Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
“CERAI?” Suara Mia begitu menggelegar di ruang tengah rumahnya setelah Tara dan Devan mengutarakan apa tujuan mereka datang ke rumahnya.
Tara dan Devan saling pandang lalu menunduk dalam-dalam. Mia dan Gunawan menatap keduanya dengan raut wajah terkejut. Mia bahkan sampai berdiri karena tak percaya dengan apa yang baru saja Tara dan Devan katakan. Keduanya mengatakan sepakat untuk bercerai.
“Apa yang terjadi, Devan? Tara?” tanya Mia masih menatap keduanya. Napasnya masih terengah.
Tara mengangkat wajahnya dan melirik Devan. “Devan selingkuh, Ma,” ucapnya.
Devan sontak menoleh pada Tara. Tara balas menatap sebentar lalu beralih menatap ibu mertuanya.
Mia tersentak. Devan selingkuh?
Gunawan juga terkejut sampai menegakkan tubuh. Dia memandang Devan yang kembali menunduk.
Mia mendekati Devan. “Apa benar kamu selingkuh, Dev? Tolong jujur sama Mama dan Papa,” ucap Mia dengan nada tajam.
Devan terdiam. Sesuai kesepakatannya dengan Tara tadi saat dalam perjalanan, Tara akan menggunakan alasan Devan selingkuh agar orang tua Devan segera menyetujui perceraian mereka. Pada dasarnya itu bukanlah sekedar alasan, karena nyatanya Devan memang selingkuh. Mengkhianati kepercayaannya dan menghancurkan pernikahan mereka.
Mia menggeleng tak percaya. Dia melangkah menjauh dan mendekati Gunawan. “Pa…”
Gunawan menghela napas pelan. “Sejak kapan Devan selingkuh, Ra?” tanya Gunawan pada Tara.
“Entah, Pa. Tapi aku baru tahu beberapa minggu yang lalu,” jawab Tara.
“Apa kamu yakin jika Devan selingkuh?” Gunawan sangsi dengan pernyataan Tara mengingat betapa pendiamnya putranya selama ini. Rasanya tidak mungkin putranya tega untuk berselingkuh.
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Pa. Mereka melakukannya di kamar kami,” ucap Tara dengan nada memelan di ujung kalimat. Ingatan itu kembali melintas membuat dadanya sesak dan hatinya berdenyut perih.
Mia sontak melotot, menatap Devan tajam. “Kamu selingkuh di kamar kalian, Dev?”
Devan masih terdiam. Belum saatnya dia membela. Toh, apa yang bisa dibela kalau dia memang bersalah disini?
Mia langsung terisak. “Ya Tuhan. Kenapa kamu bisa seperti itu, Dev?”
Devan memejamkan matanya erat. Dia tahu Ibunya pasti akan sangat terluka dengan kabar ini. Tapi tak ada pilihan lain. Tara benar-benar ingin mengakhiri pernikahan mereka. Devan pikir Tara akan memikirkannya lagi, namun keputusan Tara tak bisa diganggu gugat. Tara bersikukuh tetap ingin berpisah darinya.
Gunawan tak kalah terkejut dengan istrinya. Devan selingkuh di kamarnya. Di rumahnya sendiri. Dan Tara melihat semuanya. Apa yang lebih menyakitkan dari itu bagi seorang istri? Melihat suaminya melakukan hubungan dengan orang lain di kamar mereka. Wajarlah jika Tara marah hingga meminta cerai.
“Baru kemarin kalian merayakan pesta ulang tahun pernikahan yang ke tiga dengan begitu mewah dan sekarang kalian memutuskan untuk bercerai. Sebenarnya apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian?” tanya Mia menatap sedih kedua orang yang duduk bersisian namun berjarak itu.
