NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hoodie Hitam dan Air Mata di Taman Belakang

Sepanjang jam pelajaran berlangsung hari itu, Alisha benar-benar tidak bisa fokus. Pandangannya lurus menatap papan tulis, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Guru kimia yang sedang menjelaskan rumus senyawa di depan kelas bahkan tidak memotong lamunannya, mengira sang juara olimpiade itu sedang berpikir keras.

Saat bel istirahat berbunyi, Alisha langsung beranjak. Ia tidak pergi ke kantin. Langkah kakinya kembali membawa dirinya ke perpustakaan sekolah. Di salah satu sudut rak buku biografi yang sepi, Alisha duduk menyendiri, menatap kosong ke luar jendela.

Di luar ruangan perpus, melalui celah kaca pintu, sepasang mata tajam memperhatikan Alisha dengan gelisah. Shaka berdiri di sana, bersandar pada pilar koridor. Sejak papasan kemarin dan melihat reaksi Alisha di meja makan kelas tadi pagi, Shaka tahu partnernya sedang berada di titik terendah.

Raihan yang baru kembali dari kantin menghampiri Shaka, menyodorkan sekotak susu cokelat. "Ngapain lo di sini? Gak masuk nemuin Alisha?"

Shaka menggeleng pelan, pandangannya tidak lepas dari Alisha. "Nggak. Dia lagi butuh ruang. Kalau gue masuk sekarang, yang ada dia makin defensif. Biarin dia tenang dulu, tapi tetep pantau dari jauh." Shaka tahu kapan harus maju, dan kapan harus memberikan jarak yang aman bagi singa betina yang sedang terluka itu.

Sore harinya, bel pulang sekolah berbunyi. Alisha mengemas barang-barangnya dengan terburu-buru, ingin segera pulang ke rumah. Pikirannya yang kacau membuat fokusnya buyar. Ia melangkah keluar gerbang sekolah dan berjalan hingga ke halte.

Saat tangannya merogoh tas untuk mengambil ponsel, Alisha tersentak. Novel fiksi ber-cover cokelat yang baru dibelinya di Bandung kemarin... tertinggal di kolong mejanya.

Dengan helaan napas frustrasi, Alisha terpaksa membalikkan langkah kaki kembali ke gedung sekolah. Suasana sekolah sudah sangat sepi, sebagian besar murid sudah pulang. Langkah kakinya menggema di koridor kelas yang kosong. Begitu sampai di depan pintu kelasnya, Alisha langsung memeriksa kolong meja.

Kosong. Novelnya tidak ada di sana.

"Cari ini?" sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari balik daun pintu kelas.

Alisha refleks berbalik. Shaka berdiri di sana, bersandar santai pada kusen pintu sambil memutar-mutar novel cokelat milik Alisha di tangan kanannya.

"Ya... sini novel gue!" seru Alisha, langkahnya maju hendak merebut buku tersebut. Suaranya terdengar serak, menahan sisa emosi yang menumpuk sejak pagi.

Melihat mata Alisha yang sembap dan merah, Shaka justru memundurkan langkahnya ke koridor. Alih-alih mengembalikannya, cowok itu malah menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menantang. "Ambil kalau lo bisa," tantang Shaka pendek.

"Shaka, gue gak bercanda! Siniin!" bentak Alisha kesal.

Shaka tidak membalas. Ia justru berbalik badan dan mulai berlari kecil menyusuri koridor. Rasa kesal Alisha yang sudah mencapai ubun-ubun meledak seketika. "Reyshaka, berhenti gak lo?!" teriak Alisha, langsung berlari mengejar Shaka dengan emosi yang menggebu-gebu.

Aksi kejar-kejaran itu membawa mereka keluar dari gedung kelas, melintasi lapangan basket yang sepi, hingga akhirnya Shaka berhenti di area taman belakang sekolah—sebuah tempat teduh yang dikelilingi pohon-pohon rindang dan bangku taman kosong. Suasana sekolah benar-benar sudah sunyi senyap.

Shaka berbalik, bersiap mengembalikan buku itu setelah berhasil memancing Alisha keluar dari zona melamunnya. Namun, tindakan Alisha berikutnya justru di luar ekspektasi Shaka.

Alisha tidak lagi mencoba merebut bukunya. Langkahnya terhenti dua meter di depan Shaka. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun, dan sedetik kemudian, air mata yang sejak kemarin ditahannya habis-habisan luruh begitu saja membasahi pipinya.

"Lo... lo semua jahat!" pekik Alisha frustrasi. Karena rasa lelah dan kesal yang teramat sangat, kaki Alisha mendadak lemas. Ia langsung jongkok di atas rerumputan taman, menyembunyikan wajahnya di atas kedua lututnya, dan mulai menangis sesenggukan. Seluruh rasa sakit hati akibat ucapan Rendy dan rasa bersalah karena membentak Kak Aryan pagi tadi tumpah ruah di taman itu.

