Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembuktian
“Aku antar kamu masuk,” ucap Shane sambil melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.
“Nggak perlu,” cegah Aiena sebelum pria itu membuka pintu. “Ini rumah orang tua, di dalam ada mereka.”
Ekspresi wajah Shane perlahan berubah, ada gurat kelegaan disana. “Oh… Kalau gitu aku tinggal ya.”
“Terima kasih ya buat tumpangannya.”
“Sama-sama, Aiena.”
Pintu dibuka dan Aiena segera turun. Ia sempat berbalik dan melambai ke arah Shane, menunggu hingga mobil Shane bergerak menjauh dan menghilang di tikungan jalan, barulah Aiena bergerak membuka pagar dan masuk.
Di dalam sana ada orang tuanya, dan membawa bosnya masuk ke dalam konflik domestik yang berantakan hanya akan memperkeruh suasana. Ini bukan lagi wilayah profesional. Rumah ini adalah neraka pribadinya.
Begitu menginjakkan kaki di halaman, Haze menyambutnya. Pria itu tidak menunggu di ruang tamu, melainkan tepat di balik pagar. Ia berdiri disana, membayangi tubuh Aiena layaknya predator yang sedang menunggu mangsa masuk ke dalam jebakan.
“Bagus. Sudah jam sepuluh malam dan kamu baru ingat jalan pulang?”
Suara Haze terdengar tenang, namun ada nada rendah yang berbahaya di sana. Ia melangkah maju, memaksa Aiena mundur hingga punggungnya menabrak gerbang yang baru saja ditutup. Haze tidak memberinya ruang untuk bernapas, kedua tangannya mengunci di sisi kepala wanita itu, memerangkapnya dalam ruang sempit yang mencekam.
“Ini pekerjaan, Haze. Ada rekan bisnis juga di sana,” sahut Aiena, suaranya parau. Ia berusaha tetap tenang, meski lututnya terasa lemas.
“Pekerjaan?” Haze tertawa sinis, wajahnya mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Matanya berkilat penuh amarah yang meledak-ledak. “Makan malam romantis di restoran mewah itu kamu sebut pekerjaan?”
“Beneran pekerjaan, Haze…”
Satu tangan Haze turun, mencengkram rahang Aiena dengan kuat, memaksa wanita itu menatap matanya yang merah. “Jangan bohong! Kamu selingkuh, kan?”
“Lepask, Haze! Mama dan Papa ada di dalam!” bisik Aiena setengah mengerang, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman yang kian menyakitkan itu.
“Oh, mereka tahu aku di sini. Mereka setuju kalau aku ngasih pelajaran karena sudah berani selingkuh,” desis Haze tepat di depan bibirnya. Ia menyentakkan wajah Aiena ke samping, membiarkan wanita itu terisak dalam diam.
Haze mendekatkan wajahnya ke tubuh Aiena. Mengendus apakah ada aroma parfum lain di tubuh kekasihnya itu.
“Aku nggak selingkuh, Haze,” ucap Aiena sekali lagi. “Kami ketemu rekan bisnis, tentang proyek…”
“Aku nggak percaya!” potong Haze.
“Aku harus gimana?” Tangis Aiena hampir pecah. Ia lelah, ingin segera membersihkan diri dan berbaring, namun Haze justru menyanderanya di halaman luar seperti ini.
“Buktiin ke aku kalau kamu nggak selingkuh!”
Aiena menarik napas dan menghembuskannya kasar. Ia tahu betul apa yang dimaksud Haze. Pembuktian berarti mereka harus kembali bersatu, demi Haze dapat merasakan bahwa tubuh Aiena masih sama, tidak disentuh oleh orang lain.
***
Di dalam kamarnya yang masih terang oleh cahaya lampu utama meski jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat, Aiena berbaring diam di atas seprai yang kini berantakan, menatap langit-langit dengan mata yang tak lagi mengeluarkan air mata. Sudah terlalu lelah untuk menangis.
Di sampingnya, Haze mulai menarik napas panjang, tampak tenang seolah baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar. Matanya memancarkan binar kepuasan dan bibirnya tersenyum miring.
Dengan gerakan lambat yang penuh rasa sakit di sekujur tubuhnya, Aiena menarik selimut untuk menutupi kulitnya yang kini dipenuhi tanda kemerahan baru. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang, lalu menatap pria di sampingnya itu dengan tatapan dingin.
“Sudah terbukti, kan?” suaranya keluar dalam bisikan yang sarat akan tantangan.
Haze, yang baru saja hendak meraih pakaiannya, menoleh dengan kening berkerut. “Maksudmu?”
“Badanku. Semuanya masih sama. Nggak ada tanda dari orang lain di sini. Aku nggak selingkuh. Aku nggak dipakai siapapun selain kamu.”
Pria itu terdiam sejenak, memindai wajah Aiena yang tampak pucat namun menyimpan api kemarahan di balik matanya. Perlahan, ia merangkak mendekat, mengusap helai rambut Aiena yang berantakan dengan gerakan yang ia anggap sebagai kasih sayang, namun tidak bagi Aiena.
“Ya, Sayang. Malam ini aku percaya kamu,” ujar Haze dengan nada puas yang membuat Aiena mual. Ia mengecup kening Aiena dengan lembut, sebuah kontras yang mengerikan setelah apa yang baru saja ia lakukan secara paksa.
Pria itu kemudian berdiri dan mulai mengenakan pakaiannya dengan santai, seolah tidak terjadi apa pun yang diluar batas normal malam itu. Setelah memastikan penampilannya sempurna, ia kembali ke tepi ranjang dan membungkuk untuk memberikan sebuah kecupan pipi Aiena.
“Aku pulang sekarang. Tidur ya. Besok aku jemput pagi. Good night, love you, Na.”
Aiena tidak membalas. Ia hanya mengamati bagaimana pria yang masih berstatus sebagai pacarnya itu tersenyum ke arahnya sebelum meraih kenop pintu dan membukanya. Keluar dari kamarnya dengan gerakan santai. Tanpa rasa bersalah sama sekali.
***