NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cthulhu / Dunia Lain / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 - Makan dan Membersihkan Tubuh

Sambil menunggu dagingnya terasapi hingga benar-benar kering dan matang, Rostav melihat kondisi dapur yang masih berantakan, terutama di bagian lantai yang terdapat banyak genangan darah, bekas dari dia mengolah ikan berwajah iblis.

"Kotor sekali, aku tidak tahan melihatnya," Rostav akhirnya keluar dari dapur dan pergi ke ruang pembersihan. Di dalam sana dia mengambil sebuah pel dan sebuah ember yang terikat dengan tali. Rostav tidak langsung pergi ke dapur, melainkan pergi ke dek kapal. Dia pergi untuk mengambil air laut. Setelah embernya penuh dengan air berwarna merah darah itu, dia segera kembali ke dapur untuk membersihkan lantainya. Dia mencelupkan pelnya ke dalam ember, memerasnya, dan kemudian mengepel lantai hingga benar-benar bersih.

Pembersihan itu mengambil waktu sekitar dua puluh menit, karena genangan darah yang terlalu tebal memaksa Rostav untuk mengepel di tempat yang sama berkali-kali. Setelah semuanya bersih, Rostav kembali ke dek kapal dan membuang sisa air di dalam ember. Setelah menyimpan alat-alatnya di ruang pembersihan, dia kembali ke Ruangan Kapten dan duduk di kursi, membaca buku yang memuat informasi tentang makhluk yang ada di Laut Mayat ini.

Dia ingin menambah wawasannya dengan membaca, andai saja dia memancing lagi dan mendapatkan ikan yang berbeda, dia tidak perlu membawa buku ini kemana-mana, karena dia sudah membacanya. Ya, walaupun mungkin ada beberapa informasi yang mungkin dia lupakan.

Dia membaca buku itu hingga tiga jam lamanya, dan akhirnya menghentikan aktivitasnya itu. "Aku sudah membaca selama tiga jam lebih, tapi aku hanya mengingat beberapa informasi makhluk yang ada di buku ini, tidak sampai sepuluh makhluk yang aku ingat. Mungkin aku harus membawa buku ini saat sedang memancing," Rostav menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping peta.

Dia berdiri dari kursinya dan pergi menuju dapur, dia ingin mengecek kondisi daging ikan yang dia asapi sebelumnya, apakah kini sudah matang atau belum. Ketika tiba di dapur, dia dapat melihat bahwa daging ikan yang dia olah sebelumnya telah berubah warna menjadi coklat tua, dari yang awalnya merah darah, dan terlihat masih basah. Tapi kini dagingnya terlihat menyusut dan kering, seolah-olah tidak ada air lagi yang tersisa di dagingnya.

"Ini dia, kurasa dagingnya sudah matang," Rostav mematikan kompor dan uap berwarna keputihan itu menghilang. Tapi dia tidak langsung mengambil daging ikannya, dia tidak ingin terburu-buru untuk merasakannya, dia tahu ikannya masih berada dalam kondisi panas, jadi dia akan menunggu selama beberapa waktu hingga daging ikannya menjadi hangat.

Setelah dirasa ikannya berubah menjadi hangat dan tidak panas, Rostav mengambil tusuk besi dari pengait dan meletakkannya di atas meja dapur, yang letaknya tepat di sebelah kompor. Meja itu terbuat dari baja tahan karat. Setelah itu, dia menurunkan pengait dengan cara membuka penguncinya, membiarkan pengait itu turun dengan sendirinya.

Rostav yang sudah tidak sabar tanpa sadar menggosokkan kedua telapak tangannya, dan mengambil satu daging ikan untuk dia coba.

"Seperti yang dikatakan di buku, bau busuk dari daging ini sangat sulit untuk dihilangkan, bahkan setelah diasapi selama kurang lebih empat jam," gumam Rostav setelah dia mencium aroma dari daging ikan ini. Dia awalnya merasa ragu untuk memakannya, karena dari aromanya sendiri sudah tidak meyakinkan dan membuat nafsu makannya berkurang. Tapi, karena rasa lapar yang membara, dia akhirnya memberanikan diri untuk mencicipinya.

Dia menggigit kecil daging ikan itu, dirasakannya di mulutnya, dan matanya tiba-tiba membelalak tak percaya. "Sungguh, walaupun baunya busuk seperti bangkai, tapi rasanya tidak bisa diremehkan. Seperti yang dikatakan di buku, daging ikan ini sangat lembut dan memiliki rasa asin alami, tidak hanya itu, aku juga merasakan sedikit rasa manis di dagingnya. Sungguh, rasa yang mengingatkanku pada Bumi."

Mengetahui rasanya yang luar biasa, Rostav mengambil beberapa daging dan memakannya dengan lahap. Daging ikan yang hangat membuatnya menjadi semakin kenikmatan. Dia tidak menyesal menunggu hingga dagingnya menjadi hangat, bukannya memakannya saat panas atau terlalu dingin.