Tara dan Devan diam. Sebenarnya Tara juga tak tega melihat kedua orang tua Devan bersedih seperti itu. Mereka begitu baik padanya. Tak pernah memandang sebelah mata padanya. Namun, keputusan sudah dibuat. Tak ada jalan lain, karena Tara sudah kalah. Sudah cukup Tara mendustai hatinya sendiri. Bertahan dengan orang yang tak kan pernah berubah sampai kapanpun. Tara tak sanggup lagi menjadi seorang istri Devanka Gunawan. Walaupun hanya sekedar status. Tara ingin bahagia. Dan itu bukan dengan menjadi istri Devan.
“Apa kalian yakin dengan keputusan kalian? Tara, mungkin kamu sedang emosi, Nak hingga cepat memutuskan hal sebesar ini. Cobalah untuk memikirkannya lagi. Bercerai itu mudah. Tapi apa kalian tak akan menyesalinya nanti? Bukankah kalian sudah berhubungan bertahun-tahun? Kalian sudah lama saling mengenal. Berikan waktu buat kalian merenungi ini semua. Jangan terburu-buru mengambil keputusan saat hatimu masih terluka,” ujar Gunawan memberi nasihat.
Gunawan juga sedih jika seandainya hubungan keduanya harus berakhir di meja hijau. Tak ada orang tua yang ingin pernikahan anaknya berakhir dengan perceraian.
Tara menghela napas pelan dan menatap Gunawan serta Mia. “Pa, Ma, kami sudah memikirkan semuanya. Kami sudah pisah rumah sejak dua minggu lalu. Aku tinggal di rumah Bang Haris dan Devan tinggal di rumahnya. Maaf, Pa, Ma, jika aku mengecewakan kalian. Tapi aku nggak sanggup lagi mempertahankan pernikahan ini. Devan berkhianat. Dan dia juga mengakuinya. Aku nggak bisa mentolerir perselingkuhan dalam rumah tangga, Pa,” ucap Tara dengan nada pelan.
“Tara, Mama mau bicara berdua sama kamu. Ayo ikut Mama,” ucap Mia lalu melangkah ke halaman belakang.
Tara dan Devan saling pandang. Tara berdiri dan mengikuti langkah Mia. Sementara itu, Devan tetap duduk di tempatnya. Dia melihat Gunawan yang tengah menatapnya tajam. Devan menundukkan kepala. Dia tahu bahwa dia akan menghadapi sang papa berdua.
Tara masuk ke halaman belakang. Mia mengajaknya duduk di gazebo kecil di pinggir halaman.
“Mama sangat terkejut, Tara. Mama pikir tadi kalian datang untuk menginap dan menghabiskan waktu bersama kami disini. Tapi nyatanya kalian datang ke sini untuk menyampaikan berita buruk,” ucap Mia menatap rumput halaman yang dipangkas rapi.
Tara menoleh. “Maafkan aku, Ma.”
Mia menoleh dan menatap Tara dengan sorot mata penuh kelembutan. “Sebenarnya apa yang terjadi dalam pernikahan kalian? Kali ini, tolong jangan menutupi apapun lagi. Mama lihat di acara perayaan ulang tahun pernikahan kalian kemarin, kalian bersandiwara. Berpura-pura bersikap romantis di seluruh tamu undangan. Mungkin para tamu menatap kalian dengan kekaguman. Kalian bergandengan tangan, saling melempar senyum, saling memeluk. Semua orang disana pasti tertipu dengan sandiwara kalian yang begitu apik,” ujar Mia.
Tara tersentak. Bagaimana bisa ibu mertuanya tahu jika kebahagiaan mereka kemarin adalah pura-pura?
Mia tersenyum tipis saat melihat reaksi wajah Tara. “Kalian bisa membohongi semua orang, tapi kalian nggak akan bisa membohongi Mama dan Papa. Mama dan Papa melihat jelas bagaimana kalian pura-pura bahagia di hadapan semua orang. Mama dan Papa juga berpura-pura melihat kalian dengan bahagia, padahal kami tahu bahwa kalian sedang ada masalah. Ekspresi wajah kalian menunjukkannya. Kami ingin bertanya saat itu, tapi kami sadar bahwa kami tak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Selama kalian nggak ribut besar, maka kami tetap akan mengikuti skenario kalian. Kalian berbakat sekali jadi pemain sinetron.”
