NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Percakapan Panjang

Suara hujan masih turun rapat di halaman kampus ketika pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Air memantul di lantai batu, menetes dari tepian atap, lalu mengalir ke selokan kecil di sisi gedung. Koridor lantai dua yang biasanya ramai kini nyaris kosong, menyisakan gema rintik dan dua orang yang sama-sama terdiam.

“Kita pernah ketemu sebelumnya?”

Airel Virellia menatap Zevarion Hale tanpa mampu segera memberi jawaban. Jantungnya berdetak terlalu keras hingga pikirannya seperti tertahan di satu titik yang sempit. Banyak kalimat berdesakan di kepala, tetapi tak satu pun cukup utuh untuk diucapkan.

Ia ingin berkata iya, karena perasaan itu sudah lama mengikutinya. Ia ingin berkata mungkin, karena ia sendiri belum memiliki bukti selain firasat yang terus datang. Ia juga ingin bertanya balik, apa yang membuat Zev sampai menanyakan hal seperti itu.

Namun bibirnya hanya terbuka sedikit sebelum kembali diam.

Zev tidak mendesak. Ia berdiri beberapa langkah di depannya, satu tangan masuk ke saku celana, bahu sedikit tegang walau wajahnya tetap tenang. Dari luar, ia tampak biasa saja, tetapi Airel bisa melihat ada sesuatu yang bergerak di balik sorot matanya.

“Aku enggak tahu,” jawab Airel akhirnya pelan. “Tapi aku sering ngerasa begitu.”

Kalimat itu keluar jujur tanpa sempat dipoles. Tidak terdengar rapi, namun cukup mewakili isi kepalanya yang berantakan. Zev menundukkan pandangan sesaat, lalu mengangguk tipis seolah menerima jawaban itu lebih mudah dari yang diduga.

“Berarti bukan cuma aku.”

Suara hujan mulai berubah dari deras menjadi rintik yang lebih lembut. Angin dingin masuk dari sisi koridor dan membawa aroma tanah basah yang samar. Keheningan setelah kalimat itu terasa berbeda, bukan lagi canggung, melainkan seperti ruang yang pelan-pelan terbuka.

Airel memandang Zev hati-hati. “Kamu nanya itu karena apa?”

Zev menyandarkan punggung ke dinding dekat jendela. Gerakannya terlihat santai, tetapi rahangnya sempat mengeras sebentar seperti orang yang sedang memilih seberapa jauh ia ingin jujur. Ia menatap halaman di bawah sebelum akhirnya menjawab.

“Karena setiap lihat kamu, aku ngerasa kenal.”

Udara di sekitar Airel terasa berubah tipis. Kalimat itu sederhana, tidak berlebihan, namun justru karena itulah dampaknya terasa lebih kuat. Ia mengalihkan pandangan ke luar hanya agar Zev tidak melihat betapa gugupnya ia mendadak.

“Kenal dari mana?” tanyanya.

“Kalau tahu, aku enggak akan nanya.”

Nada suara Zev datar seperti biasa, tetapi ada sentuhan halus yang nyaris terdengar seperti humor. Airel menoleh cepat, menatapnya dengan dahi sedikit berkerut. Zev membalas tatapan itu tanpa terlihat bersalah.

“Kamu barusan bercanda?” tanyanya.

“Sedikit.”

Jawaban singkat itu membuat Airel terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat begitu saja, membentuk senyum kecil yang datang tanpa ia rencanakan. Ringan, singkat, namun tulus.

Zev memperhatikannya lebih lama dari seharusnya. Ekspresinya tidak banyak berubah, tetapi matanya seperti sempat kehilangan kewaspadaan yang biasa ia jaga.

“Akhirnya kamu bisa senyum normal juga,” katanya.

Airel langsung menatapnya. “Maksud kamu?”

“Biasanya kamu senyum kayak lagi sopan santun.”

Airel menahan napas sebentar, lalu tertawa kecil. Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri karena sudah lama tidak keluar sesantai ini. Bukan tawa yang dibuat demi menjaga suasana, melainkan reaksi yang muncul alami.

Zev memalingkan wajah ke arah jendela, seolah lebih tertarik pada halaman basah di luar.

“Kenapa?” tanya Airel.

“Enggak apa-apa.”

“Kamu kelihatan kaget.”

“Aku cuma baru tahu kamu bisa ketawa.”

Airel menggeleng pelan sambil masih menahan sisa senyum. “Berarti kamu enggak kenal aku.”

Zev kembali menatapnya. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab, dan jeda itu justru terasa lebih jelas daripada kata-katanya sendiri.

“Mungkin aku lagi nyoba.”

Dada Airel menghangat tanpa izin. Ia menunduk sebentar, berpura-pura merapikan pegangan payung di tangannya. Hujan di luar kini tinggal rintik halus yang menempel di dedaunan.

Tak lama kemudian mereka turun ke lantai dasar bersama. Tidak ada ajakan resmi, tidak ada kesepakatan yang diucapkan, tetapi langkah mereka mengarah ke jalur samping kampus yang lebih sepi. Lantai masih basah dan udara setelah hujan terasa bersih.

Biasanya, berjalan berdampingan dengan orang yang belum dekat akan melahirkan keheningan canggung. Namun kali ini tidak begitu. Mereka menjaga jarak sewajarnya sambil sesekali berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.