Shaka tersentak. Senyum tipis di wajahnya instan lenyap. Namun, alih-alih panik berkepanjangan, sorot mata tajam cowok itu perlahan melembut. Sebenarnya, ini memang rencana Shaka. Sejak melihat draf fisikanya diabaikan kemarin dan mendengar selentingan gosip tentang mulut lancang Rendy di kelas, Shaka tahu Alisha sedang menahan bom waktu di dalam dadanya. Dan membiarkan Alisha memendam semuanya sendirian adalah hal terakhir yang ingin Shaka biarkan.

Alisha butuh menangis. Dia butuh meluapkan segalanya agar dadanya tidak sesak lagi. Dan Shaka sengaja memancingnya ke taman sepi ini agar Alisha bisa bebas menumpahkan emosinya tanpa harus malu dilihat orang lain.

Dengan langkah pelan, Shaka mendekat. Ia melepas hoodie hitam longgar yang sejak tadi tersampir di bahunya. Tanpa sepatah kata pun, Shaka membungkuk dan meletakkan hoodie besar itu di atas kepala Alisha, membungkus tubuh ringkih gadis itu sepenuhnya hingga wajah Alisha yang menangis tertutup dari dunia luar.

Puk... Puk... Puk...

Shaka mengulurkan tangan kanannya yang kaku, lalu menepuk-nepuk pundak Alisha yang terbungkus hoodie dengan gerakan yang sangat canggung dan terkesan kocak—seperti orang yang sedang menepuk kasur berdebu.

"Udah... jangan nangis sambil ditahan. Gak bakal ada yang liat muka gembel lo di dalam situ," ucap Shaka, suaranya ketus tapi nadanya terdengar begitu tenang dan protektif.

Setelah itu, Shaka tidak beranjak. Cowok jangkung itu memilih ikut berjongkok di sebelah Alisha, lalu mendudukkan dirinya di atas rumput taman. Ia melipat kedua kakinya, setia menunggu di sana dalam keheningan, membiarkan suara isak tangis Alisha memenuhi kesunyian sore. Shaka menjaga jarak yang pas; tidak terlalu dekat hingga membuat Alisha risih, tapi cukup dekat untuk memastikan kalau gadis itu tidak sendirian.

Lima belas menit berlalu. Suasana taman belakang semakin temaram oleh semburat jingga senja. Isak tangis di balik hoodie hitam itu perlahan-lahan mulai mereda, berganti dengan suara napas yang masih tersendat-sendat.

Alisha bergerak pelan, menurunkan tudung hoodie yang menutupi wajahnya. Matanya sembap, hidungnya memerah, dan wajahnya terlihat berantakan. Hal pertama yang ia lihat saat mendongak adalah Shaka yang sedang duduk santai sambil menatap lurus ke arah pohon mangga di depan mereka.

Menyadari Alisha sudah selesai dengan tangisannya, Shaka menoleh. Ia merogoh saku celana abu-abunya cukup dalam, lalu mengeluarkan sebuah batangan cokelat susu berukuran sedang yang permukaannya sudah agak penyok karena tertekan.

Tanpa berkata apa-apa, Shaka menyodorkan cokelat itu tepat di depan hidung Alisha.

Alisha mengerjapkan matanya yang masih basah, menatap cokelat itu dan wajah Shaka bergantian dengan bingung. "Apaan nih?" tanyanya dengan suara serak pasca-menangis.

"Ganjalan pintu," sahut Shaka asal, membuat Alisha refleks mendengus kesal. Shaka berdecak pelan lalu menggoyangkan cokelat itu di tangan Alisha. "Ya cokelat lah, pake nanya. Ambil. Kata orang-orang, kalau otak lagi korslet sama emosi, makan yang manis-manis bisa bikin waras lagi."

Alisha ragu-sedikit, namun tangannya akhirnya terulur menerima cokelat tersebut. Rasa dingin dari sisa AC mini market masih terasa samar di bungkusnya.

"Lo... sengaja ya nyuri novel gue biar gue ngejar lo sampai sini?" tanya Alisha pelan, mulai menyadari motif di balik kejahilan cowok di sampingnya ini.

Shaka tidak membantah. Ia kembali menatap lurus ke depan, menyandarkan kedua siku di atas lututnya. "Habisnya muka lo dari pagi udah kayak manekin toko baju. Kaku, pucat, gak ada kehidupan. Gue cuma gak mau partner olimpiade gue mendadak pingsan pas ngerjain soal nanti."

Shaka menjeda kalimatnya sejenak, lalu melirik Alisha dari sudut matanya. "Lagian, nangis itu bukan tanda lo lemah, Sha. Itu cuma tanda kalau lo udah terlalu lama bersikap kuat di depan orang-orang yang gak berharga."

Deg.

Kalimat Shaka barusan menembus tepat ke bagian paling sensitif di hati Alisha. Gadis itu menunduk, memandangi cokelat di genggamannya. Di balik kegelapan hoodie hitam yang masih bertengger di bahunya dan aroma wangi maskulin yang khas milik Shaka, Alisha merasakan sesuatu yang asing mulai merayap di dadanya. Rasa sesak yang menghimpitnya sejak kemarin mendadak menguap, digantikan oleh kehangatan yang perlahan mengalir menenangkan hatinya.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!