Mia menghela napas pelan dan melanjutkan,”Dan sekarang kami menyesal. Harusnya kami lebih perhatian lagi pada kalian. Kalian diam-diam menyembunyikan api. Dan sekarang api itu meledak tanpa bisa dicegah. Bahkan Mama dan Papa terlambat untuk melindungi kalian.” Mia tersenyum lirih. Air matanya turun membasahi pipi.
Tara masih terdiam dan menunduk. “Aku dan Devan tak pernah saling mencintai, Ma. Dari awal tujuan kami menikah itu karena Mama ingin menjodohkan Devan dengan orang lain yang Devan nggak kenal. Itulah sebabnya Devan melamar dan menikahiku. Aku dan Devan hanya berteman, Ma saat itu.”
Mia tersentak dan sontak menoleh. “Kalian menikah karena terpaksa?”
Tara menggeleng.”Kami sepakat, Ma. Tak ada paksaan. Kami yakin seiring berjalannya waktu, akan hadir cinta di tengah-tengah kami. Tapi nyatanya nggak ada, Ma. Aku masih berusaha bertahan. Tapi saat aku lihat Devan di kamar kami dan….,” Tara menitikkan air mata. Tak sanggup lagi melanjutkan.
Mia memeluk Tara dan ikut menangis. “Maafkan Mama, Nak. Karena tuntutan kami, kalian harus terjebak dalam pernikahan tanpa landasan cinta. Maafkan Mama dan Papa, Tara. Devan sudah membawamu ke dalam kehidupan kami dan dia sekarang malah menyakitimu.”
Tara memeluk ibu mertuanya erat. Mereka berpelukan cukup lama lalu melepaskannya setelah beberapa saat. “Aku nggak mau menyesali apa yang sudah terjadi diantara kami, Ma. Mungkin memang ini jalan takdirku. Aku ikhlas, Ma. Aku dan Devan memang tak berjodoh sebagai suami istri. Kami pantasnya berjodoh sebagai teman saja,” ucap Tara menghapus air matanya dan tersenyum lirih.
“Apa selama kalian menikah, kalian nggak pernah berhubungan?” tanya Mia. Tara yang paham maksud pertanyaan Mia hanya terdiam dan menunduk.
Mia memejamkan matanya erat. Sungguh dia menyesali tindakannya dulu yang berniat menjodohkan Devan agar putranya itu segera menikah yang akhirnya membuat Devan menikah dengan Tara dan menelantarkannya. Dari diamnya Tara, Mia paham bahwa selama tiga tahun pernikahan, keduanya tak pernah melakukan hubungan suami istri. Entah bagaimana Tara sanggup bertahan dengan kondisi seperti itu.
“Ya Tuhan. Kenapa kamu selama ini cuma diam saja, Tara? Kenapa nggak cerita sama Mama dan Papa?” Mia menggeleng pedih.
Tara tersenyum tipis. “Aku nggak mungkin menceritakan hal pribadi seperti itu pada Mama dan Papa. Aku masih menghargai Devan sebagai suamiku, Ma,” jawabnya lirih.
Mia menggeleng dan terisak. Dia sekarang paham mengapa Tara begitu ingin bercerai dari putranya. Pernikahan mereka sudah tak bisa dipertahankan lagi. Jika pun memaksa bertahan, maka keduanya akan saling menyakiti hati masing-masing.
****
Sementara itu, di ruang tengah, ketegangan masih berlangsung. Gunawan sudah menanyakan banyak hal pada Devan. Namun Devan lebih banyak diam. Jawabannya hanya mengangguk atau menggeleng. Hal itu membuat emosi Gunawan meluap.
“Apa kamu tak punya mulut, hah?” Sentak Gunawan mulai emosi. Matanya melotot tajam pada sang putra yang masih duduk terdiam dan menunduk.
“Katakan! Kalau tidak, maka Papa dan Mama nggak akan pernah membiarkan kalian bercerai!” Ancam Gunawan.