Tentang dosen yang suka mengganti jadwal mendadak. Tentang kantin yang rasanya berubah tergantung siapa yang memasak. Tentang lift gedung utama yang selalu rusak saat jam sibuk.

Hal-hal kecil itu justru membuat suasana terasa ringan.

“Kamu sering pulang sendiri?” tanya Zev.

Airel mengangguk. “Lebih tenang.”

“Kamu emang suka sepi, ya?”

“Enggak juga.” Airel berpikir sejenak. “Aku cuma terbiasa.”

Zev menatap jalan di depan. “Beda.”

“Bedanya?”

“Suka sepi itu pilihan. Terbiasa sepi itu keadaan.”

Airel menoleh padanya. Ia tidak menyangka Zev akan mengucapkan sesuatu yang setepat itu. Kalimatnya pendek, tetapi menyentuh bagian yang jarang berhasil dibaca orang lain.

“Kamu ngomong kayak orang tua,” katanya.

Zev mengangkat alis sedikit. “Itu hinaan?”

“Observasi.”

“Kalau gitu kamu juga ngomong kayak guru BK.”

Airel tertawa lagi, kali ini lebih jelas. Suaranya memantul kecil di jalan setapak yang masih lengang. Zev tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis sebelum kembali datar.

Di tikungan menuju gerbang samping, Zev mendadak berhenti. Airel ikut menghentikan langkah dan melihat ke arah yang sama. Sebuah pohon tua berdiri di tepi jalan, dengan bangku melingkar mengitari batangnya.

Ekspresi Zev berubah samar.

“Aneh,” gumamnya.

“Apa?”

“Kayak pernah berdiri di sini.”

Airel ikut menatap pohon itu. Ia pernah duduk di sana beberapa kali saat awal masuk kampus, menunggu hujan reda atau sekadar menghindari keramaian. Namun dari cara Zev mengatakannya, itu terdengar lebih dalam dari sekadar pernah lewat.

“Kamu sering bilang familiar,” kata Airel pelan.

Zev menghembuskan napas pendek. “Dan aku mulai capek denger diri sendiri ngomong begitu.”

Airel menatapnya beberapa saat, lalu berkata hati-hati, “Mungkin karena memang ada sesuatu.”

Zev menoleh padanya dan tersenyum tipis. Senyum itu cepat hilang, tetapi cukup untuk meninggalkan jejak yang akan diingat Airel sampai malam nanti.

“Mungkin.”

Mereka melanjutkan langkah sampai ke depan gerbang. Jalan raya di luar mulai ramai kembali setelah hujan reda. Kendaraan melintas membawa percikan air dari aspal yang masih basah.

Airel berhenti di dekat halte.

Tempat itu selama bertahun-tahun menjadi bagian dari penantiannya. Tempat ia berdiri dengan keyakinan lama yang tak pernah benar-benar diuji. Namun sore ini rasanya berbeda.

Ia masih berada di titik yang sama, tetapi tidak membawa kesepian yang sama.

Zev menatap halte itu sebentar, lalu menoleh padanya.

“Kamu sering nunggu di sini?”

“Iya.”

“Nunggu siapa?”

Pertanyaan itu diucapkan lembut, tanpa nada menyelidik. Airel terdiam sejenak. Dahulu ia selalu memiliki jawaban yang jelas, tetapi sekarang jawaban itu terasa berubah bentuk.

“Seseorang,” katanya pelan.

Zev mengangguk seolah memahami lebih dari yang diucapkan. Ia tidak bertanya lagi dan hanya berdiri di sampingnya beberapa detik sambil memandang jalan.

“Kamu besok datang?” tanya Airel sebelum sempat berpikir.

Begitu kalimat itu keluar, ia langsung merasa terlalu cepat. Namun Zev hanya menoleh sedikit, tidak terlihat terganggu.

“Ke kampus?”

Airel berdeham pelan. “Iya.”

“Harusnya.”

Jawaban sederhana itu justru membuatnya lega. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari sana, lalu seorang sopir turun dan membuka pintu belakang.

Zev melangkah mendekat, namun berhenti sebelum masuk. Ia menatap Airel sekali lagi, kali ini dengan sorot yang lebih tenang dari biasanya.

“Senyum tadi lebih bagus,” katanya.

Airel membeku sepersekian detik. Saat ia ingin membalas, Zev sudah masuk ke mobil. Kendaraan itu bergerak perlahan lalu menyatu dengan arus jalan yang basah.

Airel tetap berdiri di halte sambil menatap arah mobil itu pergi. Tangannya naik menyentuh pipinya sendiri, seolah ingin memastikan ekspresi tadi benar-benar sempat ada. Beberapa orang lalu-lalang di dekatnya, tetapi ia hampir tidak menyadarinya.

Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat.

Kali ini lebih lembut. Lebih ringan. Dan datang tanpa perlu dipaksa.

Ia tidak sedang menunggu kenangan yang kabur lagi. Ia sedang berjalan menuju sesuatu yang nyata, meski belum sepenuhnya ia mengerti. Di antara suara kendaraan dan sisa aroma hujan, Airel tahu hidupnya telah bergerak ke arah baru.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!