Setelah menghabiskan beberapa daging yang dia ambil, dia membuka lemari gantung dan mengambil sebuah wadah dari kayu, lalu menyimpan daging yang masih tersisa ke dalamnya. Setelah menyimpan wadah di dalam lemari gantung, dia segera kembali ke kamarnya, sebelum akhirnya dia menyadari penampilannya ketika melewati cermin di lemari.

Pakaiannya kini dipenuhi oleh darah ikan, dia menaikkan sebelah alisnya dan bergumam, "bagaimana mungkin aku bisa tidak menyadarinya?" Rostav menepuk-nepuk pakaiannya, lalu membuka lemari. Dia mengambil pakaian baru yang akan dia kenakan setelah membersihkan diri.

Itu adalah sebuah kemeja berlengan panjang berwarna putih, rompi berwarna hitam, dasi panjang hitam, inverness cape, celana panjang hitam dengan garis-garis halus, dan sepatu boot kulit berwarna hitam, serta sebuah handuk.

Setelah menutup lemari dia pergi ke kamar mandi. Di dalam, dia meletakkan pakaian barunya di sebuah gantungan, sementara pakaian lamanya dia letakkan di sebuah keranjang. Kamar mandi itu dilengkapi dengan sebuah wastafel dengan lemari kecil, bak mandi dengan pipa-pipa kuningan yang menjorok keluar dari tembok, langsung mengarah ke bak mandi, dan sebuah toilet.

Rostav membuka lemari kecil di sebelah wastafel, dan mengambil sabun batang yang ada di sana.

"Hm, kurasa di Bumi ataupun di dunia baru ini, sabun batang tetap komoditas yang cukup populee," Rostav menyimpulkan kasar saat dia menatap sabun batang di tangannya.

Dia kemudian mendekati bak mandi, lalu memutar sebuah katup yang ada di pipa kuningan ke arah kanan.

"Kurasa seperti ini cara menggunakannya," Rostav menganggukkan kepalanya, merasa bangga dengan dirinya sendiri karena bisa mengoperasikan sistem yang ada di dunia ini.

Pipa-pipa kuningan itu awalnya bergetar, sebelum akhirnya dari kejauhan suara aliran air terdengar, dan sebelum air datang, sebuah uap putih panas keluar dari mulut pipa, dilanjutkan dengan air yang mengeluarkan asap, mengalir langsung ke dalam bak mandi. Melihat hal itu Rostav langsung tahu bahwa air itu panas. "Apa mungkin sistem katup di kamar mandi ini seperti sistem shower yang ada di Bumi? Aku bisa mengendalikan suhu airnya? Jika memutar katup ke arah kanan mengeluarkan air panas, maka untuk mengeluarkan air dingin aku harus memutar katup ke arah sebaliknya."

Setelah bak mandi terisi setengah, Rostav memutar katup ke arah kiri, dan tak lama kemudian air dengan suhu normal keluar dari dalam pipa, mengisi bak mandi hingga penuh. Rostav kemudian memutar katup tersebut hingga tidak ada lagi air yang mengalir.

Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam bak mandi, merasakan hangatnya air mandi ini membuatnya teringat dengan Bumi. Jika dia ingin mandi air hangat, dia harus merebus air terlebih dahulu, dan itu memakan waktu yang cukup lama. Tapi berbeda di dunia ini, dia hanya perlu memutar katup untuk menentukan suhu airnya.

Dia menghabiskan cukup banyak waktu untuk berendam, kalau dipikirkan lagi, dia tidak mandi selama kurang lebih tiga atau empat hari, hal itu membuat tubuhnya bisa menjadi sarang dari serangga. Tapi kini, setelah dia berendam cukup lama dan menggosok setiap inci tubuhnya dengan sabun beraroma asing tapi wangi, membuat tubuhnya seperti terlahir kembali. Dia keluar dari bak mandi dan membuka penyumbat yang berada di dasar, membuat air di dalam bak mandi terkuras dengan cepat.

Setelah itu, dia mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk, lalu mengenakan pakaian yang sebelumnya dia ambil dari lemari. Dia mulai menggunakan celananya, dilanjutkan dengan kemeja, dasi panjang, rompi, inverness cape, dan diakhiri dengan mengenakan sepatu boot. Dia mengambil kompas dari pakaian lamanya dan mengikatnya ke dalam saku rompi. Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya.

Dia melihat penampilannya di cermin, dan mulai berpose seperti seorang detektif. "Aku terlihat seperti Sherlock Holmes, bukankah begitu? Hanya saja aku tidak memakai topi. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ada. Ya, yang terpenting sekarang aku sudah merasa lebih baik."

Dia duduk di kursinya dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, melamun tentang aktivitas apa yang akan dia lakukan untuk mengisi waktu.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!