tidak ada yang berhasil.
"Guru." Akhirnya ia angkat bicara, suaranya lebih tenang dari perasaannya. "Saya khawatir kita telah bertindak terlalu gegabah. Kita berasumsi bahwa ahli di Kota Yunzhou itu hanyalah kedok Sekte Lingxue, lalu mengirim Wuchen dan Wufeng. Namun sifat mereka berdua kasar dan suka membunuh. Jika ahli itu nyata dan jauh lebih kuat dari perkiraan kita..."
Ning Xuanwu tidak menjawab langsung. Ia duduk diam, matanya menatap ke kejauhan, namun pikirannya sudah tidak lagi di ruangan itu.
Ia tahu persis apa yang mampu diciptakan oleh tangan yang membuat pisau dapur milik Lu Tianhe. Senjata itu bukan sekadar benda tajam biasa—ia mengandung pemahaman tentang qi yang bahkan Ning Xuanwu sendiri belum tentu mampu menyamainya. Dan ia telah mengirimkan dua murid terbaiknya ke sana seolah sedang mengutus kurir biasa.
Kesalahan besar.
"Pergilah sendiri ke sana." Perintah itu keluar dengan nada yang jarang terdengar dari mulut Ning Xuanwu—bukan tegas, melainkan berhati-hati. "Jangan ulangi kesalahan mereka. Kumpulkan informasi dulu. Cari jejak Wuchen dan Wufeng, lalu cari tahu kebenaran tentang orang itu."
Yao Linger membungkuk dalam-dalam. "Siap, Guru."
Ia berangkat sebelum fajar menyentuh puncak gunung.
Berbeda dengan Wuchen dan Wufeng yang meninggalkan jejak berdarah di sepanjang jalan, Yao Linger bergerak seperti kabut—tidak terlihat, tidak terdengar, tidak meninggalkan bekas. Ia berbicara kepada pedagang kaki lima, mendengarkan obrolan di kedai teh, membaca ekspresi wajah orang-orang yang ditanyainya.
Pola yang ia temukan membuat alisnya bertaut.
Hampir semua sasana bela diri di Kota Yunzhou sudah rata dengan tanah. Kehancuran di mana-mana, korban berjatuhan—namun semua itu bukan berasal dari sasana yang ia cari. Semua itu adalah jejak Wuchen dan Wufeng yang menyisir kota seperti badai.
Hanya satu bangunan yang masih berdiri utuh.
Sebuah bangunan kecil tanpa hiasan, tanpa papan nama megah, di ujung gang yang hampir dilupakan peta kota.
Di situlah.
Sementara itu, Lin Qian pulang berjalan santai bersama Han Yu, tangan di belakang punggung, langkah ringan seperti orang yang baru selesai menikmati pertunjukan seni.
Sesampainya di beranda, ia melemparkan sepotong daging panggang ke arah Wangcai yang langsung menyambutnya dengan semangat. Namun sebelum ia melangkah masuk, sesuatu di ambang pintu menarik perhatiannya.
Sepotong tulang besar berwarna putih bersih.
Dan di lantai dekat kaki meja, selembar kain—yang secara kasat mata tampak lusuh dan compang-camping, namun dari cara seratnya memantulkan cahaya bulan, jelas bukan kain sembarangan.
Lin Qian menoleh ke arah Wangcai dengan tatapan seorang tuan yang sudah hafal kelakuan peliharaannya.
"Dasar anjing nakal." Ia menggeleng pelan, namun bibirnya menyunggingkan senyum kecil. "Pasti kau yang mencuri tulang ini entah dari mana, lalu menyeret kain kotor ini masuk. Sudah berkali-kali kubilang jangan sembarangan mengambil barang orang lain."
Baginya, ini persis seperti kelakuan anjing peliharaannya di kehidupan sebelumnya—yang gemar membawa pulang benda-benda aneh dari entah mana dan meletakkannya di depan pintu dengan bangga.
Wangcai yang sejatinya adalah Xue Yan, Serigala Iblis Pemakan Surga yang namanya pernah membuat tiga alam bergidik—duduk membeku dengan tulang di dalam mulutnya.
Apakah Tuanku sengaja berpura-pura tidak tahu? Apakah ini peringatan untukku?
Bulu tengkuknya berdiri.
"Buang tulang itu." Lin Qian menunjuk tanpa menoleh, lalu mengambil kain lusuh tersebut dan menyerahkannya kepada Han Yu. "Murid, bersihkan seluruh rumah dengan kain ini. Sapu sampai bersih—plakat, tiang, lantai, semuanya."
"iya , Guru."
Han Yu mengambil kain itu dan mulai bekerja dengan tekun, menyeka plakat kayu di depan pintu hingga mengkilap.
Tepat di saat itulah, Yao Linger tiba di depan gerbang.
Ia berdiri di luar, melakukan pemindaian qi terlebih dahulu sebelum melangkah masuk—kebiasaan seorang pengintai berpengalaman. Lalu matanya menyapu pemandangan di depannya satu per satu.
