NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela rumah kecil itu. Suasana pagi biasanya penuh dengan kesibukan dan kehangatan, namun hari ini berbeda.

Di dalam kamar, Nayla terbangun karena perutnya yang berbunyi nyaring. Krucuk... Krucuk... Rasa lapar yang hebat membuatnya tidak bisa tidur lagi. Semalam ia mogok makan, dan sekarang tubuhnya meminta asupan.

Dengan malas dan wajah masih manyun, Nayla berjalan keluar kamar. Ia berharap ada makanan siap saji seperti dulu di rumah Dewantara. Tapi yang ia temukan hanya rumah yang sepi. Dinda, Bu Sari, dan Pak Agus sudah pergi ke pasar pagi ini untuk membeli keperluan dapur, meninggalkan Nayla sendirian.

"Hah? Mana semua orang?! Mana sarapan aku?! Dasar keluarga tidak berguna!" gerutunya kesal.

Karena perut sudah tidak bisa diajak kompromi, ia terpaksa berniat membuat sesuatu sendiri.

 "Hhh... yasudah! Aku masak sendiri aja! Gampang kan masak?!"

Ia berjalan masuk ke dapur yang sempit. Ia melihat ada beras, ada telur, dan kompor gas.

 "Oke, aku mau bikin nasi goreng! Simpel!"

Ia mengambil panci dan mencoba menuangkan beras. Tapi karena tidak terbiasa, beras tumpah berantakan di lantai.

Nayla: "ADUH! Sialan!"

Lalu ia mencoba menyalakan kompor. KRAK! Api besar tiba-tiba membesar membuatnya kaget dan mundur teratur. Tangannya gemetar. Ia tidak pernah menyentuh kompor selama hidupnya. Selalu ada asisten rumah tangga yang melayani.

Akhirnya, bukannya masakan enak, yang terjadi justru kekacauan besar.

Nasi yang dimasak jadi gosong dan asap mengepul memenuhi dapur. Telur yang digoreng malah hancur lebur dan lengket di wajan.Bumbu-bumbu berantakan, garam terlalu banyak, kecap tumpah.

"ARGH! APA-APAAN INI?! GAK BISA DIPAKAI SEMUA! PERABOTAN ORANG MISKIN . BIKIN SUSAH AJA !!" teriak Nayla .

Nayla melempar spatula ke lantai dengan kasar. Ia frustrasi luar biasa. Ia sadar, tanpa pembantu dan tanpa uang banyak, dia tidak bisa apa-apa. Dia sama sekali tidak berguna.

Saat itulah, pintu depan terbuka. Dinda, Bu Sari, dan Pak Agus pulang dari pasar. Mereka langsung disambut oleh bau asap gosong yang menyengat dan pemandangan dapur yang berantakan luar biasa.

"Ya Ampun! Ini kenapa jadi begini?!" seru dinda .

Dinda langsung berlari mematikan kompor yang masih menyala. Lantai penuh beras, bumbu berserakan, dan wajan berasap hitam.

 "Nayla... ini apa yang kamu lakukan? Kenapa bisa berantakan gini?" tanya Bu sari heran .

Nayla berdiri di sudut dapur dengan wajah merah padam, campuran antara malu dan marah.

 "ITU KARENA ALAT DI SINI SEMUA RUSAK! GAK BISA DIPAKAI! AKU CUMA MAU MASAK DOANG TAPI SUSAH BANGET! DASAR RUMAH SIALAN!" teriak Nayla .

Pak Agus menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.

"Jangan menyalahkan tempat Nak... Lihat Dinda! Dia bisa masak enak dengan alat yang sama. Kenapa kamu tidak bisa? Karena kamu tidak pernah belajar! Kamu terbiasa manja dan dilayani!"

Dinda tidak marah. Ia hanya menggeleng pelan lalu mulai berjongkok membersihkan kekacauan itu.

"Sudah... gak apa-apa. Biar Dinda bersihin. Nayla lapar ya? Sabar ya, Dinda masakkan yang baru. Yang enak." ucap Dinda lembut .

Melihat Dinda yang begitu tenang, cekatan, dan bisa melakukan segalanya dengan mudah, hati Nayla semakin panas. Cemburu buta memenuhi dadanya.

 "IYA KAU PASTI BISA! KAU KAN MEMANG DARI KECIL MEMANG HIDUP SUSAH ! JADI WAJARLAH KAMU BISA MELAKUKAN INI SEMUA. PEKERJAAN SEPERTI PEMBANTU !" sindir nayla dengan menatap remeh Dinda .

"NAYLA! JANGAN KASAR! Dinda itu rajin! Dia membantu kami! Sedangkan kamu? Datang bawa masalah dan pergi tinggalkan kekacauan!" teriak Bu Sari geram .

Nayla mendengus kesal. "Huh! Aku males debat sama kalian! Aku mau mandi! Badanku bau asap!"

Ia berlari menuju kamar mandi kecil di belakang rumah. Tapi masalah belum selesai.

