NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Teduh di Bawah Tanjung dan Gemuruh di Kedai

Sisa perjalanan menuju kediaman Sinaca diwarnai oleh keheningan yang tak lagi terasa asing. Embusan angin sore perlahan menyapu sisa-sisa ketegangan yang sempat mengudara akibat provokasi komplotan Agam. Jenawa berjalan dengan kedua tangan yang kembali bersarang santai di dalam saku celana, sementara langkahnya menyesuaikan ritme pelan gadis di sisinya.

Di dalam dada pemuda itu, ada sebuah kebanggaan ganjil yang merekah. Selama ini, wibawanya selalu diukur dari seberapa cepat ia membalas sebuah tantangan. Namun hari ini, ia belajar bahwa menundukkan egonya sendiri di bawah tatapan seorang Sinaca Tina membutuhkan nyali yang jauh lebih besar.

Langkah mereka akhirnya terhenti di depan pagar besi bercat putih gading. Pohon tanjung yang rindang di sudut pekarangan kembali menyambut kedatangan mereka, menggugurkan beberapa kelopak bunganya yang wangi ke atas aspal.

Sinaca memutar tubuhnya menghadap Jenawa. Gurat ketegasan yang sempat terlukis di wajahnya saat menahan kepalan tangan Jenawa tadi, kini telah sepenuhnya melebur menjadi kelembutan yang teduh.

"Kita telah sampai," ucap Sinaca pelan, merapatkan buku-buku di dekapannya. Gadis itu menatap Jenawa dengan saksama, mengamati rahang pemuda itu yang tak lagi mengeras. "Apakah amarahmu masih tersisa, Jenawa?"

Jenawa menyunggingkan senyum simpul, sebuah senyuman yang sukses menenggelamkan sisa-sisa amarahnya ke dasar palung. "Menahan kepalan tangan ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada mengayunkannya, Sinaca. Namun, jika imbalannya adalah melihat raut kelegaan di wajahmu, kurasa aku sanggup menahannya ribuan kali lagi."

Rona merah tipis kembali menghiasi kedua pipi Sinaca. Ia menundukkan pandangannya sejenak, tak mampu berlama-lama membalas tatapan Jenawa yang terlampau jujur dan mengintimidasi hatinya.

"Kau belajar dengan cepat untuk merangkai kalimat yang manis, Jenawa. Agaknya buku roman di perpustakaan tadi mulai memengaruhi tabiatmu," balas Sinaca, mencoba menyembunyikan salah tingkahnya di balik susunan kalimat yang baku.

"Aku hanya menjadi murid yang baik atas apa yang kau ajarkan," sahut Jenawa tak mau kalah. Ia melangkah mundur satu tindak, memberikan ruang bagi Sinaca untuk membuka pagar rumahnya. "Masuklah. Jalanan mulai temaram, dan aku masih memiliki sebuah janji yang tertunda di kedai bersama kawan-kawanku."

Mendengar kata 'kedai' dan 'kawan-kawan', raut wajah Sinaca kembali menegang kecil. "Kau... tidak akan membalas perlakuan anak-anak Pelita tadi begitu kau kembali berkumpul dengan kelompokmu, bukan?"

Jenawa menatap lurus ke dalam manik mata cokelat itu, menyalurkan sebuah kepastian. "Aku telah memberikan kataku padamu, Sinaca. Dan pantang bagi seorang Jenawa Adraw untuk menjilat kembali ludahnya sendiri. Hari ini, tidak akan ada balasan apa pun."

Mendengar janji yang diucapkan dengan kesungguhan penuh itu, Sinaca akhirnya bisa menghela napas lega. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku memegang kata-katamu. Hati-hati di jalan, Jenawa. Dan... terima kasih untuk sore ini."

"Sama-sama. Selamat istirahat, Sinaca."