Han Yu sedang menyeka plakat dengan sebuah kain.
Kain itu... adalah Artefak Jubah Cepat milik Jing Wufeng.
Yao Linger menatap anak tangga di depan pintu.
Batu pengganjal itu... adalah Artefak Penggoncang Langit—artefak kebanggaan Sekte Xuanwu yang tidak ternilai harganya.
Lalu pandangannya jatuh ke Wangcai yang duduk di beranda, mengunyah sesuatu dengan santai.
Tulang putih bersih itu... adalah satu-satunya sisa dari tubuh Jing Wufeng, yang berkat latihan Teknik Tubuh Baja Xuanwu meninggalkan sepotong tulang yang tidak bisa dihancurkan.
Dunia di depan mata Yao Linger berputar.
Kedua kakak seperguruannya—murid terbaik Sekte Xuanwu, yang membawa dua artefak paling berharga sekte mereka—tidak hanya gugur. Sisa-sisa keberadaan mereka kini berfungsi sebagai kain pel, pengganjal anak tangga, dan mainan anjing.
Darah naik ke tenggorokannya. Ia tersedak, lalu memuntahkan darah segar tepat di depan gerbang.
"Hah? Nona, apa kau sakit?"
Lin Qian muncul dari dalam dengan wajah khawatir yang tulus, melangkah mendekat sambil mengibaskan tangan mengundangnya masuk. "Mari masuk dulu, istirahat sebentar. Kau kelihatan pucat sekali."
Bagi Lin Qian, ia hanya melihat seorang gadis muda yang kelelahan dan sakit-sakitan.
Bagi Yao Linger, senyum itu adalah senyum iblis yang berdiri di atas abu orang-orang yang ia cintai, mengundangnya masuk ke dalam mulut neraka yang tersenyum ramah.
Sekujur tubuhnya gemetar. Kakinya mundur satu langkah, dua langkah.
"T-tidak perlu! Maafkan saya!" Suaranya pecah di tengah jalan, dan sebelum Lin Qian sempat berkata apa-apa, Yao Linger sudah berbalik dan berlari sekencang yang bisa dilakukan kakinya—tidak menoleh, tidak berhenti, tidak bernapas dengan benar sampai bangunan kecil itu sudah jauh di belakangnya.
Lin Qian berdiri di depan gerbang, menggaruk kepalanya.
"Apa aku seram sekali sampai dia lari begitu?"
Yao Linger kembali ke Sekte Xuanwu dalam keadaan yang membuat seluruh murid yang melihatnya terdiam—rambut berantakan, jubah bernoda darah, wajah seputih kapur.
Di aula utama, para petinggi sekte sudah berkumpul.
Ning Xuanwu bangkit dari singgasananya begitu melihat kondisi murid kesayangannya. "Ceritakan semuanya! Di mana Wuchen dan Wufeng?!"
"Mereka sudah gugur, Guru." Suara Yao Linger nyaris tidak terdengar. "Di tangan orang di sasana bela diri kecil itu."
"Bagaimana mungkin?! Bagaimana cara mereka mati?!"
"Aku tidak melihat pertempurannya." Matanya memerah. "Tapi aku melihat sisa-sisanya. Wuchen lenyap tanpa jejak sama sekali. Wufeng hanya menyisakan satu tulang karena Teknik Tubuh Baja Xuanwu-nya. Dan tulang itu..." Suaranya tersangkut di tenggorokan. "...dijadikan mainan anjing peliharaan orang itu."
Hening.
"Artefak Jubah Cepat Wufeng dijadikan kain pel untuk membersihkan plakat. Artefak Penggoncang Langit kita... dipakai untuk menambal anak tangga yang tingginya tanggung di depan pintu."
DUAAR.
Meja batu di samping singgasana hancur lebur dalam satu hantaman tangan Ning Xuanwu. Serpihan batu menyebar ke seluruh penjuru aula. Tidak ada satu pun murid yang berani bergerak.
"Keterlaluan..." Suara Ning Xuanwu keluar rendah dan bergetar—jauh lebih mengerikan dari teriakannya. "Ini sudah keterlaluan."
"Orang itu sama sekali tidak tahu nilai artefak-artefak itu," lanjut Yao Linger dengan nada penuh dendam yang tidak lagi ia sembunyikan, "atau lebih buruk lagi—dia menganggapnya tidak lebih berharga dari batu bata dan kain usang biasa."
Tangan Ning Xuanwu mencengkeram gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyala merah padam, niat membunuh meluap memenuhi seluruh ruangan seperti gelombang qi hitam yang membuat napas para murid di sekelilingnya tercekat.
Di benaknya, nama Lin Qian bukan lagi sekadar target investigasi.
Ia adalah penghinaan hidup yang harus dibasmi sampai ke akarnya.
Meski jauh di sudut pikirannya yang paling rasional, sebuah bisikan kecil mulai berbicara lebih keras dari amarahnya:
Orang seperti apa yang bahkan tidak menyadari betapa berbahayanya dirinya sendiri?