Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Azima merajuk
Ternyata, isi paper bag itu adalah pakaian ganti untuk Azima. Hanya pakaian yang melekat di badan hingga Azima jadi risih dan menggunakan mukena untuk membuat nya merasa nyaman. A memang sangat peduli dengan Azima. Dari perintah A , Vano bergegas membelikan yang sesuai ukuran dan style Azima sesuai petunjuk A.
Selesai berganti pakaian, mereka menuju restoran hotel dan menikmati makan malam bersama.
" Kapan kamu pulang? " Tanya A.
" Besok. Ini saja aku harus bertukar jaga dengan rekan ku." Ucap Azima.
" Baiklah, kamu menginap di sini saja. Mas dan Vano akan pulang ke mansion. "
" Sayang sekali harus menginap sendirian, andai Asya ada , aku kan bisa tidur bareng dengan nya."
Vano menatap A, nama yang barusan mengintai telinga nya adalah nama yang sangat tidak dia suka. Sejak dulu, hingga hari ini. Entah lah, mungkin ke depannya juga akan sama.
A tidak menjawab.
" Oiya mas, berbicara tentang Asya , sudah sampai di mana persiapan kalian berdua?"
" Persiapan apa?" Cuek A.
" Pernikahan kalian lah, memang nya apalagi ."
" Bukan urusanku."
Tatapan Azima jadi sinis. " Bagaimana mungkin bukan urusan mu, yang mau menikah kan kamu, mas? "
" Aku tidak meminta menikah, kenapa juga harus memaksa ! " A jadi kesal.
" Abi grandpa memilihkan Annasya untuk mu bukan tanpa sebab, aku pikir mas sudah tau bagaimana sejarah pernikahan setiap anggota keluarga Brawijaya, perjodohan. Namun, coba lihat hasil dari semua perjodohan itu."
" Ya, i know. Tapi Zi, aku bisa mencari sendiri wanita yang akan aku jadikan pendamping hidup. "
" Kapan? Di mana? Bertemu wanita di luaran sana membuat mu lari terbirit-birit, lalu bagaimana kamu bisa memiliki pasangan ? Kayak lihat hantu saja ." Sindir Azima.
" Nanti , pasti akan aku temukan , tapi bukan sekarang . Aku tidak butuh wanita tidak jelas seperti nya." A tidak mau kalah. Entah apa yang membuat nya tidak menyukai Annasya.
Azima naik pitam. " Wanita tidak jelas apa maksudmu? Mas, aku sudah berteman sejak lama dengan Annasya, bahkan sebelum aku tau kalau Annasya adalah cucu Oma Aqila. Kamu tau sendiri kan , aku bawel dan menyebalkan, karenanya aku juga sulit untuk memiliki teman. Dan Annasya hadir di tengah kesulitan ku itu. Ia adalah wanita yang sangat baik, mas saja yang belum mengenal nya ! "
" Menikah bukan untuk sehari dua hari saja, Zi, tapi seumur hidup. Kamu menyuruh ku hidup seatap dengan wanita yang tidak aku sukai? Teman mu itu bukan tipe ku. Dan aku merasa jika dia tidak setulus itu menikah dengan ku."
" Kamu pikir, Abi grandpa menyukai umi grandma saat pertama kali mereka menikah? Apa kamu tau sebenci apa uncle Ezar pada aunty Zara dulu? Dan, kamu kira Abi setuju saat di nikahkan dengan umi? Semua memiliki satu jawaban. TIDAK. "
Hening, Vano yang sementara makan pun tidak berani menyimpan sendok nya di atas piring, takut membuat suara hingga suasana semakin mencekam. Jadilah sendok itu terus berada di dalam mulut nya.
" Sebegitu tidak suka nya kah kamu dengan Asya, mas? Lalu, kenapa kamu tidak menolak saat Abi dan Abi grandpa melamar Asya untuk mu? " Hati Azima sakit, ia tidak terima perkataan A yang menjelek-jelekkan sahabat baik nya.
" Menolak?" A tersenyum sinis. " Andai bisa, sudah aku lakukan."
Azima menghela nafas. " Sudahlah , aku mau istirahat. Jemput aku besok jam sembilan pagi."
" Mmmm.."
Azima melangkah tergesa meninggalkan A dan Vano.
A tidak bisa di salahkan sepenuh nya. Begitu menurut Vano. Bagaimana rasanya jika kamu di jodohkan dengan orang yang sama sekali tidak kamu sukai? Dan yang paling menyakitkan adalah, kamu sama sekali tidak punya kuasa untuk menolak perjodohan itu.
A menatap Vano. Helaan nafasnya terdengar kasar ." Apa kau sangat lapar sampai sendok pun kau makan ?"
*
*
Tepat jam sembilan pagi, Vano menjemput Azima dan langsung membawa nona muda Brawijaya itu ke bandara.
A tidak turut , tapi Azima tidak sedih, itu sudah biasa bagi nya.
" Kak Vano, aku pergi. Ingat untuk membawa pulang kakak ku seminggu sebelum acara pernikahan nya."
" Insyaallah, hati hati di jalan , nona."
Azima terbang kembali ke Indonesia dan Vano kembali ke perusahaan.
