NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SINGA KECIL YANG TERLUKA.

Cahaya matahari yang menembus celah gorden membuat Maheer mengerjap. Ia terbangun dengan tubuh yang kaku dan baju yang masih utuh sejak kemarin. Kelelahan fisik dan batin benar-benar menumbangkannya hingga ia tak terusik sedikit pun oleh suara alarm. Setelah membersihkan diri dan mengenakan setelan jas formal, ia bercermin sejenak. Hari ini adalah langkah pertamanya mengambil alih kemudi perusahaan peninggalan Muzammil.

Langkahnya terhenti di ambang pintu ruang makan saat melihat pemandangan di hadapannya. Assel duduk tegak dengan laptop terbuka, telinganya terpasang earphone, sementara tangannya yang bebas tetap cekatan menyuapi Razka.

"Saya belum bisa ke kantor karena masih dalam masa berkabung. Pastikan setiap progres dilaporkan sore ini. Desain model terbaru sudah saya kirim lewat surel, segera lakukan pengecekan bahan untuk peluncuran bulan depan," ujar Assel. Suaranya terdengar sangat tegas, berwibawa, dan dingin. Sama sekali berbeda dengan wanita yang menangis tersedu di atas sajadah semalam.

Maheer terpaku. Karisma pemimpin yang dipancarkan Assel begitu kuat hingga para bawahannya di layar laptop terdengar sangat patuh dan segan.

"Baik, segera siapkan berkas fisiknya. Kirim Laras ke rumah saya sekarang juga untuk tanda tangan dokumen. Terima kasih. Wassalamualaikum," Assel menutup rapat daringnya setelah mendengar balasan ramah dari timnya.

Ia menutup laptop, lalu beralih menatap putra kecilnya yang baru saja menghabiskan sarapan. "Razka, hari ini Sekolah PAUD nya diantar Kakek Diman ya? Mama belum bisa keluar rumah."

"Iya, Mama," jawab Razka patuh.

"Biar aku yang mengantarnya," potong Maheer sambil melangkah masuk ke ruangan.

Razka yang tadinya tersenyum langsung berubah drastis. Bocah berusia empat tahun itu menatap Maheer dengan pandangan tidak suka, lalu bergeser mendekat ke arah ibunya.

"Tidak mau! Mama, Azka tidak mau diantar sama Om Jahat!" teriak Razka lantang.

Maheer membeku. Kata "Om Jahat" keluar begitu lancar dari bibir mungil keponakannya. Ada rasa perih yang menjalar di hatinya, lebih tajam daripada makian rekan bisnisnya. Ia berpikir Assel pasti sedang tersenyum dalam hati karena berhasil menghasut Razka. Namun, dugaannya kembali meleset.

"Razka, tidak boleh bicara seperti itu," tegur Assel dengan nada lembut namun tegas. "Om ini adalah adik Papa. Razka mau Papa sedih di surga karena melihat Razka nakal pada Om?"

Razka cemberut, matanya mulai berkaca-kaca. "Azka tidak mau Papa sedih. Tapi Azka tidak suka Om itu. Dia jahat sama Mama!"

Maheer kembali tertampar. Ternyata mata polos anak kecil itu tidak bisa dibohongi, ia melihat bagaimana Maheer memperlakukan ibunya selama ini.

"Om tidak jahat pada Mama, Sayang," bohong Assel, berusaha menutupi perlakuan kasar Maheer. "Mama menangis karena ingat Papa, bukan karena Om. Ayo, anak hebat tidak boleh membenci keluarganya sendiri."

Setelah perdebatan kecil yang melelahkan, akhirnya Razka setuju. Ia mencium kedua pipi ibunya dengan sayang sebelum akhirnya membiarkan Maheer menggendongnya menuju mobil. Maheer pergi begitu saja tanpa pamit pada Assel, wajahnya kembali dingin seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam mobil mewah itu, suasana terasa mencekam. Hans yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik dari spion tengah dan merasa merinding. Razka duduk bersedekap dengan wajah yang ditekuk, sangat mirip dengan gaya Muzammil saat sedang marah.

"Kalau Om jahat lagi sama Mamaku, Om akan berhadapan dengan aku," ucap Razka tiba-tiba dengan suara yang dibuat seberat mungkin.