Devan melirik takut pada Gunawan. Jika kedua orang tuanya tak mengijinkan mereka bercerai, maka Tara bisa membongkar aibnya. Tara mengancam akan memberitahukan masalah kelainan orientasi seksualnya pada kedua orang tuanya jika Devan mempersulit jalannya yang ingin bercerai.
Devan menatap sang Papa dan berdiri di hadapannya. “Aku dan Tara nggak pernah berhubungan suami istri selama ini, Pa,” ucapnya.
Gunawan melangkah mundur. Dia terlalu terkejut karena dugaannya benar. Pantas saja Tara tak kunjung hamil. Rupanya Devan tak pernah menyentuh Tara. Dan hal itu membuat Gunawan menggeleng tak habis pikir. Dia sulit memercayai. Tiga tahun usia pernikahan, dan tak ada kontak fisik diantara keduanya. Pernikahan macam apa yang sedang mereka jalani itu?
“Apa kurangnya Tara di mata kamu, Devan?” Bentak Gunawan membuat Devan terperanjat.
“Kamu yang menikahinya! Kamu memilihnya sebagai istrimu! Kamu yang meyakinkan Papa dan Mama waktu itu untuk menerima Tara sebagai calon istrimu! Tapi kenapa kamu justru menelantarkannya? Kenapa kamu tak memberikan haknya? Dan kenapa kamu memilih selingkuh dari dia? Apa Tara kurang menarik? Dia kurang cantik? Dia kurang apa,hah?” Gunawan melotot tajam pada putra nya.
Devan menggeleng. “Aku yang salah, Pa. Tara sudah berusaha sebaik mungkin menjadi istriku. Tapi aku nggak bisa, Pa. Aku nggak bisa melakukan itu karena aku nggak pernah mencintai dia,” aku Devan separuh berdusta. Dulu dia memang tak mencintai Tara, tapi setelah Tara menghilang setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, Devan sadar bahwa dia mulai mencintai istrinya. Dan dia tahu dia sudah terlambat untuk menyadari dan mengungkapkannya.
Gunawan tertawa sinis. “Apa kamu bilang? Kamu nggak pernah mencintainya tapi menikahinya? Kamu membuat anak gadis orang kehilangan tiga tahun kebahagiaannya! Kamu memenjarakan anak gadis orang tiga tahun lamanya! Coba kamu pikir, bagaimana perasaan keluarga Tara, terutama kakaknya! Pasti sakit hati, Devan!”
Gunawan memijit pelipisnya. “Papa dan Mama nggak pernah ngajarin kamu jadi pria brengsek seperti ini! Kamu nggak mau menyentuh istrimu sendiri, tapi kamu selingkuh dengan wanita lain di kamar kalian? Dimana otakmu, hah?”
Devan terdiam. Dia tak kan mengoreksi apa yang sudah dikatakan Papanya. Biarlah semua orang termasuk kedua orang tuanya menganggap bahwa dia selingkuh dengan wanita lain. Dia berharap Tara menepati janjinya untuk tak membongkar aibnya pada kedua orang tuanya.
Melihat Devan yang terdiam, Gunawan melangkah mendekati Devan dan mencengkram kerah baju putranya lalu menghempaskannya ke sofa dengan kasar. Tak sampai disitu saja, Gunawan langsung melayangkan tamparan teramat keras pada putra semata wayangnya itu.
Devan menoleh ke kiri akibat tamparan sang Papa. Pipinya merah dan perih. Ini pertama kalinya Gunawan menamparnya.
“Cukup, Pa!” Seru Mia dari pintu ruang tengah. Devan menoleh dan bertatapan dengan Tara. Tara menatap Devan sendu. Tara melihat saat Devan ditampar papanya. Hati Tara tak nyaman. Dia kasihan, tak tega. Namun, apa daya. Tak hanya dia yang terluka karena pengkhianatan Devan, tapi juga kedua orang tua Devan pun mungkin lebih terluka.