A sudah menunggu dan siap mengadakan rapat bulanan dengan beberapa manajer di departemen masing masing.
Pintu diketuk.
A menatap keluar, begitupun dengan Vano.
" Maaf tuan A, ada seorang wanita yang mencari anda di bawah."
Kening A mengernyit. " Siapa?"
" Dia utusan dari Amary Design."
A melihat arloji di tangan kanannya , lima belas menit lagi rapat di mulai. " Baiklah, suruh dia masuk."
Vano menunggu harap harap cemas. Apa tujuan dan siapa gerangan yang datang?
Seorang wanita bertubuh tinggi, mengenakan jilbab dengan rupa yang cantik di sertai senyuman manis masuk ke ruangan A.
" Assalamualaikum, tuan A."
" Waalaikumsalam."
" Maaf, kedatangan saya mungkin mengejutkan anda."
" It's okay. Silahkan duduk."
" Terima kasih."
Wanita itu duduk berhadapan dengan A.
" Apa ada masalah , nona..."
" Nama saya Najwa , Tuan. Saya asisten nona Valira. Kedatangan saya mewakili nona Valira untuk menyampaikan, jika selama kerjasama anda dengan Amary Design, saya yang akan bertanggung jawab sepenuhnya menggantikan nona Valira. Maaf atas ketidak nyamanan ini. Nona Valira memohon maaf yang sebesar-besarnya."
" Ada sesuatu yang terjadi dengan nona Valira?" A nampak curiga.
Wanita bernama Najwa itu meremas tali tas di pangkuannya untuk mengurangi rasa gugup.
" Nona Valira berangkat ke LA subuh tadi, ada sesuatu dan lain hal yang sangat penting dan harus beliau selesaikan secepat mungkin."
A menggoyangkan kepala ke atas dan ke bawah. " Itu tidak masalah, asal nona Najwa menyelesaikan sesuai dengan kesepakatan."
" Insyaallah, tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda."
Najwa pamit. Ia sudah di depan lift bersiap masuk sampai Vano datang dan menghampirinya.
" Maaf kan saya, nona. Mungkin saya lancang. Tapi, apa ada sesuatu yang terjadi dengan Valira? Maksud saya, nona Valira?"
Najwa tersenyum. " Seperti yang saya katakan tadi di dalam , tuan. Detail nya, saya kurang pasti karena nona hanya menyampaikan seperti yang saya katakan sebelum nya."
" Mmm...nomor telpon nya tidak bisa di hubungi, apa anda memiliki nomor telpon nona Valira yang lain?"
Najwa menggeleng bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
" Permisi , tuan."
Vano tak dapat berbuat banyak. Selain terdiam dan menatap pintu lift yang tertutup rapat.
Ia kembali ke ruangan , menemani A mengikuti rapat penting .
" Ada apa dengan mu?" A menatap Vano yang murung. Sejak kedatangan perwakilan Amary Design, A memperhatikan jika Vano kurang fokus .
" Oo, tidak apa apa, tuan."
A melipat kedua tangan di dada, netra nya tetap terpusat pada perubahan raut dan tingkah Vano.
" Apa ini ada hubungannya dengan CEO Amary Design?"
Vano menghela nafas.
" Yap. Ternyata benar. Mungkinkah dia mencampakkan mu?"
" Tidak , tuan. Tuan salah paham."
" Kau yakin?" A tersenyum miring.
Meski cuek , A bisa membaca situasi yang terjadi pada Vano.
Vano terdiam.
" Kalau kamu suka dengan nya, kenapa tidak kamu lamar saja sekalian?"
" Anda benar benar salah paham, tuan A. Tidak ada hal yang seperti itu."
A melirik Vano yang terlihat salah tingkah. " Ya sudah . Ayo kita pulang. "
Di perjalanan menuju mansion.
" Ada kabar dari Zizi? " A melirik jam di tangan kanan nya.
" Belum ada, tuan. Tapi jika penerbangan lancar, nona pasti sudah tiba di Indonesia."
A menghela nafas. " Tadi pagi saat kamu mengantar nya, apa dia terlihat masih marah?"
" Tidak, tuan."
" Menurut mu, apa kata kataku semalam sangat keterlaluan ?"
Vano menjawab dengan anggukan . Melihat anggukan itu, sekali lagi, A menghela nafas panjang dan bersandar di bucket seat mobil mewah nya.
" Maaf tuan A. Tapi apa yang di katakan nona Zizi itu benar. Anda belum mengenal nona Annasya . Bahkan mungkin anda belum pernah melihat wajahnya dengan baik."
" Memangnya kamu pernah ?"
" Pernah, bahkan kami sempat bertegur sapa. "
( Percayalah tuan, nona Annasya sangat cantik dan baik , ia sepadan dan pantas berdiri di samping anda ) .
Andai bisa, Vano sudah meneriakkan kalimat itu di depan Azzam.
" Apa yang kalian bicarakan ? "
" Tidak banyak, hanya seputaran perkenalan saja. Dan jika tuan mau mendengar saran saya, tolong jangan terlalu membenci pilihan tuan Adam . Karena apa yang beliau pilihkan sudah pasti itu yang terbaik untuk anda . "
...****************...