NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami yang Kubeli Tak Bisa Kubeli

📖 BAB 2: Suami yang Kubeli Tak Bisa Kubeli

Lift bergerak turun perlahan.

Di dalam ruang sempit berlapis kaca itu, Lin Qingyan berdiri kaku di samping pria asing yang baru saja menghancurkan hidup keluarganya... dan entah bagaimana menyelamatkannya sekaligus.

Gu Beichen.

Nama itu masih asing di telinganya, tetapi caranya berbicara, caranya memerintah, bahkan caranya diam—semuanya menunjukkan satu hal.

Pria ini terbiasa mengendalikan dunia.

Qingyan menatap angka lantai yang terus berubah agar tak perlu melihat wajahnya.

Tangannya masih berada dalam genggaman Beichen.

Hangat.

Kuat.

Dan tidak memberi ruang untuk menolak.

Saat pintu lift terbuka di lobi pribadi hotel, Beichen baru melepaskannya.

“Masuk mobil.”

Nada suaranya datar, bukan permintaan.

Qingyan menyilangkan tangan.

“Bagaimana kalau aku menolak?”

Beichen berjalan lebih dulu tanpa menoleh.

“Kalau kau benar-benar ingin menolak, kau tidak akan masuk lift bersamaku.”

Qingyan terdiam.

Menyebalkan.

Dan benar.

---

Mobil hitam panjang menunggu di depan pintu hotel. Hujan masih turun, tapi para petugas berdiri tegak tanpa payung, seolah takut membuat pria itu menunggu satu detik lebih lama.

Seorang pria tua berjas abu-abu membuka pintu belakang.

“Nona Lin.”

Qingyan menatapnya curiga.

“Anda siapa?”

“Nama saya Han. Saya mengurus hal-hal yang Tuan Gu tidak suka urus sendiri.”

Beichen sudah duduk di dalam.

“Artinya semuanya,” katanya singkat.

Qingyan masuk perlahan.

Begitu pintu tertutup, dunia luar langsung senyap. Kabin mobil begitu mewah hingga ia merasa sedang masuk ke ruangan hotel bintang tujuh.

Ia menoleh ke pria di sampingnya.

“Sekarang jelaskan.”

“Apa?”

“Kenapa kau membeliku?”

Han yang duduk di depan hampir tersedak.

Tak ada yang berani bicara begitu pada Gu Beichen.

Namun Beichen hanya memandang ke luar jendela.

“Aku tidak membelimu.”

“Kau bayar satu miliar.”

“Aku membeli kebebasanmu.”

Qingyan mengerutkan dahi.

“Kita bahkan tidak saling kenal.”

“Benar.”

“Jadi kenapa?”

Beichen menoleh. Mata gelapnya bertemu dengan mata Qingyan.

“Karena aku butuh istri.”

Mobil mendadak terasa lebih sempit.

Qingyan menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa pendek.

“Kau gila.”

“Banyak orang bilang begitu.”

“Aku bukan orang-orang.”

“Kau akan terbiasa.”

---

Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi dua lantai.

Gerbang terbuka otomatis.

Di baliknya berdiri sebuah mansion luas dengan taman yang lebih besar dari kompleks rumah keluarganya. Air mancur marmer menyala di tengah hujan. Puluhan lampu taman memantulkan cahaya ke jalan batu basah.

Qingyan menelan ludah.

“Kau tinggal di sini?”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Kadang aku tidur di kantor. Kadang di pesawat. Kadang tidak tidur.”

“Normal sekali.”

“Terima kasih.”

“Aku sedang menyindir.”

“Aku tahu.”

Qingyan mulai membenci betapa tenangnya pria ini.

---

Begitu masuk, belasan pelayan berdiri berjajar rapi.

“Selamat datang, Nyonya.”

Qingyan berhenti mendadak.

“Apa?”

Beichen berjalan melewatinya.

“Mereka cepat belajar.”

“Aku belum menikah denganmu.”

“Kau akan.”

“Siapa bilang?”

“Aku.”

Han menunduk agar Qingyan tidak melihat senyumnya.

---

Qingyan dibawa ke kamar tamu di lantai dua. Kamar tamu itu lebih besar dari rumah masa kecilnya.

Lemari pakaian penuh gaun baru.

Meja rias dipenuhi produk mahal.

Tempat tidur cukup besar untuk lima orang.

Ia berdiri di tengah ruangan sambil memijat pelipis.

Hari ini keluarganya menjualnya.

Seorang pria asing membeli kebebasannya.

Lalu menyatakan dirinya calon istri.

Jika ini mimpi, jelas penulis mimpinya mabuk.

Ketukan terdengar.

Han masuk membawa map tipis.

“Nona Lin, Tuan Gu meminta Anda membaca ini.”

Qingyan membuka map.

Di dalamnya ada kontrak.

Perjanjian Pernikahan Sementara – 1 Tahun

Ia membaca cepat.

Menjadi istri resmi Gu Beichen selama satu tahun

Tinggal di kediaman utama

Menemani acara publik seperlunya

Tidak ikut campur urusan bisnis internal

Setelah satu tahun, bebas pergi dengan kompensasi besar

Di halaman terakhir tertera angka kompensasi.

Qingyan hampir menjatuhkan map.

“Ini... nolnya kebanyakan.”

Han tersenyum tipis.

“Itu angka yang benar.”

“Kenapa dia butuh pernikahan palsu?”

Han langsung kembali serius.

“Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab Tuan Gu sendiri.”

---

Qingyan turun ke ruang makan satu jam kemudian.

Beichen duduk sendiri di meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Di hadapannya hanya ada secangkir kopi hitam dan laptop terbuka dengan grafik saham dunia.

Ia bahkan tampan saat terlihat menyebalkan.

Qingyan duduk di seberangnya.

“Kau sadar meja ini terlalu panjang untuk dua orang?”

“Kalau kau cerewet, terasa lebih dekat.”

Ia mendorong pena dan kontrak ke arahnya.

“Tanda tangan.”

Qingyan menyandarkan tubuh.

“Aku mau jawaban dulu.”

Beichen menutup laptop.

“Baik.”

“Kenapa aku?”

“Karena kau bersih.”

Qingyan mengernyit.

“Apa maksudnya?”

“Kau tidak punya catatan kriminal, tidak punya hubungan gelap, tidak suka pamer, tidak serakah, dan tetap menghidupi keluarga yang tidak pantas ditolong.”

Qingyan membeku.

“Kau menyelidikiku?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Enam bulan.”

Pena di tangan Qingyan jatuh.

“ENAM BULAN?!”

Han yang berdiri di sudut ruangan menatap langit-langit, pura-pura tidak mendengar.

Qingyan menatap pria di depannya seperti melihat psikopat berkelas.

“Kau menguntitku?”

“Aku mengamati.”

“Itu versi mahal dari menguntit!”

Beichen mengangkat cangkir kopi.

“Kau lucu saat marah.”

Qingyan ingin melempar piring.

---

Ia menenangkan diri.

“Baik. Kenapa butuh istri?”

Beichen terdiam beberapa detik.

“Ada orang yang ingin memaksakan pernikahan politik padaku.”

“Jadi kau pakai aku sebagai tameng?”

“Ya.”

“Dan kalau orang itu marah?”

“Mereka akan marah.”

“Kalau mereka menyerangku?”

“Aku akan menghancurkan mereka.”

Nada suaranya datar.

Namun Qingyan percaya.

Entah kenapa, ia percaya pria ini bisa menghancurkan banyak hal.

---

Telepon Qingyan tiba-tiba bergetar.

Nama Ibu muncul di layar.

Ia menatap beberapa detik sebelum mengangkat.

“Kau anak tidak tahu diri!” teriak suara di seberang. “Cepat pulang! Rumah kita disegel! Apa yang kau lakukan pada keluarga sendiri?!”

Qingyan memejamkan mata.

“Yang kulakukan? Untuk pertama kali, aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau pikir pria itu akan melindungimu selamanya? Kau hanya perempuan bekas jualan!”

Beichen mengulurkan tangan.

“Berikan.”

Qingyan ragu sesaat lalu menyerahkan ponsel.

Beichen menempelkan ke telinga.

“Halo.”

Suara di seberang langsung diam.

“Ada tiga hal yang harus Anda pahami,” kata Beichen tenang. “Pertama, mulai malam ini Lin Qingyan bukan milik keluarga Lin.”

Wajah Qingyan memanas.

“Kedua, jika Anda menghubunginya lagi untuk menghina atau memeras, saya akan pastikan Anda menyesal.”

Han tersenyum tipis. Ia tahu itu bukan ancaman kosong.

“Ketiga...”

Beichen melirik Qingyan.

“Ia jauh lebih berharga daripada seluruh keluarga Anda digabungkan.”

Klik.

Telepon dimatikan.

Ruangan hening.

Qingyan tak tahu harus marah atau bingung.

“Kau selalu bicara semengerikan itu?”

“Hanya saat sopan santun tidak bekerja.”

---

Ia menatap kontrak lagi.

Satu tahun.

Tempat tinggal aman.

Keluarganya tak bisa menyentuhnya.

Dan setelah itu ia bebas.

Masuk akal.

Terlalu masuk akal.

“Apa jebakannya?” tanya Qingyan.

Beichen menatap lurus.

“Suatu hari kau mungkin benar-benar jatuh cinta padaku.”

Qingyan menatapnya kosong dua detik.

Lalu tertawa keras untuk pertama kalinya hari itu.

“Percaya diri sekali.”

“Aku realistis.”

“Kau narsis.”

“Keduanya sering tertukar.”

Ia mengambil pena.

“Baik. Aku tanda tangan.”

Pena bergerak di atas kertas.

Lin Qingyan

Begitu selesai, Beichen ikut menandatangani di bawahnya.

Lalu ia berdiri.

“Mulai besok, kau ikut aku ke kantor.”

“Untuk apa?”

“Semua orang harus tahu kau istriku.”

“Aku baru tanda tangan lima detik!”

“Waktu berjalan cepat.”

Ia berjalan pergi.

Di ambang pintu, ia berhenti tanpa menoleh.

“Oh ya.”

“Apa lagi?”

“Kamar utamaku di lantai tiga.”

Qingyan menegang.

“Maksudmu?”

“Kau tidur di sana malam ini.”

“Apa?!”

Beichen melanjutkan langkahnya.

“Aku bercanda.”

Ia berhenti lagi.

“Setengah bercanda.”

Pintu tertutup.

Qingyan menatap kosong.

Han menunduk hormat.

“Selamat malam, Nyonya.”

Qingyan memegang kepalanya.

Ia baru saja menukar neraka lama...

dengan pria yang jelas akan menjadi masalah jauh lebih besar.

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!