Maheer terkejut. Tadi di depan Assel, bocah ini memanggil dirinya sendiri "Azka" dengan manja, namun sekarang ia menggunakan kata "Aku" untuk menunjukkan harga diri.

"Kau berani mengancamku, Anak Kecil?" tanya Maheer dengan nada datar.

Razka mendengus, matanya menatap tajam ke arah Maheer. "Om memang mirip Papa, tapi hati Om tidak baik seperti Papa. Jangan bikin Mama nangis lagi."

Maheer terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada bocah sekecil itu yang pemikirannya melampaui usianya. Sampai mereka tiba di depan gerbang sekolah, Maheer hendak turun untuk menggendong Razka keluar.

"Tidak perlu," tolak Razka cepat sambil membuka pintu mobil sendiri. "Aku bukan anak kecil lagi, jadi Om tidak perlu menggendong aku. Pulanglah, sana bekerja!"

Maheer hanya bisa terpaku di samping mobil, menatap punggung kecil itu yang berjalan masuk ke kelas tanpa menoleh sedikit pun. Bayangan Muzammil benar-benar hidup dalam diri Razka. Sosok pelindung yang tangguh meski dalam bentuk seorang bocah.

"Tuan Muda Razka benar-benar titisan Tuan Muzammil, Tuan," bisik Hans yang sedari tadi hanya menyimak.

"Jalan, Hans. Kita ke kantor," ujar Maheer pendek, berusaha menyembunyikan kekacauan perasaannya.

Gedung Arasyid Group berdiri megah di pusat kota. Begitu Maheer melangkah masuk ke lobi, bisik-bisik mulai terdengar. Para karyawan terkejut melihat sosok yang sangat mirip dengan mendiang bos mereka, namun dengan aura yang jauh lebih gelap dan dingin.

Maheer berjalan menuju ruang rapat utama di mana para jajaran direksi sudah menunggu. Hans membuka pintu, dan Maheer masuk dengan langkah penuh kuasa.

"Selamat pagi semuanya," suara Maheer menggema di ruangan luas itu. "Mulai hari ini, saya Maheer Arasyid yang akan mengambil alih posisi kakak saya. Saya tidak suka keterlambatan, dan saya tidak suka kegagalan."

Beberapa direktur senior saling berpandangan. Mereka tahu Maheer adalah adik Muzammil yang selama ini berada di luar negeri, namun mereka tidak menyangka bahwa pria ini memiliki tatapan yang sanggup mengintimidasi siapa saja.

"Tuan Maheer, kami tentu menghargai posisi Anda. Tapi perusahaan ini sedang dalam masa transisi yang sulit," ujar salah satu manajer.

Maheer meletakkan tangannya di atas meja, menatap manajer itu dengan tajam. "Justru karena sulit, saya di sini. Saya akan memeriksa semua laporan keuangan dan proyek yang sedang berjalan. Hans, bagikan jadwal rapat per divisi."

Sepanjang hari itu, Maheer bekerja tanpa henti. Namun di tengah tumpukan berkas, pikirannya sesekali melayang pada ucapan Razka. Om akan berhadapan dengan aku. Maheer menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kakaknya. Ia menyadari satu hal, mengelola perusahaan besar mungkin mudah, tapi memenangkan hati seorang anak kecil yang sudah menganggapnya musuh adalah tantangan yang jauh lebih berat.

Dan di rumah itu, ada Assel, wanita yang kini ia tahu bukan hanya sekadar janda, melainkan pemain besar di dunianya sendiri. Maheer merasa dinding kebencian yang ia bangun selama bertahun-tahun perlahan mulai goyah oleh kenyataan-kenyataan baru yang terus menghantamnya. Pembaca pun dibuat bertanya-tanya, siapa yang akan luluh lebih dulu? Sang raja yang arogan, ataukah singa kecil yang setia melindungi ibunya?

1
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
Lia siti marlia
mudah mudahan kedepannya baik santi mertua assel berubah mau menerima assel dengan tangqn terbukq begitu jugq si bayi kolot pasti bentar lagi bakalan bucin tuh bayi kolot🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!