Mia melangkah cepat mendekati Gunawan dan memeluknya. Mia terisak. “Cukup, Pa. Jangan sakitin anak kita.”
“Tapi anak itu adalah pria paling bejat yang pernah Papa kenal, Ma! Dia brengsek!” Umpat Gunawan masih menatap penuh amarah pada Devan yang memegangi pipinya.
Tara melangkah dan duduk di samping Devan. Dia menyentuh tangan Devan yang memegang pipinya. “Aku kompres ya,” ucap Tara.
Devan menatap Tara dan mengangguk. Dia masih begitu terkejut dengan kejadian ini. Dia tak menyangka bahwa Gunawan yang begitu lembut dan memanjakannya itu bisa melayangkan tangan menamparnya.
“Ma, aku akan mengobati Devan di teras,” ucap Tara yang langsung diangguki Mia.
Tara beranjak mengajak Devan ke teras depan. Setelah itu Tara mengambil kompresan air hangat di dapur dan membawanya ke teras.
“Aw,” ringis Devan saat Tara menempelkan kain hangat ke pipi Devan secara perlahan.
Tara meniupnya perlahan. Jarak wajah keduanya begitu dekat hingga membuat Devan menatap Tara lekat. Hatinya berdesir melihat Tara yang begitu perhatian padanya walau dia sudah menyakiti hati istrinya dengan sangat dalam.
Sadar jarak keduanya terlalu dekat, Tara berdehem dan menjauhkan wajahnya. “Udah mendingan belum?”.
Devan mengangguk. “Nggak perlu khawatir. Aku nggak papa. Wajar Papa melakukan ini, walau ini pertama kalinya. Aku sudah sangat keterlaluan.”
Tara mengangguk.”Tolong jangan sakit hati dengan apa yang dilakukan Papa tadi. Ini adalah bentuk kekecewaannya sebagai orang tua. Kamu nggak boleh membenci apalagi dendam sama Papa.”
“Aku tahu. Kamu nggak menceritakan yang sebenarnya kan? Jika iya, mungkin aku bisa mati di tangan Papa.”
Tara menggeleng. “Sesuai apa yang sudah kita sepakati.”
Devan mengangguk dan menatap halaman rumah kedua orang tuanya. “Mama udah setuju kita cerai?”
Tara mengangguk.”Sudah. Semoga Papa juga segera setuju agar kita bisa segera memprosesnya.”
Devan menoleh, menatap lekat wajah istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri. “Apa benar-benar nggak ada kesempatan lagi untukku, Ra?”
Tara tersenyum lirih. “Nggak ada, Dev. Keputusanku nggak bisa diganggu gugat lagi.”
“Apa setelah ini, kita masih bisa berteman?” Devan menatap sendu. Berharap.
Tara mengangguk. “Tentu saja. Kita akan tetap berteman.”
“Kamu nggak membenciku?”
Tara menggeleng. “Aku sudah memaafkan semuanya, Dev. Tapi aku nggak akan bisa melupakannya. Kemarin aku memang membencimu, tapi sekarang buat apa. Aku ingin hidup damai. Aku ingin kita berpisah baik-baik.”
Devan mengangguk lemah. Dia menggenggam tangan Tara. “Hidupku pasti akan berbeda saat kamu nggak jadi istriku lagi, Ra. Tapi aku nggak akan egois. Tiga tahun, secara nggak langsung, aku menyiksa batinmu. Maafkan aku, Ra. Jika memang ini bisa menebus semua kesalahanku, maka aku siap melepasmu.”
Tara tersenyum lirih dan balas menggenggam tangan Devan. “Terima kasih, Dev.”
Devan mengangguk dan tersenyum. Mia yang sedari tadi berdiri di belakang pintu, diam-diam tersenyum lirih saat melihat interaksi keduanya. Sudah tak ada jalan lain lagi. Perpisahan memang pahit. Tapi jika Tara dan Devan sudah memutuskan, mau bagaimana lagi. Mia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keduanya.
Bersambung …