Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB II
Di dalam Hutan
Luna pun membawa anak itu ke dalam hutan. Saat Luna hendak pergi meninggalkan anak laki-laki itu, tiba-tiba seekor harimau besar muncul dan berjalan mendekat dengan langkah pelan namun mengancam. Tanpa berpikir panjang, Luna dengan sigap mendorong dan melempar tubuh anak laki-laki itu tepat ke arah binatang buas tersebut. Anak itu langsung menjerit sekuat tenaga karena ketakutan.
Luna berniat pergi begitu saja, namun tiba-tiba terdengar anak laki-laki itu berteriak memanggil-manggil ayah dan ibunya. Mendengar suara itu, hati Luna yang selama ini terbiasa keras dan dingin, tiba-tiba terasa nyeri dan sakit. Ia tak kuasa mendengar jeritan anak itu yang penuh kepanikan. Akhirnya ia pun berbalik dan memutuskan untuk menolongnya.
Begitu Luna mendekat, harimau itu langsung berbalik dan menyerangnya dengan ganas. Pertarungan tak terelakkan. Meski masih kecil, Luna bertarung dengan berani dan akhirnya berhasil melumpuhkan binatang buas itu. Namun dalam perkelahian itu, harimau sempat menggigit jari kelingking tangan kiri Luna hingga putus. Darah mengalir deras dan membasahi sekitarnya, tapi Luna sama sekali tidak tampak peduli atau merasa takut.
Anak laki-laki itu perlahan mendekat, matanya terbelalak melihat luka di tangan Luna. “Jarimu… tanganmu berdarah banyak sekali,” katanya dengan suara gemetar.
Luna hanya melirik sekilas, lalu dengan santai merobek sedikit ujung bajunya untuk membalut dan mengikat bagian jarinya yang terluka itu. Anak itu terus bertanya, “Apakah kamu tidak merasa sakit? Dan kenapa… kenapa kamu tadi berbalik untuk menyelamatkanku?”
Luna sama sekali tidak menjawab, ia hanya diam dan segera berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Meski tak dihiraukan, anak laki-laki itu tetap mengikuti langkah Luna dari belakang, tak berani lagi sendirian di tempat yang asing dan menyeramkan itu.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Luna berhenti sejenak di tepi sungai. Ia membungkuk untuk meminum air sungai agar dahaganya hilang, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat, dan karena darah terus mengalir deras dari jari tangan kirinya yang putus, wajahnya perlahan menjadi sangat pucat. Tak lama kemudian, kakinya pun lemas, dan seketika ia terjatuh lalu pingsan tak sadarkan diri.
Melihat hal itu, anak laki-laki itu menjadi sangat panik. Ia terus menggoyangkan tubuh Luna dan memanggil-manggil agar Luna sadar kembali, namun Luna sama sekali tidak bergerak dan sudah tak berdaya. Karena bingung dan takut, anak itu pun berlari keliling mencari pertolongan. Beruntung, tak jauh dari sana ia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang lewat.
Ia segera menceritakan apa yang terjadi dan memohon bantuan. Mendengar itu, kakek tua itu pun segera mendatangi Luna. Ia menolong keduanya, lalu menggendong tubuh Luna yang lemah, dan membawa mereka pulang ke rumahnya untuk dirawat dan dibantu.
Kakek tua itu dengan teliti mengobati luka di jari tangan kiri Luna. Dia membersihkan darah yang menempel, mengoleskan obat, lalu membalutnya dengan kain bersih sampai rapi.
Setelah selesai, kakek dan anak laki-laki itu sama-sama menyiapkan makanan untuk mereka makan.
Baru saja seharian Luna terbaring tak sadarkan diri. Menjelang sore, dia perlahan membuka matanya. Wajahnya datar, dingin, dan sama sekali tak ada ekspresi senang ataupun bingung.
“Syukurlah, kamu sudah bangun Nak. Kamu sudah pingsan seharian, kamu tidak apa-apa kan, apa lukamu masih sakit?” tanya kakek itu dengan lembut dan sedikit khawatir.
Luna menatap kosong ke depan, lalu bicara dengan nada datar dan heran.
“Seharian?”
“Iya. Lebih baik istirahat saja dulu, tenagamu juga belum stabil, tubuh mu harus benar-benar istirahat.” jawab kakek itu menasihati.
Tanpa peduli, Luna langsung memaksakan diri bangkit dan berdiri hendak pergi.
“Aku harus pulang.”
“Jangan dulu Nak, lukamu belum sembuh. Kalau dipaksa jalan nanti makin parah,” cegah kakek itu sambil mencoba menahannya.
Luna menepis tangan kakek itu pelan dengan wajah tetap dingin.
“Tidak apa. Aku baik-baik saja” ucapnya ketus.
Melihat Luna yang keras kepala dan tak mau mendengar, kakek tua itu akhirnya diam dan membiarkan mereka pergi.
Anak laki-laki itu lalu maju membungkuk hormat kepada kakek itu.
“Terima kasih banyak Kakek, sudah menolong dan merawat kami.”
“Hati-hati di jalan, jaga kakakmu baik-baik” jawab kakek sambil tersenyum kepada anak laki-laki itu.
Luna sama sekali tak menoleh dan tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Dia langsung melangkah keluar pintu. Anak laki-laki itu pun buru-buru mengejar dan terus mengikutinya dari belakang, tak berani berpisah lagi, sambil bergumam, ia pun berkata, bukan aku yang menjaganya, dia yang menjaga ku, ucap anak laki-laki itu dalam hatinya sambil melirik ke arah Luna.