Jenawa berdiri mematung di bawah naungan pohon tanjung, memastikan gadis itu telah masuk dan mengunci pintunya dengan aman, sebelum akhirnya ia membalikkan badan. Langkah kakinya kini berayun menjauh, meninggalkan keteduhan perumahan itu menuju gemuruh yang telah menantinya di Kedai Pak Dirman.

Suasana di Kedai Pak Dirman sore itu terasa jauh lebih pengap dan panas dari biasanya. Kepulan asap rokok mengudara tebal, berpadu dengan sumpah serapah yang bersahut-sahutan. Begitu sosok Jenawa muncul di ambang pintu, keriuhan itu seketika terhenti sejenak, sebelum akhirnya meledak menjadi rentetan pertanyaan.

Seno melangkah maju menghampiri Jenawa, wajahnya merah padam menahan murka. "Akhirnya kau datang juga, Wa! Bimo bilang kau berpapasan dengan anak-anak Pelita di jalan utama dan mereka nyaris menyerempetmu! Mengapa kau diam saja, hah? Mengapa kau tidak menghabisi mereka di tempat?"

Jenawa berjalan tenang menembus kerumunan, menarik sebuah kursi kayu dan duduk dengan santai. Ia menatap kawan-kawannya satu per satu, membiarkan keheningannya mengambil alih dominasi ruangan.

"Duduklah, Seno. Tak perlu berteriak urat lehermu hingga menegang seperti itu," perintah Jenawa dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.

"Bagaimana aku bisa duduk tenang, Wa?" protes Seno sambil menggebrak meja. "Mereka merendahkan Sang Panglima di jalanan terbuka! Jika kita membiarkan ini berlalu, Agam akan mengira kita telah kehilangan nyali!"

"Apakah wibawa SMA Bangsa sebegitu rapuhnya hingga bisa runtuh hanya karena gonggongan anjing di pinggir jalan?" balas Jenawa dingin. Kalimat tajam itu sukses membungkam Seno dan seluruh anak di kedai tersebut.

Jenawa menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah Seno. "Mereka sengaja memprovokasi karena mereka tahu mereka kalah telak kemarin. Mereka ingin memancing kita agar bergerak tanpa siasat, agar kita yang terlihat sebagai pemantik onar di mata pihak sekolah dan warga. Aku tidak akan membiarkan SMA Bangsa masuk ke dalam perangkap konyol semacam itu."

"Tapi, Wa..."

"Tidak ada 'tapi', Seno," potong Jenawa mutlak. Aura kepemimpinannya menguar begitu pekat, membuktikan bahwa meski ia tak lagi gemar mengayunkan tinju secara serampangan, ia tetaplah raja di barisan tersebut. "Kita bertindak dengan siasat, bukan dengan emosi sesaat. Jika Agam menginginkan perang, kita akan memberikannya di waktu dan medan yang kita tentukan sendiri. Bukan karena pancingan murahan di jalan raya."

Seno menelan ludah. Ia saling bertukar pandang dengan kawan-kawannya yang lain. Meski amarah darah muda masih mendidih di dada mereka, tak ada satu pun yang berani membantah logika sang pemimpin. Ketegasan Jenawa tak menyisakan celah untuk perdebatan.

"Baiklah, Panglima. Kami mengikuti titahmu," ujar Seno akhirnya, menghempaskan tubuhnya ke kursi di hadapan Jenawa. Ia mengambil bungkus rokoknya dengan kasar. "Tapi jangan salahkan kami jika kesabaran anak-anak mulai menipis."

Jenawa tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan seraya menatap cangkir kopi hitam yang baru saja disajikan oleh Pak Dirman. Di tengah kepulan asap kedai dan wajah-wajah kawan-kawannya yang keras, bayangan jemari lentik Sinaca yang menyentuh kepalan tangannya kembali berkelebat. Dua dunia ini terus menarik Jenawa dari dua arah yang berlawanan, dan pemuda itu sadar, ia harus bersiap menghadapi pertarungan yang sesungguhnya: mempertahankan takhtanya di jalanan, tanpa harus menghancurkan janji yang telah ia semai di bawah pohon tanjung.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!