Di sana tidak ada shower air panas, tidak ada bathtub mewah. Hanya ada gayung dan ember.

 "APA INI?! MANDI PAKAI EMBER?! JAMAN SEKARANG MASIH ADA YANG MANDI BEGINI?! KOTOR BANGET!" gerutu Nayla .

Ia mencoba mengambil air, tapi karena tidak biasa, air tumpah kemana-mana membuat lantai kamar mandi becek dan licin. Ia hampir terpeleset dan berteriak ketakutan.

"AAAA JIJIK! AKU TIDAK BETAH DI SINI! AKU INGIN PULANG! AKU INGIN BALIK KE RUMAH DEWANTARA!" teriak Nayla .

Nayla keluar dari kamar mandi dengan baju basah kuyup karena tumpahan air, menangis histeris. Hidupnya benar-benar berubah 180 derajat menjadi neraka, dan semua itu ia lihat sebagai kesalahan Dinda, padahal itu adalah akibat dari perbuatan jahatnya sendiri.

Tanpa banyak bicara, Dinda langsung turun tangan. Dengan sigap dan sabar, ia mulai membereskan kekacauan yang dibuat oleh Nayla.

Beras yang tumpah dikumpulkan dan dibersihkan, wajan yang gosong dicuci bersih, bumbu-bumbu yang berantakan disusun kembali rapi. Dalam waktu singkat, dapur kecil itu kembali rapi dan wangi, seolah tidak pernah terjadi bencana sebelumnya.

"Maaf ya Nak, kamu yang capek masak terus kamu juga yang harus bersihin." ucap Bu sari .

Dinda tersenyum manis. "Gak apa-apa Bu. Sudah jadi tugas Dinda kok. Yang penting sekarang Dinda masak yang enak buat kita semua."

Dinda kembali memegang spatula. Dengan keahliannya yang luar biasa, ia memasak nasi goreng spesial lengkap dengan telur dadar yang cantik dan irisan timun segar. Wanginya pun berbeda, sangat menggugah selera.

Sementara itu, di dalam kamar, Nayla sedang berganti baju dengan wajah cemberut. Ia terpaksa memakai baju-baju sederhana yang ada di sana karena bajunya basah terkena air tumpah tadi. Ia merasa sangat buruk rupa dan tidak percaya diri.

 Waktu makan pun tiba. Mereka berkumpul kembali di meja makan. Nasi goreng hangat tersaji di piring masing-masing. Pak Agus dan Bu Sari langsung menyantapnya dengan lahap, menikmati setiap suapan karena memang sangat lezat.

 "Mmm... Enak sekali! Masakan Dinda memang juara. Perut jadi kenyang ." puji pak Agus dengan mata berbinar .

Namun, suasana hangat itu kembali dihancurkan oleh suara cempreng Nayla. Gadis itu memegang sendok dengan malas, memutar-mutar nasinya tanpa memasukkan ke mulut.

 "Hhh... Masak apa lagi sih ini? Bau minyak jelantah lagi kan? Pasti gosong dikit-dikit." ejek Nayla .

 "Nay... makan dulu ya. Itu nasi goreng biasa kok, enak lho. Makan biar ada tenaga."

Nayla mendecakkan lidah kesal. "ENAK APANYA! Lihat tuh isinya cuma telur doang! Gak ada daging, gak ada sosis, gak suwiran ayam , Ini mah makanan kucing! Kalian sadar gak sih kalau hidup kalian itu menyedihkan? Makan seadanya, bersyukur juga seadanya. Dasar orang pasrah!"

Bu Sari menelan ludah pahit. "Nay... tolong hargai usaha Dinda. Dia masak buat kita."

 "Hargai gimana coba? Aku kan terbiasa makan makanan mewah! Perutku , gak kuat nerima makanan kampungan kayak gini! Dinda emang jago banget ya bikin makanan yang gak layak makan terus dibilang enak!"

Nayla menatap Dinda dengan sinis.

Nayla: "Tapi ya sudahlah... emang sudah takdir kamu hidupnya di sini. Jadi wajar kalau lidahmu dan lidah orang tua angkatmu itu seleranya rendah banget. Nasib nasib... aku harus ikut menderita karena nasib sial bertemu orang-orang kayak kalian."

Dinda tetap diam, tidak membalas. Ia hanya menyantap makanannya dengan tenang. Ia tahu, membalas ocehan Nayla hanya akan membuat keributan makin panjang.

Dinda berucap Dalam hati "Biarkan saja Nay... Mulutmu bisa menghina makanan ini, tapi hatimu yang tidak pernah bisa merasa cukup itulah yang membuatmu selalu menderita. Aku bahagia dengan apa yang aku punya, dan itu lebih dari cukup."

Pak Agus dan Bu Sari akhirnya mengabaikan ocehan Nayla. Mereka menikmati sarapan mereka dengan damai, membiarkan gadis itu menggerutu sendiri di sudut meja. Nayla akhirnya makan juga karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi, meskipun sambil terus mengomel dan mengeluh sepanjang waktu.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!