“Kakak…” panggil anak laki-laki itu sambil berjalan mengikuti di belakang Luna. “Kau mau membawaku ke mana? Katakanlah… apakah kau masih berniat membunuhku?”
Ia menunduk takut, lalu melanjutkan bicara seolah berbicara pada dirinya sendiri, “Ah tidak… kalau kakak memang mau membunuhku, pasti tadi dia sudah membiarkan harimau itu memakanku sampai habis. Kak, jawab aku… kita mau ke mana?” tanyanya lagi dengan suara gemetar.
Luna sama sekali tidak menoleh, ia terus berjalan dengan wajah datar dan dingin, tak mau menjawab sepatah kata pun.
Tak terasa matahari mulai condong ke barat, hari sudah hampir sore. Di depan mata mereka sudah terlihat keramaian pasar yang sangat ramai orang. Namun sebelum masuk ke daerah itu, Luna tiba-tiba berhenti dan menatap tajam ke arah anak laki-laki itu.
“Buka bajumu,” perintah Luna dengan nada dingin.
“Bu… buka? Buat apa Kak?” tanya anak itu bingung dan enggan memberikannya.
Tatapan mata Luna makin tajam dan terlihat mengerikan, membuat nyali anak itu seketika menciut. Tanpa berani menolak, ia pun perlahan melepas dan memberikan bajunya kepada Luna.
“Pergilah,” kata Luna singkat. “Tapi ingat, apa pun yang kau lihat dan kau alami selama ini, jangan pernah kau ceritakan pada siapa pun, atau kau akan menyesal nanti.” Ucap Luna ketus.
Anak itu sempat ragu sejenak, tapi melihat raut wajah Luna yang serius dan menakutkan, ia pun segera mengangguk patuh. “I… iya, aku janji tidak akan mengatakan kepada siapapun.”
Luna membalikkan badan hendak pergi, tapi tiba-tiba anak itu kembali bertanya, “Kak… siapa nama Kakak?”
Luna diam saja, tak menjawab.
“Lebih baik mulai sekarang, kita jangan pernah bertemu lagi,” ucapnya pelan dan dingin.
Anak itu tak mau menyerah, ia lalu berkata, “Namaku Hao Ran, umurku sudah enam tahun. Kakak namanya siapa?”
Luna menoleh sebentar, menatap datar ke arahnya. “Kalau begitu aku lebih tua satu tahun darimu. Mulai sekarang, panggil saja aku Kakak.”
Setelah bicara begitu, Luna kembali melangkah pergi. Hao Ran buru-buru mau mengejarnya, tapi dengan gerakan cepat Luna langsung memegang kuat kedua bahu anak laki-laki itu, lalu membentak dengan kasar.
“Dengar baik-baik! Kalau kau masih mau hidup selamat, jangan pernah sekali-kali mengikuti aku lagi! Kau mengerti?!”
Hao Ran menahan tangis, tapi ia tetap memberanikan diri bertanya, “Lalu Kakak mau pergi ke mana? Apakah Kakak akan kembali lagi ke tempat orang-orang jahat itu?”
Luna hanya menatap sinis sekilas, lalu memalingkan wajah dan pergi begitu saja, meninggalkan Hao Ran yang masih berdiri terpaku sendirian di sana.
Luna terus berjalan meninggalkan Hao Ran yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Setelah cukup jauh dan tak ada orang yang terlihat, ia menatap lurus ke jari kelingking kirinya yang sudah hilang, yang terbungkus kain itu. Perlahan, satu butir air mata jatuh di pipinya, namun ia tersenyum sinis saat melihatnya.
“Kadang… aku juga pernah bermimpi ingin punya keluarga yang menyayangiku, ingin memelukku dan dianggap berharga seperti anak-anak lain,” bicaranya pelan. “Tapi nyatanya, orang tua kandungku sendirilah yang membuangku. Mereka menganggap ku sebagai anak pembawa sial, anak yang tidak mereka inginkan.”
Tiba-tiba Luna tertawa keras dan terdengar gila, lalu tawa itu berubah menjadi jeritan pilu yang memecah kesunyian.
“AAAAA!! KENAPA?! Kenapa kalian melahirkan aku kalau akhirnya cuma mau dibuang begini?! Kenapa?! Apakah aku benar-benar tidak berguna sampai sebegitunya?!” sambil mengepalkan tangannya erat, hingga jarinya kembali berdarah.
Ia terduduk lemas di tanah, menunduk dalam dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian.
Tak lama kemudian, Luna mengusap kasar air matanya, lalu bangkit berdiri kembali dengan wajah yang mulai keras dan dingin lagi.
“Aku tidak boleh lemah. Ayah Cheng benar… kalau orang tuaku sendiri saja tidak menginginkan ku, memangnya kenapa, kenapa aku harus peduli pada mereka? Mulai sekarang aku hidup hanya untuk diriku sendiri, aku tidak membutuhkan orang yang menyayangi ku!” ucapnya dengan suara gemetar namun penuh tekad.
Itulah kata-kata yang selalu ditanamkan oleh ayah angkatnya dan para paman penjahat kepadanya setiap hari. Padahal semuanya itu hanyalah kebohongan besar. Bukan orang tua kandungnya yang membuang, melainkan merekalah yang telah menculik Luna kecil dulu. Namun mereka dengan licik memutarbalikkan kenyataan, memfitnah Ayah dan Ibu Luna sebagai orang yang kejam dan tak punya hati, supaya Luna membenci keluarganya sendiri dan selamanya tetap setia bersama dengan mereka.